
Ruang Vibrio terletak di lantai -5 di sudut 4’. Ruangan yang mirip dengan Gardnella tapi lebih kecil dan hanya memilki empat sekat berukuran sedang. Ada satu ruang rapat berukuran sedang di tengah dua sekat yang bersampingan. Dua orang Mandala bertugas di lantai ini dan sedang melakukan kunjungan ke setiap kamar.
“Anak ini korban serangan kemarin?” tanya seorang wanita dewasa berusia sekitar 35an. Ia mengenakan jubah putih terkancing rapat, denim abu-abunya terlihat dari balik jubah.
“Iya. Anak yang satunya di Gardnella,” jawab wanita lain yang nampak lebih tua. Jubah putihnya menutupi sebagian gaun hijau tua panjang yang menjulur hingga ke mata kaki. Wanita ini mengenakan kain penutup kepala berwarna senada dengan gaunnya. Ia menenteng tablet transparan untuk mencatat pemeriksaan dari kamar-kamar sebelumnya.
“Tapi, terakhir ku lihat anak ini.. siapa namanya..” Ia mengusap tablet temannya. “Lenolea.. hmm nama yang unik… Coba lihat lembar pemantauannya. Anak ini dalam kondisi stabil sejak ia datang kemarin malam,” kata wanita pertama.
“Berbeda dengan temannya yang kritis. Sepertinya ia tidak terlalu banyak terpapar Lentipede,” jawab wanita satunya.
“Bisa jadi. Tapi di bagian form riwayat paparan ini kosong, belum ada yang mengisi. Di sini hanya tertulis Mn. Joke membawanya untuk disterilisasi.”
“Mungkin Mn. Joke lupa. Unit utama biasanya punya tugas laporan kasus yang lebih rumit.”
“Hmm.. iya. Kalau bertemu Mn. Joke, ingatkan dia untuk melengkapi form anak ini.”
“Iya. Tapi aku belum melihatnya lagi. Dia sedang penugasan patroli ya?”
“Mungkin saja. Sibuk sekali pasti di atas sana. Aku sudah terlalu tua untuk jadi unit aktif patroli.”
Mereka berdua memasuki pintu kamar nomor 5. Pintu menggeser ke samping dan memperlihatkan dua ruangan yang dipisahkan oleh kaca. Mereka menanggalkan jubah dan menggantinya dengan baju pelindung yang tergantung di sana.
Seorang anak berambut panjang berbaring di atas kasurnya. Di samping kanan kasur terdapat meja papan putih lebar yang menempel di dinding. Di atasnya terdapat piring dan gelas sarapan sudah kosong di atas nampan putihnya. Leno mengetahui peralatan itu dibuat dari superporselen anti-pecah yang sering dibicarakan Ona beberapa bulan yang lalu.
Terdapat kapsul abu-abu semi transparan berukuran 1x1 meter di pojok kiri ruangan, tempat yang merupakan kamar mandi.
Leno bangun dan duduk di atas kasur. Dua orang berpakaian jas hujan ini memasuki ruangannya kembali.
“Halo, Lenolea. Aku Mn. Fina dan ini Mn. Jana, kami yang akan menjagamu sampai malam nanti. Bagaimana keadaanmu?”
Leno tersenyum kepada mereka. “Aku merasa nyaman. Terima kasih.”
“Apakah ada sesak? Nyeri kepala mendadak? Atau mungkin mual saat ini?”
“Tidak,” jawab Leno.
“Bagus sekali.”
Mn. Fina duduk di samping Leno. “Aku akan memeriksa keadaanmu.” Ia menarik suatu plastik transparan yang terhubung dari bawah Kasur. Wanita itu melingkarkan plastik itu ke lengan Leno. Mn. Jana mengusap layar tabletnya. “Sebentar ya.”
Ia merasakan lengannya diremas selama beberapa detik, kemudian plastik itu lepas dengan sendirinya. Leno belum pernah diperiksa dengan alat yang sekeren itu.
“Oke, sudah.” Wanita yang duduk di sebelahnya bangkit berdiri.
“Kalau begitu kami…”
“Bu.” Leno memotongnya sebelum mereka berniat pergi. “Bagaimana keadaan temanku? Mia, adik Mn. Maha yang dibawa ke sini sebelum aku sampai?”
Kedua wanita itu berpandangan sejenak. “Dia sedang dirawat dengan baik.”
“Apakah aku bisa berbicara dengannya? Aku belum keluar dari kamar ini sejak semalam.” Leno berhenti. Ia bahkan tidak tahu pukul berapa sekarang. “Apakah ada jam atau apapun yang bisa kugunakan? Aku juga butuh gelangku yang diambil saat aku sampai di sini.”
Salah satu wanita itu mengusap tabletnya. “Kau masih harus di sini selama 7 hari. Barang-barangmu akan segera diantarkan ketika sudah selesai proses sterilisasi.”
Apa? 7 hari?! Leno berteriak dalam hati. Ia dikurung di ruangan ini selama 7 hari?
“Tenang saja, sebentar lagi orang tua mu boleh menjenguk,” kata Mn.Jana menenangkan.
“dari balik kaca.”
“Lagipula..” Mn. Fina berjalan ke dinding yang menghadap tempat tidur Leno. “Kau bisa menonton berita dan terhubung ke internet di sini.” Ia menekan dinding dan kemudian sebuah panel LED muncul keluar dari dalam dinding. Mengetahui adanya televisi membuat Leno merasa lebih lega.
“Nah, nak. Nanti kami atau mungkin Mandala lain yang bertugas akan mengunjungimu lagi. Jika terjadi sesuatu yang tidak nyaman, bicara saja langsung ke dinding ini.” Ia menunjuk dinding yang menempel dengan kasur Leno. “Kami bisa langsung mendengarkan.”
Leno menghela nafas. Setidaknya mereka berniat baik.
“Oke. Terima kasih banyak,” kata Leno pada akhirnya.
Kedua wanita itu mengangguk. Mereka meninggalkan ruang kaca. Mereka menanggalkan jas hujan itu dan mengenakan jubah putih kembali. Mn. Fina, Mandala yang nampak lebih muda, melambai pada Leno dan tersenyum. Leno balas tersenyum juga.
Leno terdiam di kasurnya. Ia mengenakan gaun putih selutut yang didapatkan dari tempat sterilisasi. Tubuhnya sekarang wangi sabun dan terasa sangat bersih. Sepertinya semua dosa Leno ikut terbawa di ruang steril itu.
Tiba-tiba dinding di sisi kanannya membuka. Papan putih yang berisi piring dan gelas kotor Leno dibawa masuk ke dalam dinding. Beberapa saat kemudian papan itu keluar lagi dengan keadaan bersih. Dinding kamarnya kembali menutup.
Leno belum pernah dirawat di Geduna sebelumnya. Semua terasa keren dan asing di saat bersamaan. Leno memutuskan untuk menyalakan televisi. Ia harus tahu bagaimana keadaan di luar sana.
__ADS_1
Saluran pertama yang muncul adalah acara berita. Seorang pria muda berdiri di depan gerbang yang tidak asing bagi Leno. Garis kuning panjang terbentang tampak mengelilingi gerbang FIGHR. Di balik garis kuning, terlihat orang-orang berjashujan berlalu lalang. Leno membaca judul berita di teks paling bawah.
SERANGAN LENTIPEDE FIGHR MEMAKAN 2 SISWI SEBAGAI KORBAN
Leno menahan nafasnya. Tentu saja berita sudah menyebar. Ia menaikan volume televisi.
“Situasi nampak ramai oleh Mandala di gerbang FIGHR setelah adanya laporan serangan Lentipede raksasa pukul 21.00 tadi malam. Lentipede dikatakan berjumlah lima buah dan menerobos unit patrol dan menuju FIGHR. Dua orang siswi tingkat akhir, dengan inisial MC dan LA, menjadi korban serangan Lentipede. Saat ini mereka sedang mendapatkan perawatan di Geduna. Salah satu siswa dikatakan dalam kondisi kritis….”
Leno terkejut dan tidak mendengarkan apa yang pria itu sampaikan setelahnya. Salah satu siswa dikatakan kritis?.. Mia sedang kritis?..
Leno kembali menjadi tidak tenang. Ia harus bertemu Mia.
“Moonasera? Apa kau bisa mendengarku?” Leno menekan dinding di sebelahnya dan berbicara.
“Ya, Lenolea. Ada apa?” suara wanita muncul di ruangan itu.
“Aku harus menemui Mia. Bolehkah aku keluar sebentar saja? Atau mungkin kau bisa mengantarku?” kata Leno setengah memohon.
Tidak terdengar jawaban. Leno semakin gelisah. “Aku harus bertemu dengannya, Bu. Kumohon..”
Leno menunggu jawaban dari sisi yang lain. Tapi tidak ada yang menjawab. Leno tertunduk lemas di kasurnya. Setetes air mata turun di pipi Leno. Dadanya terasa sesak sekarang. Apa yang harus ku lakukan, batin Leno.
Sementara itu, televisi masih menyala. Acara berita sudah berganti topik menjadi wawancara langsung. Pikiran Leno teralihkan, sayup-sayup Leno mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
“…begitu ya. Terima kasih Komandan Hosianudian atas penjelasannya. Kita akan beralih ke Moonasera Hiroya selaku juru bicara Geduna saat ini. Selamat siang.”
“Siang, Bu.”
Leno melihat seorang bapak-bapak usia 50an tahun dengan kumis tebal dan badan gempal mengenakan rompi putih tanpa lengan dan denim putih, seragam yang sama seperti yang dikenakan Maha dan
Joke tadi malam.
Wanita muda yang duduk di samping bapak itu memulai wawancaranya kembali.
“Jadi bagaimana menurut Anda mengenai serangan kali ini? Dua hari berturut-turut Trikad dibobol oleh musuh lama yang sekarang kembali dengan ukuran raksasa! Apakah ada teori khusus tentang bagaimana Lentipede raksasa ini terbentuk?”
“Pada dasarnya Lentipede bukanlah makhluk hidup. Mereka merupakan kumpulan sel-sel yang memodifikasi dirinya sendiri sehingga bisa membentuk suatu ikatan yang cukup rapat.
“Mereka hanya bisa terbentuk dari hasil sisa makhluk hidup yang telah mati atau terluka. Sel yang setengah mati menjadi semacam inang yang membuat mereka bisa mengikatkan diri satu sama lain.”
“Mereka terus mengalami perkembangan. Kami belum mengetahui persisnya seperti apa. Kemungkinan adanya mutasi gen yang berlebihan. Namun perlu Anda ketahui bahwa mereka tidak pernah menghilang dari muka bumi. Mereka mungkin tidak terlihat di kota ini karena kami, para unit aktif Mandala, selalu mengamankan diri di dalam dan di sekitar perbatasan tapi mereka tidak pernah menghilang.
Lentipede selalu ada di luar sana, sebelum atau sesudah serangan ini sekalipun. Apa yang membuat mereka menjadi sebesar itu belum diketahui. Tolong media jangan membuat asumsi terlebih dahulu tentang hal ini.”
Wanita muda itu nampak canggung sedikit. Bapak tua itu melanjutkan,” Kami akan berusaha keras, dibantu dengan pihak dari militer untuk mengamankan Trikad di setiap senti perbatasan.”
“Moonasera, saya ingin bertanya tentang serangan tadi malam. Dua orang siswi FIGHR menjadi korban Lentipede yang berhasil masuk ke dalam area sekolah. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Apakah mereka berhasil menerobos pengamanan yang sudah disiapkan?”
“Kami sudah menempatkan penjagaan di semua gerbang Trikad hingga ke gerbang utama. Lentipede itu memang sangat besar dan dilaporkan ada lima makhluk yang terlihat memasuki FIGHR. Unit utama
kami berhasil menghancurkan semuanya, tapi saying sekali siswi yang ada di lokasi tetap menjadi korban.”
“Baik. Mungkin ini yang terakhir dari saya. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Mengingat mungkin akan terjadi serangan-serangan lain dari Lentipede yang belum bisa dikalahkan oleh Mandala?”
“Kami bisa mengalahkan makhluk itu.” Bapak tua itu terlihat kesal.
“Hanya saja semalam kami belum bisa menghalau makhluk itu dari memakan korban.”
“Tapi, bukankah berarti Lentipede kali ini belum bisa ditangani?” kata wanita itu masih menyelidik.
“Oke, baik. Saya mohon dengarkan kalimat saya ini. Trikad sedang dalam kondisi darurat, Siaga II sudah ditetapkan tadi pagi. Keempat gerbang ditutup dan ditingkatkan pengawasannya untuk berjaga-jaga terhadap serangan berikutnya. Kami belum tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tapi kami akan mengusahakan yang terbaik.”
Leno mematikan televisi. Kepalanya sekarang menjadi semakin berat. Semua informasi ini hanya memperbesar rasa takut di dalam benaknya. Leno menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Setetes air mata turun ke pipi Leno. Leno menundukan kepala, membenamkan dirinya di antara kedua lengannya yang terlipat. Rambutnya jatuh menjuntai, menutupi seluruh wajah dan lengannya sendiri.
Tiba-tiba, sekelebat bayangan muncul di dalam kepala Leno. Siluet seorang wanita berambut lurus panjang berlari sambil menggendong bayi di lengan kirinya. Kemudian wanita itu menyerahkan bayi kepada sosok yang Leno kenal, Bibi Irin yang nampak 10 tahun lebih muda. Wanita itu menggengam lengan Leno dan menggiringnya masuk ke dalam lemari baju cokelat dengan ukiran kepala elang di tengah pintunya. Wanita itu mengatakan sesuatu tapi Leno tidak bisa mendengarnya. Sayup-sayup bayangan itu pudar. Leno
duduk mematung di atas kasurnya.
Apa itu tadi?
Leno tidak ingat pernah melihat adegan itu dengan kedua matanya. Namun sosok wanita itu nampak familiar di benak Leno. Siapa dia? Mengapa bayangannya muncul di kapala Leno tiba-tiba? Apa hubungannya dengan Bibi Irin?
Kepalanya sekarang terasa sangat sakit. Sisi kanan kepalanya berdenyut-denyut menyakitkan. Leno merasa perutnya mual. Suara berdenging muncul di telinga kirinya. Ia merasa pusing sekali.
__ADS_1
Beberapa menit setelah serangan sakit kepala itu, terdengar suara “klik” di dinding sisi kanan Leno. Lubang makanan terbuka kembali. Papan putih yang menempati dinding itu masuk ke dalam lubangnya. Mungkin sudah jam makan siang. Alih-alih sepiring makanan dan gelas yang muncul bersama papan itu, sebuah plastik transparan berisi gelang dx85 Leno sampai di hadapannya. plastik itu juga berisi secarik kertas yang
bertuliskan.
STERIL.
Barang-barang yang digunakan di ruang isolasi harus dilakukan sterilisasi ulang sebelum dibawa keluar Geduna.
Ttd.
Bagian Prasarana lt.-1 Geduna
Leno mengeluarkan gelang itu dari plastik dan buru-buru menyalakannya. Rasanya sudah lama sekali tidak menyentuh alat komunikasi satu-satunya yang Ia miliki. Begitu terhubung ke internet, 256 pesan singkat dan panggilan tidak terjawab masuk ke dalam notifikasi. Tentu saja semua orang mencari Leno.
Amber menelfon 5 kali, Sept mengirimkan 10 pesan singkat, Niken menelfon dan mengirim pesan suara, beberapa teman kelasnya mengirimkan pesan juga. Bu Denia menelfonnya hampir 20 kali.
Leno melihat pesan ayahnya ada di notifikasi terbaru. Tertulis bahwa ia akan mengujungi Leno siang ini. Leno membuka pesan itu. Sejauh ini hanya itu yang ayahnya kirim. Kemudian Leno menjawab pesan ayahnya dengan singkat.
Ok, tulis Leno.
Leno menghela nafasnya, berusaha menenangkan diri. Mengetahui bahwa ia tidak sendirian perlahan membuat ketakutannya menghilang. Di saat Leno membuka satu persatu pesan, panggilan masuk ke gelangnya.
Sept menelfon. Leno langsung mengangkatnya, hologram Sept muncul di hadapan Leno.
“Sept!”
Proyeksi Sept menunjukan mulutnya menganga lebar dan tangan kanannya mengepal. Ia terlihat sangat terkejut sekaligus sangat senang.
“Lee! Bagaimana keadaanmu?!”
“Aku..” Leno mencoba mencari-cari respon yang tepat. “yah.. baik. Sejauh ini baik. Aku baru bisa memegang gelangku jadi tidak sempat menjawab pesan atau telfon.”
“Ya.. ampun.. Lee, aku senang bisa melihatmu walaupun hanya 3 dimensi.” kata Sept. Rasa terkejutnya sekarang berubah menjadi gugup. Leno tertawa kecil. Setelah semua kepanikan yang ia rasakan sejak semalam, Leno tentu saja senang bisa melihat temannya.
“Iya. Bagaimana sekolah?”
“Tutup,” jawab Sept singkat. “Dengan proses sterilisasi menyeluruh di FIGHR kita tidak bisa pergi
kemana-mana. Aku dan seluruh murid dikunci di dalam asrama.”
Leno teringat berita di televisinya tadi. Ia sempat melihat pemAndangan FIGHR dikelilingi garis kuning
dan banyak sekali orang-orang berbaju putih dari layar itu.
“Iya, aku melihatnya di TV.”
“Lee, kau baik-baik saja kan? Soalnya.. ku dengar kalian dalam kondisi kritis..”
Leno menelan ludahnya, Ia kembali teringat Mia yang belum juga ia temui hingga saat ini.
“Aku baik-baik saja. Tapi aku belum bertemu Mia.. aku belum tahu keadaanya.”
Raut wajah Sept berubah. Leno bisa menangkap kesedihan dari matanya.
“Semoga kalian tidak apa-apa.”
Leno terdiam lagi. Benarkah Mia tidak apa-apa? Belum ada yang memberikan informasi pasti tentang keadaan Mia. Kedua Mandala yang merawatnya tadi pun tidak mau menjawab. Sept mengetahui apa yang Leno pikirkan. “Mia akan baik-baik saja. Kau juga akan baik-baik saja, oke?”
Leno berusaha tersenyum. Ia mengangguk kecil.
“Aku akan memberitahu Amber setelah ini. Mungkin setelah pintu erFu dibuka kembali, kita bisa menjenguk kalian. Beritahu ruang kamarmu, Lee.”
Leno mengangguk. “Aku akan mengirimkan nomor kamarnya.”
“Baiklah,” kata Sept. Ia terdiam sejenak. “Aku sungguh lega kau baik-baik saja.”
Leno merasakan kehangatan saat Sept mengucapkannya. Entah mengapa kalimat itu menjadi sangat berarti.
“Terima kasih,” kata Leno, bingung mau menjawab apa.
“Oke, istirahat. Kirimkan kabar ya,” kata Sept sambil tersenyum. Seketika Leno menjadi gelagapan. “I..iya.”
Kemudian hologram Sept menghilang. Leno mengalami pasang surut perasaan yang cukup banyak sejak tadi malam. Batinnya menjadi lebih lega setelah berbincang dengan orang yang sudah ia kenal. Leno mulai membalas pesan teman-temannya yang mulai berdatangan. Sept sepertimya sudah mengumumkan kalau Leno bisa dihubungi sekarang. Amber dan Niken menelfon tidak lama setelahnya.
Dibandingkan dengan apa yang telah terjadi dalam 24 jam terakhir, saat ini Leno merasa jauh lebih baik.
__ADS_1