
Ruang rapat utama di Menara lantai 7 dipenuhi oleh beberapa petinggi Trikad. Hari sudah sore, lampu LED perlahan mulai menyala mengikuti intensitas sinar matahari yang masih masuk ke dalam ruangan.
Neena mengenakan gaun satin biru keperakan panjang dan tiara yang disematkan di atas gelungan rambutnya. Ia duduk di kursi dengan pahatan dan hiasan rumit dengan sandaran paling tinggi di ujung meja oval. Komandan Ri, Komisaris Roman, dan Mn. Sito ada di kanan kirinya. Mn. Sito mengangkat sebelah kakinya, mendengarkan Komandan Ri mengabarkan berita baru kepada Neena.
Mereka baru mendapat laporan ada sekelompok orang yang membuat keributan di gerbang utara. Komandan Hos dan pasukannya sudah ditugaskan untuk mengamankan keributan. Karena gerbang utara adalah daerah perbatasan dengan banyak dante dan Kota Pangan Mikrad, bisa jadi keributan itu dipicu oleh konflik di luar warga Trikad. Pasukan militer akan berperan lebih cakap dalam menangani hal tersebut.
“Apa ada kabar dari Hos?”
Komandan Ri memanggil dari tabletnya. “Mereka belum sampai ke tempat kerusuhan itu. Mungkin tidak terlalu besar.”
Pintu ruangan terbuka. Neena, Komandan Ri, dan Mn. Sito menoleh ke depan. Greeta berdiri di ambang pintu.
“Maafkan saya terlambat. Kami sudah mencari-cari Prof. Said tapi beliau tidak ada di kamar kerjanya.”
Neena mempersilahkan Greeta duduk di samping Mn. Sito. “Saya membawa kabar penting. Saya kira lebih baik Anda mendengarkannya terlebih dahulu.”
Neena mengernyitkan dahinya. “Ada masalah di LTK?”
Greeta mengangguk. “Projek Anti-lent telah dikembangkan LTK dalam 11 tahun terakhir. Projek ini meneliti apa yang terjadi pada wabah Lentipede 12 tahun yang lalu. Bagaimana cara mengobatinya, bagaimana cara memprediksinya, bagaimana cara mencegahnya,” Ia menatap Neena di ujung meja oval.
“Serta bagaimana cara membuatnya,” sambung Greeta. Ia berbicara langsung kepada Neena. “Anda tentunya sudah mengetahui hal ini.”
“Lalu? Apa ada sesuatu yang sangat spesial yang harus diketahui saat ini?” tanya Neena. Ia mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi, menyatakan dominansi dan mengingatkan statusnya sebagai pemimpin di sini.
Greeta tetap tidak mengalihkan pandangannya. Ia berkata, “Kami mendapat laporan bahwa projek Anti-lent dicuri.”
“Apa? Kapan hal itu terjadi?” tanya Komandan Ri. Mereka semua terlihat terkejut. Neena mengernyitkan dahinya, menunggu Greeta melanjutkan.
“Kami baru mengetahui ini kemarin malam. Tapi, telah diperkirakan sudah hilang sejak 1 bulan yang lalu.” Greeta mengeluarkan tabletnya. Proyeksi Trikad muncul di hadapan mereka.
“Kami berhasil melacak di mana data itu diakses.” Greeta menggeser proyeksi Trikad lebih jauh ke gerbang utara. Ia terus menggesernya ke luar dari perbatasan Trikad. Melewati berbagai dante yang tidak memiliki nama, lalu masuk ke gerbang selatan Mikrad. Di dalam lumbung pemerintahan mereka, terdapat titik merah yang berkedip-kedip memancarkan gelombang hitam.
“Tidak hanya data riset tersebut yang dicuri, mereka membawa sampel Lentipede yang sudah berhasil dibuat dan membawanya ke dalam Pusat kota Mikrad. Di lumbung pemerintahan.”
Mn. Sito dan Komandan Ri saling berpandang-pandangan dengan campuran bingung dan terkejut. Neena bertanya dengan serius, “Apakah data ini valid?”
“Saya pastikan begitu,” ujar Greeta tanpa ragu. Wajahnya nampak keras dan berusaha meyakinkan.
“Kalau benar begitu.” Komisaris Roman memajukan kursinya. Ia menatap lurus Neena, “Kemungkinan Lentipede ini kiriman dari mikrad. Bisa jadi mereka menyerang kita.”
Atmosfer ruangan menjadi tegang. Semua orang nampak sedang mencerna apa yang sedang mereka bicarakan. Semua, kecuali Greeta yang menatap mereka dengan tenang.
“Sebentar,” sela Mn. Sito. Ia menurunkan kakinya kembali ke bawah. “Mereka tidak memiliki laboratorium khusus untuk mengembangkan Lentipede seperti di LTK. Kita tidak bisa berasumsi demikian. Menarik kesimpulan terlalu dini bisa mengakibatkan situasi semakin buruk.”
“Justru kita tidak tahu apapun tentang itu. tapi kemungkinannya mengarah ke Mikrad,” ujar Komisaris Roman.
Neena mengalihkan pandangan kepada Komandan Ri. “Mereka juga menyatakan enggan memberikan pasokan pangan pada rapat pulau kemarin. Ini bisa jadi bukti pemberat kalau mereka memang sengaja mau menyerang Trikad.”
Neena menggeleng. “Tapi itu mereka lakukan karena ada desas-desus Hidroform yang sampai ke telinga mereka.”
“Bisa jadi itu hanya pemicu. Pemicu yang dibuat mereka sendiri untuk mencari alasan menyerang Trikad,” kata Greeta. Ia tidak lagi duduk diam dengan tenang.
Untuk beberapa menit selanjutnya, tidak ada yang berbicara. Semua pandangan tertuju pada proyeksi Mikrad dan lumbung pemerintahannya yang nampak kosong tanpa titik-titik biru dan merah. Neena mengangkat kepalanya, menatap wajah satu persatu orang yang ada di ruang rapat itu.
“Ini terlalu jauh,” ujar Neena sambil menggeleng pelan.
“Bagaimana bisa terlalu jauh! Sudah seharusnya Anda mengirim orang untuk menyelidiki lebih lanjut mengenai hal ini, karena kalau-”
“Mengirim siapa?” potong Neena dengan tajam. “Mengirim Anda?”
Neena menaikan nada suaranya lebih tinggi. Semuanya kembali terdiam. Suasana kembali menjadi tegang, seperti ada sesuatu yang akan meledak sebentar lagi.
Neena berkata lagi, “Anda mengatakan pada kita semua bahwa data anti-lent dicuri 1 bulan yang lalu dan mengatakan seolah-olah Mikrad yang menggunakan data itu untuk melakukan serangan ke Trikad.”
Ia menatap tajam Greeta yang 20 tahun lebih tua dibandingkan dirinya. “Apa benar begitu?” tanya Neena.
“Saya justru akan bertanya bagaimana bisa kalian baru mengetahui projek yang dikerjakan oleh Prof. Said ini menghilang sejak 1 bulan yang lalu, tapi baru diketahui kehilangannya sejak kemarin.”
Komandan Ri menelan ludahnya dengan canggung. Mn. Sito menatap Greeta dengan curiga. Wanita tua itu tetap diam bergeming di tempatnya.
“Ini membuktikan kecurigaanku terhadap banyak hal,” ujar Neena. Seutas senyum sinis melengkung di bibirnya.
“Roman, aku akan mengajukan tuntutan terhadap dewan tinggi LTK. Bersiaplah menerima panggilan persidangan. Bu Greeta, Anda bisa keluar bersama petugas kami.”
Neena berdiri dari tempat duduknya. Komandan Ri dan Mn. Sito ikut berdiri dengan hormat. “Rapat saya tunda selama 1 jam.”
Neena tidak membalikan badannya menuju ruangan lain di belakang meja itu. Emosi sudah hampir menguasainya, ia tahu ia harus mengheningkan diri sejenak.
Lalu terdengar suara serak Komisaris Roman mengatakan sesuatu dari tempat duduknya, “Saya takutkan Anda tidak bisa, Neena.”
Mn. Sito dan Komandan Ri memandang Komisaris Roman dengan bingung. Neena merasakan ada sesuatu yang tidak benar sedang berlangsung, Ia kembali ke tempat duduknya. “Apa maksud Anda?” tanya
Neena.
Alih-alih menjawab pertanyaan Neena, Komisaris Roman mengeluarkan panel kontrol kecil dari sakunya. Ia menekan salah satu tombol di panel itu.
Dalam sekejap, seluruh lampu dan pendingin ruangan mati. Matahari sudah terbenam beberapa menit yang lalu, tidak ada cukup cahaya yang masuk dari luar jendela. Mereka terperangkap dalam keadaan gelap gulita. Terdengar pintu ruangan terbuka dengan kencang. Sepuluh sampai lima belas cahaya senter memasuki ruangan. Sebagian besar orang langsung membekap Mn. Sito dan Komandan Ri di kursi mereka. Lima orang berjaga mengelilingi Neena, menghalanginya meninggalkan ruangan itu melalui pintu manapun. Tapi, tidak ada yang menyentuhnya.
“APA-APAAN INI?!” teriak Mn. Sito sambil memberontak.
Terdengar suara Komisaris Roman dari dalam kegelapan, “Kami tadinya tidak ingin menggunakan jalan ini. Anda harusnya bisa berdamai dengan kami. Tetap dalam skenario tentunya akan lebih aman untuk keselamatan Anda.”
“KAU BERKHIANAT?!” raung Komandan Ri. Suaranya cukup keras hingga udara di sekitarnya terasa ikut bergetar. Ia juga mencoba menghalau tangan-tangan kekar yang berusaha membuatnya tetap duduk
di tempat.
__ADS_1
“Siapa yang kalian maksud dengan ‘kami’?” tanya Neena sambil berpikir, “Gephu?” tebak Neena.
“Anda benar sekali,” saut Greeta yang juga terlihat remang-remang di antara cahaya lampu yang bergerak-gerak.
“Tentu saja. Aku sudah mencurigai wanita ini sejak awal. Tapi, tidak aku sangka kau juga turut ambil bagian, Komisaris,” ujar Neena dengan geram. Mn. Sito dan Komandan Ri masih sama-sama tidak bisa bergerak, belum ada yang bisa melihat siapa orang-orang yang membekap mereka.
Kemudian lampu cadangan menyala, tidak terlalu terang tapi membantu mereka mengindentifikasi dengan mudah bahwa ada sekitar tujuh orang pengamat Reppe yang menaruh lengan dan kaki mereka di
sekeliling Mn. Sito dan Komandan Ri. Lima orang lain berjaga di sekitar kursi yang Neena tempati, tidak menyentuhnya tapi tidak akan membiarkan Neena pergi dari tempatnya.
“Anda akan mengakui kalau serangan ini dapat menjadi pelajaran untuk bisa mengendalikan Lentipede di bawah pemerintahan Trikad. Anda akan mengadakan rapat dengan seluruh Freo untuk menyatakan bahwa Trikad mengajukan diri sebagai pemegang utama seluruh spesialisasi di pulau ini. Kota yang menolak menyerahkan diri akan dianggap berkhianat dan akan diperangi sampai menyetujui,” kata Komisaris Roman.
Sekarang mereka semua bisa melihat Ia dan Greeta telah berdiri bersebrangan di belakang Mn. Sito dan Komandan Ri, ikut mengelilingi Neena.
Neena tertawa mendengar pernyataan Komisaris Roman. “Ini semua demi merebut kekayaan yang bukan milik kalian? Mengatasnamakan Trikad untuk mengeksploitasi hak orang lain.”
“Sejak dahulu pulau ini adalah milik kita. Mereka hanya sekumpulan penduduk primitif yang mengikuti jejak kita. Mengikuti apa yang kita buat! Tapi kita akan jauh lebih bodoh lagi jika kita tidak mengklaim kekuasaan kita sendiri,” ujar Komisaris Roman.
“Trikad akan bangkit.”
“Tidak. Trikad akan hancur,” kata Neena menyanggah. “Begitu juga dengan seluruh kota di pulau ini. Kau tidak melihat dampak dari perbuatanmu.”
“Aku melihatnya. Karena itu aku melakukannya. Kekuasaan penuh akan ada di tangan Trikad dengan kau sebagai pemimpinnya. Mau tidak mau.”
“Aku pilih tidak mau,” jawab Neena dengan tegas.
“Kami bisa membuat desas-desus yang lebih heboh dibandingkan sekedar hidroform sebagai pengganti pangan dan saingan Mikrad dalam suplai pangan. Kami bisa membuat kau diasingkan jika kau memaksa menolak bekerja sama,” kata Greeta. Ia berada di belakang kursi Komandan Ri yang berhadapan dengan Mn. Sito. Ia memAndang Mn. Sito dengan tajam.
“Dan juga untuk kalian yang ada di ruangan ini. Semuanya berlaku untuk kalian.”
Ruangan kembali hening. Mn. Sito dan Komandan Ri sudah berhenti melawan. Mereka tahu mereka kalah jumlah. Mn. Sito beberapa kali berusaha melakukan panggilan darurat untuk meminta bantuan, tapi ia tidak berhasil.
Kemudian Neena berkata, “Selama aku masih bisa bernafas,” Ia berdiri dari kursinya. “Trikad tidak akan tunduk di tangan orang seperti kalian.”
Greeta tertawa lebar dengan nada sinis. “Oh, itu adalah tantangan yang menarik.” Ia menoleh ke pintu besar ruang rapat. Ada seorang wanita berpakaian lengkap unit berdiri di sana. Greeta mengisyaratkan wanita itu untuk masuk, “Akan ku buat kalian tidak bisa bernafas.”
Ayu masuk ke dalam ruangan yang segera dikunci oleh beberapa orang dari luar. Ia memegang sebuah botol kaca panjang dengan banyak tombol, berisi cairan berwarna hitam pekat.
“Ayu?” ujar Mn. Sito dengan kaget. “Apa yang kau lakukan?”
Ayu berjalan mendekati mereka. Dari jarak dekat mereka baru bisa melihat betapa hebat tubuhnya bergetar. Wajahnya nampak sangat bingung dan ketakutan. Ia masih mengenggam botol hitam itu dengan cemas.
“Apa itu yang sedang kau bawa, Moonasera?” tanya Neena dengan tenang.
“Sesuatu yang nenek moyang kita akan kagum dengan keberadaannya,” saut Greeta penuh kemenangan. “Lakukan, Moonasera.”
“Ayu, dengarkan aku,” kata Mn. Sito dengan nada memohon, berusaha berbicara dengan muridnya. “Apapun yang mereka katakan padamu itu hanya cara untuk memanfaatkamu. Letakan benda itu.”
Greeta menyibak gaunnya dan bergerak maju. Ia memutari meja untuk mendekati Ayu. “Lakukan, sekarang.”
“Ayu, jangan dengarkan dia!” teriak Mn. Sito.
Ayu memejamkan matanya. Ia memakai masker wajah. Pelindung tubuh keperakan meluncur dari dalam rompi, mengikuti bentuk lekuk lengan dan kakinya. Ayu berkata kepada Sito, “Pakai pelindungmu.”
Kemudian Ayu membuka tutup botol yang ternyata merupakan ujung dari alat penyemprot. Ia menekan tombol kecil di samping botol itu. Uap hitam muncul dari dalam botol itu. Uap itu memadat, berpisah menjadi 3 gumpalan besar dan lama kelamaan masing-masing gumpalan memadat membentuk makhluk bayangan yang bergerak-gerak.
“Apa kau bisa melihat apa yang kami mampu untuk lakukan, Neena? Memiliki senjata biologis sehebat ini jelas akan membantu kita menaklukan seluruh penduduk di pulau ini, bahkan mungkin lebih,” ujar Komisaris Roman.
Tiba-tiba terdengar suara ribut dan tembakan dari luar ruangan. Makhluk-makhluk itu tertarik dengan suara mereka dan mulai bergerak menuju pintu.
Kemudian pintu terbuka.
Maha, Joke, dan Kay mematung di daun pintu melihat pemandangan itu. Di belakang mereka, 5 orang anggota Reppe yang tadinya terkapar di lantai, lari terbirit-birit menuju tangga.
“Maha?” panggil Ayu dengan terkejut. Ia membuka masker wajahnya tanpa sadar.
“Ayu?” saut Maha tidak kalah terkejutnya. Mereka yang ada di sana terdiam untuk beberapa saat.
“Serang mereka!” seru Greeta dengan tidak sabaran.
Ayu terlihat sangat bimbang. Ia menatap Maha yang balik menatapnya dengan lembut. Maha berusaha mengajak Ayu berbicara. Ayu menundukan kepalanya, Ia berbalik menghadap sang wanita tua. “Tidak,” jawab Ayu.
“Apa maksudmu tidak? Serang mereka atau kau memilih ayahmu mati,” desis Greeta.
“Aku memilih untuk tidak mengikuti kalian lagi,” kata Ayu sambil mengenakan masker wajahnya kembali.
“Pengkhianat.”
Kemudian Ayu menekan tombol lain di sisi botolnya yang berlainan. Terlihat ketiga makhluk bayangan itu kembali menjadi uap dan terhisap ke dalam botol yang dipegang Ayu.
Lalu sesuatu terjadi.
Greeta melangkah maju, berusaha merebut botol yang dipegang Ayu. Sementara itu Komisaris Roman memberikan instruksi kepada anak buahnya untuk ikut merebut botol itu. Maha bergerak maju, mencoba membantu Ayu. Ketika Ayu hendak menyingkir dari serbuan tangan-tangan yang ingin menggapainya, Ia tersungkur jatuh.
Botol itu terbanting ke lantai dan pecah tidak jauh dari mereka. Sontak uap hitam kembali terbentuk. Seluruh cairan hitam yang ada di sana menguap dan hampir memenuhi setengah ruangan. Uap itu lama-lama memadat dan membentuk kurang lebih 7 makhluk bayangan dengan tinggi 2meter yang bertumpuk-tumpuk satu sama lain. Makhluk-makhluk itu bergerak-gerak di tempatnya. Bersiap untuk menyerang makhluk organik yang ada di hadapan mereka.
Kay dan Joke melangkah maju. Mereka berdiri di berdampingan dengan Maha. Pandangan mereka semua tidak terlepas dari kumpulan makhluk raksasa itu.
“Maha….” ujar Kay dengan pelan.
Maha mengeluarkan gadanya, menyentak sedikit hingga ujungnya berpendar kebiruan. Joke mengeluarkan goloknya yang sangat besar. Kay memegang tombak dengan kedua tangannya. Keduanya melirik Maha, menunggu aba-aba.
Maha berteriak dengan lantang, “Serang!”
Kemudian mereka bertiga berteriak maju dan mulai mencabik makhluk-makhluk bayangan itu. Sambil menjaga supaya jauh dari kontak.
__ADS_1
“Kita butuh tambahan orang!” seru Joke sambil melawan salah satu Lentipede.
Maha dan Kay menyebar untuk menghalau Lentipede yang mengambil jalan memutar untuk menyerang orang-orang yang ada di dekat meja.
Seluruh pengamat Reppe yang menjegat Mn. Sito dan Komandan Ri, perlahan kabur. Greeta dan Roman juga sudah tidak terlihat ada di sana. Neena, Mn. Sito, dan Komandan Ri dikepung oleh makhluk-makhluk itu di atas meja oval yang terletak di tengah ruangan. Mn. Sito berdiri di atas meja. Ia mengenakan pelindung tubuh dan masker wajahnya. Mn. Sito mengeluarkan dua tombak keperakan.
“Ayu!” seru Mn. Sito sambil melemparkan salah satu tombaknya kepada Ayu. Ia menangkapnya. “Tidak!” Ayu melemparnya kembali kepada Mn. Sito.
“Aku juga punya senjata.”
Ayu mengeluarkan tongkat keperakan panjang yang merupakan susunan dari tongkat-tongkat pendek yang saling berkaitan. Ia melihat satu Lentipede yang akan menyerang Kay dari belakang. Ayu berlari mendekati makhluk itu sambil membidik tongkatnya. Kemudian ia memutar tongkat itu dengan cepat. “Mati, kau monster!”
Perlahan, satu makhluk memudar. Tapi ketika ia mundur ke belakang, pecahan botol itu terinjak. Asap mulai mengepul. Lentipede baru muncul kembali. “Sial!”
“Mengapa bisa begitu?” teriak Kay sambil menusuk Lentipedenya bertubi-tubi.
Ayu kembali memutar tongkatnya melawan Lentipede baru itu. Maha sudah berhasil membunuh satu Lentipede, ia berlari untuk membantu Ayu dan Kay, tapi satu Lentipede hampir menyerangnya. Ia kembali berkutat, mengayunkan gadanya ke seluruh makhluk itu.
“Amankan pecahan ini, tidak ada yang boleh menyentuhnya,” seru Ayu.
“Bagaimana caranya kalau tidak boleh disentuh?!” tanya Kay setengah berteriak.
“Erm... Maha! Apa kau punya ide?!” tanya Ayu. Sebuah Lentipede hampir menyerang lengannya, Ia menghalau makhluk itu dengan tongkatnya.
“Jangan disentuh dulu,” kata Maha. Ia melawan dua makhluk itu sekaligus. “Habiskan mereka semua sekarang, baru kita amankan.”
Sementara Joke melawan 2 Lentipede dengan goloknya sekaligus. Mn. Sito menghalau 2 makhluk itu dari Neena dan Komandan Ri. Mn. Sito sudah tidak selincah teman-temannya yang masih muda. Tapi Ia masih
bisa melawan.
“Sito, berikan aku senjata,” kata Neena dari belakang punggung Sito.Ia tidak menoleh sama sekali. “Tidak, aku akan melindungi kalian.” Neena merobek ujung gaun satinnya lalu melempar sepatu kaca berhak tinggi yang ia gunakan ke bawah meja. Komandan Ri berteriak kaget, “Neena, aa..apa yang Anda lakukan?”
Neena mengambil masker wajah dan pelindung tangan dari saku kiri Sito yang sedang mencabik-cabik salah satu makhluk dengan tombaknya.
“Moonasera, lemparkan satu tombak untukku!” seru Neena kepada Kay yang bertarung 2 meter di samping kirinya. Kay merogoh ke belakang punggung dan mengambil tombak keperakan kecil lalu melemparnya. “Tangkap!”
Sito menyadari apa yang sedang terjadi. Sambil berkutat dengan Lentipedenya yang juga belum sirna, Ia meraung dengan kencang, “AKU BILANG AKU AKAN MELINDUNGI KALIAN. KAU DIAM DI SANA.”
“Aku tidak akan duduk diam tanpa membantu kalian,” ujar Neena. Ia melangkah maju dan mencoba menusuk Lentipede yang menyerang Sito. “Aku juga seorang Mandala.”
“Aku mohon mundurlah,” kata Sito, memohon. Ia sudah sangat bingung dan tidak tahu bagaimana menyuruh wanita ini kembali duduk diam dan membiarkannya bertarung untuknya.
“Iya, aku akan mundur. Tapi, tidak malam ini.” Neena maju selangkah di depan Sito, menusuk Lentipede itu dengan serangan bertubi-tubi.
“Sekarang saatnya maju.”
Satu Lentipede lagi mulai bergerak maju mendekati mereka. Neena mengambil alih salah satu Lentipede, menyerangnya secara berdampingan dengan Sito. “Kau kan sudah lama tidak berlatih,” kata Sito.
“Memangnya aku harus laporan padamu setiap kali berlatih,” kata Neena mencibir. Ia bergerak semakin cepat mengikuti makhluk itu. Ia menghalau mereka sehingga tidak terlalu dekat dengan meja. Neena melihat bagian dari Lentipede hampir mengenai lengan kanan Sito.
“Awas!” seru Neena. Ia menusuk makhluk bayangan yang hampir menerjang Sito. “Selalu ceroboh seperti dulu,” ejek Neena. Sito tidak sempat membalas ejekan itu karena terdengar suara teriakan di sisi kiri mereka.
“Ah!”
Semua orang hampir teralihkan dari makhluknya masing-masing. Mereka menjerit, “Kay!”
Satu buah Lentipede perlahan menghilang di dekatnya. Tapi lengannya berdarah cukup deras. Sedangkan Ayu dan Maha kehilangan kendali dan menginjak pecahan botol itu kembali.
Dua Lentipede muncul di tengah mereka sebelum mereka berhasil meenghampiri Kay.
Dari luar ruangan, terdengar suara langkah kaki menaiki tangga. Leno sampai di lantai itu dengan kebingungan luar biasa. Selain ia melihat banyak pengamat Reppe yang turun dari tangga dengan buru-buru, pemandangan di ruangan ini sangat menyeramkan. Banyak sekali makhluk hitam yang ada di ruangan itu. Satu orang wanita terluka di pojok ruangan. Leno bisa melihat Joke sedang bertarung di sebelahnya.
Leno mengingat apa yang Prof. Said katakan tentang serum yang ia bawa. Ia harus memberikannya kepada mereka. Bagaimana caranya?
Kemudian tangan Leno membuka kantung kertas yang ia genggam sejak tadi. Ada 2 buah botol spray besar mirip semprotan nyamuk yang diberikan Prof. Said. Setelah Leno mengamatinya, Ia merasa pernah melihat benda ini. Ia ingat ini adalah botol spray yang digunakan Maha pada malam itu untuk menghalau sisa-sisa Lentipede yang telah menyerang mereka.
Sedangkan benda lainnya adalah 2 buah ujung tombak kecil yang hanya sebesar genggaman tangan. Leno mengambil salah satu tombak itu. Ada tombol kecil berwarna hijau yang mencurigakan. Ia menekannya.
Dari dalam ujung tombak yang tumpul, muncul bersusun-susun tongkat panjang yang berkaitan satu sama lain. Tombak itu memanjang sepanjang 1meter. Leno sedikit terkejut memegang benda-benda luar biasa itu. Ia mencoba mencari tombol yang sama pada ujung tombak lain yang masih berukuran kecil. Ada.
“Ah!”
Leno mendengar teriakan wanita yang tersungkur itu dari luar ruangan. Ia kembali berpikir. Mungkin wanita itu yang membutuhkannya.
Leno berdiam diri sejenak. Ia menimbang-nimbang. Leno tidak tahu apakah ini keputusan yang tepat. Apa sebaiknya ia kembali dan memanggil pengamat Reppe yang ia lihat di tangga tadi? Atau lebih baik memanggil Joke atau Maha yang sedang bergulat dengan Lentipede di dalam sana? Tapi Leno melihat mereka berdua jelas tidak bisa diajak bicara.
Setelah beberapa detik berpikir, Leno memutuskan untuk mengandalkan instingnya kembali.
Leno menekan kedua botol spray itu dengan kencang. Sontak, kabut putih memenuhi ruangan itu menutupi pandangan mereka semua. Leno masuk ke dalam ruangan itu, menerjang bayangan hitam samar-samar yang nampak dari balik kabut dengan kedua tombaknya.
Ketika Leno tidak bisa melihat apa-apa, Ia menukar pegangan tombaknya. Ia menggoreskan ujung tombak panjang yang tumpul ke seluruh ruangan, sambil berharap tidak ada orang yang terkena. Leno memutar badannya seperti gasing. Ia memotong, menggores, dan berusaha mencabik bayangan apapun yang muncul di hadapannya.
Perlahan kabut putih tersebut menipis. Di hadapan Leno masih ada 2 makhluk bayangan yang hampir menerkamnya. Dengan posisi tongkat mencuat keluar, Leno memutar badannya kembali. Berusaha memotong tubuh kedua makhluk itu dengan pusaran tubuh yang ia buat. Tubuhnya bergerak seperti ragam Pang-kun yang ia hafalkan.
Kemudian Leno melihat hanya tersisa dua makhluk hitam yang segera diserbu oleh orang-orang berbaju putih di sana. Kecuali satu Lentipede yang mengendap-endap perlahan mendekati wanita yang tersungkur di pojok ruangan.
Leno berlari, menaiki meja panjang itu, melompat dengan tumpuan kursi di sisi kanan meja, dan mendarat di dalam makhluk itu. Benar-benar di dalam tubuh makhluk itu. Sekarang makhluk itu nampak kebingungan dan bergerak-gerak di tempat. Leno memutarkan tubuhnya kembali seperti yang ia lakukan tadi, seperti yang ia lakukan pada saat menyelamatkan Mia. Ia terus berputar di tempat sambil menahan nafasnya, hingga lama-lama putarannya semakin ringan. Leno membuka mata dan baru sadar ia memejamkan matanya ketika berputar.
Hanya ada wanita itu yang tersungkur di depannya. Nafasnya terlihat sesak sekali. Tapi terlihat jelas ia masih hidup.
Sesuatu menubruk Leno dari belakang. Joke menghampiri wanita itu dan memberinya masker muka. Leno tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Joke, atau apa yang dikatakan orang-orang lain di sekelilingnya. Kepalanya berdenyut menyakitkan. Sekilas bayangan ibunya kembali muncul. Ibunya yang baik, yang manis, yang selalu tersenyum kepada Leno. Ibunya yang memeluknya setiap Leno ketakutan. Ibunya yang memberitahu Leno untuk menyayangi adiknya, untuk selalu melindungi adiknya. Ibunya yang mengajak
Leno berlatih menggunakan tongkat buatan di halaman rumah setiap sore. Ibunya yang baik, ibunya yang hebat. Seorang Mandala yang mengorbankan nyawanya demi Leno 12 tahun yang lalu, ketika wabah Lentipede menerjang rumahnya. Leno mengingat itu semua. Leno mengingat Moonasera Latifa, Ibunya yang ia sayangi.
Kabut putih sekarang muncul lagi, tapi hanya Leno yang bisa melihatnya. Kepalanya sekarang berputar. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Kesadaran Leno perlahan menghilang. Kemudian ia terjatuh di sana, serum anti-Lent dari Prof. Said menggelinding jatuh dari dalam jubah putih yang ia curi dari Geduna.
__ADS_1
Sesaat kemudian, seluruh lampu dan aliran pendingin ruangan langsung menyala. Bantuan segera datang.