Mandala

Mandala
Trauma Leno


__ADS_3

              Joke turun ke 1 lantai di bawah ruang Gardnella melalui lift kapsul. Ia hanya diberi waktu satu jam untuk melengkapi berkas-berkas Lenolea yang belum sempat ia tengok lagi sejak 2 malam yang lalu.  Laporan keadaan umum harian Leno baik. Tidak ada keluhan apapun yang signifikan untuk diamati. Berbeda jauh dengan kondisi Mia tadi. Joke memang sudah merasakan ada yang aneh sejak malam itu ia membawa Leno ke Geduna.


              Tidak ada efek apa-apa yang ditimbulkan Lentipede itu pada Leno. Demam pun tidak ada. Anak  perempuan itu hanya nampak terpukul sekali setelah melihat Mia dibawa oleh Maha sebelumnya. Selain dari itu, tidak ada kelainan apapun yang ada pada Leno.


              Joke tidak bisa menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Lift kapsul membuka, Joke sampai di lantai -5. Joke berbelok ke kanan untuk masuk ke ruang rawat yang ia cari. Joke mengetukan jarinya ke pintu kaca besar dengan tulisan “VIBRIO” berwarna merah yang berpendar di bagian atasnya. Setelah semua pemindai mengenali Joke sebagai Mandala unit utama, Joke melenggang masuk mencari kamar Leno.


              Setelah masuk ke pintu otomatis, Joke melihat anak perempuan yang ia bawa ke tempat ini 2 hari yang lalu. Leno nampak baik-baik dengan gaun putih geduna yang memanjang hingga lutut. Rambut anak itu sudah lebih rapi dan tidak acak-acakan seperti malam itu. Leno sedang berbaring di kasurnya sambil menonton video konser band yang ia proyeksikan ke langit-langit ruangan. Ketika pintu otomatis tertutup, Leno mematikan proyeksinya. Ia duduk di kasur, memperhatikan Joke masuk ke dalam ruangan mengenakan jas hujan, atau yang dikira Leno begitu.


              “Selamat, sore, Lenolea. Kita sudah pernah bertemu 2 hari yang lalu.” Joke berdiri di depan tempat tidur


Leno, memerhatikan Leno dari ujung rambut hingga kakinya. Anak ini benar-benar sehat, batin Joke. Kemudian Ia mengetikan keterangan baik di tabletnya.


              “Hai,” sapa Leno. Ia mengenali Joke yang bertarung dengan Maha, kakaknya Mia 2 malam yang lalu. Tapi, kali ini surban di kepala Joke tidak terlihat.


              “Apa yang kau rasakan sekarang?”


              “Baik-baik saja. Aku sempat merasa pusing tapi lama-lama menghilang setelah istirahat”


              “Apa pusingnya seperti berputar?”


              “Tidak.”


              “Ada mual atau muntah?”


              “Hmm. Ada mual sedikit.”


              “Apa pusingnya merupakan sakit kepala yang sangat parah?”


              “Tidak. Hanya berdenyut saja, di sisi kanan.”


              “Dari skala 1-10, 1 untuk sakit ringan, 10 untuk sakit terberat seumur hidup, berapa nilai rasa sakitmu?”


              Leno tidak bisa memikirkan rasa-sakit-terberat-seumur-hidup itu seperti apa. Tapi, sepertinya rasa sakit


kepala yang muncul tiba-tiba itu tidak layak diberi peringkat setinggi itu. “Tiga, sepertinya tiga. Tidak terlalu sakit, tapi tetap.. sakit,” ujar Leno dengan ragu.


              “Apakah muncul akibat kau menonton berita atau stress yang mendadak?” tanya Joke lagi.


              Leno mengingat-ngingat sedikit banyak yang membuatnya stress akhir-akhir ini. Semuanya selalu berkaitan dengan berita tentang serangan Lentipede dan juga tentang Mia.


              “Umm.. Iya, bisa jadi.”


              “Apa ada pandangan ganda? Buram mendadak? Melihat bayangan hitam di pandanganmu?


              Leno teringat sekelebat bayangan wanita dan bayinya yang muncul tiba-tiba kemarin pagi. Apakah ini termasuk bayangan itu? Tapi, sepertinya bukan itu yang dimaksudkan Mn. Joke.


              “Lenolea? Apa kau mendengar pertanyaanku?” tanya Joke dengan cukup cemas karena melihat Leno yang tidak langsung merespon.

__ADS_1


              “Tidak,” jawab Leno. “Maksudku aku tidak melihat bayangan apapun.” Leno menambahkan cepat-cepat.


              “Baiklah. Kalau begitu.” Joke mengetikan beberapa kata di tabletnya. “Aku akan meminta mereka memberikan pereda sakit kepalamu. Ini hanya migraine biasa yang dicetuskan oleh paparan stress.


              “Istirahat dulu di sini ya. Lima hari lagi kau bisa pulang.” Joke mengusap tabletnya. Dari balik jas hujan


transparannya, Leno bisa melihat Joke tersenyum.


              “Tapi, apakah aku bisa pulang?” tanya Leno. “Maksudku, teman-teman di sekolah bilang mereka tidak bisa kemana-mana juga. Apa setelah 5 hari ini, aku juga harus tetap bersama mereka di sana? Atau aku harus diam di sini sampai mereka juga boleh pulang?”


              Joke berpikir, memang belum ada yang membicarakan tentang hal ini. Mengingat hanya Leno korban yang dalam kondisi baik dari 2 serangan terakhir ini. Satu korban lainnya telah meninggal dunia, sedangkan Mia bisa dipastikan tidak akan pulang dalam 5 hari lagi.


              “Memang situasi sedang sulit. Aku belum bisa memastikan apapun,” kata Joke. “Tapi yang pasti kami tidak akan membiarkanmu, teman-temanmu, dan warga Trikad yang lain ada dalam posisi yang berbahaya. Hanya itu yang bisa kukatakan.”


              Leno memahami hal yang disampaikan Joke. Memang belum ada yang bisa dilakukan. “Baik,” jawab Leno.


               Ada hal lain yang masih terus tersangkut di kepala Leno dan belum juga terpecahkan. Leno  memutuskan Joke adalah orang yang tepat untuk bertanya tentang hal ini. “Apa kau tahu bagaimana keadaan Mia sekarang?”


              “Ia sedang dirawat dengan baik. Satu lantai di atasmu,” kata Joke sambil menunjuk ke langit-langit.


              “Apakah aku bisa berbicara dengannya?”


              “Sepertinya belum bisa. Ia masih lemah sekali.”


              “Begitu ya..” Leno menghela nafasnya kembali.  “Apakah dia akan baik-baik saja?”


              Jawaban Joke membuat Leno sedikit tersulut, emosinya menjadi meledak tiba-tiba. Mengapa mereka semua mengatakan kalimat yang sama tentang Mia? Tidak adakah yang mau berkata jujur kepada dirinya?


              “Moonasera, aku sudah bertanya pada 3 Mandala yang berbeda tentang Mia, dan tidak ada satupun yang menjawab dengan jujur dan tegas. Aku hanya butuh satu jawaban, dan aku harap aku tidak perlu bertanya pada 1000 Mandala lain untuk mendapatkannya.”


              Leno dan Joke sama-sama terkejut dengan kata-kata Leno barusan. Leno tidak pernah merasa sangat marah dan sangat sedih di saat yang bersamaan. Sorot matanya nampak tajam, berusaha menusuk Joke


dalam-dalam. Tapi, butuh lebih dari itu untuk membuat pertahanan Joke luntur. Joke bertanya dengan nada tajam yang sama. “Memangnya kalau kau tahu bagaimana keadaan Mia sekarang, apa yang akan kau lakukan?”


              Diberikan tekanan yang cukup kuat membuat emosi di dada Leno membuncah keluar. Rasa cemas mengisi seluruh kepalanya yang sekarang berseliweran dengan berbagai bayangan-bayangan menyeramkan. Tangis Leno pecah seketika.


              “Aku tidak tahu, aku hanya takut sekali. Semuanya berubah, aku melihat memori yang tidak pernah ku ingat, dan hal-hal lain yang membuatku sakit kepala jika kupikirkan terus…”


              Joke merasa bersalah telah membuat kecemasan anak ini muncul. Mungkin ia terlalu keras tadi. Joke mengait kursi terbang yang berhadapan dengan meja makan putih Leno dan duduk di hadapan anak perempuan itu.


              “Tenanglah,” kata Joke melembut. Ia menunggu hingga tangis Leno mereda. “Lenolea lihat aku.” Joke melihat Leno pelan-pelan mengangkat kepalanya. Air mata membasahi kedua pipi Leno dan rambut panjangnya yang sekarang berantakan. Leno menatap Joke.


              “Sekarang tarik nafas dalam-dalam.” Joke menunggu Leno mengikuti instruksinya sebelum ia melanjutkan, “Tahan sampai hitungan ke lima. Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. Lima… Hembuskan.”


              Leno menghembuskan nafasnya seperti yang Joke minta. Rasa tenang perlahan datang ke benak Leno. Joke mengulangi terapi nafas itu 4 kali hingga Leno terlihat jauh lebih tenang.


              “Nah, nak. Sekarang, ceritakan padaku,” kata Joke. Ia mencondongkan badannya sedikit untuk mendekat dengan Leno. “Apa yang kau rasakan sekarang?”

__ADS_1


              Leno menelan ludahnya beberapa kali, tenggorokannya terasa kering sekali. Ia menjawab, “Aku takut.”


              “Takut dengan apa?” tanya Joke lagi.


              “Segala hal akan memburuk.”


              “Kau takut sesuatu terjadi pada Mia?”


              “I..Iya.” Leno mengambil nafas panjang. “Kalau sampai ia tidak selamat aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Kenapa aku tidak bersikeras menyuruhnya pulang ke asrama? Kenapa aku malah membawa makhluk itu ke tempatnya? Kenapa aku harus sok sokan melawan makhluk itu dan.. dan… membuat Mia menjadi…”


              Kecemasan kembali muncul pada raut wajah Leno. Joke memanggil Leno dengan nada lembut, “Lenolea.”


              “Panggil Lee saja cukup,” potong Leno.


              “Lee, aku tahu ini tidak mudah bagimu. Banyak sekali hal-hal luar biasa yang terjadi padamu akhir-akhir ini. Tapi tolong berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Toh itu hanya menyakitimu dan tidak membantu siapapun


sekarang.” Joke menunggu respon dari Leno. Ia nampak mendengarkan Joke.


              “Jika kau benar-benar peduli pada Mia, lakukan yang terbaik yang kau bisa. Tetap sehat, aman, dan berharap semua akan baik-baik saja. Aku juga yakin bahwa itu yang Mia inginkan jika ia ada di sini sekarang.


              “Kau anak yang hebat, Lee. Sangat hebat. Temanmu pasti bangga.” Joke memberikan senyumnya  kepada Leno.


              Leno mengangguk dan kembali menyeka kedua pipinya. Ia mengibaskan rambut panjangnya yang menempel satu sama lain karena air mata. Setelah menyisir rambutnya dengan jari, Leno berkata “Terima kasih. Anda membuatku tenang.”


              “Sama-sama.” Joke merasa lega mendengarnya. “Apakah ada lagi yang ingin kau ceritakan?”


              Leno kembali teringat dengan bayangan wanita itu, Ia agak ragu, apakah Ia bisa menceritakannya kepada Joke atau tidak. Akhirnya Leno memutuskan untuk meminta bantuan Joke dengan bercerita.


              “Aku melihat sesuatu. Sebuah bayangan yang tidak pernah kuingat.”


              Leno menceritakan sekelebat memori yang muncul 2 hari yang lalu. Bagaimana ia tidak bisa mengingat siapa wanita itu, dimanakah tempat yang ada di kepalanya, dan mengapa tiba-tiba bayangan itu muncul dengan jelas. Bayangan itu muncul ketika Leno sedang merasakan sakit kepala setelah menonton berita kemarin pagi.


              Joke menyimak apa yang Leno sampaikan dengan seksama. Setelah diam untuk mencerna cerita Leno, Ia bertanya, “Kau tidak ingat siapa wanita itu?”


              “Tidak.” Leno menggeleng. “Aku hanya ingat Bibi Irin yang nampak masih muda.”


              “Apakah ia teman ibumu mungkin?” tanya Joke.


              “Ibu.. tentu bukan, aku pasti mengingatnya jika ia teman ibuku.”


              Leno berusaha mengingat-ngingat lagi beberapa teman ibunya. Namun kemudian kesadaran menghantam kepala Leno,


sekeras apapun Leno berpikir, ia tidak bisa menemukan memori tentang ibunya sendiri di dalam kepalanya. Leno tidak ingat siapa nama ibunya, bagaimana wajahnya, kapan ia meninggal… Ketakutan dan rasa cemas kembali muncul pada Leno.


              Joke menangkap sesuatu yang lain dari raut wajah Leno. Ia nampak kebingungan sendiri. “Ada apa?” tanya Joke khawatir.


              “Aku..” Leno berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya.

__ADS_1


              “Aku tidak ingat apapun tentang ibuku.”


__ADS_2