
Maha mengganti bajunya dengan seragam aktif Mandala: rompi putih dengan bulan sabit di dada kiri dan denim putih yang berisi banyak alat pelindung dan senjata-senjata perak kecil. Maha mengenakan sepatu boot-nya yang berpendar biru keperakan saat dijejakan ke tanah. Sepertinya mesin pendorong boot-nya hampir rusak akibat penggunaan yang cukup banyak beberapa hari ini. Ia akan menyurati Geduna untuk meminta boot baru.
Gelang t45 milik Maha bergetar, ada pesan masuk dari Joke. “Maha, ada sesuatu yang terjadi pada Leno. Sepertinya Lentipede itu memberi efek tertentu pada sistem saraf. Hubungi aku besok.”
Maha berharap kondisi Leno tidak menjadi lebih buruk. Ketika Maha ingin menjawab pesan Joke, rompi bulan sabitnya berpendar. Kay memanggil Maha. Ia menekan lambang itu, hologram Kay muncul di depan Maha.
“Maha, apakah aku boleh minta bantuan di gerbang utama?” tanya hologram Kay. Maha tidak berharap akan dipanggil malam ini. Tapi, jika memang harus, maka tidak ada pilihan lain. “Apakah ada masalah?”
“Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Tolong datang dulu,” jawab Kay dengan cepat. Maha mengangguk. “Oke, Kay. Aku akan sampai 10 menit lagi.”
Maha mengangkut gada, yang sekarang sudah dimodifikasi memiliki tali pegangan, dan menaruhnya di belakang punggung. IA menyalakan motor listriknya. Begitu pintu garasinya terbuka, sepeda motor Maha
melesat tanpa menyentuh jalan magnetic di bawahnya. Rumah Maha, dan Mia, ada di kompleks perumahan Jati yang bertempat di Timur pusat kota. Jam malam sudah berlaku, semua warga sudah masuk ke rumahnya masing-masing. Lampu-lampu jalanan menyala di sisi kanan dan kiri Maha. Hanya ia satu-satunya kendaraan yang boleh melintas di atas jam malam.
Maha hampir sampai gerbang kompleks perumahan yang dipalang oleh batangan besi panjang dan melintang. Ia memelankan kecepatan motor, memberi waktu untuk robot penjaga memindai wajahnya. Setelah palang besi diangkat, Maha menarik gas dan melaju ke jalan utama pusat kota.
Ini sudah hampir tengah malam, kota sudah sangat sepi. Tidak ada lampu gedung yang masih menyala. Semua trem diam di pangkalannya masing-masing. Tidak ada toko apapun yang buka. Tadi pagi bahan-bahan makanan sudah dikirimkan ke seluruh warga Trikad. Kota menjadi setengah mati. Hologram di tengah pusat kota pun tidak menyala. Maha membelokan motornya ke kiri saat ia menemui lambang kota. Maha melirik proyeksi jam di gelangnya sebentar, baru 7 menit. Maha kembali menarik gasnya dan melesat menuju gerbang utama.
Kay dan ke empat anggota unitnya berjaga di sekitar gerbang utama. Maha memarkirkan sepeda motornya di samping 5 kendaraan lain milik mereka. Salah satu anggota unit Kay menyapa Maha, “Malam, ketua.” Wanita itu mengenakan seragam Mandala yang sama dengan dirinya. Ia adalah adik kelasnya dulu. Maha mencoba mengingat-ngingat siapa namanya, tapi ia benar-benar lupa. Maha memutuskan untuk tersenyum dan mengangguk.
“Halo. Bagaimana kondisi sejauh ini?”
Wanita itu balik tersenyum. “Belum ada apapun yang terlihat mencurigakan. Apakah ketua datang karena ada hal lain?”
Maha merasa sedikit bingung. Kalau begitu, untuk apa Kay memanggilnya ke sini?
“Apakah aku bisa menemui Mn. Kay?” tanya Maha. Wanita itu mengangguk, “Tentu, Mn. Kay ada di sana.” Ia menunjuk wanita berambut pendek yang sedang berbicara dengan laki-laki tinggi kurus dengan seragam putih-putih yang sama.
“Terima kasih,” kata Maha sambil melangkah pergi. “Sama-sama!” seru wanita itu dengan senang sekali di belakang Maha.
Kay melihat kedatangan Maha. Kay dan salah satu anggota unitnya memberi salam kepada Maha. “Halo, teman-teman,” sapa Maha. “Semuanya baik?”
Kay berdehem dan memberi isyarat kepada temannya untuk meninggalkan mereka berdua. “Ayo sambil jalan,” ujar Kay. Maha mengikuti langkah Kay menyusuri gerbang utama yang tinggi menjulang di depan mereka. “Ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Maha.
“Ada.” Kay nampak ragu, ia menimbang-nimbang sejenak. “Kau tahu tadi pagi aku dan Mn. Sito dipanggil rapat oleh Neena?”
Maha mengangguk. “Iya, aku dengar Neena ingin meminta kronologis kejadian kemarin. Sito bilang aku tidak perlu ikut lagi.”
“Iya, Sito minta kau dan Joke istirahat dulu.” Mereka berhenti di sisi kiri gerbang. Lift kapsul milik Reppe
berdiri di samping mereka. Maha mendongak ke atas. Menara pengawas Reppe nampak terang, mereka juga mengawasi dari atas menara.
“Banyak hal aneh yang terjadi sejak tadi pagi. Tidak.. sejak kemarin malam. Apa kau menyadari itu?’
Maha merasakan Kay juga menangkap hal yang sama dengan Maha. Ia sedikit lega bahwa kecurigaannya tidak muncul pada dirinya saja. “Iya. Apa yang kau dapat?”
Kay menceritakan hasil rapat mereka tadi pagi. Mengenai apa yang disampaikan pihak LTK tentang komunikasi mereka, strategi pengemanan kota, kasus Hidroform yang sedikit disinggung, serta Prof. Said yang tiba-tiba meminta datang ke Geduna sore ini.
“Prof. Said suami dari Mn. Hoserina?” tanya Maha. Mn. Hoserina adalah mentor utama Maha ketika masa Pendidikan Mandala. Ia membantu Maha saat wabah beberapa tahun silam sehingga ia bisa bertahan hingga sekarang. Maha sangat menyayangkan beliau harus pergi dengan cepat.
“Iya,” jawab Kay. “Apa kau mengenal beliau?”
__ADS_1
Maha mengangguk. “Lumayan. Tapi, aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Terakhir aku dengar beliau sibuk sekali mengerjakan projek penting di LTK.”
“Apa kau tahu projek apa?”
“Hmm.. tidak. Beliau tidak banyak cerita. Aku tahu dari asistennya.”
Kay berusaha mengingat-ngingat nama pemuda berbadan besar itu. “Rosi?”
“Iya.. Kau kenal juga dengan Rosi?”
“Aku bertemu dengannya tadi sore.”
“Ya.. dulu anggota unitku cukup dekat dengan Rosi. Dia dulu bertunangan dengan Ayu. Tapi, kemudian berpisah.”
Kay mengangguk paham. Tentu saja tadi Joke juga mengenali Rosi. “Tadi setelah rapat dengan Neena, Prof. Said bilang dia akan mengirim orang untuk mengecek perangkat keras di rompi kita. Tapi ternyata dia yang datang sendiri ke geduna, bersama asistennya.”
“Wah, dia tidak sibuk lagi rupanya? Tumben.”
“Bukan karena itu.” Kay kembali merasa ragu. Ia berkali-kali menyematkan rambutnya sendiri ke belakang telinga. Maha menangkap tangan Kay ketika ia berusaha menyentuh rambutnya lagi. Maha menyentuh Sebagian rambut Kay dan ikut mengaitkannya ke belakang telinga. Kay sadar ia terlihat cukup cemas. “Aku hanya membantu,” ujar Maha. “Aku yakin kau tidak memanggilku ke sini hanya karena rindu, kan?”
Kay tertawa mendengarnya. Keraguannya sekarang menghilang. Maha harus mengetahui apa yang ia ketahui. Kay mulai menceritakan apa yang ia dapat dari Prof. Said tadi sore. Terutama mengapa Ia mencurigai Neena dan juga setengah tidak percaya dengan Mn. Sito.
Maha mencerna apa yang Kay sampaikan. Berarti kecurigaannya bisa jadi benar. Ada seseorang yang
merencanakan semuanya, tapi Maha tidak menyangka Neena bisa menjadi salah seorang pelakunya.
“Tapi, tidak ada alasan bagi Neena untuk menjadi tersangka. Ia tidak memiliki motif.”
“Pasti ada seseorang yang menggunakan akses itu atas nama Neena. Seseorang yang memiliki alasan.”
Mereka kembali terdiam. Kay bercerita mengenai beberapa orang yang Ia temui pada saat rapat. Komandan Hos, Komandan Ri, Komisaris Roman, Prof. Said, dan Bu Greeta, orang yang menggantikan Prof.
Jery yang sedang sakit. Maha bertanya beberapa hal tentang Prof. Jery sebelum Ia teringat dengan Komisaris Roman.
“Kay, tidak kah lebih baik kita lapor pada Reppe? Mereka memiliki wewenang untuk kasus kriminal dan kejahatan lainnya,” kata Maha.
“Prof. Said sempat berkata ia tidak terlalu mempercayai mereka.”
“Tapi, bagaimanapun kita juga tidak memiliki wewenang menyelesaikannya.”
“Entahlah tapi aku kira itu bukan…” Kay berpikir Maha mungkin benar. Mereka pun memang tidak bisa berbuat apa-apa.
Keraguan kembali muncul dalam benak Kay. Ia kembali mengulang semua informasi baru yang ia dapatkan tadi. Memang banyak sekali yang terjadi dalam 3 hari ini. Ketika Kay mengingat-ngingat apalagi informasi yang belum ia sampaikan,
“Maha, kau tahu sesuatu tentang Gephu? Gerakan pemberontak yang sempat heboh beberapa minggu yang lalu?”
Maha ingat pernah membacanya di berita sekilas. “Aku hanya membaca beberapa jejak pendapat. Apa itu ada hubungannya?”
“Tidak tahu tapi tadi disinggung di rapat. Aku belum sempat bertanya pada Sito.”
“Tapi, sekarang kasus itu tidak terbukti kan?”
__ADS_1
“Iya tapi ku pikir aneh juga ya,” ujar Kay. “Prof. Said mencurigai LTK sudah disusupi, dan terbukti ada yang mengutak-atik jaringan dan data-data riset mereka. Aku hanya curiga mereka semua berhubungan.”
“Tujuan utama Gephu adalah membuat Trikad menjadi kota superior. Mereka ingin membuat kota lain bekerja di bawah Trikad. Itu yang pernah aku baca,” kata Maha.
“Bekerja di bawah Trikad seperti jajahan?” tanya Kay.
“Bisa jadi,” Maha menghela napas. “Aku belum pernah terlalu dalam mengkaji politik, Kay. Tapi, kalau kau ingin menghubung-hubungkan bisa saja Gephu menyusup ke LTK, mengambil data riset Prof. Said, membuat Lentipede, melakukan serangan dengan sengaja ke FIGHR, dan memastikan Mandala tidak bisa bekerja dengan mematikan jaringan secara lokal.”
“Lalu, menghapus rekam jejaknya,” sambung Kay.
“Tapi kenapa? Apa alasan mereka melakukan sejauh itu?” tanya Maha lebih kepada dirinya sendiri.
“Aku tidak tahu.”
“Iya, tapi ini hanya dugaan. Dan kita tidak bisa membuktikan apa-apa.”
“Lagipula kasus Gephu sudah ditutup beberapa minggu yang lalu. Kita bisa melapor ke siapa?”
“Apa mungkin Reppe juga sudah disusupi oleh Gephu?”
“Aku tidak tahu tentang hal ini.”
Mereka berdua diam. Maha melongok ke atas. Menara Reppe ada di atasnya. Ia bisa saja masuk ke sana dan bertanya kepada pimpinan Reppe yang sedang bertugas. Tapi, ia pasti langsung dirumahkan karena dianggap mabuk saat bekerja.
“Apa pendapatmu jika kita menyampaikan ini kepada Mn. Sito?” tanya Kay.
“Memangnya ada alasan untuk tidak?” jawab Maha.
“Yah…” Kay nampak ragu sebentar. Ia kembali memainkan rambutnya. “Prof. Said bilang Mn. Sito bisa saja berpihak pada Neena, mengingat mereka dulu pernah di satu unit yang sama.”
Maha tersenyum kecil. Gurunya memang Mandala yang luar biasa. Apalagi saat di masa jayanya bersama unit utama yang ia bentuk sendiri. Mn. Sito yang menyarankan dibentuk duta untuk dikirim ke seluruh pulau sehingga Lentipede bisa dibasmi lebih luas, termasuk ke desa-desa yang tidak terikat hukum kota. Tapi, ia pensiun begitu mengetahui sahabatnya memutuskan mencalonkan diri menjadi Neena. Hanya sedikit yang
mengetahui hal ini, tapi Maha tahu alasan Sito tidak menikah sampai sekarang berhubungan dengan ini.
Neena tidak boleh memiliki keluarga supaya tidak merancukan keputusannya dalam memilih serta untuk
menghindari nepotisme di dalam pemerintahan pusat. Prof. Said pasti mengetahui hal ini dari istrinya, mentor Maha sendiri. Wajar saja jika Sito ikut dicurigai. Tapi, Maha telah mengenal gurunya ini sejak lama. Ia yakin Sito tidak pernah berpikir untuk membahayakan nyawa orang lain apapun alasannya.
“Kalau hanya itu alasannya kita tidak memberitahu Sito, aku akan menertawakan kamu.” ujar Maha.
“Aku juga berpikir demikian,” kata Kay. “Lebih mudah untuk memilih siapa yang bisa kita percaya dibandingkan berasumsi siapa yang menjadi musuh utama kita “
“Prof. Said bilang begitu kepadaku,” ujar Kay.
“Kau benar,” kata Maha tersenyum. Ia jadi teringat Prof. Said dan mendiang gurunya dulu. Mereka termasuk ke dalam orang-orang tua yang menarik. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Kay.
“Kita harus berdiskusi lagi. Aku akan mencari waktu untuk memberitahu Mn. Sito. Mungkin setelah itu kita bisa melapor kepada pihak Reppe,” ujar Maha.
“Selain itu kita bisa menambah kepala lain yang sekiranya bisa membantu,” sambung Maha.
__ADS_1
“Dan juga berharap semoga malam ini mereka libur menyerang dulu.”