
“Aku membawakan baju. Bibi Irin bilang mungkin kau membutuhkannya.”
Ayah Leno berdiri di depan kaca isolasinya. Ia adalah seorang laki-laki kurus yang tidak terlalu tinggi dengan rambut abu-abu panjang setengah punggung yang dikuncir rendah. Wajahnya keras tapi tidak terlalu kaku. Tidak ada kemiripannya dengan Leno. Ia menenteng satu kantung kertas yang lumayan besar. Tapi Leno tidak bisa menerimanya, selain karena semua barang yang diberikan harus melewati proses sterilisasi Geduna, ia juga tidak boleh mengenakan pakaian lain selain gaun putih selutut di kamar isolasinya.
“Aku bisa pakai saat keluar nanti,” kata Leno. Ia duduk di atas kasur, menghadap ke depan kaca isolasi yang memisahkan kamar itu dengan ruang tunggu.
“Bibi Irin pasti dilarang masuk ke ruang ini. Ia sudah terlalu tua untuk menjenguk. Jadi aku tidak mengajaknya,” kata Ayahnya. Bibi Irin memang sudah berusia 85 tahun. Ia yang menjaga adik Leno, Gof, sejak lama.
Leno menggeleng. “Mereka juga tidak akan memperbolehkan. Pengamanan pasti diperketat setelah kejadian kemarin.”
Keheningan menghampiri mereka untuk beberapa saat. Ini adalah sesuatu yang sangat dibenci Leno, situasi canggung yang luar biasa. Leno tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Aku akan kesini lagi jika mereka membutuhkan urusan administrasi,” ujar Ayahnya.
“Aku tidak akan lama. Mereka bilang maksimal 7 hari,” kata Leno mengutip perkataan 2 Mandala
yang bertugas kemarin.
“Semoga kota sudah tidak dalam bahaya pada saat itu.”
Leno terdiam, ia menelan ludahnya. Leno mengikuti berita dari televisi. Ia tahu saat ini kota sedang dalam Siaga II, status yang sama jika kota mereka sedang mempersiapkan diri untuk perang.
“Mereka tidak akan membiarkan aku pulang jika masih berbahaya,” kata Leno. “Atau mungkin jika sudah aman, Aku bisa langsung pulang ke sekolah.”
Leno merasakan sesuatu yang ganjil saat memadukan kata “pulang” dengan “sekolah”. Namun, Ayahnya tidak merespon apa-apa. Mereka berdiam diri kembali.
“Bagaimana keadaan bibi?” tanya Leno, memecah keheningan.
“Baik,” jawab Ayahnya singkat. “Ia minta kau lebih sering menelfon.”
Bibi tidak bisa menggunakan telfon di rumah. Fakta bahwa bukan ayahnya yang meminta ia menelfon
sedikit menyakiti hati Leno.
“Aku akan menelfon,” ujar Leno.
“Gof baik-baik. Jika kau bertanya.”
Leno mengangkat kedua alisnya. “Syukurlah.”
Suasana canggung kembali menyelimuti mereka. Leno tidak tahu apakah ini normal untuk tidak bisa berbicara dengan ayahnya sendiri.
“Kabari aku jika kau butuh sesuatu. Aku pulang.”
“Iya,hati-hati,” kata Leno. Ia melambai dari balik kacanya.
Ayahnya mengangguk dan berjalan dari ruangan itu. Ketika pintu ruangan ditutup, Leno menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Entah mengapa pembicaraan tadi benar-benar menguras tenaganya.
Tidak lama kemudian, gelang dX85 Leno bergetar. Ada panggilan masuk dari Amber. Leno tersenyum lebar dan cepat-cepat mengusap gelangnya untuk menjawab panggilan Amber.
“LEEEEE!!!! HAIII, APA KABAR?!”
Teriakan Amber dari ujung sana berhasil membuat jantung Leno hampir lepas. Hologram Amber muncul dari gelang Leno.
“Ganti ke video. Aku bersama yang lain,” kata Amber lagi.
Leno, yang sudah lebih familiar dengan kamar rawatnya, menyalakan televisi dan menyambungkan gelangnya ke televisi. Panggilan dari Amber berubah menjadi video langsung yang menampilkan wajahnya sendiri dan pemAndangan yang diperlihatkan kamera dari sisi Amber.
Layar televisi Leno menampilkan Amber dengan pijama merah muda duduk di ruang tengah asrama
erFu. Niken mengenakan pajama kuning lembut dengan kain penutup kepala. Sept, Jaffray, dan Dika mengelilingi Amber dan Niken dengan kostum gelAndangan yang sama, kaus sablonan pudar yang nampak kebesaran dan celana pendek selutut.
“Sepertinya FIGHR harus menampung banyak sekali tuna wisma akhir-akhir ini,” kata Leno dengan ekspresi datar. Teman-temannya langsung memprotes, sesuai dengan dugaan Leno.
“Kurang ajar!” seru Dika paling keras. Jaffray dan Amber tertawa melihat teman-temannya sibuk berkaca di kamera Amber.
“Bajumu juga kayak gembel. Memangnya Geduna tidak punya baju lain selain taplak meja?” kata Gilang. Anak itu memprotes sambal menunjuk-nunjuk ke depan kamera dengan jarinya yang penuh remah-remah keripik.
“Ih, jorok, dasar.” Niken menepis lengan Gilang dengan kesal.
Leno tidak bisa menahan tawa lagi karena melihat teman-temannya yang setengah waras. Leno meraih kerah bajunya sendiri dan mengangkatnya sedikit. “Setidaknya taplak meja ini nyaman kalau ku pakai tanpa mandi tiga hari.”
Suara berisik kembali terdengar dari sisi Amber dan teman-temannya. Sept ikut tertawa Bersama
Amber dan Jaffray. “Jorok sekali,” gerutu teman-temannya bergantian. Leno juga tertawa sambal mengamati teman-temannya dari layar televisi. Baru kali ini ia merasa rindu sekali berkumpul dengan orang-orang ini.
Tawa mereka mulai mereda. Niken mengambil keripik kemasan yang diapit Gilang kemudian memasukan ke mulutnya dengan hati-hati. Yang lain mengikuti gerakan Niken sampai Gilang berteriak risih. “Uh, ambil sendiri dong!”
Sementara perdebatan sengit dimulai, Amber mentatap Leno lembut melalui kameranya, “Jadiiii, bagaimana kabarmu, sayang? Makanan di sana enak kan?”
Leno mengangguk. Ia menyukai kentang tumbuk keju dan sup krim ayam yang ia makan tadi untuk makan siang. Susu krim rasa karamel tadi pagi juga lumayan enak. Sebenarnya kalau dipikir-pikir rasa makanan di sini enak sekali. Tapi Leno merindukan makanan yang dimasak Bu Denia di kantin. “Lumayan. Tapi, tidak
seenak kantin.”
“Uh, aku juga kangen kantin,” celetuk Dika. Semua temannya mengangguk setuju. “Makanan asrama
monoton sekali,” kata Gilang dengan mulut penuh kripik.
Kualitas gambar video yang tampil terkadang tidak stabil. Leno mengusap gelangnya beberapa
kali.
“Kau kan biasa makan di sini 2 kali sehari,” kata Jaffray. “Makan pagi dan malam cuma bertambah satu kali lagi dalam 2 hari ini.”
Dika memasang wajah cemberut. Wajah bulatnya membuat ia menjadi semakin lucu. “Tapi rasanya
__ADS_1
membosankan.”
“Dan satu lagi, aku jadi terjebak dengan kalian selama 48 jam non-stop! Ini menyebalkan.”
“Hei kita sudah saling terjebak di sekolah ini selama 8 tahun. Tidak ada bedanya, bodoh.”
“Beda lah-“
Tiba-tiba suara Dika menghilang. Leno hanya bisa melihat mulutnya bergerak tanpa suara.
“-di, kita seharian tidak mandi dan bau bersama.”
“Maaf jaringannya jelek,” kata Leno. Ia mengangkat gelangnya kesana kemari untuk mencari sinyal. “Kenapa kalian hanya di asrama, memangnya kelas tidak dibuka?” tanya Leno lagi.
“Iya. Kelas diliburkan sementara.”
“Mereka tidak mengizinkan siapapun keluar atau masuk asrama. Dua hari libur yang aneh sekali.”
“Guru-guru juga tidak boleh keluar dari enDu, apalagi keluar dari FIGHR.”
Leno mengangguk mendengar penjabaran dari teman-temannya. Mungkin memang lebih aman seperti itu daripada membiarkan anak-anak bebar berkeliaran dan menjadi korban Lentipede selanjutnya.
“Lee kau tidak apa-apa?” tanya Sept, ia nampak khawatir melihat Leno tidak berbicara apa-apa
selama beberapa saat.
Leno tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja.”
“Lee, sampai kapan kau harus di sana?” tanya Niken.
“Mereka bilang 7 hari. Mereka ingin memastikan aku tidak membawa infeksi apapun dari makhluk
itu,” ujar Leno. “Jadi, aku belum bisa kemana-mana.”
“Oh ya, Lee.”
Amber mencondongkan tubuhnya sedikit. “Kau belum cerita kenapa kalian bisa di perpustakaan pukul 9 malam?! Memangnya ga ketahuan sama Reppe?”
Leno menghela nafas. Memang pada akhirnya ia akan menceritakan kejadian 2 malam yang lalu.
Leno menjelaskan bagaimana Mia mencaritahu tentang Lentipede, bagaimana ia menghabiskan waktu di pulang sekolah untuk tenggelam dalam buku-buku cetakan lama di perpustakaan, bagaimana Leno dengan bodohnya setuju untuk ikut menemani Mia menginap walaupun mereka tahu ada semalam ada serangan tiba-tiba dari Lentipede raksasa. Leno bercerita bagaimana ia tahu-tahu bertemu 6 buah makhluk bayangan itu yang mengejarnya hingga ke perpustakaan.
“Mereka bilang hanya ada lima Lentipede yang terlihat di FIGHR,” kata Jaffray. Niken membuka proyeksi laman berita dari gelangnya. Judul berita dengan huruf terbalik samar-samar terlihat dari layar televisi Leno:
DARURAT! 5 LENTIPEDE RAKSASA MENYERANG FIGHR SAAT MALAM HARI: 2 SISWA MENJADI KORBAN.
“Karena…” Kata-kata Leno terhenti. Leno agak ragu apakah ini hal yang bisa diceritakan kepada teman-temannya. Leno sendiri pun masih bimbang sebenarnya apakah yang terjadi 2 malam itu persis seperti apa yang ada di kepalanya?
“Ada apa?” tanya Sept. Semua temannya diam dan menunggu.
Leno masih merasa ragu dengan keputusannya. Tapi, biarlah kalau memang mereka tidak percaya, yang penting Leno sudah berkata jujur. “Aku yang menikamnya.”
dan Dika menjatuhkan bungkusan kripik dari tangan mereka.
“Aku...mengambil tombak buatan Mia lalu...” kata Leno mencoba meneruskan.
“’Tombak buatan Mia’ maksudnya?” tanya Jaffray semakin bingung.
Leno menyisir sebagian rambutnya dengan tangan. “Uh, ini sulit sekali.”
Leno menarik nafas dan mulai menceritakan semuanya perlahan. Bagaimana Mia membuat tombak
buatannya sendiri, melemparkannya kea rah Leno, dan Leno gunakan untuk mencabik Lentipede pertama. Leno menceritakan dua orang Mandala, yang mana salah satunya adalah kakaknya Mia, yang datang membantu mereka. Ketika Leno mengakhiri ceritanya, Niken dan Jaffray menatap Leno setengah tidak percaya. Amber dan
Sept saling melirik satu sama lain. Semuanya diam untuk mencerna apa yang Leno utarakan.
Selang beberapa menit, Dika membuka suara. “Lee aku agak ragu, kepalamu baik-baik saja kan?”
Amber menjitak kepala Dika spontan. “Kepalamu sekarang yang tidak baik-baik saja.”
Leno mengangkat telapak tangannya. Berusaha menenagkan diri dan juga memohon pengertian teman-temannya. “Aku tahu ini memang terdengar sangat aneh dan ajaib. Tapi aku tidak mengarangnya.”
Suasana kembali menjadi hening. Tiba-tiba Gilang menepuk tangan dan menggosok-gosokan kedua
telapaknya. “Jadi…”
“Kau menghabisi salah satu makhluk raksasa itu sendirian?”
Leno mengangkat bahunya. “Yah, sebenarnya dua..”
“Jagoaaan!!” teriak Gilang tiba-tiba. “Kapan lagi kita bertemu calon Mandala sukses masa depan?! Kau luar biasa Lee!!”
Niken dan Amber nampak kebingungan. Jaffray dan Dika pelan-pelan mengangguk. Keduanya tersenyum lebar. “Benar juga ya,” ujar Jaffray. “Tidak semua orang bisa melakukan itu.”
“Dan kau selamat dari kejadian, Lee. Itu yang terpenting,” kata Sept tersenyum. Niken dan Amber lama-lama ikut mengangguk. Perlahan mereka tersenyum kepada Leno.
Leno masih merasa canggung sekali dengan respon teman-temannya ini. Tapi bagaimana pun ia merasa lega sekarang.
Dika, yang nampak belum mengutarakan kalimat mendukung untuk Leno, menatap meja di depannya dengan tajam sambil berfikir. “Tapi Lee, aku masih penasaran. Bagaimana kalian bisa tidak ketahuan?”
“Tadi dia sudah bilang, Dik. Leno kan pandai menyelinap,” kata Niken.
“Bukan. Aku paham maksud Dika. Pengamat Reppe tidak mungkin tidak tahu ada siswa yang keluyuran di atas jam 7, kan?” kata Sept kembali berpikir.
Leno mencoba mengingat-ngingat kembali. “Tapi aku memang tidak melihat satupun Reppe yang berjaga kemarin malam.”
__ADS_1
“Memang mereka tidak berjaga seperti itu,” saut Jaffray.
“Aku pernah mengobrol sedikit dengan mereka, sebelum kelas dimulai beberapa minggu yang lalu. Sejak liburan, Reppe menempatkan sensor panas di seluruh area FIGHR. Mereka memasang itu sehingga semua aktifitas yang ada di atas jam malam bisa diawasi lewat Menara.”
Semuanya kembali diam dan tenggelam dalam kepalanya masing-masing.
“Jadi sebenarnya…,” kata Gilang. Nada suaranya terdengar ragu-ragu.
“mereka tahu kalau Leno menyelinap?”
“Mereka tahu, tapi mereka tidak melakukan apa-apa…” Amber menutup mulut dengan kedua
tangannya.
“Oh, tidak…. Aku tidak suka ini,” ujar Niken.
“Ini berarti ada yang ingin menyelakai Leno secara sengaja,” kata Dika. Mereka semua menatap
Leno secara bersamaan melalui kamera. Leno merasa tidak nyaman dengan percakapan ini. Ia tidak tahu harus merespon apa.
“Kita tidak bisa mengambil kesimpulan begitu. Belum tentu mereka tidak menangkap Leno bukan
karena sengaja,” ujar Sept, berusaha mencari sudut pandang lain.
“Lalu kenapa misalnya?” tanya Gilang
“Wah, ada siswa bandel yang keluyuran jam 8 malam. Aku ngapain ya? Pura-pura ga tau aja deh.” Jaffray, Dika, dan Niken spontan menjambak rambut Gilang.
“Tapi itu benar! Tidak mungkin mereka diam saja ketika tahu Leno keluar dari asrama,” ujar Gilang membela diri. Rambut nya sekarang mencuat kemana-mana. Tidak ada yang berusaha merapikan.
“Atau mungkin mereka tidak tahu,” kata Sept lagi.
“Jaringan internet sulit diakses sampai sekarang. Mungkin saja mereka juga, tidak bisa berjaga dengan sensor itu seperti biasanya.”
Jaffray menggelengkan kepalanya, “Kalau memang sensor panas yang biasanya bekerja tidak bisa digunakan, justru mereka akan turun ke lapangan langsung.”
“Lalu, Leno langsung ketahuan.”
Sekali lagi seluruh pandangan tertuju pada Leno. Leno merasa mual tiba-tiba. Ia menundukan kepalanya. Rasa pusing berdenyut menyerang kepalanya kembali.
“Hei, kalian membuat Leno kesakitan!” kata Amber histeris. “Jangan bicara yang berat-berat
dulu.”
Leno mengangkat kepalanya dan tersenyum. “Aku tidak apa-apa,” kata Leno berbohong.
“Sebaiknya kita membiarkan Leno beristirahat,” kata Sept dengan suara yang lebih tenang. Raut wajah teman-temannya kembali santai dan melunak.
“Oh iya, benar. Maafkan kami, Lee,” kata Jaffray sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
“Aku tidak apa-apa, benar deh,” tukas Leno. Rasa bersalah menghampiri Leno karena membuat teman-temannya tidak enak hati.
“Sudah, kau istirahat dulu ya, Lee,” kata Niken tersenyum. Ia dan Amber melambaikan tangannya kepada Leno.
“Eh sebentar,” sela Dika tiba-tiba. “Kita belum bertanya bagaimana keadaan Mia.”
Leno menelan ludahnya gugup. Rasa tidak nyaman kembali menyelimuti benak Leno. “Mia dirawat
di ruang yang berbeda, aku belum bertemu dengannya.”
“Oh, ya maksudku,” saut Dika.
“Media bilang salah satu dari kalian dalam kondisi kritis. Kalau kau baik-baik saja kan berarti Mia...”
“Aku tidak tahu, Dik. Sulit sekali mencari informasi saat kau dikurung di ruang ini seharian.” Leno langsung menyela kalimat Dika. Sudah 2 hari ini ia mencoba mengenyahkan bayangan yang menyeramkan tentang bagaimana keadaan Mia. Informasi bahwa Mia masih “ada” di ruang yang berbeda dengan Leno tadinya sudah cukup untuk menghalau rasa gelisah yang muncul tiap kali Leno teringat dengan Mia. Tapi Leno belum mampu menguasai dirinya untuk membayangkan lebih jauh bagaimana kondisi sahabatnya yang sebenarnya.
Jaffray menyikut pinggang Dika dari belakang. Keduanya bertatapan tanpa suara. Niken dan Amber
menatap Leno dengan simpati. Gilang ikut diam, tidak melakukan apapun di tempatnya. Sept berdeham, berusaha mengatakan sesuatu. Ia menegakan punggungnya dan menatap Leno dengan lembut, “Tidak usah terlalu pusing, Lee. Yang penting kan sekarang kau baik-baik saja.”
“Mia juga akan baik-baik saja, Lee. Tenanglah,” kata Amber tersenyum.
Leno menarik nafas panjang. Mungkin ia memang berlebihan tadi. Leno tersenyum dan mengangguk
ke hadapan kamera.
“Okee selamat istirahattt. Kita akan sering mengganggumu,” Amber melambaikan tangannya dengan
heboh. Semua temannya tersenyum dan ikut melambaikan tanganya.
“Kalau kita sudah bisa keluar dari sini, kita akan menjenguk,” kata Niken. Amber mengangguk
semangat. “Tentu saja. Baik-baik kamu di sana.”
Leno tersenyum dan ikut melambaikan tangannya, “Terima kasih, kalian juga baik-baik.”
“Jangan lupa mandi,” sambung Leno.
Mereka semua tertawa mendengar kalimat Leno. Sedikit kelegaan terlihat dari wajah Dika dan
Jaffray. Gilang ikut melambaikan tangan dan kembali mengunyah kripiknya lagi. Sept masih tersenyum dengan tenang.
“Kamu juga, gembel. Jangan lupa mandi dan beristirahat,” kata Amber sebelum mengakhiri
panggilan mereka.
__ADS_1
Leno tertawa sambil menyaksikan televisinya menghitam kembali. Mungkin memang teman-temannya
benar. Ia butuh istirahat.