Mandala

Mandala
Pertarungan Sekolah


__ADS_3

Leno keluar dari perpustakaan.sambil menggerutu kecil. Temannya itu kenapa tidak mau menurut. Sudah tahu kota sedang dalam siaga 1 sejak semalam, kenapa justru ia berencana menginap sendirian di sana.


              Leno menjaga tubuhnya tetap ada di balik bayang-bayang pepohonan. Tapi aneh juga ia tidak melihat satupun pengamat Reppe yang melintas di daerah ini. Apa mungkin mereka mengawasi dari menara saja? Dasar pemakan gaji buta.


              Skeptis sekali, pikir Leno. Ia seharusnya bersyukur tidak ketahuan berada di luar asrama malam-malam begini. Bisa-bisa dia, dan Mia, dipanggil kepala sekolah. Leno memikirkan hal ini sambil berjalan.


              Akibat setengah melamun, Leno tidak melihat pembatas jalan yang berundak-undak di depannya. Kaki Leno menabrak undakan itu dan tubuhnya jatuh ke depan menghantam aspal. Kepalanya sedikit terbentur di bagian dahi. Leno merasakan lengan kanannya perih sekali. Saat ia mengangkatnya di bawah sinar bulan,  terlihat luka lecet luas dengan sedikit darah akibat gesekan salah satu undakan tadi.


              “Uh..”


              Saat Leno berusaha berdiri, perasaannya menjadi tidak enak. Seseorang seperti sedang mengawasinya dari dalam pepohonan di sisi kanannya itu. Leno berusaha memicingkan mata namun semuanya tampak gelap. Ia mengangkat gelangnya, berniat menyalakan senter. Tiba-tiba gelangnya bergetar, ada panggilan masuk dari Mia.


              “Lee! Kau dimana?! Sudah sampai asrama?!”


              “Uh, belum. Aku jatuh di dekat jalan utama. Tapi gapapa.”


              “Astaga! Leno kau harus segera ke tempat aman. Sekarang!” jerit Mia dengan nada tinggi tiba-tiba. Leno kaget mengapa anak ini berlebihan sekali.


              “Apa sih, ini luka lecet doang Mi. Jangan meremehkan aku gitu dong.” Jawab Leno sedikit kesal.


              “LENO, LENTIPEDE MENUJU FIGHR!” teriak Mia semakin keras. Leno berusaha mencerna kalimat Mia barusan. Lentipede… Apa?!


              “Apa?!” jerit Leno.


              “LARI KE ASRAMA SEKARANG!” jerit Mia kembali.


              Leno merasakan sesuatu sedang mengawasinya. Ia menengok ke arah pepohonan. Terdengar suara gesekan daun dan ranting yang semakin lama terdengar semakin keras. Sesuatu sedang bergerak ke arahnya. Leno menyalakan fitur senter dari gelangnya dan cahaya menerangi pepohonan di sisi jalan.


              Dua buah makhluk raksasa berwarna hitam seperti bayangan semi-transparan berjalan, merangkak, dan menjulurkan lidahnya menuju Leno. Mereka mengendap-endap seakan siap untuk menyerang.


              “Lee!! Kau dimana!”


              Hologram Mia muncul dari gelang Leno. Leno membuka gelangnya dan memutar arahnya sehingga Mia bisa melihat penampakan mengerikan itu


              “Mi.. itukah Lentipede?”


              “LEEE LARI DARI SANA!” Mia berteriak lebih kencang.


              Leno berdiri perlahan, sambil menyorot makhluk yang tembus cahaya itu, ia mundur ke arah jalan utama. Asrama masih terlalu jauh dari sini. Sedangkan kembali ke perpustakaan berarti melewati jalan setapak yang juga dekat dengan pepohonan tempat makhluk itu berada. Tapi, Mia masih ada di sana.


              Leno mulai berlari dari jalan utama, memutar arahnya untuk kembali ke perpustakaan. Suara berisik dahan di sisi kanannya semakin keras. Leno menyorotkan senternya. Makhluk itu bertambah satu. Mereka semua bergerak cepat, mengejar Leno.


              “LEE CEPAT KE ASRAMA!”


              Hologram Mia masih terproyeksi dari gelang Leno. Leno meliriknya sambil terus berlari. Pintu besi perpustakaan sudah terlihat. Leno berusaha mempercepat langkahnya.

__ADS_1


              Seratus meter lagi dan salah satu Lentipede hanya berjarak 5 meter di sisi kanan Leno.


              Sebuah tongkat keperakan meluncur dari arah perpustakaan dan mendarat di antara sisi kanan Leno dan makhluk itu. Mia melempar tombak peraknya, berniat mengenai Lentipede yang hampir menerjang Leno, tapi tidak berhasil.


              Makhluk itu melompat maju persis ketika Leno mengambil tombak itu dan menghunuskannya ke leher si makhluk.


              Begitu ikatan mereka terlepas seluruhnya, seluruhnya!, mereka akan kehilangan satu sama lain dan tidak bisa mempertahankan bentuk tubuh mereka. Kau ga bisa hanya memenggal kepala mereka.


              Makhluk transparan ini masih menggeliat 1 meter di atas tubuh Leno. Seperti ragam Pang-kun yang ia hafalkan, Leno membuat gerakan memutar dengan tombak itu hingga menembus kepala Lentipede. Leno melompat berdiri dan mengayunkan senjatanya mencabik-cabik tubuh makhluk yang ternyata tidak terlalu padat. Ia meneruskan gerakannya sambil memejamkan mata karena takut percikan bayangan itu bisa mengenai matanya.


              Dan tangan Leno menjadi ringan sekali, seperti melawan angin. Saat ia membuka mata, makhluk itu sudah tidak ada.


              Leno kaget sekaligus bingung. Apa benar sudah mati? Atau makhluk itu hanya kabur saja? Tapi pikiran Leno dibuyarkan oleh suara teriakan Mia yang berasal dari perpustakaan.


              Mia mematung saat melihat empat makhluk bayangan mendekat dan memojokkannya ke daun pintu besi.


              “MIA!”


              Tiba-tiba, keempat makhluk itu melompat maju. Jarak Mia dan kepala-kepala makhluk itu hanya tingal 2 meter. Leno mengangkat tombaknya, bersiap melempar tombaknya ke arah bayangan itu. Tapi kemudian ia berhenti, tidak.. tidak.. bukan begitu caranya. Leno menyadari satu-satunya mengalahkan empat makhluk itu adalah dengan mencabik-cabik tubuh mereka hingga terlepas. Yang mana tidak akan bisa ia lakukan sekarang, jika ia sendirian..


              Terdengar deru mesin dari kejauhan. Dua cahaya kuning menyorot ke arah mereka. Lentipede-Lentipede mengalihkan pandangan dan berbalik menghadap sumber cahaya. Satu mobil van besar dengan tombak perak di atapnya terparkir di depan perpustakaan. Dua orang, berbaju putih-putih dengan lambang bulan bersinar terang di sisi kiri baju, turun dari kendaraan sambil membawa apa yang nampak seperti palu dan


golok besar. Salah satunya berbicara, “Mn. Kay, tolong kirim semua orang ke depan perpustakaan. Sekarang!”


              Maha dan Joke menyalakan sepatu terbang mereka dan menggunakan pelindung wajah. Baju pelindung keperakan meluncur dari balik jubah mengikuti lekuk tubuh mereka. Maha mendarat di antara


              “Awas!!” jerit Leno dan Mia bersamaan.


              Joke membalikan badannya dan mengayunkan golok yang memantulkan warna keperakan saat terkena cahaya bulan. Ia menyayat salah satu makhluk dan makhluk lainnya bergantian. Leno memerhatikan Maha dari kejauhan, tinggal tersisa satu Lentipede yang masih menyerangnya. Semuanya terjadi di bawah cahaya bulan remang-remang dan dua sorotan cahaya panjang yang berasal dari pelindung kepala Maha dan Joke. Kedua


cahaya itu berpindah-pindah sesuai gerakan kepala mereka.


              Terdengar bunyi kelontang logam yang cukup keras. Beberapa tombak kecil yang mirip seperti milik Mia jatuh dari balik jubah Joke. Sementara itu, Joke sedang berkutat dengan kedua makhluk yang mengepungnya di dalam satu lingkaran.


              “MAHA! KENAPA MEREKA TIDAK MATI?!” Teriak Joke, ia lupa mereka mengenakan mikrofon dari balik masker pelindung.


              “Sayat seluruh tubuh mereka!” balas Maha yang sibuk memukulkan Gadanya ke seluruh permukaan Lentipedenya.


              “SUDAH. TAPI TETAP TIDAK BISA!”


Salah satu Lentipede berhenti mengelilingi Joke dan memalingkan kepalanya. Ia mulai bergerak ke tempat Leno dan Mia. Luka lecet di tangan Leno mulai terasa perih lagi.


              “Lee…” Mia menarik lengan baju Leno. Suaranya bergetar. Leno pun merasa tidak kurang takut dibandingkan Mia. Tangan kanan Leno masih menggenggam tombak yang ia pakai untuk membunuh Lentipede


tadi. Sebuah keberanian mendadak muncul di dalam benak Leno.

__ADS_1


              Leno melangkah maju mendekati makhluk itu. Tombak-tombak perak milik Joke berceceran di antara mereka. Leno berteriak sekuat tenaga sebelum berlari mengambil salah satu tombak.


              Maha dan Joke menyadari apa yang Leno coba lakukan.


              “NAK, JANGAN DEKATI HEWAN ITU!”


              Entah suara siapa itu yang terdengar masuk ke telinga Leno.  Tapi, 2 buah tombak milik Joke sudah ada di tangannya, bersiap untuk mencincang hewan itu. Saat Leno mengambil ancang-ancang, makhluk itu merayap maju melewati sisi kiri Leno dan bergerak cepat menuju Mia.


              “MIA!”


              Maha berbalik arah tiba-tiba. Ia melihat seekor Lentipede menyerang adiknya.


              “NOOO.. MIAA!”


              Maha menyentakan keras Gadanya dan memukul Lentipedenya sendiri bertubi-tubi, berharap makhluk ini langsung mati. Sementara Joke masih berkutat dengan hewannya, Leno berlari sambil mengacungkan


kedua tombaknya menuju Lentipede yang sudah berada dekat sekali dengan Mia.


              Leno membiarkan tubuhnya bergerak sambil menggenggam kedua tombak seperti saat berlatih. Ia mengapit kedua tombaknya, membiarkan sisi tajam keperakan ada dibagian dalam, kemudian berputar seperti gasing dan berusaha menembus makhluk transparan itu di mulai dari ekornya. Ia menahan nafas dan terus memutar tombaknya mengoyak makhluk itu dari dalam sambil berharap, ketika makhluk itu menghilang, Mia bisa cepat menghindar supaya tidak terkena sisi tombaknya yang tumpul.


              Lama-lama putaran Leno terasa semakin ringan. Ia berhenti dan membuka matanya. Walaupun rasanya pusing sekali, Leno tahu Lentipede besar itu sudah menghilang. Leno melihat kedua Mandala yang bertarung bersamanya tadi telah mengalahkan Lentipede mereka juga. Salah satunya terbang menuju Leno, yang satu lagi berlari.


              Maha yang terbang dengan sepatu boot bersinar biru terang itu mengeluarkan botol dan menekan ujungnya. Kabut tipis muncul dari botol itu dan menyelimuti Leno, Mia, dan Joke yang sudah berada di bersama mereka.


              Saat kabut itu menghilang, Leno membalikan badan dan mematung di tempat. Hati Leno seperti tersayat.


              Mia tergeletak tidak sadar persis di depan Leno. Matanya terpejam, ada luka tusuk besar di tangannya yang sekarang mengucurkan darah. Maha mengeluarkan masker wajah dari saku jubahnya dan memasangnya ke wajah Mia. Kemudian ia menyuntikan sesuatu ke lengan Mia. Maha membebat luka itu dan terisak. “Mia…”


              Leno mengenali Maha sebagai kakak dari Mia. Maha yang berkepala botak, tinggi besar, dan berbadan kekar itu saat ini terlihat sangat hancur. Leno terjatuh sangking lemasnya. Luka di lengan Mia itu pasti karena goresan ujung tombaknya tadi. Bukan hanya tidak bisa menghentikan makhluk yang membuat temannya sekarat, Leno justru malah menambah luka di tubuh sahabatnya.


              “KAY! KAY, apa kau dengar aku? Kenapa tidak ada yang menjawab?! Ada seorang anak sekarat di depan perpustakaan. Aku ulangi, seorang anak sekarat di perpustakaan!” Joke berbicara di mikrofonnya. Ia tidak mendengar jawaban apapun. Joke menggelengkan kepala, perasaannya bercampur antara bingung dan kecewa. Kemudian ia melihat sahabatnya menangis sambil memegangi adiknya.


              “Maha.”


              Joke menghampiri mereka bertiga dan menunduk. “Maha, Mia butuh segera ditangani. Ayo kita bawa sekarang.” Joke berhenti sejenak, memerhatikan Maha sekali lagi. “Ayo, Maha. Mereka tidak akan datang.” Joke berusaha mengangkat tubuh Mia. “Aku masih punya cukup baterai untuk terbang setidaknya sampai gerbang utama. Kau naik motor bersama anak ini.” Joke mengerling Leno sesaat.


              “Tidak, aku juga masih punya cukup baterai. Aku akan membawa adikku. Kau bawa Leno ke Geduna.”


              Joke melepaskan tubuh Mia dan menyerahkannya kepada Maha yang memiliki lengan 2 kali lipat lebih besar dibandingkan lengannya. “Baik.”


              Maha berdiri sambil menggendong adiknya. Ia menghentakan kedua kaki. Cahaya biru muncul dari bawah boot dan membawa Maha melesat pergi menuju pusat kota.


              Leno menyaksikan itu semua dengan setengah sadar. Ia merasa lemas dan lelah sekali. Apa yang barusan terjadi? Ketika Leno sedang bertengkar dengan fikirannya, Joke mendekati Leno. Wajah tirusnya tampak serius.


              “Nah, Nak. Sekarang coba katakan padaku.”

__ADS_1


              Joke berhenti sebentar. Leno melihat ada kebimbangan pada raut wajah pria bersurban itu.


              “Dari mana kau belajar untuk mengalahkan makhluk itu? Apa kau juga seorang Mandala?”


__ADS_2