
Komisaris Roman duduk di ruang kerjanya yang cukup lenggang. Ruangan itu berukuran 5x3m dijejali satu meja kayu cokelat dan kursi-kursi kayu biasa hasil pahatan tangan. Dindingnya dicat warna cokelat yang lebih muda, namun tidak terlalu terlihat karena tertutup banyak sekali piagam penghargaan dan rak-rak penuh buku konvensional. Hologram kota diproyeksikan dari dalam mejanya. Titik-titik biru dan merah bergerak-gerak di sekitar gerbang kota, tapi tidak sebanyak 4 hari yang lalu. Ia menatap hologram itu dalam diam. Jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme yang sama.
Kemudian pintu ruangan terbuka.
Seorang pemuda berbadan tegap, seperti anak-anak buahnya, memasuki ruangan. Ia tidak berseragam, hanya mengenakan kaus putih dan celana denim cokelat. Sebuah kacamata hitam menggantung di leher kausnya yang cukup ketat. Pemuda itu menggangtung jaketnya di kaitan kayu di dekat pintu dan mendekati meja Komisaris Roman. Ia menarik salah satu kursi kayu dan duduk di atasnya.
“Kau memanggilku?” tanya lelaki itu.
“Mikrad sudah mulai merespons. Mereka jelas tidak senang,” kata Roman tanpa menjawab basa-basi yang dilontarkan lawan bicaranya.
“Mereka sudah tahu?”
“Belum semuanya. Baru kecurigaan. Kecurigaan yang cukup untuk menggoyahkan posisi Trikad di mata Dewan Pulau.” Mereka berdua terdiam. Satu-satunya suara yang terdengar adalah ketukan jari Roman di atas mejanya. Titik-titik merah dan biru di proyeksi kota masih bergerak kesana kemari.
“Jadi semuanya akan dimulai hari ini?” tanya si pemuda.
“Semua sudah dimulai sejak lama. Sejak kau bekerja di sana. Tapi benar, kita bisa memulai hidangan utama malam ini,” ujar Roman. Ia menghentikan ketukan jari-jarinya. Roman menatap pemuda itu lebih lekat. “Sito sudah mengurangi penjagaan di seluruh gerbang. Kota tidak dalam siaga penuh.”
“Mereka memang mengurangi penjagaan di perbatasan, tapi bagaimana dengan Menara? Puluhan Mandala bekerja di Geduna, di bawah tanah Menara sendiri.”
“Seluruh Mandala berada di bawah komando Sito. Mereka tidak akan berkutik. Aku sendiri yang akan memastikan itu terjadi.”
“Komandan Ri juga memiliki pasukan, apa rencanamu untuk itu?” tanya si pemuda lagi.
“Aku juga sudah mengurusnya.” Roman melipat kedua tangannya dan menjauh dari meja. “Karena itu aku meminta kau melakukan hal itu sekali lagi, untuk memastikan rencana kita berhasil malam ini.” Roman memandang lurus pemuda itu, “Tidak boleh ada kesalahan.”
Pemuda itu mengangguk kaku.
“Tugasmu memastikan orang tua itu tetap berada di tempat yang seharusnya. Ia terlalu banyak bicara dan sepertinya sudah mulai curiga dengan kondisi yang ada di rumahnya.”
“Dia baik-baik saja,” tukas si pemuda dengan datar.
“Kau tidak dengar apa yang ia katakan di depan mereka semua. Dia bisa menjadi ancaman jika sudah tahu terlalu banyak!”
Pemuda itu menggeleng. “Ia terlalu naif. Tidak pernah menyangka apa-apa. Kepekaannya tumpul sejak istrinya meninggal.”
“Jika ia menyusahkan langkah kita, aku harus membumkamnya,” kata Roman sambil menggertakkan gigi. “Kalau kau tidak mampu, aku akan mengirim orang lain.”
Pemuda itu tertawa dengan nada sinis. “Memangnya aku anak kecil yang takut dihukum kakeknya sendiri?”
Komisaris Roman mengangguk. “Buktikan kalau aku bisa mengandalkanmu.” Wajah pemuda itu mengeras. Ia ikut menggertakan giginya. “Kalau memang malam ini, aku harus segera di tempat.”
__ADS_1
“Tetap dalam aba-abaku,” ujar Roman memerintah.
Ia mengangguk. Pemuda itu berdiri, ia melenggang menjauhi Komisaris Roman. Ketika ia menyentuh gagang pintu, Komisaris Roman memanggil.
“Putra.” Pemda itu menoleh. “Orang tua itu benar-benar tidak memiliki data apapun tentang kita. Benar begitu?”
“Maksudmu?”
“Aku bertanya apakah kau benar-benar sudah menghapus proyek Anti-Lent dari LTK hingga tidak ada yang tersisa?”
“Tentu saja,” jawab Putra dengan yakin.
Roman tersenyum puas. “Berarti dia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang.”
“Ya,” ujar pemuda itu. Ia mengambil jaket abu-abunya yang tergantung di depan pintu, kemudian
mengenakannya di pinggang.
“Aku pastikan begitu.”
***
Leno berbaring di kasurnya menghadap ke langit-langit. Posisi ini telah menjadi posisi favoritnya dalam 2 hari terakhir. Langit-langit putih tulang yang monoton terasa lebih nyaman dibandingkan isi kepalanya sendiri.
yang cenderung tidak bisa ia ubah.
Ini adalah 4 hari teraneh dalam hidupnya. Begitu banyak perubahan dan keanehakn yang terjadi. Ketika Leno merenung lagi, ia menyadari bahwa ia hampir melupakan ambisinya untuk pergi dari kota ini.
Apakah benar itu yang Leno inginkan?
Tidak ada alasan untuk menolaknya. Ia tidak ingin terjebak di tempat ini selamanya. Dunia luar, walaupun cenderung buas dan berbahaya, lebih menarikk untuk ditelusuri. Leno sebaiknya mulai belajar otodidak bagaimana caranya bertahan hidup di luar kotanya. Mungkin ia harus memberitahu ayahnya tentang rencana ini.
Ayah.
Leno bangkit dan duduk di kasurnya. Sudah lama ia tidak memikirkan keluarganya. Ia tidak memiliki kerabat lain selain ayahnya, Gof, dan Bibi Irin. Ia bahkan sudah tidak memiliki ibu.
Sekelebat memori itu kembali masuk ke dalam kepala Leno. Tapi bagaimanapun tidak ada hal baru yang terjadi. Ia tidak bisa mengingat apapun sebelum maupun setelah kejadian itu. Sekarang kepalanya kembali berdenyut menyakitkan. Leno mengatur nafasnya kembali.
Ia belum bertemu Mn. Joke lagi sejak kemarin. Leno tidak memberitahu tentang masalah memori ini kepada Mandala lain selain Joke. Entah mengapa hal ini hanya nyaman dibicarakan kepada orang tertentu. Leno tiidak menceritakannya kepada Amber, Sept, Ona, ataupun kepada ayahnya.
Lalu Leno menyadari sesuatu. Mengapa ayahnya tidak pernah bercerita apapun tentang ibunya?
__ADS_1
Pintu kamar Leno terbuka. Leno melihat dari balik kaca isolasi, ayahnya masuk ke dalam ruangan itu. Ia
mengenakan kaus abu-abu dan jaket hijau tua yang sudah lusuh. Rambutnya dikuncir tinggi di atas lehernya. Ia jarang sekali menaikan rambutnya setinggi itu.
Ayahnya mendekati kaca isolasi dan melambai kepada Leno. “Lee, apa kabar?”
Leno turun dari kasurnya. Ia berjalan menuju kaca isolasi itu dengan telanjang kaki. Jarak mereka 1.5meter dihalangi kaca isolasi.
“Aku baik,” jawab Leno. “Ada apa?” Leno tidak mau berasumsi terlalu jauh bahwa ayahnya datang hanya untuk menjenguknya. Kemungkinan besar ada hal lain yang membuatnya datang ke sini.
“Moonasera Joke memanggilku. Ia ingin membicarakan beberapa hal. Aku sudah menemuinya tadi.”
Leno tersenyum kecil, merasa benar terhadap tebakannya sendiri. Ada sedikit rasa sakit yang muncul dan mengganggunya sesaat.
“Ooh,” kata Leno. “Lalu, apa yang Ia katakan?”
Ayahnya nampak ragu. Ia menunduk menatap lantai. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya. Leno baru menyadari ayahnya sudah cukup tua dan sangat kurus.
“Apa kau…” Ayahnya nampak semakin ragu. Ia memotong kalimatnya sendiri. Kemudian ia berkata lagi, “Apa kau tidak ingat apa-apa tentang ibumu?”
Leno mematung di tempatnya. Jantungnya berdetak tidak karuan mendengar pertanyaan itu. Bagaimana bisa Ayahnya bertanya hal seperti itu?
“Moonasera Joke memberitahukan hal itu kepadaku. Ia bilang mungkin serangan kemarin membuatmu melupakan hal-hal tertentu. Walaupun mungkin kasus sepertimu sangat jarang.”
Leno tidak menjawab. Ia tidak mau melihat ayahnya. Informasi ini menyulut sesuatu di dalam benaknya. Matanya berkaca-kaca, hampir menangis.
“Apa kau baik-baik?” tanya Ayahnya dari balik kaca itu.
“Tidak,” ujar Leno. Ia mengangkat kepala dan memandang ayahnya. “Aku tidak baik-baik saja.”
Ayahnya kembali menunduk. Ia menggeleng. “Harusnya aku tidak mengatakannya.”
“Mungkin harusnya tidak,” kata Leno. “Aku tidak apa-apa, aku hanya anak sekolah yang hampir mati 4 hari yang lalu dan dikurung di tempat ini tanpa bisa kemana-mana. Aku mengingat sesuatu yang aku tidak pernah tahu ada di dalam kepalaku. Aku tidak bisa mengingat siapa ibuku dan segala hal tentangnya. Aku tidak bisa tidur karena rasa takut atas hal-hal yang aku nahkan tidak tahu apa.
“Aku tidak baik-baik saja, Ayah. Andai saja kau mengerti.”
Dada Leno terasa sesak sekali. Ia tidak menyadari air matanya telah membanjiri wajahnya, membuat rambut lurus panjang Leno menempel karena air mata. Ia masih menunduk, tidak punya kekuatan untuk menatap ayahnya sendiri.
Lama mereka terdiam seperti itu. Leno terisak beberapa kali. Membiarkan air matanya turun hingga ke lantai. Ia memeluk tubuhnya sendiri.
Lalu, Ia merasa sangat lelah. Leno membalikan tubuhnya dan merangkak naik ke atas kasur. Ia berbaring menghadap tembok dan melanjutkan tangisannya di dalam bantal.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Leno mendengar pintu ruangan terbuka. Walaupun ia tidak melihat, Leno tahu ayahnya telah pergi meninggalkannya.