
Prof. Said membuka matanya. Ia melihat langit-langit berwarna putih terbentang di atas kepalanya. Ia
mengerjap-ngerjapkan mata untuk melihat lebih jelas, tapi ternyata ruangan tempatnya berada memang remang-remang. Ia membetulkan apa yang nampak seperti kacamata kuno yang sebenarnya tidak memiliki lensa tambahan untuk melihat. Ia mencoba bangun dan duduk di sofa tempat Ia berbaring. Ketika Prof. Said masih
mencerna apa yang telah terjadi, Leno masuk ke ruangan itu membawa segelas air putih.
“Apa Anda baik-baik saja?” tanya Leno. Ia duduk di samping kakek itu.
“Aku merasa sedikit pusing,” ujar Prof. Said. “Apa yang terjadi?”
“Anda.. ditembak.. eh, dibius oleh seorang laki-laki besar.” Leno mencoba menerangkan. “Tapi, tadi aku sudah tidak melihatnya lagi. Mungkin Moonasera Joke sudah membawanya pergi.”
Prof. Said terlihat bingung. Ia bertanya, “Dimana semua orang?”
“Mereka pergi ke.. Menara. Ada hal penting yang harus diurus katanya,” kata Leno sambil mengingat-ngingat apa yang dikatakan Joke kepadanya tadi.
Prof. Said mematung sejenak. Leno mengangkat gelas berisi air itu dan mencoba menawarkannya kepada kakek ini. Ketika Leno membuka mulut, tiba-tiba Prof. Said memegang kedua kepalanya dan berkata dengan keras, “Oh, tidak…”
Leno merasa sangat bingung. Ia menaruh gelas itu kembali dengan kikuk. Kakek ini sepertinya sangat terpukul. Leno tidak tahu harus mengatakan hal apa kepadanya saat ini.
Prof. Said nampak mencari-cari sesuatu. Leno melihat tas selempang kulitnya di bawah kaki sofa. Ia
memberanikan diri untuk bertanya, “Apakah Anda mencari tas Anda?”
Prof. Said menatap Leno. “Iya. Apa kau tahu dimana tasku? Warna cokelat muda terbuat dari kulit. Tidak terlalu ri-”
Leno mengambil tas kulit dari bawah sofa dan memberikannya kepada Prof. Said. Ia segera membukanya. Beberapa tabung, senjata kecil, dan tabletnya masih ada di sana. Ia mengeluarkan tabletnya. Masih menyala.
“Apa tadi sempat ada mati listrik?”
Leno belum pernah mendengar istilah itu seumur hidupnya. Tapi mengingat seluruh lampu dan aliran udara sempat mati untuk beberapa saat, Leno mengangguk. “Sempat mati, lalu menyala kembali.”
“Gedung ini dinyalakan dengan tenaga cadangan. Seluruh tenaga akan disalurkan kepada ventilator dan alat-alat penting lain untuk menopang hidup beberapa orang di gedung ini. Jadi hanya sedikit sekali lampu yang dinyalakan, aliran udara juga tidak terlalu baik untuk menghemat tenaga.”
Leno mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Prof. Said yang panjang lebar. Beberapa pertanyaannya sudah terjawab tanpa Ia perlu bertanya.
“Aku tebak mereka mematikan seluruh jaringan komunikasi lagi. Kacamataku tidak berfungsi. Apa gelangmu bisa menghubungi seseorang?”
Leno menggeleng. “Aku sudah mencobanya berkali-kali tapi tidak bisa. Internet juga tidak menyala. Tidak ada yang bisa kuhubungi.”
Prof. Said mengetuk tabletnya dan nampak beberapa berkas bertuliskan rumus matematika rumit yang membuat Leno pusing melihatnya.
“Sejak mereka mematikan jaringan di FIGHR secara sengaja, aku tahu mereka akan mencobanya lagi. Beruntung sekali aku masih menyimpan rancangan rompi yang Mandala gunakan untuk bertugas. Aku
membuat pelacak baru yang bisa mendeteksi rompi itu sekalipun tidak ada jaringan kota yang menopangnya.”
Leno tidak tahan untuk bertanya, “Bagaimana kau melakukannya?”
Prof. Said meliriknya sejenak sebelum kembali tenggelam dalam berkasnya. “Aku dan temanku merancang rompi mereka untuk bisa dilacak dan saling berkomunikasi. Tapi berhubung musuh kita berhasil menemukan cara untuk memutus komunikasi mereka, aku harus mencari cara baru.”
“Aku menghabiskan empat hari ini untuk melakukan banyak hal termasuk memodifikasi pelacak baru yang bisa mendeteksi apa yang bisa memancarkan sinyal di rompi setiap Mandala tanpa dipengaruhi jaringan kota.”
“Memang belum bisa digunakan untuk saling berkomunikasi, tapi setidaknya.” Prof. Said mengetuk tabletnya dan menaruhnya di meja. “Ini bisa melacak dimana mereka berada.”
Proyeksi Trikad muncul di hadapan mereka. Terlihat titik-titik biru dan merah yang nampak tidak terlalu banyak, bahkan bisa dibilang hanya kurang dari 10 yang tersebar di seluruh kota.
“Lihat, ada 1 orang Mandala di lantai 7. Ini Moonasera Sito, hanya dia yang berwarna hitam.” Prof. Said
mengetuk titik hitam itu. Terlihat sebuah label bertuliskan nama orang yang disebutkan tadi muncul. Leno memerhatikan itu semua dengan takjub. Ia tidak tahu Trikad memiliki pelacak sekeren ini.
“Aku harus mencari teman-temanku. Kau bilang mereka tadi menuju Menara, ya? Berarti kalau begitu, tebakanku mereka ada di sini.”
Prof. Said menunjuk dua titik merah dan satu titik biru yang berada di bawah lantai Menara. Mereka terlihat bergerak-gerak disekeliling lantai kemudian mereka berpindah ke atasnya.
“Mereka menuju ruangan Neena di lantai 7,” kata Prof. Said.
Leno belum mengerti mengapa kakek ini mengatakan hal itu kepadanya. Ia memerhatikan beberapa titik biru dan merah lain yang tersebar di gerbang-gerbang kota.
Prof. Said membuka lebih banyak berkas di tabletnya. Berbagai artikel dan tulisan diproyeksikan di samping proyeksi kota di atas meja itu. Leno memerhatikan betapa seriusnya kakek ini ketika ia sedang bekerja. Ia belum pernah melihat ada orang yang mengerjakan sesuatu seniat ini, selain Mia. Apa mungkin Mia nanti akan menjadi Profesor juga? Memakai jubah putih, duduk berjam-jam mengutak-ngatik angka, berambut abu-abu dengan kepala setengah botak…
“A..apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Leno dengan hati-hati.
“Hmm.. tidak ada, nak. Aku sedang mencari dimana Jery menyimpan catatannya tentang rancangan rompi itu. Tapi berkas itu sudah lama sekali tidak ku buka. Aku bahkan lupa mau mencarinya dengan nama apa.”
Prof. Said melepas kacamatanya. Ia memijat-mijat keningnya karena kelelahan. Prof. Said mengetuk tablet itu dan menutup berkas-berkas lain. Hanya ada proyeksi kota yang melayang di atas meja di hadapan mereka berdua. Prof. Said menundukan kepalanya. Leno semakin bingung harus melakukan apa.
Leno memutuskan untuk membiarkan kakek ini sendiri dulu dengan pikirannya. Ia menyandarkan punggungnya di sofa. Ia kembali berfikir bagaimana ia bisa sampai di situasi sekarang. Kemudian Leno
teringat apa yang kakek ini katakan beberapa jam sebelumnya.
“Ketika Anda bertemu saya tadi, Anda bilang Anda ingin meminta bantuan saya,” ujar Leno. “Apa yang Anda butuhkan?”
Prof. Said mengangkat kepalanya dan menoleh. “Hmm.. iya. Kau kemungkinan memiliki kekebalan yang sangat baik terhadap makhluk itu. Kau cenderung baik-baik saja sekarang, seperti tidak pernah terpapar sama sekali. Kami menduga kau sudah memiliki kekebalan yang dibutuhkan jika suatu saat bertemu dengan makhluk itu lagi. Kami ingin…. Meminta sedikit darahmu untuk mempelajarinya dan menggunakannya dalam skala luas.”
“Kau menginginkan darahku?” tanya Leno sedikit gugup.
“Ya, benar. Ada sesuatu di dalam darahmu yang membuat kau menjadi sekuat ini. Harus aku katakan Lentipede seukuran raksasa pasti memiliki jarak mematikan yang luas. Seharusnya kau tidak selamat…” Prof. Said berhenti setelah menyadari perkataannya, “Oh, maaf apa Mn. Joke sudah menyampaikan hal itu?”
“Hmm..” Leno menimbang-nimbang. “Sepertinya sudah,” kata Leno berbohong.
“Berarti aku memang memiliki sesuatu yang bisa membuatku membunuh mereka walaupun aku belum pernah melakukannya?” tanya Leno.
“Apa? Tidak.. Kau tidak bisa membunuh mereka tanpa pelatihan khusus. Karena itu di sini kita membangun sekolah khusus Mandala sebagai program lanjutan setelah lulus Pendidikan dasar. Mereka mengajarkan bagaimana caranya melawan makhluk ancaman manusia dan juga cara merawat mereka.”
“Ooh.. begitu…” Kemudian Leno teringat bagaimana Ia berhasil menghilangkan 2 makhluk itu di malam serangan mereka di FIGHR. Kalau bukan “sesuatu yang ada di dalam darahnya” berarti apa yang membuatnya bisa melakukan hal itu?
“Ah, nak. Apa yang kau pikirkan? Kau terlihat bingung.”
“Aku hanya….” Leno ragu untuk melanjutkan. “Apa yang benda ini bisa lakukan lagi?”
“Benda apa?”
__ADS_1
“Benda yang ada di dalam darahku.”
“Oh, kau belum mengerti ya? Aku lupa mereka mengajarkan apa saja di sekolah dasar. Apa kau tahu antibodi?”
Leno menggeleng dan merasa sedikit rasa bersalah. Kalau ia tidak tahu, mungkin memang bukan salah sekolah karena tidak mengajarkannya. Tapi karena… yah, Leno tidak mau menyalahkan dirinya lebih jauh sekarang.
“Lentipede ini, bukan makhluk hidup biasa, mereka seperti… apa ya.. orang dahulu menyebutnya sebagai virus. Ya.. ya.. bisa dibilang begitu. Tapi virus-virus ini belajar untuk membentuk suatu koloni untuk bertahan hidup. Mereka tadinya tidak terlihat karena kecil sekali, namun badai besar beberapa dekade lalu membuat kehidupan bumi menjadi abnormal. Mereka mampu membuat koloni sendiri sehingga tidak bergantung pada inangnya lagi.” Prof. Said berhenti lagi, “Ah, aku tidak pandai menjelaskan dengan Bahasa yang sederhana. Aku biasanya mengajar mahasiswa, maafkan aku.”
“Aku.. yah.. sudah pernah membaca… tidak, mendengar… tentang bagaimana Lentipede terbantuk, jadi mungkin aku bisa mencoba memahami maksud Anda.” Leno kali ini bersyukur punya teman seperti Mia.
“Intinya seperti ini. Tubuh manusia tidak terlalu banyak berevolusi seperti makhluk hidup yang lain. Kita
masih mempertahankan cara tubuh kita bekerja. Ketika ada makhluk lain yang menyerang tubuh, kita akan melawan.”
“Tubuhmu pernah melawan mereka. Pasukan yang melawan mereka bernama antibodi, yah bukan hanya itu saja tentunya tapi kau akan pusing kalau ku jelaskan semuanya.
“Intinya mereka dibentuk dari sel darah putih, lalu dipersiapkan untuk menyerang ketika ada musuh. Musuh yang sama akan dilawan lebih cepat sehingga tubuhmu akan lebih cepat sehat pada saat serangan selanjutnya.”
Leno mencoba mencerna apa yang dimaksudkan kakek ini.
“Seperti pasukan perang, sel darah putihmu adalah prajurit. Antibodi ini adalah senjatanya. Senjata akan membunuh musuh yang sudah dikenalinya. Kalau senjata rusak akan dibuang, kalau kekurangan senjata, pasukan sudah punya cetakannya jadi perang lebih mudah dimenangkan.”
Kali ini Leno mengangguk paham. Pengandaian yang menarik.
“Analogi ini dibawa ke pendahulu kita untuk membangun pasukan khusus yang bisa melawan makhluk itu dalam skala besar. Berhubung makhluk ini kasat mata, kita bisa membunuh mereka dengan tangan, kaki, badan, atau apapun yang bisa memutus ikatan antar mereka sendiri. Pasukan itu yang dinamakan Mandala. Orang-orang yang merawatmu sekarang.”
Oke, banyak sekali informasi baru yang masuk ke dalam kepala Leno sekarang. Tapi tetap saja, ia belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan awalnya.
“Lalu… apa yang bisa ku bantu?” tanya Leno lagi.
“Nah, kau bisa menyumbangkan “senjata kecil” yang ada di dalam darahmu kepada orang lain. Sehingga mereka bisa menggunakannya. Hal ini bisa juga untuk melakukan pencegahan dan sebagai penanganan kritis pada orang-orang yang membutuhkan. Dengan bantuan mu kita bisa….” Prof. Said menghentikan kata-katanya. Ia menatap proyeksi kota yang melayang di depannya untuk beberapa saat. Leno memperhatikan kakek itu lebih dekat. Ia tetap tidak bergerak. Apakah ini yang dinamakan stroke?
Sepertinya tidak. Sedetik kemudian, Prof. Said mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Kemudian ia
mengeluarkan dua tabung seperti botol minum Amber dan Mia yang selalu mereka bawa setiap latihan atletik.
“Nak,” ujar Prof. Said. “Apa kau mau membantu kami sekarang?”
“Hmm.. tentu saja. Aku tidak punya pekerjaan rumah hari ini,” kata Leno berusaha mencairkan suasana.
“Aku seharusnya mengajukan beberapa dokumen kepada geduna untuk melakukan hal ini. Belum lagi permintaan persetujuan kepada wali mu karena kau masih di bawah umur..”
“Aku.. sudah 18 tahun,” kata Leno. Prof. Said nampak cukup terkejut. “Aku kira kau masih 14 atau 15 tahun!” Leno tidak tahu apakah itu pujian karena wajahnya yang terlihat muda atau karena ia sangat bodoh seperti anak kelas 4.
“Aku kira ini adalah kondisi yang cukup darurat, dan berhubung aku membawa semua peralatanku di sini lebih baik aku mencobanya. Apa kau mau memberikan darah mu sekarang?”
Leno mengerti apa yang kakek ini maksudkan. Dan jika memang harus..
“Boleh,” jawab Leno. “Jika itu bisa membantu.”
***
tanpa menyentuhnya. Tapi sekarang tidak ada air terjun di sana. Aliran udara juga tidak terlalu baik. Ruangan terasa pengap dan panas. Bon melepas jaket abu-abunya dan menaruhnya di depan pintu.
Rosi menyambungkan beberapa kabel ke dua tabletnya sekaligus sambil mengetikan banyak kode angka dan huruf.
“Bon,” panggil Rosi. Bon berdiri tidak jauh darinya. Ia masih menggenggam pistol itu di salah satu tangannya.
“Kau harus mengetahuinya,” ujar Rosi lagi.
“Mengetahui apa?” tanya Bon.
“Tentang Ayu dan hubungannya dengan semua ini,” kata Rosi sambil menoleh ke arah Bon. Bon terlihat bingung.
“Apa hubungan Ayu dengan mereka?” tanya Bon.
“Dia salah satunya,” kata Rosi. Ia masih menatap Bon tapi dengan ekspresi berbeda. Ia nampak merasa bersalah.
Bon menggelengkan kepalanya. “Aku tidak percaya.”
“Apa kau bisa mengatakan di mana dia sekarang?”
Bon menggertakan kedua rahangnya. Ingin sekali Bon mengatakan “iya”, tapi kenyataannya Ayu memang tida bisa dihubungi sejak tadi pagi. Tidak ada yang tahu dimana dia sekarang.
“Mungkin sedang beristirahat.”
“Dia di Menara. Bersama Greeta dan ayahku. Ia membantu mereka,” kata Rosi lagi.
Bon menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. “Tidak mungkin. Ia tidak punya alasan untuk membahayakan orang lain.”
“Mereka berhasil membujuknya,” ujar Rosi. Kemudian Ia menunduk dan berkata dengan suara yang lebih halus, “Mereka membuatku berhasil membujuknya.”
“Apa?!” seru Bon dengan marah. Apa yang dikatakan orang ini?
“Semua orang punya dendam dengan sesuatu. Trikad juga punya penyimpangan dalam sistem,” kata Rosi menjelaskan.
“Sesuci-sucinya Neena di atas sana, selalu terselip ego manusia di setiap keputusannya.” Ketika
Ia tahu Bon sedang mendengarkan, Rosi melanjutkan.
“Kau tahu mengapa FIGHR menjadi objek yang rentan diserang?
“Karena FIGHR menerima anak-anak miskin yang berasal dari pinggiran kota dan dante yang berjarak tidak terlalu jauh dari Trikad. Pihak Menara tidak menginginkan anak-anak itu bercampur baur dengan anak mereka. Namun nyatanya 75% murid FIGHR adalah anak ambilan.”
Bon nampak tidak setuju. “Aku tahu pihak FIGHR tidak selalu sejalan dengan Menara. Aku merasakannya waktu sekolah dulu. Tapi itu sudah tidak terjadi sejak pergantian kursi Neena yang baru ini.”
Bon berhenti sebentar.
“Dan lagi jika pun hal itu masih ada, tetap tidak membuktikan apa-apa,” kata Bon dengan tajam.
Rosi mengangkat tangannya. Mencoba menghalau emosi yang ada pada Bon. “Dengarkan dulu.”
__ADS_1
“Percekcokan antara FIGHR dan Trikad membuat pihak Menara tidak terlalu memedulikan mereka. Ketika wabah menyerang Trikad, mereka meningkatkan pengawasan di pusat kota. Tidak ada satu unitpun yang dikirim ke FIGHR. Kau tahu itu?”
Bon mengernyitkan dahinya, “Dari mana kau tahu?”
“Ayahku tahu smuanya. Ia salah satu pejabat tinggi Trikad yang memedulikan hal ini,” ujar Rosi. “Setidaknya hanya ini yang ia pedulikan.”
Sekelebat memori muncul di benak Rosi. Ayahnya yang selalu memintanya berlatih, belajar, bekerja, untuk memenuhi tujuannya yang dikhususkan untuk malam ini. Selama ini memang hanya untuk alasan itulah, Rosi berlatih dan bekerja di bawah Prof. Said dan membantunya mencapai sesuatu yang ayahnya inginkan. Mencoba begitu keras untuk menjadi bagian dari sesuatu yang ayahnya pedulikan.
“Lalu?” tanya Bon, masih menunggu.
Rosi kembali menjelaskan, “Fakta itu tidak bisa dibantah. Kau bisa bilang Mandala kekurangan personel dan tidak bisa melindungi FIGHR yang terletak memang jauh di luar gerbang utama. Tapi banyak asumsi, terutama untuk mereka yang kehilangan, yang menyalahkan Trikad dan sistem yang mengakar di dalamnya.”
Bon teringat Ayu pernah bercerita tentang bagaimana ia kehilangan Ibunya, guru di FIGHR, dan adiknya yang baru kelas 1. Ayu satu tahun dibawah Maha dan Bon. Kala itu, Ia masih kelas 7. Wabah itu mengerikan. Banyak Lentipede kecil yang masuk ke gedung-gedung kelas dan asrama. Anak-anak yang berhasil selamat karena berlindung di dalam kamarnya atau di dalam perpustakaan. Ayu selamat, tapi kehilangan adik dan ibunya di sana.
Bon mencoba menyanggah, “Tapi..”
“Tidak masuk akal? Ya. Menaruh dendam pada sistem yang tidak bisa kau atur memang tidak masuk akal. Tapi seseorang yang terluka bisa mengesampingkan logikanya untuk banyak hal. Sejak hari itu, Ayu selalu terluka karena kehilangan.” Kemudian dengan setengah berbisik Rosi berkata, “Aku tahu tentang hal itu.”
Bon langsung naik pitam mendengar hal itu. Ia berseru, “Kau tahu tapi kau malah memperalatnya!”
Bon mengangkat pistolnya dan mengarahkan ujungnya ke kepala Rosi. Wajahnya memerah karena panas dan marah. Ia tidak menyangka pria ini hampir menikahi wanita yang ia cintai sekarang.
“Kau ini memang mau menghancurkannya ya!” teriak Bon dengan kencang.
Rosi mengangkat tangannya. Walaupun proporsi tubuhnya jauh lebih besar dari Bon, Ia tidak melawan. “Aku salah. Ya. Aku juga dimakan banyak dendam, terutama kepada Ayu. Aku tahu ini salah.” Ia berhenti sesaat. Bon masih menatapnya dengan marah.
“Tapi, aku harus menyelesaikan ini dulu. Setelah itu, kita bisa membicarakan ini lagi. Tapi sekarang Maha membutuhkan bantuan di Menara.”
Mendengar nama Maha disebut membuat Bon kembali tersadar. Bagaimanapun juga, Ia butuh bantuan Rosi untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Bon menurunkan pistolnya kembali. Ia menunduk memandang kakinya sendiri yang sedang berdiri di antara banyak sekali kabel-kabel besar. Ia mengatur nafasnya. Seberapa besarpun keinginannya untuk meluapkan emosinya, saat ini ia tetap harus berpikir jernih.
Setelah melihat Bon berusaha untuk kembali tenang, Rosi membuka tabletnya lagi. Ia kembali melanjutkan pekerjaan yang ia pikir tidak akan berani untuk ia lakukan, membantu teman-temannya untuk
melawan ayahnya sendiri.
***
Dengan mengandalkan ilmu yang diberikan mendiang istrinya, Prof. Said mengambil satu tabung darah Leno dan memasukannya ke tabung sentrifuge otomatis miliknya. Sebelum ia, Jery, Gina, dan beberapa teman yang lain membuat mesin sentrifuge dan dialysis portable, proses pengambilan serum dari darah segar memerlukan waktu dan tempat yang cukup banyak. Semua harus dikerjakan di laboratorium dengan kapasitas listrik yang baik dan suhu ruangan yang mendukung. Tapi memang banyak terobosan canggih yang dihasilkan Trikad selama mereka membangun kota ini.
Sepuluh menit kemudian Prof. Said menggenggam tabung yang sudah berisi cairan bening kekuningan. Ia memasukan ke dalam alat suntik dan mengatur penAnda dosisnya.
“Ini,” Prof. Said menunjuk alat itu. “Adalah antibodi yang kau miliki di dalam darahmu. Kau sudah memiliki senjata kecil ini sejak 12 tahun yang lalu. Itu sebabnya Lentipede buatan yang dibuat dari rangkaian genetic yang sama tidak memberikan efek yang mematikan padamu seperti korban-korban yang lain.”
Ia menatap mata Leno dengan lembut, “Kau anak yang beruntung.”
“Serum ini bisa menolong orang lain yang tidak memiliki kekebalan sepertimu. Pada kondisi kritis, ini bisa menjadi penentu hidup mati mereka.”
“Aku yakin hal buruk sedang terjadi di atas sana. Aku hanya butuh pihak yang benar memegang serum ini sekarang. Mungkin tidak banyak yang bisa diselamatkan, tapi kita harus tetap berusaha.”
Prof. Said terlihat sedikit gugup. Tangannya berkeringat lumayan banyak. Mungkin juga karena pendingin ruangan yang tidak bekerja dengan baik.
“Nah, aku minta bantuanmu lagi,” kata Prof. Said. Ia mengambil beberapa benda dari tasnya.
“Untuk… bertarung?” tanya Leno spontan.
“Oh, tidak!” seru Prof. Said dengan kaget. “Kau punya semangat yang bagus. Tapi, kau masih anak-anak. Aku tidak akan membahayakan nyawamu dengan membiarkan kau naik ke atas sana.”
Prof. Said menggenggam alat suntiknya. “Tolong berikan ini kepada Mandala manapun yang kau temui. Minta dia atau mereka menemui Maha di Menara. Atau Kayrina atau siapapun yang sedang menuju ke sana.”
“Oh, dan ini aku kebetulan membawa senjata baru yang sudah dimodifikasi. Mereka tahu cara menggunakannya.”
Ia memberikan satu botol semprotan nyamuk, atau yang dikira Leno begitu, ujung tombak keperakan seperti milik Mia dan Joke, dan dua masker wajah, sesuatu yang melindungi wajah para Mandala yang Leno lihat beberapa hari yang lalu.
Leno mengambil semua barang-barang itu. Kemudian ia bingung bagaimana cara membawanya. “Aku akan mencari kantung di ruang TV,” kata Leno. Ia sempat melihat beberapa kantung kertas kosong di ruang monitor saat mengambil air putih untuk si kakek.
Leno bangkit berdiri dan menoleh ke Prof. Said, “Aku akan memberikannya kepada mereka.”
Tapi tidak ada orang di lantai itu.
Leno melihat ke ruang monitor, ia tidak menemukan orang lain yang dirawat di sana ataupun para penjaga mereka. Tidak ada Mandala, petugas kebersihan, atau siapapun yang melintas di monitor. Leno memutuskan keluar dari pintu kaca Vibrio yang sudah terbuka.
Ia berjingkat-jingkat dengan pelan. Selain karena ia tidak memakai alas kaki apa-apa, pakaian yang ia
kenakan hanya berupa gaun putih selutut berlengan pendek. Leno mematut bayangannya di kaca besar Vibrio. Benar-benar seperti gelandangan.
Leno membuka setiap pintu yang terlihat di lantai itu. Tapi ia tidak menemukan siapapun. Akhirnya Leno
memutuskan berkeliling di setiap lantai. Ia melihat undak-undakan berwarna cokelat dan hijau yang memanjang dari lantai teratas hingga terbawah. Air terjun buatan tidak melewati hiasan itu.
Beberapa lantai memiliki ruang kaca seperti Vibrio dan ditulis dengan nama-nama yang pernah ia baca di buku catatan biologi milik Mia. Tapi pintu-pintu kaca itu tidak ada yang terbuka seperti pintu Vibrio.
Leno mulai merasa panik. Mengapa tidak ada siapa-siapa di temoat ini? Ia menaiki tangga satu persatu hingga ke rubanah di lantai 0. Tetap tidak ada orang di sana.
Leno memAndang sekeliling. Ia tahu ini adalah tempat parkir kendaraan pribadi. Leno melihat empat mobil yang terparkir tidak terlalu berdekatan. Seseorang pasti masih ada di sini.
Leno kembali masuk ke dalam gedung. Cahaya lampu semakin redup. Masih dengan mengenggam kantung kertas yang dibawanya sejak tadi, Leno kembali berkeliling.
Kemudian ia merasa lelah sekali. Leno kembali ke lantai 0 dan duduk di kursi yang menghadap langsung ke robot wanita yang menatapnya dengan aneh. Leno tahu robot itu tidak dihidupkan untuk menghemat daya. Leno menatap ke ruangan di sebrangnya. Ruang ibadah yang juga kosong.
Leno berpikir untuk kembali ke ruang perawatannya di Vibrio. Mungkin ia bisa bertanya pada Prof. Said apa yang harus dilakukan sekarang.
Kemudian Leno teringat kejadian di perpustakaan. Ia melihat Mia dikepung oleh 4 Lentipede raksasa di depan pintunya. Kalau Maha dan Joke tidak datang, mereka mungkin tidak akan selamat.
Bagaimana jika itu yang terjadi sekarang?
Leno kembali berpikir. Mungkin memang ia yang harus menyerahkannya sendiri kepada Joke atau Maha. Mungkin mereka sedang membutuhkan apa yang Prof. Said buatkan untuk mereka.
Leno melihat jubah putih yang tergantung di dalam ruang ibadah itu. Ia mengambilnya lalu ia kenakan. Leno juga mengambil alas kaki karet di sana.
Kemudian ia keluar dari Geduna, dan naik ke atas menuju Menara.
__ADS_1