Mandala

Mandala
Berputar Arah


__ADS_3

              Setelah semua masuk ke dalam ruang rapat, Rosialdo Putra menutup pintu ruangan tanpa menguncinya. Tidak ada yang duduk di kursi. Mereka semua dalam keadaan waspada, memerhatikan Rosi yang


masih memegang tubuh Kay dengan erat. Kemudian muncul suara berkedip dari balik jubah Rosi. Sinar merah kecil terlihat samar-samar dari dalam jubahnya. Rosi melepaskan Kay.


              Joke menangkap tubuh Kay dan mendudukannya ke kursi yang ada di sampingnya. Kay nampak bergetar dengan nafasnya yang terengah-engah. Ia menghalau rambut yang menempel di wajahnya sambil menatap tajam Rosi bersama 3 temannya yang lain.


              Pistol Rosi masih mengarah ke Kay. Dengan satu tangan lain yang bebas, Rosi mengeluarkan kotak panel kecil yang memiliki lampu LED. Kedipan merah itu berasal dari kotak yang dipegang Rosi. Dengan senjata yang masih membidik Kay, Rosi menatap lurus Kay dengan tajam. Tangan yang memegang panel kecil itu bergerak menekan beberapa tombol.


              Kemudian seluruh lampu dan pendingin ruangan mati dalam sekejap.


              Semua menyalakan senter dari gelangnya. Empat cahaya menyorot Rosi yang masih berdiri di sana dalam remang-remang. Kemudian Ia berkata,  “Maafkan aku.”


              Rosi melempar pistolnya ke bawah kaki Joke. “Aku ada di pihak kalian.”


              Dengan spontan, Kay mengambil pistol itu dan mengarahkannya ke dahi Rosi. “Oh, ya?! Sulit dipercaya karena kau baru saja ingin membunuhku!”


              Rosi tidak bergerak sama sekali. “Itu hanya berisi satu ampul propofol dan aku baru saja menggunakannya pada Prof. Said,” kata Rosi.


              Semuanya bergerak maju mengelilingi Kay. Frian mengambil pistol transparan itu, ia membuka isinya. Selongsongnya sudah kosong, ada sedikit serpihan kaca yang tertinggal di dalamnya.


              “Ini pistol pembius hewan jarak dekat. Dari mana kau mendapatkannya?” tanya Frian.


              “Itu tidak penting. Ada hal lain yang aku harus beritahukan kepada kalian dan aku tahu kalian tidak akan


mempercayaiku jika aku tidak menunjukannya.”


              “Apa maksudmu?” tanya Joke dengan bingung.


              “Listrik dan semua pemancar sinyal saat ini sedang mati karena aku yang mengaturnya. Kalian bisa melihat ke gelang masing-masing. Tidak ada yang bisa kalian hubungi atau menghubungi kalian


sekarang. Ini semua terjadi di seluruh kota.”


              Kay dan Frian mengusap gelangnya, mencoba menghubungi Vanya dan anggota unit yang lain di gerbang utama. Tidak bisa tersambung.


              “Mengapa kau melakukan ini?” tanya Maha.


              “Aku mendapatkan perintah dari ayahku,” jawab Rosi.


              “Siapa ayahmu?” tanya Kay dengan nada bingung. Maha, Joke, dan Frian menyadari sesuatu. Mereka pernah bertemu ayahnya Rosi di acara pertunangan Ayu 2 tahun yang lalu.


              “Ayahmu… Komisaris Roman,” kata Maha, ia kemudian teringat percakapannya dengan Prof. Jery. “Komisaris Roman memimpin investigasi gerakan pemberontak Gephu. Tapi, kasusnya dinyatakan tidak


terbukti.”


              “Ya, karena Ia tidak ingin menangkap dirinya sendiri,” jawab Rosi dengan dingin. Terpancar sedikit


kebencian dari nada suaranya. “Komisaris Roman adalah pemimpin gerakan pemberontak Gephu.”


              “Wah.. aku tidak menyangkanya,” kata Kay sedikit terkejut.


              “Kalian akan tahu nanti,” ujar Rosi.


              Satu buah lampu yang menggantung di ruangan itu menyala. Terdapat cahaya lain di lorong di luar ruangan itu yang masuk ke melalui celah pintu ruangan. Sedikit angin berhembus dari pendingin ruangan. Cadangan listrik geduna telah menyala, tapi hanya untuk beberapa perangkat saja.


              “Sesuatu sedang terjadi di Menara sekarang. Mereka berniat menghabisi Neena malam ini,” ujar Rosi lagi. “Seharusnya Aku dan Prof. Said berdiam diri di LTK. Tapi kalian malah memintanya datang kemari. Aku tidak bisa membahayakan posisiku di depan mereka. Dan toh, lebih aman jika Prof. Said tetap di sini hingga semua reda.”


              “Jadi, semua adalah ulahmu? Kau yang mematikan jaringan di FIGHR pada malam serangan ke-dua,” kata Kay.


              “Kau juga yang menghapus data riset Prof. Said dari LTK,” ujar Joke.


              Rosi mengangguk. “Kalian benar. Mereka memintaku menggunakan akses yang dimiliki Neena untuk mengacaukan jaringan pada malam itu, seperti yang ku lakukan sekarang.”


              “Mereka juga menyuruhku menghapus data anti-Lent untuk dikirimkan ke lab Gephu. Mereka membutuhkan itu untuk melanjutkan riset dan menggunakan Lentipede buatan mereka untuk menyerang


Trikad.”


              Maha mengangguk puas. “Tentu saja. Aku sudah menduganya,” kata Maha. “Lalu apa yang terjadi di Menara?”


              Rosi menggeleng pelan. “Aku tidak tahu apa rencana lanjutannya. Semua dilakukan oleh Greeta dan Ayahku.”


              “Tapi kalian harus ke Menara sekarang. Mungkin saja mereka menghalau Lentipede untuk menyerang Neena.”


              “Kalau memang itu yang terjadi,” Frian melangkah maju. “Kita akan butuh banyak sekali bantuan.”


              “Sebagian besar Reppe sudah berada di pihak bersebrangan. Mereka bilang Komandan Hos dan pasukan militernya sudah ditangani. Kalian tidak bisa meminta tolong pihak lain selain teman-teman

__ADS_1


kalian sendiri,” ujar Rosi.


              “Aku bisa menyalakan ulang jaringannya kembali. Begitu jaringan kembali normal, kalian bisa memanggil seluruh unit Mandala.


              “Tapi aku harus melakukannya di LTK.” Rosi memandang mereka bergantian, kemudian tatapannya berhenti di Maha. Ia menggeleng, “Kami tidak bisa membiarkanmu pergi ke LTK sendiri. Kami tidak


bisa sembarangan percaya sepenuhnya.”


              Rosi melangkah maju. Ia menatap Maha dengan lekat. “Seluruh unitmu dirumahkan malam ini. Kalau aku tidak pergi ke LTK kalian tidak akan mendapatkan bantuan atau aku bisa mengantar kalian ke Menara untuk meyakinkan kalian. Tapi, risiko ada di tangan kalian,” ujar Rosi lagi. Kali ini ketenangan sudah meninggalkan wajahnya. Ia terlihat sedikit memaksa.


              “Kami tidak bisa meninggalkan kau pergi sendirian. Masih banyak yang harus kau jelaskan,” kata Frian dengan tegas.


              Terdengar bunyi gagang pintu perlahan digerakkan. Semua menoleh ke arah pintu. Pintu itu pelan-pelan


terbuka. Cahaya remang-remang dari lampu lorong memasuki ruangan. Mereka menunggu sosok yang membuka pintu. Tapi, tidak ada orang yang nampak.


              “Siapa itu!” teriak Kay. Rosi perlahan maju dan berdiri di ambang pintu. Lalu tiba-tiba sebuah nampan makanan berwarna putih superporselen anti pecah dijatuhkan tepat di atas kepala Rosi. Sedetik kemudian, Rosi terjatuh ke belakang, tidak sadarkan diri.


              Bon berdiri di ambang pintu, memegang nampan putih itu dengan kedua tangannya.


              “Cedera kepala ringan,” ujar Bon.


              “Bon!” seru Maha. Joke tertawa senang, “Aku tahu kau akan mendengarkan pesanku.” Bon melangkah maju memasuki ruangan. Frian berjongkok untuk mengecek keadaan Rosi. Masih bernafas dengan baik, tidak ada darah yang terlihat. Tapi Ia belum ingin membuatnya sadar kembali.


              “Halo, teman-teman. Aku kira hanya Ayu yang menghilang hari ini, ternyata kalian juga,” ujar Bon dengan ceria. Kemudian Ia melihat berkeliling. Sosok berbadan besar dan mengenakan jas putih Geduna tergeletak di lantai karena hantaman yang Ia berikan. Teman-temannya pasti sedang dalam situasi yang tidak baik sebelum ia datang. Bon bertanya dengan serius,


              “Apa yang terjadi?”


***


              Rosi didudukan di atas kursi roda manual yang dapat digerakan tanpa arus listrik. Maha, Frian, Kay, Joke, dan Bon keluar dari ruang rapat itu menuju lorong Vibrio yang remang-remang. Cahaya lampu cadangan tidak cukup kuat untuk menerangi seluruh lorong yang panjang. Udara semakin panas, aliran udara pendingin tidak terlalu efektif. Mungkin karena energi cadangan ini jarang sekali digunakan, Trikad tidak pernah mengalami penurunan daya dalam 20 tahun terakhir.


              “Aku akan ke gerbang utama. Akan ku kerahkan bantuan dari unitku,” ujar Kay.


              “Tetap harus ada orang yang berjaga di perbatasan. Kita tidak boleh lengah. Mungkin saja ini hanya jebakan. Kita tidak pernah tahu,” kata Maha. Semua orang mengangguk setuju.


              “Aku akan berjaga di perbatasan. Aku memiliki akses ke rompi kita semua. Aku bisa memanggil seluruh unit jika jaringan sudah menyala,” usul Frian. “Kay ikut Maha dan Joke ke Menara.”


     “Kita tetap tidak bisa memanggil unit lain jika jaringan belum kembali,” kata Joke sambil berpikir. “Harus ada yang menyalakan jaringannya kembali.”


              Maha menghela nafas. “Tapi, tidak ada pilihan lain.”


              “Aku akan membawa Rosi ke LTK,” ujar Bon. “Frian bisa berjaga sekaligus mengingatkan unit lain secara manual. Aku akan membantunya nanti.”


              “Aku bisa mengajak beberapa orang dari unit Kay untuk memanggil pimpinan unit lain secara langsung. Beberapa pemimpin unit memiliki rumah tidak jauh dari gerbang utama,” ujar Frian.


              Maha mengangguk setuju. “Begitu anggota unit lain bisa dipanggil, arahkan ke lantai 7 Menara.”


              “Mungkin tidak akan cepat, Maha. Kalian harus tetap bertahan dulu bertiga.” Bon memandang ketiga temannya.


              “Iya benar. Tapi tetap usahakan.” Maha membuka jubah putihnya. “Kita harus berganti dulu. Ayo.” Maha mengajak Kay dan Joke bergerak menuju pintu keluar Vibrio. Sementara itu, Bon dan Frian masuk kembali ke ruang rapat.


              Joke melewati kamar nomor 02. Ia teringat Leno, “Maha,” panggil Joke. Maha dan Kay menoleh ke belakang. “Aku ingin menengok Leno sebentar. Kita bertemu di rubanah.”


              Maha mengangguk kemudian berlari  sambil menggandeng Kay menuju pintu keluar. Joke tersenyum kecil melihat mereka berdua. Kemudian Ia berbalik dan berlari menuju kamar 02.


              “Leno?” panggil Joke dari depan pintu besi yang tertutup.


              “Moonasera!” jawab Leno samar-samar. “Tolong aku ada seseorang tertembak di sini!”


              “Cek nafasnya. Apakah masih ada?”


              Terdengar sunyi untuk beberapa saat sebelum Leno kembali menyahut, “Masih ada.” Joke merasakan kelegaan menghampiri benaknya, walaupun Ia lupa Prof. Said masih di dalam, setidaknya Ia masih hidup. “Ia hanya terbius,” kata Joke.


              “Tunggu sebentar.”


              Joke mencoba membuka pintu yang Ia kunci secara manual. Kunci sudah dibuka tapi pintu itu tidak mau membuka. Joke mendorong pintu itu dengan kencang, tapi tidak bergerak. Seperti ada yang tersangkut.


              “Leno. Apa kau ada di dekat pintu?”


              “Ya. Kenapa?”


              “Jauh-jauh dari sana. Aku mau mendobraknya!”


              Joke mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang. 3… 2… 1… BRAK! Joke menghantamkan tubuhnya yang berat ke pintu besi itu. Tidak terbuka. Joke mengatur nafasnya lagi. Bahunya terasa sakit, tapi Ia belum menyerah.

__ADS_1


              “Apa kau baik-baik saja?” terdengar suara Leno dari dalam ruangan.


              “Menjauh dari pintu!” teriak Joke.


              “Aku sangat jauh dari pintu!” saut Leno.


              Joke kembali mengambil ancang-ancang dan mendobrak pintu itu. Pintu besi terbuka dengan dentuman yang cukup keras. Leno menghampiri Joke dan membantunya berdiri.


              “Kenapa kau keluar dari ruang isolasi?” tanya Joke sambil meringis kesakitan. Sepertinya ada memar di bahu kanannya.


              “Pintu itu terbuka ketika seluruh lampu dan pendingin ruangan mati. Dan.. dan.. ada orang tertembak tepat di depan mataku… lalu Anda mengunci kami berdua di dalam sini…,” ujar Leno dengan panik.


              “Mana bisa aku duduk diam saja di dalam sana!”


              Joke tidak bisa menyangkal perkataan anak ini. Ia mengangguk membenarkan. “Ya.. ya  kau benar.” Joke menghampiri Prof. Said yang berbaring dengan posisi aneh di sofa ruang tunggu. Tangan kanannya terjepit di bawah badannya sendiri. Sedangkan kaki kirinya menggantung di atas sofa.


              “Bantu aku,” kata Joke kepada Leno.


              Leno membantu Joke membenarkan posisi Prof. Said. Leno memperhatikan Joke memeriksa kakek itu dengan hati-hati.  “Profesor… Apa kau bisa mendengarku?” tanya Joke.


              Prof. Said tidak menjawab apa-apa. Tapi tangannya bergerak sendiri. Joke menekan kedua pelipis Prof. Said. “Profesor coba buka matamu,” kata Joke.


              Prof. Said membuka matanya sedikit, kemudian memejam kembali. Ia membalikan badannya menghadap pojok sofa, seperti orang tidur pulas yang sedang dibangunkan. Leno merasa sangat lega


melihat respons kakek itu. Walaupun ia tampak mengantuk, setidaknya Ia masih hidup.


              “Aku harus mengurus sesuatu di Menara. Aku akan mengirim orang untuk menemani kalian,” kata Joke lagi. “Tetaplah di sini.” Leno mengangguk. “Terima kasih.”


              Joke keluar dari kamar 02. Ia mengintip ruang rapat. Bon, Frian, dan Rosi sudah tidak ada di sana. Joke


keluar dari pintu Vibrio yang dibiarkan terbuka.


              Ia mencari kesekeliling lantai. Tidak ada seorangpun di sana. Sebelum Maha datang bersama Kay dan Prof. Said, Joke memang meminta kedua Mandala yang berjaga untuk beristirahat sebentar. Sudah lewat dari 1 jam sejak kejadian tadi dan belum ada orang di lantai ini.


              Kemana perginya semua orang?


***


              Setelah membuka jas putih yang dikenakan Rosi di atas kursi roda manual dengan susah payah, Frian memakaikan masker wajah untuk menutupi wajah Rosi. Mereka mendorong Rosi melalui jalur darurat karena lift tidak beroperasi. Geduna tampak lebih gelap, tapi anehnya mereka tidak melihat orang lain yang berseliweran di gedung itu. Tapi mereka tidak terlalu banyak bertanya karena terlalu fokus membawa tubuh berat Rosi


naik empat lantai di atas mereka. Mereka beristirahat sejenak setelah mendorong Rosi masuk ke dalam mobil Bon.


              “Orang ini makan apa sih,” ujar Bon sambil mengatur nafasnya.


              “Ayahnya seorang petinggi Reppe, ia pun hampir menjadi pengamat Reppe. Pelatihan yang berat pasti membutuhkan banyak protein untuk membentuk massa otot,” kata Frian dengan wajah datar.


              “Aku hanya mengeluh tau,” kata Bon dengan sedikit kesal. “Mengapa kau malah memberikan kuliah fisiologi,”


              Rosi mengerjap-ngerjapkan matanya, ia sudah setengah sadar. Bon dengan cepat mengambil suntikan penenang dosis rendah kemudian memompa cairan itu ke dalam lengan Rosi. Rosi sempat linglung sejenak sebelum kembali berbaring di kursi mobil Bon.


              Bon dan Frian duduk di kursi depan. Bon memencet tombol untuk mengeluarkan empat roda karet manual di kedua sisi mobil. Ia tahu jalanan tanpa listrik jelas tidak akan membuat mobilnya terangkat di udara. Bon mengijak pedal dan membawa mereka langsung ke gerbang utama.


              Ketika mereka sampai di tenda markas gerbang utama, Frian langsung membuka sabuk pengaman. “Aku akan memberitahu Vanya dan yang lain. Kau bisa mengurus Rosi sendiri?”


              Bon mengangguk. “Kau bilang dia ada di pihak kita, kan? Aku hanya menunggu dia siuman dan meminta dia melakukan reboot ulang sistem jaringan.”


              “Tetap berhati-hati,” kata Frian sambil menutup pintu mobil dan berlalu pergi. Bon memutar mobilnya menuju LTK di sisi timur Trikad. Sudah lama ia tidak mengenakan ban karet dengan mobil ini, gesekan ban dengan jalanan membuat lajunya tidak secepat biasanya. Bon mengintip dari kaca depan mobil. Rosi sudah hampir sadar. Bon memang hanya menyuntikan setengah dosis normal midazolam. Ia tidak ingin membuat Rosi tidur terlalu lelap.


              Sepuluh menit kemudian mereka sampai di dalam rubanah LTK. Bon menoleh ke kursi belakang. “Apa kau sudah sadar?”


              Rosi memandang Bon, masih sedikit linglung tapi Ia mengangguk. “Dimana yang lain?”


              “Mengikuti apa katamu. Ke Menara,” jawab Bon. Ia meraih tasnya dan mengeluarkan pistol yang dibawa Rosi tadi.


              “Aku tahu ini punyamu. Aku juga tahu kau bilang kau ada di pihak kami. Tapi aku akan sangat bodoh jika


membiarkan orang yang menembak bos nya sendiri untuk berkeliaran di kantornya tanpa pengawasan apa-apa.”


              “Jadi sekarang dengarkan aku,” ujar Bon dengan tajam. Bon menekan tombol di bawah kursinya. Kursi pengemudi itu berputar 180 derajat. Sekarang mereka berdua berhadap-hadapan. Rosi mengamati Bon dengan tenang. “Kau akan mengembalikan jaringan kota ini kembali, lalu membiarkan aku memanggil seluruh unit. Setelah itu kita kembali ke Menara.”


             Mereka masih bertatapan. Bon melanjutkan, “Aku sudah mengisi pistolmu dengan sesuatu yang tidak ingin kau tahu. Tapi jika kau tidak menuruti kata-kataku,


              kau akan tahu.”


              Rosi mengembangkan senyumnya di depan Bon. “Bagaimana kabarmu, Bon? Sudah lama kita tidak bertemu.” Bon menggemeletukan giginya. Ketegangan dan kekakuan dari wajahnya tidak berkurang. “Ikuti saja kata-kataku,” ujar Bon dengan dingin.

__ADS_1


              Rosi mengangkat sebelah senyumnya kemudian ia menunduk. Sedikit kesedihan terlihat dari raut wajahnya. Ia kembali menatap Bon. “Aku akan membantumu.”


__ADS_2