Mandala

Mandala
Perkumpulan Rahasia


__ADS_3

Maha mengenakan jubah putihnya dan keluar dari ruangan Mia. Kay sudah memberitahu Maha kalau Prof. Said sedang menuju ke geduna. Begitu Maha keluar dari Gardnella, Ia melihat Mn. Sito, Mn. Hiroya, dan dewan-dewan tinggi Geduna lain di depan ruang rapat yang hampir akan digunakan oleh Maha. Beberapa dewan terlihat sedang mengunyah kue dan mengantri kopi di depan ruang rapat. Sepertinya ada rapat tinggi dewan siang ini.


              Sito dan beberapa dewan lain berjalan menuju lift di samping ruang perawatan Gardnella. Mereka melihat Maha.


              “Selamat siang, Moonasera,” sapa Maha sambil memberi hormat.


              “Siang, Moonasera,” jawab beberapa Mandala yang melintas di depan Maha. Mereka tersenyum dan balas memberi hormat.


              Sito menghampiri Maha. Selagi dewan-dewan lainnya berlalu di samping mereka, Sito mengajak Maha berjalan bersamanya ke arah yang berlawanan.


              “Apa ada kabar baru dari unit yang berjaga?” tanya Sito.


              Maha menggeleng. “Belum ada lagi.”


              “Bagaimana kabar anggota unit lain? Apa mereka beristirahat dengan cukup?”


              Maha mengangguk pelan. “Kami sudah tidak kelelahan terlalu lama. Terima kasih sudah meringankan penjagaaan hari ini.”


              “Ya, aku juga memikirkan ini. Lebih baik kita bersiap penuh di belakang. Sambil mencari tahu darimana makhluk ini berasal. Kami membahas ini di rapat tadi. Semua berasumsi Lentipede ini merupakan produk evolusi yang lebih berbahaya dari sebelumnya.”


              “Lebih besar, namun tidak lebih kuat,” ujar Maha. “Kalau dengan perhitungan kita, Lentipede sebesar itu akan langsung menewaskan lebih dari 10 orang dari jarak dekat. Tapi, adikku masih bisa selamat.”


              Sito menyetujuinya. “Aku juga melaporkan kondisi adikmu secara singkat. Banyak yang tidak percaya dan meminta datanya. Tapi, ini hanya topik tambahan sehingga aku belum menyiapkan presentasi apa-apa. Aku bahkan belum mendapat laporan dari Joke tentang perkembangan korban satunya. Setelah ini kita akan membuat rapat putih khusus membahas perkembangan korban.”


              Sito berhenti di mesin minuman. Beberapa tabung besi berjejer di sana, mengeluarkan kopi, cokelat, teh, dan minuman lain yang bersuhu hangat. Ia memberikan gelas kosong kepada Maha.


              “Terima kasih,” ujar Maha. Ia menaruh gelasnya di bawah tabung berisi cokelat hangat.


              “Neena memanggil kami semua malam ini. Mungkin aku akan sulit dihubungi hingga besok pagi,” kata Sito sambil menyesap campuran teh kopi hangat dari gelasnya.


              “Baik. Saya hanya akan mengabari Anda jika terjadi sesuatu.”


              “Aku percaya padamu.” Sito tersenyum sambil menepuk pundak Maha. Kemudian Ia berbalik arah meninggalkan Maha. Sesaat kebimbangan mengampiri benak Maha.


              Tepat setelah Sito pergi, gelang Maha bergetar. Kay memanggilnya. ”Maha kau sudah di Geduna? Aku berencana menggunakan ruang rapat di lt. -4. Apa kau sudah di sana?”


              Maha mengerling ke arah lift di samping Gardnella. Di sana, terlihat Sito dan dua Mandala lain sedang menunggu lift.


              “Kay, di lt. -5 ada ruang rapat. Di dalam Vibrio. Temui aku di sana.”


              “Ooh, itu di dalam kamar perawatan?” tanya Kay memastikan.


              “Iya. Tidak apa-apa. Joke akan mengaturnya.”


              Maha menarik nafas panjang. Semoga aku benar, batin Maha. Ia menenggak habis cokelat hangatnya dan mengambil langkah memutar menuju lift barang di pojok 1’, di sisi kiri ruang rapat. Sambil berjalan, Maha mengirimkan pesan suara ke Joke.


              Lift barang cenderung lebih besar dan lebih lambat. Tapi ini bukan jam sibuk perpindahan barang-barang besar sehingga hanya Maha yang menggunakan lift itu. Ia turun satu lantai ke bawah. Begitu Maha keluar dari sana, Ia mencari Kay dan Joke.


              Dua sosok itu sedang berdiri di depan Vibrio. Maha memanggil mereka. Keduanya menunggu Maha menyusul mereka di sana. Ketika Maha sampai di depan pintu kaca Vibrio, ada suara lain yang memanggil


Maha


              “Maha,” panggil Frian.


              “Frian?” Maha terlihat sedikit terkejut. Sedangkan Kay terlihat jauh lebih terkejut dari Maha. Joke memandangi mereka bertiga dengan bingung. “Apa ada masalah di perbatasan?” tanya Maha.


              “Mengapa tidak bertanya pada Kay?” tanya Frian dengan dingin. Ia melipat kedua tangannya di dada. Ekspresinya begitu kaku, menunggu Maha menjawab pertanyaannya.


     “Aku tahu ada yang aneh di sini. Apa yang sedang kalian lakukan? Kau, Ayu, dan Joke sedang merahasiakan sesuatu dariku,” ujar Frian lagi.


              Joke bergumam dengan gugup, “A.aku tidak..”


              “Kalian ini mudah sekali ditebak,” potong Frian. Maha dan Kay berpandang-pandangan. “Apa yang terjadi? Aku tahu kau menyukai Kay, tapi ada alasan lain mengapa kau tidak memberitahuku tentang hal-hal yang kau ketahui.”


              Kay nampak gugup. Ia menundukan kepalanya, memandangi lantai Geduna. Joke berdeham dengan keras. Maha tetap diam di tempatnya dengan tenang. “Aku memikirkan alasannya, ada banyak kemungkinan kau tidak berbicara pada anggota unitmu sendiri: pertama, kau sudah tidak percaya pada kami.


              kedua, masalah utamanya ada pada kami.”


              Maha terdiam sambil menyusun jawaban yang tepat untuk Frian. Kay menatap gugup ketiga temannya secara bergantian. Kemudian Joke berdeham lagi lalu berkata, “Sebenarnya aku juga bertanya-tanya, Maha. Apa yang sedang kita lakukan sekarang? Kau belum menjelaskan apa-apa.”


              Maha mengangguk kecil. Ia memandang ketiga temannya dan berkata, “Aku tidak mau menjelaskan dua kali. Ikut aku.”


              Maha mengetuk pintu kaca besar itu dengan jarinya beberapa kali. Pemindai muncul dari dalam kaca. Ketiga temannya berdiri di sebelah Maha secara berderet. Setelah pindaian retina, sidik jari, dan postur tubuh mereka berempat selesai, pintu kaca membuka.


              Gelang f32 Kay bergetar. Ia melangkah mundur. “Prof. Said dan asistennya sudah di atas, aku akan


menjemputnya.”


              “Sebentar,” kata Joke. Ia berlari ke dalam pintu kaca. Joke kembali dengan membawa dua jas putih yang baru dilipat. “Bawa ini.”


              Kay menerimanya dengan bingung. “Jika kalian ingin berbincang di dalam ruang perawatan, lebih baik tidak menarik perhatian Mandala lain yang sedang bertugas.”


              “Hanya untuk berjaga-jaga,” ujar Joke. Kay mengangguk dan meninggalkan mereka menuju lift.


***


              Ruang rapat di Vibrio lebih tepat disebut ruang tidur dan tempat kabur mahasiswa yang bertugas di lantai itu. Sudah tidak banyak Mandala yang benar-benar menggunakan ruang itu untuk rapat. Tapi Maha selalu teringat ruangan itu setiap kali memasuki Vibrio, di sini tempat ia memergoki teman-temannya yang sengaja tidur ketika bertugas.


              Sekarang Maha kembali ke tempat ini lagi. Joke masih sibuk mengetik beberapa hal di tabletnya, sedangkan Frian duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan menembus Maha. Sudah 5 menit sejak


Kay pergi, mereka masih menunggu kedatangan tamu penting hari ini.


              Pintu ruangan terbuka. Prof. Said yang sudah berjubah putih memasuki ruangan, diikuti Kay yang juga mengenakan jubah putih yang sama. Maha berdiri dari tempat duduknya. Ia menunduk memberi hormat. “Profesor Said.”


              “Maha!” seru Prof. Said saat melihat Maha. Ia menghampiri Maha dan memegang kedua pundaknya. “Bagaimana aku bisa lupa punya anak sepertimu?”


              Prof. Said jelas sekali terlihat tidak menyangka bertemu Maha di sini. Ia terlihat sumringah, berbeda dari


ketika Kay menemuinya pertama kali 3 hari yang lalu.


              “Karena Anda punya terlalu banyak anak,” jawab Maha dengan ramah. “Dan sekarang pun Anda sibuk merekrut anak perempuan yang baru,” kata Maha lagi sambil melirik Kay.


              Prof. Said tertawa. Ia menepuk bahu Maha. Maha mencari-cari orang lain di belakang mereka. Kay mengetahui siapa yang Maha cari. “Rosi mengambil tablet Prof. Said yang tertinggal di LTK. Dia akan kembali.” Maha mengangguk tanda mengerti.


              Kemudian mereka semua duduk mengelilingi meja oval yang terdapat di ruangan itu. Maha duduk di ujung meja yang bersebrangan dengan pintu, Joke duduk di sebelah kirinya, diikuti Frian, Prof. Said, dan Kay. Setelah melewati fase temu kangen yang singkat, atmosfer ruangan itu berubah menjadi serius. Maha membuka suara.


              “Saya memanggil sebagian besar dari Anda yang hadir di ruangan ini, untuk mendiskusikan sekaligus meminta klarifikasi terhadap hal serius terkait serangan Lentipede raksasa beberapa hari yang lalu. Saya akan memulai dengan memaparkan apa yang saya ketahui.”


              Maha memandang mata mereka yang duduk di ruangan itu satu persatu. Ia memulai, “Empat hari yang lalu, terdapat laporan penampakan Lentipede raksasa dari pesisir pantai. Lentipede itu berhasil memasuki gerbang utama dan menuju Jalan 56. Pada saat itu, Sito memanggil unit utama untuk turun langsung ke tempat perkara. Ajaibnya, kami berhasil menghilangkan makhluk raksasa itu.


              “Sayang sekali seorang wanita muda, Kerdina Jose, menjadi korban. Dari laporan penyelidikan, wanita itu memang sedang berada di sana, berusaha membetulkan alarm jalanan yang sedang rusak. Jadi, Lentipede itu memang menyerang makhluk organik yaitu sang korban wanita.”


              “Keesokan malamnya, unit-unit aktif diturunkan untuk menjaga empat gerbang terutama gerbang utama. Tapi, tidak ada satu unit pun yang ditugaskan menjaga FIGHR. Mn. Kay bisa mengkonfirmasi hal tersebut.” Maha mengalihkan pandangannya kepada Kay. Ia mengangguk. “Benar, Mn. Sito hanya menempatkan unit kami di gerbang utama.”


              “Aku dan Joke ada bersama Mn. Sito pada saat itu. Ia juga berkata unit gerbang utama bisa sekaligus menjaga FIGHR dari sana.” Maha menyapu pandangan kepada seluruh orang. “Kalian tahu itu tidak cukup.”


              “Kemudian laporan darurat masuk mengatakan bahwa ada lebih dari 5 bayangan terlihat menyebrang ke arah FIGHR. Seluruh unit ditugaskan ke sana. Aku dan Joke juga menuju ke sana. Aku berhasil menghubungi Mia yang ternyata berada di luar asrama, itu adalah panggilan dan pesan pertama yang bisa kukirimkan ke adikku pada hari itu. terdapat gangguan jaringan baik radio, internet, atau jaringan selular yang sangat parah di


daerah FIGHR. Sampai-sampai aku dan Joke tidak bisa menghubungi unit yang lain untuk meminta bantuan.


              “Aku mengira ini semua tidak ada hubungannya sampai Kay bercerita apa yang Ia dapatkan dari Prof. Said. Ada seseorang yang sengaja mengacaukan jaringan komunikasi di FIGHR malam itu.” Maha menoleh kepada Prof. Said.


              Prof. Said mengangguk. “Aku ingin menunjukannya kepada kalian sekali lagi, tapi Rosi belum datang untuk membawa tabletku. Tapi, bisa ku katakan bahwa itu benar. Seseorang mengaktifkan kode darurat untuk mengambilh alih jaringan kota dan memilih untuk mematikan daerah FIGHR tepat pada hari itu.”


              “Siapa orang itu?” tanya Frian.


              Prof. Said sedikit gugup. “Hanya Neena yang memiliki akses dan kata sandi spesifik untuk bisa masuk ke mode darurat.”


              “Apa? Neena yang melakukannya,” ujar Joke tidak percaya.


              “Neena yang memiliki aksesnya, tapi belum tentu dia yang melakukannya. Seseorang bisa saja mencuri akses itu dan menggunakan nama Neena,” kata Maha.


              “Seseorang yang memiliki motif,” ujar Kay menambahkan.


              “Benar.” Maha mengangguk. “Aku akan melanjutkannya.”


              “Rapat darurat dengan Neena memberi petunjuk lain. Prof. Jery sedang sakit, orang baru menggantikannya. Greeta, dewan Trikad baru yang tidak pernah terlihat di pertemuan ilmiah manapun. Orang-orang baru yang mengisi kepemimpinan LTK, bersamaan dengan munculnya kasus Gerakan pemberontakan baru: Gephu.”


              “Sebentar,” potong Frian. “Kau membuat seolah-olah Gephu ada di balik serangan Lentipede raksasa yang tiba-tiba muncul dari tempat yang tidak kita ketahui?”


              “Aku tahu ini akan terdengar sulit dipercaya. Tapi tolong dengarkan dulu.” Maha memajukan badannya. Berusaha meminta perhatian dan kepercayaan teman-teman yang ada di ruangan ini.


              “Aku membaca semua berita tentang Gephu, gerakan yang dianggap sebatas konspirasi ini. Kasusnya sudah ditutup oleh Reppe 1 minggu yang lalu.”

__ADS_1


              “Ya, ya itu benar,” kata Prof. Said mengangguk-angguk.


              “Tapi ada hal lain yang kalian harus ketahui.” Maha menatap Prof. Said. “Projek Anti-Lent.”


              “Apa itu?” tanya Joke bingung.


              Maha menoleh kepada Prof. Said, “Prof, saya mohon kesediaannya untuk menjelaskan kepada kami.”


              Prof. Said menelan ludahnya, ia nampak gugup untuk sesaat. Menimbang-nimbang bagian mana dari apa yang ia ketahui untuk bisa dibagikan kepada teman-temannya. Kemudian Ia mulai bercerita, “12 tahun yang lalu, Neena yang lama memberikan tugas kepadaku untuk mempelajari pola Lentipede yang sempat merebak menjadi wabah berbahaya. Banyak sekali korban yang berjatuhan, anak-anak, orang dewasa, pedagang, selebriti, pejabat Menara, dan juga para Mandala yang bertugas melindungi kita semua. Neena menginginkan kita bisa mencegah supaya hal itu tidak terulang kembali. Atau setidaknya bisa mempersiapkan diri jika hal ini terjadi lagi.


              “Aku mengumpulkan cukup banyak sampel residu Lentipede di seluruh kota, memetakan pola genetiknya, dan.. membuat serum berupa vaksin yang bisa diproduksi masal.


              “Namun, pihak Menara melihat potensi lain, mereka ingin melanjutkan projek ini menjadi sesuatu yang berbeda. Mereka ingin kita memiliki kekebalan penuh terhadap semua variasi Lentipede yang masih muncul di pulau ini.


              “Perlu diingat bahwa mereka adalah makhluk yang sangat mudah bermutasi, variasi masing-masing makhluk sangat banyak. Terutama karena mereka juga berasal dari inang yang berbeda. Butuh waktu 10 tahun hanya untuk memetakan seluruh RNA mereka menjadi satu pola panjang yang bisa mencakup seluruh variasi Lentipede yang menyerang kota.


              “Kemudian, istriku meninggal. Ya, dia memang sudah memiliki sakit jantung sejak lama. Aku kehilangan partner dan yah.. istriku..” Prof. Said sempat terdiam beberapa saat.


              “Di sisi lain, Neena yang baru sedang gencar-gencarnya membangun kota, berbuat baik dengan membuka Trikad untuk semua orang yang membutuhkan. Trikad menjadi kota yang dermawan, Neena


hampir melupakan apa yang sedang ku kerjakan walaupun ia sudah mendapat laporan turunan dari Neena sebelumnya.”


              “Kemudian LTK juga menerima banyak anak magang yang bisa ditugaskan untuk membantu, kehadiran Rosi membuatku mulai melanjutkan perkerjaanku lagi. Ketika aku mulai berhasil mengolah data


tersebut, data itu tiba-tiba lenyap 4 hari yang lalu. Seseorang juga berhasil menghapusnya hingga ke sub data cadangan. Termasuk semua jurnal pribadi dan catatan-catatanku.”


              “Beruntung Rosi berhasil menyelamatkan pola genetik yang sudah kurangkai selama hampir 10 tahun. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan jika harus mengulang dari awal.”


              “Baik,” potong Joke. “Jadi, Anda juga membuat vaksin produksi masal ini, tapi kita tidak pernah mengetahui hal ini? Aku tidak pernah mendengar siapapun dewan di geduna berkata LTK sedang


mengembangkan vaksin!” seru Joke menggebu-gebu. “Selain itu, mengapa Anda membutuhkan waktu yang sangat lama hanya untuk membuatnya? Dan mengapa projek penting seperti ini ditutupi?”


              “Karena bukan hanya vaksin yang LTK kembangkan,” ujar Kay, pandangannya menatap lurus Prof. Said.


              Prof. Said menunduk sebentar, Ia menelan ludahnya beberapa kali sebelum melanjutkan, “Untuk mendapat penawar, kadang kau harus membuat racunnya dulu. Pola genetic itu lebih dari cukup untuk


bisa membuat Lentipede versi kita sendiri yang bisa digunakan sebagai bahan uji coba..”


              “Sebentar, aku dengar Anda bilang ‘membuat Lentipede versi kita sendiri’?” tanya Joke lagi.


              “Secara ilmiah hal ini mungkin saja, kita hanya perlu membuat medium yang pas, sel hidup, dan memasukan rantai RNA yang sudah dibuat.”


              “Dan Anda berhasil melakukannya,” sambung Maha.


              Prof. Said mengangguk kecil, “Iya. Enam bulan yang lalu aku berhasil membuaatnya. Tapi kita segera menghancurkan makhluk itu setelah pihak yang berwenang melihat perkembangan ini.”


              “Tapi, Anda masih menyimpan datanya. Anda bisa menciptakan mereka kapan saja Anda mau,” kata Frian.


              “Ya, sebelum data-data itu dicuri,” jawab Prof. Said dengan lemah.


              “Seseorang yang mencurinya memang sengaja ingin membuat Lentipede,” kata Maha. “Dan mengaturnya untuk melancarkan serangan.”


              “Tapi kenapa?” tanya Joke.


              “Karena…” Maha berpikir dengan keras. Kemudian ia berkata, “Mereka ingin menguasai Trikad.


              “Memberikan ancaman besar akan membuat mereka menjadi pihak yang kuat. Sehingga mau tidak mau mereka akan memaksa memimpin Trikad.”


              “Mereka yang kau maksudkan di sini adalah?” tanya Joke.


              “Gephu. Greeta, dan orang-orang lain yang masih menjadi kemungkinan,” kata Maha.


              Keheningan menghampiri mereka untuk beberapa saat. Semuanya berusaha mencerna analisa baru informasi ini. Beberapa menit kemudia, Frian bertanya, “Mengapa kita tidak berbicara pada Mn. Sito? atau Ayu dan Bon, dimana mereka?”


              “Kau mencurigai Mn. Sito?” tanya Joke kepada Maha.


              “Aku berbicara padanya tentang projek ini. Dia menyangkalnya. Seolah-oleh Anti-lent tidak pernah ada.” Maha menatap lurus ke depan. Mengingat-ngingat apa yang Mn. Sito katakan di Hutan Kiri kemarin sore.


              “Mungkin dia memang tidak tahu?” tebak Joke.


              “Tidak mungkin. Aku baru mengirimkan kabar tentang perkembangannya kepada Sito siang ini. Aku meminta mengirim ulang data korban Lentipede 12 tahun yang lalu yang masih hidup saat ini,” ujar Prof. Said.


              “Dia juga tidak mengirimkan unit ke FIGHR. Kau ingat apa yang ia katakan malam itu?” Maha menoleh ke Joke.


              “Bisa jadi dia memang sengaja tidak menempatkan unit di sana, karena memang disanalah dia mau


              “Tapi.. Maha.. Sito tidak mungkin mengorbankan nyawa orang lain, nyawa adikmu, demi apapun,” ujar Joke ragu-ragu.


              “Aku tahu.. tapi aku tidak menemukan alasan untuk tetap memberitahunya. Walaupun rasanya ia tidak mungkin melakukannya.” Kebimbangan mengisi benaknya. Semua informasi ini mengarah pada kesimpulan tertentu, tapi hatinya tidak setuju.


              “Aku belum bisa mempercayai orang lain di luar ruangan ini untuk apa yang kita bicarakan di sini. Satu kebocoran bisa membahayakan banyak hal,” kata Maha lagi. “Ayu mengetahui sesuatu tentang ini. Ia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku hanya tahu bahwa Prof. Jery tidak bisa menghadiri rapat karena sakit. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya dan aku belum tahu apa. Tapi, berhubung Prof. Jery masih berkaitan dengan dewan LTK, aku belum berani membuka hal ini kepadanya.


              “Aku baru akan berbicara padanya setelah ini. Tapi setidaknya kalian harus memiliki informasi yang sama denganku.”


              “Bon juga?” tanya Joke.


              “Bon tidak memiliki motif apapun tapi aku rasa lebih baik memberitahunya setelah kita tahu apa yang Ayu sembunyikan.”


              “Karena kalau ternyata Ayu salah satu dari mereka dan Bon berpihak pada Ayu maka..” kata Frian menebak.


              “Tidak, jangan bilang begitu,” potong Joke sambil menggeleng.


              “Tapi, Maha benar,” ujar Kay. “Kita harus berhati-hati.”


              “Lebih baik memilah siapa yang paling aman untuk dipercaya dibandingkan menebak musuh yang sebenarnya,” kata Maha.


              Prof. Said tersenyum, “Itu yang kukatakan.”


              Maha mengangguk, “Saya mengutip dari Kay yang mendapatkannya dari Anda.”


              “Tapi, Ayu seharian ini memang tidak muncul di grup atau terlihat dimanapun, Apa kita harus menghubunginya sekarang?” tanya Joke.


              Beberapa saat setelah Joke bertanya, panggilan masuk ke gelangnya. Bon memanggil Joke. Joke nampak ragu. Ia bertanya ke sekelilingnya, “Apa aku boleh mengangkat panggilan dari Bon?”


              Maha berkata, “Angkat.”


              “Joke, dimana kau? Aku mencoba menghubungi Ayu, tapi tidak diangkat. Hari ini Frian yang berjaga, kan?” tanya Bon tanpa memunculkan proyeksinya dalam bentuk hologram. Joke sengaja mematikannya.


              “Kau tidak bersama Ayu?” tanya Joke.


              “Aku tidak bisa menghubunginya sejak semalam. Kau juga tidak bisa?”


              “Aku belum mencobanya. Tapi ia tidak bersamaku sekarang.”


              “Dimana dia?“ tanya Bon lagi dengan bingung.


              “Aku akan membantu mencari tapi setelah..” Joke menghentikan kalimatnya, melihat kesekeliling ruangan, “setelah aku berbincang dengan Leno.”


              “Oh, ya,” saut suara Bon. “Apa ada perkembangan?”


              “Sejauh ini membaik. Nanti kukabari,” jawab Joke.


              “Oke. Aku akan mencari Ayu lagi.” Bon mengakhiri panggilannya. Mereka semua berpandang-pandangan. “Apa sebaiknya kita mencari Ayu?” tanya Frian.


              “Aku akan mencarinya,” ujar Maha.


              Joke mencoba mencerna informasi yang baru ia dapatkan. Memang semuanya bisa berhubungan jika


dihubung-hubungkan. Tapi tidak ada hal lain yang bisa memastikan kebenaran dari


teori yang mereka utarakan.


              Kemudian ia teringat Leno dan apa yang ia dapatkan dari ayahnya kemarin sore. Tentang apa yang terjadi pada Leno ketika ia menjadi korban wabah. Joke menoleh kepada Prof. Said, “Prof, saya


dengar tadi Anda bilang sedang meminta data korban ke Mn. Sito?”


              “Ya, untuk mengcover kehilangan data, aku harus meminta ulang sampel tersebut ke korban Lentipede 12 tahun yang lalu yang masih hidup.Aku bisa meminta beberapa sampel, mungkin satu tabung darahnya untuk diuji kekebalan. Sambil berharap di antara korban tersebut ada yang menghasilkan imunitas yang baik untuk melawan mereka.”


              Joke tersenyum lebar, “Wah, Anda beruntung sekali. Aku merawat salah satu korban itu.”


              “Tidak, tidak. Maksudku korban wabah 12 tahun yang lalu. Bukan korban serangan kemarin. Bisa saja mereka sudah menghasilkan kekebalan yang baik.. tapi..” Prof. Said terlihat ragu dan berpikir sejenak. “Sebentar, itu justru akan jauh lebih baik!” seru Prof. Said.


              “Jika teori kita benar, Lentipede yang menyerang korban-korban kita kemarin akan mengacu pada rangkaian genetic yang sama dengan yang pernah ku buat,” sambungnya lagi. “Tapi, ini hanya bisa dilakukan jika korban ini sehat dan tidak terinfeksi,“

__ADS_1


              Joke berdeham. “Aku yakin kau akan terkejut melihatnya.”


              “Kalau korban itu berhasil selamat dari serangan Lentipede raksasa itu, kemungkinan antibodi nya sudah terbentuk. Aku bisa menggunakannya,” kata Prof. Said.


              Joke mengangguk yakin, “Aku yakin Anda bisa.”


              “Wah, kalau begitu aku harus mengurus persetujuan etik untuk  mengambil sampelnya dari lab,” kata Prof. Said dengan bersemangat.  Joke mengangguk. “Apa Anda mau bertemu anak ini? Ia di ruang sebelah.”


              “Bolehkah? Aku akan sangat senang.”


              Joke membuka pintu ruangan. Ia melihat seseorang duduk di ruang monitor. Rosi memutar kursinya dan melongok keluar ruangan. Prof. Said dan Joke melihat Rosi menunggu mereka di sana. Rosi keluar dari ruang monitor. Wajahnya begitu kalem dan menenangkan. Jubah putih yang diberikan Kay telah menutupi sebagian besar otot lengannya yang kekar.


              “Ah, mengapa kau tidak masuk?” tanya Prof. Said.


              “Saya takut mengganggu. Lagipula saya tidak menemukan tablet Anda di LTK. Apakah Anda sudah membawanya?” tanya Rosi.


              Prof. Said membuka tasnya dan mencar-cari ke dalam. “Aduh, aku pelupa sekali.”


              Joke tersenyum sambil menyapa Rosi. Kemudian Joke memimpin Prof. Said menuju ruang perawatan Leno di kamar 02.


              Perdebatan dengan ayahnya semalam ternyata membuat Leno masih tidak nyaman. Kepalanya kembali terasa sakit. Cerita-cerita tambahan tentang ibunya tidak membuat suasana hati Leno semakin baik. Ia hanya berbaring di tempat tidurnya menutupi wajah dengan sebelah lengan. Menghitung denyut yang *******-***** kepalanya. Sempat terpikir apakah sebaiknya ia kabur sebentar saja dari sini? Ruangan ini membuat stressnya


semakin bertambah, televisi sekarang tidak menampilkan berita yang bagus, internet pun sama buruknya.


              Lalu, pintu ruangan terbuka. Leno melihat Joke masuk bersama seorang kakek bertubuh kurus, memakai jubah putih yang sama dengan Joke. Rambutnya sudah beruban dan botak sebagian di kepala


bagian depan. Leno belum pernah melihatnya. Ia nampak seperti ilmuwan yang fotonya Leno lihat di laboratorium hewan dan tanaman. Dia terlihat seperti profesor tua. Leno bertanya-tanya apakah Geduna tidak memiliki masa pensiun? Kalau Leno menjadi kakek itu, ia pasti sudah menghabiskan waktunya di rumah, alih-alih bekerja.


              “Leno? Leno?”


              Suara Joke membuyarkan lamunan Leno. Sepertinya mereka sudah cukup lama di sana, diabaikan oleh Leno yang sibuk memikirkan hal-hal yang tidak penting.


              “Ya.”


              “Bagaimana keadaanmu hari ini?”


              “Kepalaku masih sedikit sakit.”


              “Apa kau memikirkan hal lain lagi?”


              “Hmm.. yaa… sepertinya begitu.” Leno teringat kejadian semalam yang membuatnya menangis sesegukan. Jelas sekali hal ini membuat kepalanya berdenyut sakit.


              “Coba lakukan terapi nafas yang ku ajarkan. Itu juga bisa berguna untuk sakit kepalamu.”


              Joke bisa melihat Leno mengangguk. Ia melanjutkan, “Aku ingin kau bertemu Profesor Rasaid, Ia ilmuwan biomedik yang akan membantumu dan membantu kita.”


              Leno tercengang mendengarnya. Ternyata kakek itu memang benar-benar profesor yang fotonya dipajang di laboratorium sekolahnya. “Aku mengenal Anda,” ucap Leno kepada Prof. Said.


              “Oh, ya? Dimanakah kita pernah bertemu, nak? Maaf aku sudah cukup tua,” kata Prof. Said terkejut.


              “Aku.. hmm.. Aku melihat foto Anda di sekolah. Anda pasti orang hebat,” kata Leno. Prof. Said nampak terkesan. Ia tersenyum lebar. “Apa kau mengenal siapa aku dan bidang apa yang kukerjakan?”


              “Hmm.. aku tidak terlalu memperhatikan di sekolah, maafkan aku,”kata Leno merasa sedkit tidak enak. Kemudian Prof. Said dan Joketertawa. “Tidak apa-apa. Tidak semua siswa menyukai pelajaran makhluk hidup.”


              Prof. Said memandang Leno dari batas kaca isolasinya. Ia membaca catatan dari tablet Joke. “Lina? Namamu Lina?” tanya Prof. Said. “Leno. Panggil saja Lee,” jawab Leno.


              “Oke, Lee. Apa kau saat ini merasa sakit?”


              “Se..sedikit,” kata Leno ragu-ragu.


              “Ia memiliki beberapa episode migraine sedang. Sering terjadi pada korban serangan,” kata Joke menjelaskan.


              Prof. Said mengangguk. “Aku tahu kau sudah menjadi korban serangan Lentipede di sekolah beberapa hari yang lalu. Kau sudah terpapar dengan makhluk berbahaya itu dan kau sekarang selamat. Itu


adalah keajaiban.”


              Untuk hal itu, Leno setuju. Ia mengangguk beberapa kali.


              “Nah, kau mengerti sekarang. Aku dan teman-teman di Geduna akan meminta bantuanmu. Kau-“


              Pintu ruangan kamar Leno tiba-tiba terbuka. Prof. Said dan Joke menoleh ke sana. Rosi berdiri di ambang pintu, “Maaf mengganggu sebentar, tapi Joke kau dipanggil oleh Mn. Kay. Sepertinya cukup


penting.”


              Joke mengangguk. “Oke, baiklah. Apa Anda tidak apa-apa saya tinggal sebentar.”


              “Tidak apa-apa. Saya bisa keluar sendiri nanti.”


              Joke melewati Prof. Said dan berjalan menuju pintu. Terdengar suara Kay yang samar-samar dari dalam Lorong.


              “Maaf, tapi aku tidak tahu kau sudah di sini. Bagaimana kau bisa masuk melewati pemindai Vibrio tanpa salah satu dari kami?”


              Joke menyimak apa yang Kay katakan. Ia menyadari sesuatu. Joke menatap Rosi yang masih mematung di depan pintu. Rosi balik menatapnya dengan wajah sekaku pintu besi yang terbuka di


hadapan mereka. Kemudian hal itu terjadi.


              Rosi yang berbadan cukup besar menarik Kay dan mendekap mulutnya dengan satu tangan. Tangan kirinya menarik apa yang nampak seperti pistol transparan dari balik jubahnya. Ia mengarahkan ujung pistol itu persis di depan dahi Joke.


              Kay menjerit di dalam tangan Rosi.


              Prof. Said terkejut. “Rosi! Apa yang kau lakukan!”


              Masih sambil mendekap Kay yang meronta-ronta, Rosi menarik ujung kokang pistolnya. Joke tidak bergerak dari tempat semula, masih beradu tatap dengan Rosi. “Joke, keluar dari ruangan itu.”


              Joke tidak bergerak. Ia begitu waspada, tidak terlihat tanda-tanda akan menurut.


              “Keluar dari sana.”


              Melihat respons Joke yang tidak sesuai dengan perintahnya, Rosi ganti mengarahkan ujung pistol itu ke kepala Kay. Joke terlihat sangat marah, tapi ia tidak bergerak. “Aku tidak akan meminta lagi,” perintah Rosi.


              Akhirnya Joke keluar dari kamar itu dengan masih mempertahankan kontak matanya. Lalu dengan amat sangat cepat, Rosi membidik pistolnya ke dalam ruangan. Tidak ada suara tembakan yang terdengar, tapi mereka bertiga melihat Prof. Said jatuh tersungkur di dalam sana.


              Joke meraung dengan keras, “APA YANG KAU LAKUKAN!” Joke hampir berhambur masuk kembali ke dalam kamar itu sebelum Rosi  mengembalikan moncong pistolnya ke kepala Kay. “Joke, jangan masuk ke sana,” kata Rosi, Ia tidak membentak, namun tidak juga ragu. Ia nampak tenang dan serius. “Tolong kunci


pintu itu.”


              Joke tidak bergerak. Ia menatap tajam Rosi dan Kay secara bergantian. Rosi mempererat dekapannya ke wajah Kay. Setelah beberapa saat, Joke mengalah. Ia mengunci pintu kamar Leno secara manual.


              Suara pintu ruang rapat yang dibuka paksa terdengar dari Lorong Vibrio. Maha dan Frian terdiam melihat pemandangan yang tidak mereka sangka. Kay masih meronta-ronta dengan keras di lengan kanan


Rosi yang besar. Kepalanya dibidik pistol transparan oleh Rosi. Sedangkan Joke nampak sangat bergetar, menatap marah ke arah Rosi.


              “Jangan lakukan ini,” kata Maha sambil melangkah maju. “Apa yang kau inginkan?”


              “Aku hanya minta satu hal. Kalian semua tolong masuk kembali ke ruang rapat.” Rosi menyapu pandangan mereka satu persatu. “Sekarang.”


              Maha dan Frian tidak bergerak. Mereka saling berpadangan, menimbang-nimbang apa yang sebaiknya dilakukan. Mereka tidak membawa masuk senjata apapun ke dalam geduna. Joke mengusap gelang t95 miliknya beberapa kali tanpa melihat.


              Rosi berkata lagi, “Aku sudah mematikan alarm di lantai ini. Tidak ada yang bisa kalian panggil. Sekarang tolong masuk ke dalam ruangan atau wanita ini taruhannya.”


              Joke berkata dengan cukup keras, “Ini Vibrio Lantai -5. Tidak lama lagi akan ada Mandala yang datang ke sini.”


              “Sepertinya tidak akan ada,” jawab Rosi dengan nada yang sama. “Tolong masuk ke ruangan.”


              Kay masih berusaha melepaskan diri dari lengan Rosi yang 2 kali lipat besarnya daripada lengannya sendiri. Maha mengangguk ke arah Frian. Mereka tidak punya pilihan lain. Maha dan Frian kembali masuk ke ruang rapat, diikuti Joke, dan Kay yang disekap oleh Rosi. Pintu ruang rapat ditutup.


              Di dalam kamar 02, Leno berkali-kali menjerit ketakutan. Ia mencoba  memanggil-manggil siapapun namun tidak ada yang menjawab. Profesor tua itu jatuh di depan matanya. Hanya kaca isolasi yang memisahkan Leno dengan kejadian itu. Ia mendengar Joke berteriak kencang sekali dan sempat melihat pemuda besar tampan yang sangat menyeramkan berdiri di luar pintu ruangan. Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang, Pintu kamar itu sekarang ditutup, Leno mendengar suara besi beradu dengan keras ketika Joke menutupnya tadi.


              Leno juga terkurung di dalam ruangan isolasinya. Terpisah dari Profesor itu yang sekarang berbaring tidak nyaman di sofa ruang tunggu. Entah tidur, entah sudah meninggal…


              Beberapa menit kemudian, seluruh lampu dan pendingin ruangan mati. Terdengar bunyi klik, seperti pintu terbuka. Ruang kamarnya mati total. Leno menyalakan cahaya dari gelangnya. Ia melihat pintu isolasi Leno terbuka sendiri. Sekarang Leno memiliki akses untuk keluar dari ruang isolasinya.


              Ia berjalan keluar dan menghampiri profesor tua itu. Leno mencoba membangunkannya.


              “Profesor..”


              Ia mengguncangkan bahu orang itu beberapa kali. Tidak ada respons. Leno gemetar seluruh tubuh. Dengan cahaya remang-remang yang hanya berasal dari gelangnya, ia berjalan menuju pintu kamar.


              Ia mencoba mendorongnya. Tidak terbuka.


              Leno mencoba mendobraknya, menendangnya, mencari-cari celah yang bisa ia gunakan untuk melihat dimana kuncinya. Tapi pintu itu tidak memiliki gagang pintu dari sisi dalam. Kemungkinan besar ia terjebak di ruangan ini.


              Serangan panik Leno kembali datang. Pikirannya berlarian kemana-mana. Nafasnya berpacu dengan cepat.

__ADS_1


              Leno merapat ke dinding di belakangnya dan merosot turun. Ia duduk di lantai dengan kebingungan yang luar biasa.


              Apa yang harus ku lakukan?


__ADS_2