
Neena duduk di ruang kerjanya di lantai 7 Menara. Ruangan itu berada di dalam ruang rapat besar yang acapkali digunakan untuk rapat dengan para petinggi Trikad. Ruang kerja ini berukuran satu pertiga ruang rapat itu dengan nuansa biru dan abu-abu yang serupa. Wanita itu mengenakan gaun biru tua dan tiara Neena Trikad.
Dihadapan Neena terdapat 3 layar besar berupa proyeksi keempat pemimpin kota lain di pulau itu. Tinggal satu proyeksi lagi yang belum muncul.
“Selamat pagi,” sapa Neena dari kursi tempat ia duduk.
“Selamat pagi.”
Tiga orang laki-laki tua menyapa Neena dari layar mereka masing-masing. Harusnya rapat tahunan pulau akan digelar 3 bulan lagi, namun situasi darurat membuat mereka membuat rapat tambahan.
“Apakah Freo Mikrad tidak bisa mengikuti rapat kali ini?” tanya Neena kepada mereka semua.
Komandan Ri yang berdiri di samping Neena menjawab, “Belum ada jawaban dari duta kita di sana. Maupun dari duta Mikrad. Kami sudah mencoba menghubungi sejak semalam.”
“Mungkin sedikit terlambat?” kata Freo Durjad. Ia mengenakan kemeja putih tulang dengan kedua lengan digulung sampai siku. Walaupun mereka seumuran, laki-laki ini terlihat sangat muda.
Satu layar lagi muncul di hadapan mereka. Freo Mikrad, dengan jas cokelat tanah dan kaus sewarna kulit, berada di dalam layar itu. Laki-laki ini berambut hitam kecokelatan dengan kumis tipis di atas bibirnya. Ia duduk dengan kaku, wajahnya keras dan dingin. Ia mengangguk kaku di depan layar.
Freo Conrad, laki-laki kecil berjanggut panjang dengan kemeja biru terang, berdeham. Ia berkata, “Sebelum memulai rapat darurat kali ini, saya persilahkan teman-teman berdoa.”
Semua nampak hening sejenak. Setelah selesai, Freo Conrad melanjutkan, “Rapat kali ini dibuka.”
“Saya persilahkan Neena Trikad untuk membahas topik utama hari ini.”
Neena mengangguk kecil, Ia berkata, “Seperti yang duta Trikad telah sampaikan kepada teman-teman sekalian, telah terjadi dua serangan Lentipede besar dalam 2 hari ini.”
“Trikad sudah memperketat gerbang dan penjagaan kota, kami juga sudah meminta unit aktif berjaga di masing-masing kota sesuai kebutuhan.”
“Darimana mereka berasal? Saya membaca laporan kasus tersebut dan mereka lebih besar dari yang pernah kita hadapi.” Freo Heriad, laki-laki gempal dengan kacamata konvnsional, memotong Neena. “Jumlah mereka juga sedikit tidak lebih dari sepuluh.”
“Namun, sama mematikannya, saya baca ada 2 orang korban dalam perawatan dan 1 meninggal dunia,” kata Freo Durjad.
Neena berkata, “Kami belum dapat memastikan. Jika sudah ada perkembangan, kami akan mengabari secepatnya. Namun untuk sekarang saya menganjurkan seluruh kota untuk mengamankan diri. Perketat penjagaan, sampai kita mengetahui lebih lanjut.”
“Mereka benar-benar sudah berevolusi! Bisa-bisa kita habis jika mereka datang dengan jumlah yang lebih banyak,” seru Freo Heriad.
“Apakah kita bisa menyerang mereka? Atau menekan darimana asalnya. Mereka terbentuk karena ada inangnya bukan?” tanya Freo Conrad dengan sedikit panik.
“Ya, tapi kami belum dapat menemukan hal itu,” ujar Neena. “Dari hasil pemantauan pihak LTK dan beberapa saksi, kami mendapatkan Lentipede pertama muncul dari laut, yang mana sulit sekali menelusuri darimana mereka datang. Lima Lentipede berikutnya muncul dari pepohonan di utara Trikad. Saya akan meminta Mandala untuk menyusuri sekitar pepohonan siang ini.”
Semua, kecuali Freo Mikrad, mengangguk setuju.
“Dan untuk keamanan warga, saya menganjurkan penutupan sementara seluruh gerbang kota. Mungkin seluruh aktifitas pertambangan dan industri dapat dihentikan sementara. Kita belum tahu darimana mereka berasal, bisa jadi makhluk ini akan menyebar ke seluruh pulau.”
“Bagaimana dengan hubungan antar kota? Menutup seluruh gerbang juga akan memutus seluruh jalur transportasi,” ujar Freo Heriad.
“Jika akan ada pemutusan hubungan antarkota, kebutuhan pokok warga seluruh pulau harus terjamin,” kata Freo Conrad, Ia memelintir janggutnya beberapa kali.
“Kami bisa mengirim jet muatan besar untuk mengangkut pangan ke 5 kota. Kita hanya perlu membuka satu jalur bandara pada periode tertentu. Setiap minggu misalnya,” kata Freo Durjad mengusulkan.
Semuanya kembali mengangguk setuju kecuali Freo Mikrad. “Terima kasih, Freo,” kata Neena.
Freo Conrad, selaku moderator hari ini, berdeham lagi meminta perhatian. “Freo Mikrad, apakah kami boleh minta bantuan Anda untuk distribusi pangan bulanan dipercepat?”
Freo Mikrad duduk bersandar sambil menyangga wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak bergerak sama sekali ketika ia bertanya, “Untuk berapa lama?”
“Mungkin kita bisa berharap satu bulan ke depan. LTK juga sedang mengkaji kemungkinan kapan mereka berhenti melakukan serangan. Tapi, satu bulan bisa menjadi waktu yang cukup untuk bersembunyi,” ujar Neena.
“Bersembunyi dan kami yang memberi makan kalian agar tidak kepalaran,” kata laki-laki itu dengan dingin.
“Iya, kami mengharapkan hal tersebut dari Mikrad. Seperti yang sudah tertuang dalam Dekrit Satu Pulau,” kata Neena dengan nada sedikit tajam.
“Dan seperti yang tertera di Dekrit tersebut juga, dikatakan pengkuhususan satu spesialisasi untuk satu
kota,” kata Freo Mikrad. Ia duduk dengan tegak, menatap layar lekat-lekat. Semua orang terdiam memerhatikan.
“Apa yang Anda maksudkan?” tanya Neena.
“Kita tahu bahwa Trikad telah mengembangkan kebun Hidroform mereka di bawah tanah kota. Trikad bisa menyuplai bahan pangan mereka sendiri tanpa berkompromi dengan kota lain.” Wajah pria itu semakin keras. “Bukan kah itu melanggar dekrit?”
“Tuduhan tersebut tidak terbukti benar. Itu adalah desas-desus yang disebarkan oleh kelompok yang tidak bertanggungjawab,” ujar Neena, mencoba tetap terlihat tenang.
“Dan kelompok apakah itu, Neena?” tanya laki-laki itu menyudutkan. “Tentu saja Anda tidak bisa menjawab, karena kepolisian Anda sendiri yang menyangkal adanya kelompok tersebut. Gephu, si
gerakan pemberontak dinyatakan tidak pernah ada.”
Komandan Ri yang berada di samping Neena berdiri dengan tidak tenang. Ia melirik Neena berkali-kali. Wanita itu tetap duduk dengan wajah dingin yang sama.
“Kalau begini kemana lagi Anda mau melempar tuduhan tersebut?”
“Saya tidak bisa mengatakan apapun karena semua itu tidak terbukti. Jika memang Anda bersikeras, kita buka kasus ini setelah serangan berakhir,” kata Neena dengan tegas.
“Sampai detik ini kita semua terikat Dekrit. Demi kepentingan rakyat yang ada di bawah kita semua, saya sangat meminta kerja sama seluruh Freo sekalian.” Neena menyapu satu persatu wajah yang nampak di layar besar itu.
“Nyawa kita sedang menjadi ancamannya dan saya tidak melebih-lebihkan,” kata Neena, mengakhiri kalimatnya dengan tajam.
Freo Durjad mengangkat sedikit kedua tangannya. “Saya setuju kita harus tetap bekerjasama. Ini bukan saatnya berpolitik.”
Freo Conrad dan Freo Heriad menatap layar mereka dengan gugup. Tapi ketiganya mengangguk.
“Tapi, bagaimanapun keadilan harus ditegakan, bukan?” tanya Freo Durjad. Ia memandang Neena dan Freo Mikrad bergantian.
__ADS_1
“Tentu saja. Karena itu kita angkat kasus Hidroform ini ke dewan pulau setelah serangan berakhir. Jika
memang ada pelanggaran, Kota yang melanggar akan dikenakan sanksinya,” kata Freo Heriad.
Semua Freo menatap layar masing-masing. Jika mereka ada di satu ruangan, mungkin semuanya sudah memandang Neena dan Freo Mikrad bergantian. Ketiganya berharap kedua kota tertua yang
sering cekcok ini mau menyelesaikan masalah mereka sesuai hukum yang ada.
“Baik, kalau begitu,” kata Neena lagi. Ia menoleh kepada Freo Mikrad. Keduanya berpandangan dengan dingin. “Setelah serangan berakhir.”
***
Joke duduk di kursi tengah ruang data lt. -6 Geduna. Ruangan itu berbentuk segi enam dengan meja-meja panjang yang terbentang. Meja-meja itu mengisi 6 sisi ruangan dan beberapa tempat di tengahnya. Meja-meja tersebut dibuat bersusun mengelilingi tabung kecil setinggi 1meter yang merupakan tempat Hana untuk mengawasi pengunjung ruang data. Ruangan itu cukup lenggang. Para mahasiswa dan peneliti yang menggunakan data Geduna tidak lagi memenuhi meja-meja tersebut. Sudah 3 hari semua warga dirumahkan, geduna sendiri terasa sangat sepi.
Joke sibuk membaca beberapa artikel dan jurnal lama yang terproyeksi di hadapannya.
Pemantauan efek paparan Lentipede berkepanjangan: Studi 10 kasus serial.
Oleh
Mukidi, Derik
Joke membaca kasus tersebut satu persatu. Semuanya merupakan kasus dewasa dengan tampilan awal standard: demam dan sesak. Beberapa kasus meninggal sebelum selesai pematauan di hari ke 7.
Joke belum menemukan kecocokan dengan kasus Leno yang ia hadapi sekarang. Di halaman-halaman terakhir, ada satu kasus yang menarik perhatian Joke.
9. Tn. B, 43 tahun.
Diserang
5 Lentipede berukuran 10 cm pada bulan Februari tahun xxxx di pekarangan belakang perumahan Barat daya Trikad. Penyakit sebelumnya: Gangguan irama jantung.
Pemantauan
hari 0: Bicara meracau dan halusinasi visual (penurunan kesadaran)
Pemantauan
hari ke 1: Koma (menggunakan alat penopang)
Joke memperbesar laporan pemantauan hari 0 dan 1.
“Tn. B datang dengan meracau dan mengatakan ada bayangan hitam yang mengikutinya. Ia berkata itu adalah mendiang ayahnya yang sudah lama meninggal saat ia masih muda. Bayangan itu menarik-narik tubuhnya sehingga ia merasa harus berlari ke pintu keluar setiap saat. Tn. B dikatakan sedang membersihkan rumput saat satu ekor Lentipede menyerang lengan kirinya. Beberapa saat kemudian 4 Lentipede datang dan menggerogoti lengan Tn. B selama 20 menit sebelum unit Mandala datang.”
Joke membaca cepat penanganan Tn. B yang diberikan, semuanya sama sesuai dengan protokol Geduna. Tn. B mendapat beberapa suntikan penenang yang kemudian membuat kesadarannya menurun dengan cepat. Joke membalik halaman setelahnya, Tn. B meninggal di hari ke 2 dalam kesadaran yang tidak kembali.
Joke membaca kasus terakhir dengan ringkas. Ia mematikan proyeksi artikel itu. Joke menghela nafas. Tidak banyak yang ia dapatkan selain yang ia sudah pelajari sebelumnya: Lentipede merupakan hewan infeksius yang sangat fatal dan efeknya bisa menyerang organ manapun termasuk otak dan sistem saraf. Ini hanya menjadi penguat kecurigaannya bahwa Leno mengalami episode halusinasi dan amnesia serius yang ditimbulkan oleh serangan kemarin.
“Hai, kawan. Masih di markas?”
“Iya, Bon. Ini sudah ganti shift ya?”
“Iya, kali ini aku istirahat. Tapi sepertinya aku akan mampir ke Geduna untuk mengambil beberapa barang. Kau ada dimana?”
“Ruang data lantai -6. Kau mau ke sini?”
“Iya tentu saja. Kau ini gak kangen ya sama aku?”
“Jijik,” ujar Joke dengan cepat. Di ujung telfon, Bon tertawa kencang.
“Oke, aku ke sana.”
Joke mengakhiri panggilannya. Tiga hari ini adalah hari-hari yang sibuk dan terasa sangat panjang. Semua memiliki tanggungjawab masing-masing mengawasi seluruh kota secara bergantian.
Joke melirik jam di gelangnya. Masih ada setengah jam sebelum ia kembali berjaga. Joke kembali mencari jurnal yang berkaitan dengan kasus Leno. Ada satu jurnal lagi yang menarik perhatiannya.
Pengembangan Sistem Imun pada Anak dengan Paparan Lentipede di Usia Dini.
Oleh
Herona, Ridha-ana.
Jurnal lama, sekitar 15 tahun yang lalu. Joke membaca beberapa kalimat abstrak, pendahuluan, dan gambar serta grafik yang dimuat. Joke kemudian melompat ke bagian pembahasan artikel itu.
“Secara umum, anak cenderung lebih rentan terhadap berbagai stimulus luar terutama infeksi dan superinfeksi yang disebabkan paparan hewan evolusi seperti Lentipede. Banyak kasus anak yang tidak tertolong karena penanganan yang terlambat, ataupun paparannya yang begitu banyak. Walaupun sampai ketika riset ini dilaksanakan belum ada penggolongan Lentipede yang bisa digunakan seperti sistem klasifikasi hewan dan tumbuhan, peneliti mengasumsikan tidak semua Lentipede memiliki tingkat infeksi yang sama. Belum jelas apakah ini berhubungan dengan inang yang berkontribusi menghasilkan hewan tersebut. Namun beberapa contoh kasus di atas menunjukan bahwa tidak semua Lentipede dapat menimbulkan tingkat keparahan penyakit yang sama. Pada anak dengan usia dan jenis kelamin yang sama, ditemukan beberapa perbedaan gambaran klinis dan fase penyembuhan. Kami menemukan hal menarik bahwa terbentuk kekebalan yang terus berkembang terhadap paparan Lentipede. Pada kasus-kasus dimana anak mendapat paparan berulang,
mereka tidak mengalami sakit yang lebih parah dibandingkan paparan sebelumnya. Fase penyembuhan menjadi lebih pendek. Sampai saat ini, belum ada kasus ditemukannya kekebalan penuh terhadap paparan Lentipede. Namun, kami dapat berasumsi bahwa hal tersebut dapat terjadi dikemudian hari. Mekanisme yang mirip seperti pemberian vaksin di masa lampau dapat diterapkan untuk memahami hipotesa ini.”
Di bawahnya terdapat beberapa grafik hitung jenis berbagai senyawa yang diambil pada beberapa kasus anak dengan paparan Lentipede berulang. Terdapat perbaikan gejala dan peningkatan sistem imun yang baik. Joke merenung sebentar. Kekebalan penuh? Ia pernah membacanya sedikit saat kuliah dulu. Teori itu hanya bisa dibenarkan jika paparan berulang yang diterima seseorang bisa membuatnya kebal dengan Lentipede yang sama.
Tapi, Leno tidak sepenuhnya kebal, ia mengalami episode halusinasi dan gangguan cemas yang bisa jadi disebabkan oleh Lentipede.
“Halo, Hana.”
Pintu ruangan terbuka. Bon melenggang masuk mengenakan jubah putihnya. Wajahnya nampak lelah karena belum tidur semalam. Hana memutar kepala dan badannya menghadap ke arah pintu. Ia memindai wajah Bon, kemudian berkata, “Selamat Pagi, Moonasera.”
Bon menarik kursi di samping Joke. Sekat otomatis muncul dari dalam meja yang ada di depan mereka, membuat Bon tidak bisa melirik apa yang Joke sedang baca. Joke mengusap sekat itu untuk menurunkannya kembali.
“Kau nampak lelah sekali. Apa ada yang terjadi di gerbang barat?” tanya Joke
“Tidak juga.” Bon menggeleng. “Beberapa anggota unit Andri meminta ku bercerita tentang kejadian di FIGHR. Berhubung aku juga tidak ada di tempat, aku berceloteh sesuai dengan yang ku dengar dari Maha dan laporan kalian.”
__ADS_1
“Berarti tidak ada serangan malam ini?”
“Syukurnya tidak.”
“Hmm.. mungkin Neena bisa melonggarkan situasi kota sedikit,” kata Joke berharap.
“Bisa jadi,” ujar Bon. Ia menepuk bahu Joke, “Oy, apa kabarmu? Aku baru tahu kau masih jadi penanggung jawab korban bersama Maha. Kenapa kalian tidak mengalihkan tanggung jawab ke unit tetap Geduna? Mungkin Maha mau merawat adiknya sendiri, tapi kau kan bisa menyerahkannya ke orang lain.”
Joke menimbang-nimbang sejenak. Memang benar ia bisa melakukannya, menyerahkan Leno untuk diawasi unit tetap geduna. Tapi, Joke melihat ada hal lain dalam kasus ini yang ia harus pelajari.Ditambah dengan kecurigaan yang Maha sempat utarakan kemarin tentunya membuat Joke semakin penasaran dengan kejadian akhir-akhir ini. Joke teringat Maha berkata ia sudah berdiskusi dengan Bon. Mungkin ia bisa membagikannya juga kepada Bon tentang apa yang ia dapatkan. Sekaligus membantu menguraikan benang
kusut yang masih menyumpal kepalanya.
“Aku menemukan sesuatu,” kata Joke.
“Pada korban ini?”
“Ya, Leno. Ia mengalami serangan panik, halusinasi visual, dan gangguan lain.”
“Oh,wow. Aku turut prihatin.” Bon duduk tegak, sedikit terkejut. “Aku kira kemarin kondisinya baik-baik saja.”
“Aku baru berbicara padanya kemarin siang. Sepertinya aku memicu serangan paniknya. Ia bertanya tentang keadaan temannya, Mia,” kata Joke bercerita.
“Ya, ya. Itu wajar karena kejadian malam itu bisa dikategorikan katastrofik.”
Joke mengangguk. “Katastrofik ya. Kejadian yang hampir membuatnya atau orang lain kehilangan nyawa.”
“Atau kejadian lain yang mengganggu integritas diri seperti perundungan, perkosaan, dan lainnya,” sambung Bon.
“Tapi,” kata Bon lagi. “Halusinasi adalah hal yang jarang ku dengar. Apa yang ia lihat?”
Joke mendeskripsikan bayangan yang diceritakan Leno. Seorang wanita muda yang menggendong bayi dan wanita lain yang Leno ingat sebagai bibinya.
“Apa dia melihat ketiga bayangan itu secara nyata? Di dalam kamarnya. Atau hanya sebagai mimpi?” tanya Bon.
Joke berfikir lagi. Leno tidak menunjukan dimana bayangan itu muncul di dalam kamarnya. Dari cerita Leno, sepertinya apa yang ia lihat lebih bisa dikatakan mimpi.
“Setelah kupikirkan tidak juga, Bon. Ia tidak melihat bayangan, tapi ia seperti melihat memori.. kejadian yang tersimpan di kepalamu,” kata Joke sambil meraba-raba ingatannya.
“Ooh,” celetuk Bon. “Memori bisa berbeda dengan halusinasi. Jika bayangan itu dipersepsikan benar-benar nyata di depanmu itu baru disebut halusinasi.”
Joke sedikit terkesima dengan kecerdasan Bon. “Aku lupa kau sangat hebat di bidang ini,” kata Joke.
Bon tertawa. “Hanya ingat sedikit. Topik jiwa menjadi kasus ujian akhirku, kalau kau ingat.”
Joke tekekeh. Kemudian ia kembali bertanya, “Tapi, Bon, memori berasal dari apa yang pernah kau alami kan? Bagaimana jika ia mengalami amnesia juga, ia tidak bisa mengingat siapa wanita yang ia lihat itu.”
“Amnesia? Menarik juga, “ kata Bon sambil mengusap dagunya. “Memori jangka pendeknya bagaimana?”
“Tidak terpengaruh. Memori sesaat, jangka pendek, jangka sedang juga sudah kutanyakan,” jawab Joke. “Ia hanya tidak bisa mengingat bayangan itu dan juga ibunya sendiri.”
“Ibunya?” tanya Bon dengan heran.
"Iya, dia juga bilang tiba-tiba tidak bisa mengingat apapun tentang ibunya, secara spesifik.” Aku bertanya beberapa hal mengenai keluarganya dan ia bisa menjawab dengan baik. Tapi, memori ini dan segala hal tentang ibunya menghilang begitu saja,” kata Joke menjelaskan.
“Apakah ada hubungan perempuan itu dengan ibunya?” tanya Bon.
“Bisa jadi, tapi ia tidak ingat sama sekali.”
Bon mencondongkan badannya ke depan. Ia terlihat serius. Bon berkata, “Sepertinya ini lebih serius dari yang ku bayangkan. Ada apa dengan memori ibunya? Mengapa memori itu yang spesifik hilang?”
Joke mengangguk. “Setahuku, diperlukan cedera kepala serius atau demensia berat untuk bisa menghapus citra seseorang yang kau kenal.”
“Pasti ada hal lain, aku ingat pernah membaca tentang hal ini. Sesuatu tentang trauma masa kecil,” ujar Bon sambil berpikir keras.
Masa kecil? Joke teringat dengan hal penting yang belum ia tanyakan. “Apa mungkin ia korban perundungan atau semacamnya ya?”
“Bisa jadi.”
“Tapi, apa hubungannya dengan Lentipede yang menyerangnya kalau begitu?” tanya Joke bingung.
“Mungkin paparan ini hanya mencetuskan yang sudah ada. Maksudku bukan sebagai penyebab amnesia atau semacamnya. Hanya sebagai pemicu munculnya sesuatu yang sudah lama rusak,”kata
Bon.
Mereka lama terdiam. Kalau begitu mungkin saja ini sesuatu yang lain, bukan murni paparan Lentipede yang membuat Leno mengalami kehilangan memori atau mungkin hanya sebuah mimpi.
“Apa anak ini punya riwayat penyakit sebelumnya?” tanya Bon.
Joke membuka laman baru dan mengetikan nama Leno. Setelah pindaian wajahnya selesai, laman berisi riwayat perawatan Leno terbuka. Ia sudah mengecek lama ini berkali-kali sebelumnya. Hanya ada hasil kontrol rutin tahunan sejak tahun pertama di FIGHR, sisanya tidak ditemukan kelainan.
“Kau harus melihat semuanya. Coba lihat di bagian catatan kelahiran dan perkembangan balita.” Bon ikut mengarahkan laman riwayat penyakit Leno yang terpampang di depan mereka.
Mereka mencari hingga data paling lama yang pernah ia temukan. Lalu ketika sampai di riwayat akhir masa balita, mereka berdua tercengang.
“Dia pernah dirawat di sini,” ujar Joke.
“Usia 6 tahun. Salah satu korban wabah Lentipede 12 tahun yang lalu. Dikatakan dalam kondisi kritis selama 1 minggu dan kemudian membaik. Ia dipulangkan setelah 3 minggu perawatan,” kata Bon sambil membaca catatan perawatan Leno. “Satu-satunya anak yang selamat di antara korban Lentipede yang lain.”
“Ini bisa menjelaskan kenapa ia tidak memiliki gejala yang parah seperti Mia. Bisa jadi ia mengembangkan kekebalan terhadap Lentipede,” ujar Joke sambil merenung. Ada fakta baru yang ia dapatkan di sini.
Bon menepuk pundak Joke. Temannya masih tercengang di tempat, “Aku harus memastikan apa yang
__ADS_1
terjadi pada Leno 12 tahun yang lalu.”