Mandala

Mandala
Dua Sisi Cerita


__ADS_3

Mia berbaring di tempat tidur di dalam kamar rawat yang sama sejak 2 hari yang lalu. Kesadarannya belum kembali. Mulutnya masih dijejali selang-selang panjang yang membantunya untuk bernafas. Beberapa stiker bulat menempel di dadanya, mengirimkan data tanda vital Mia secara langsung ke monitor besar yang menempel di dinding. Luka di lengan kanan Mia tertutup perban putih tebal yang disusun melingkar.


              Maha duduk memperhatikan adiknya dari balik kaca isolasi di ruangan itu. Ia menarik nafas panjang. Mengapa kau tidak diam-diam saja sih di asrama, batin Maha.


              Ia tahu Mia sangat mengidolakan dirinya. Mia belajar dengan baik dari pagi, siang, sore, dan malam hari untuk meraih nilai tertinggi di kelas. Ia aktif di berbagai klub olahraga dan sains untuk mendongkrak nilai rapot yang sebenarnya sudah terlampau tinggi. Mia sudah mempersiapkan dirinya sejak kecil untuk mengikuti jejak Maha, menjadi seorang Mandala.


              Sekarang melihat Mia berbaring tidak sadar begini membuat hati Maha remuk. Belum ada yang bisa memastikan kapan kesadaran Mia akan kembali. Infeksi dari Lentipede itu sudah merusak beberapa organ tubuh Mia termasuk sistem saraf yang mengatur tingkat kesadaran. Baru kali ini, setelah sekian lamanya, Maha merasa sedih sekali hingga menangis pun sulit untuk dilakukan. Untuk beberapa saat, Maha hanya mematung memandangi adiknya.


              Pintu putih otomatis di ruangan itu terbuka. Joke berdiri di depan pintu dengan jubah putih dan surbannya, Ia membawa tablet di tangan kanan dan 2 botol minuman soda lemon di tangan kirinya. Maha tersenyum dan menggerakan kepalanya, mengisyaratkan Joke untuk masuk.


              “Apa kabar kawan?” Joke duduk di samping Maha. Ia mengantungi tablet di dalam jubahnya. Joke menyodorkan satu botol soda untuk Maha dan membuka botol satunya untuk dirinya sendiri.


              “Seperti biasanya,” Maha tersenyum dan mengangguk. Ia membuka minumannya dan menegak isinya dengan cepat.


              “Apa ada perkembangan?” kata Joke sambil menunjuk Mia dari balik kaca.


              Maha menggeleng dan tersenyum kecut. “Belum ada yang signifikan. Kesadarannya belum kembali.”


              Joke mengangguk tanda mengerti. “Kita lihat dulu seminggu ini. Semoga ada perubahan,” saut Joke sambil menepuk pundak Maha. Maha ikut mengangguk. Mereka duduk menghadap kaca yang membagi dua


ruangan itu, diam untuk beberapa waktu.


              “Kalian mirip sekali,” kata Joke tiba-tiba. “Sama-sama keras kepala.”


              Maha tertawa kecil, “Memang ini bakat keluarga.” Maha menyingkap lengan kiri jas putihnya, ia mengusap perlahan gelang t59 yang ia kenakan. Proyeksi jam digital pun muncul, masih pukul 16.17.


              “Apa kau kesini untuk mengabari kalau waktu shiftku sudah tiba?” tanya Maha.


              “Bukan, kau masih istirahat sampai 3 jam lagi. Aku mau merampungkan berkas-berkas temannya.” Joke menunjuk Mia. “Namaku otomatis jadi penanggungjawab Lenolea selama perawatan.”


              Maha teringat ia belum menjenguk Leno sejak kemarin. Ia bertanya, “Bagaimana keadaan Leno?”


              “Menurut catatan, anak itu masih relatif stabil,” kata Joke tanpa mengalihkan pandangannya.


              “Syukurlah,” ujar Maha. Joke berdiam agak lama sebelum menjawab Maha.


              “Tidak, Maha,” kata Joke tiba-tiba. “Justru aneh sekali kalau anak ini relatif stabil sedangkan adikmu berbaring dengan ventilator, kardiogram, ensefalogram, dan belum ada aktifitas saraf positif yang terlihat sekarang.”


              Maha mengernyitkan dahi, “Maksudmu?”


              “Apa kau lihat apa yang diperbuat anak itu sebelum Lentipede menyerang Mia?” tanya Joke.


              Maha menggeleng, “Aku tidak terlalu memperhatikan.”


              “Anak itu menerjang Lentipede dari dalam tubuhnya! Ia memutar tombakku dan mencabik makhluk itu dari dalam. Tanpa alat pelindung,” seru Joke setengah berteriak. ”Dan dia baik-baik saja.”


              “Lentipede itu menghilang setelah anak itu menyerangnya, tanpa baju pelindung, tanpa penutup wajah, tanpa pelatihan yang tidak mungkin bisa, dilakukan, karena begitu hewan itu menyentuh kulitmu,


              “Kau akan jadi inangnya yang baru, atau lebih parah, meninggal karena infeksi luas di darahmu,” sambung Joke lagi.


              Maha merenungkan kata-kata Joke. Ia belum memikirkan hal ini sebelumnya. Jika memang benar, berarti ada sesuatu yang belum mereka ketahui tentang Leno.


              “Lagipula, Maha. Aku bukan ingin menyakiti hatimu lebih dalam, tapi kau harusnya juga tahu kalau Mia sebenarnya tidak mungkin selamat. Dengan paparan Lentipede secara langsung dan luka lain yang baru terbentuk di lengannya.” Joke menatap Maha dengan seriur


              “Tapi inilah yang terjadi, adikmu selamat, dan anak itu tidak cacat sedikitpun dari serangan itu.”


              Maha mengusap kepalanya yang botak dengan telapak tangan. Walau ruangan itu dingin, kepalanya terasa penuh dan panas.


              “Sebenarnya aku memikirkan hal lain. Aku memberitahu Bon ketika mereka berkunjung ke sini,” kata Maha.


              “Tentang keanehan pada korban-korban ini?” tanya Joke


              “Tentang kemungkinan kalau ini bukan sebuah kebetulan.”


              Giliran Joke yang kebingungan. Ia menunggu Maha menjelaskan.  “Aku tahu seharusnya Mia tidak mungkin selamat, Lentipede ini berbeda dengan yang biasa kita hadapi sebelumnya. Mereka seperti tidak berasal dari alam,” kata Maha lagi. Pandangannya menerawang menembus kaca di depannya.


              “Maksudmu? Mereka muncul bukan karena evolusi?” tanya Joke heran.


              “Kemungkinan itu masih ada. Tapi bisa jadi bukan.” Maha menolehkan kepalanya ke arah Joke. “Seseorang mungkin ada di balik semua ini.”


              Joke membuang nafas panjang dan menggeleng. “Membentuk Lentipede bukan seperti merakit komputer super, Maha. Mereka makhluk hidup.”


              “Tapi tidak sepenuhnya makhluk hidup. Kau juga tahu ada sifat-sifat makhluk hidup yang tidak dimiliki Lentipede,” tukas Maha.


              “Maksudku.” Joke mengangkat surbannya sedikit. “Kalau memang ada pihak yang benar-benar merencanakan, mengapa mereka melakukannya? Dan lebih pentingnya lagi, bagaimana?”


              “Dan siapa yang merencanakannya,” ujar Maha.


              Joke menggelengkan kepalanya lagi. “Aku tidak punya pendapat apa-apa, Maha. Ini terlalu jauh dari apa yang kita pelajari.”


              “Atau mungkin memang ini semua di luar dari yang kita pelajari. Karena itu kita tidak punya bayangan apapun.”


              “Mungkin saja,” ujar Joke. Ia melepas surbannya dan mengusap rambutnya yang pendek. Kepalanya ikut panas seperti Maha.


              “Aku hanya berfikir ini aneh sekali. Mengapa begitu banyak kejanggalan yang terjadi akhir-akhir ini. Kau


pasti juga merasakannya, Joke. Karena itu kau tadi mengutarakan keanehan yang kau dapatkan sendiri kepadaku,” kata Maha.


              Joke menghela nafas lagi, “Tapi kita tidak tahu apa-apa.”


              “Belum,” saut Maha. “Kita hanya belum tahu.”


              Joke tersenyum kecil. Ia tahu Maha tidak akan menyerah dan berhenti sebelum menyelesaikan sesuatu. Hal ini yang membuat Joke selalu kagum dengan teman baiknya sejak dulu. Joke teringat sesuatu, “Apa kau sudah berdiskusi dengan Mn. Sito?”


              Maha menggeleng. “Aku belum sempat bertemu dengannya lagi.”


              Joke mengangkat bahunya. “Mungkin kita harus berkumpul berlima dulu untuk membahas ini.” Maha mengalihkan pandangannya dari kaca. “Banyak yang harus dikerjakan. Aku tidak yakin kita bisa berkumpul


dalam waktu singkat.”

__ADS_1


              Joke menepuk bahu Maha lagi, “Kita akan cari cara. Seperti biasanya,”


              Kehangatan mulai menyelimuti Maha. Ia merasa lebih baik karena tidak sendirian. Anggota timnya adalah sahabat-sahabat Maha sejak tingkat awal. Bahkan Bon sudah bersama Maha sejak sekolah dulu, 10 tahun yang lalu. Banyak misi-misi berkaitan dengan Lentipede yang berbahaya sekaligus menyenangkan yang sudah mereka lewati. “Kapan terakhir kita kumpul ya?”


              “Di rumah Ayu, pesta ulang tahun Prof,” jawab Joke. “Awal minggu dari libur panjang setelah dari urusan duta Mikrad selesai.”


              Maha ingat 1 minggu yang lalu saat mereka diundang ke rumah Ayu di Cemara, kompleks perumahan mewah di sisi utara Trikad. Selain megah dan luar biasa indah, rancangan arsitek kota tetangga Heriad, suhu pegunungan yang sejuk membuat mereka berempat nyaman berkunjung ke sana. Bon, yang sudah sering berkunjung ke rumah Ayu, meledek Maha dan dua temannya yang lain karena sempat menolak untuk menghabiskan libur panjang mereka di sana.


              “Iya, libur pertama kita yang dikorting karena Lentipede raksasa ini,” kata Joke. “Kalau memang benar ada yang merencanakan ini semua, aku akan menyuruhnya membayar sisa liburan kita.”


***


Kay memarkirkan mobil listriknya di lantai 0 Geduna. Unitnya sudah berganti jam jaga 10 menit yang lalu. Ia menanggalkan seragam unit aktif yang berupa setelan rompi dan denim warna putih-putih dan menggantinya dengan gaun cokelat panjang selutut. Kay mengambil jubah putih dari kursi mobil depan dan mengenakan jubah


itu di luar gaunnya. Kay melirik gelangnya lagi, pesan masuk mengatakan Prof. Said sudah menunggu di bawah. Kay bergegas memencet tombol lift dan turun ke lantai -1.


              Lift kapsul membuka. Kay melangkah keluar. Sesosok wanita muda menyapa Kay dari balik meja informasi di sisi kanan. “Selamat sore, Moonasera Kayrina,” katanya tersenyum. Kay mengangguk kepada robot wanita itu, “Sore, Hana.” Hana duduk di kursinya lagi, kembali memandang lift dengan mata buatan yang tidak berkedip.


              Prof. Said mengenakan setelan abu-abu LTK yang sama dengan tadi pagi duduk di ruang tunggu di sudut yang bersebrangan dengan Hana. Seorang pemuda lain mengenakan jas abu-abu dengan warna yang sama dengan setelan Prof. Said. Ia duduk di samping Prof. Said mengenakan lensa terbang di kedua mata dan mengetik sesuatu di tablet. Proyeksi air terjun buatan terlihat di belakang tempat mereka duduk.


              Mereka berdua mendongak saat Kay mendekati kursi tempat mereka menunggu. Keduanya berdiri bersamaan. “Selamat sore, Profesor. Maaf saya sedikit terlambat.” Prof. Said tersenyum dan mengangguk agak kikuk. “Ya.. tidak apa-apa.”


              Kay mengalihkan pandangannya ke pemuda yang ikut berdiri di samping Prof. Said. “Oh, ini asistenku, Moonasera. Rosi. Dia akan membantuku.” Rosi bertubuh tinggi besar dengan rambut hitam lurus sebahu yang dikuncir sisa. Ia lebih nampak seperti bodyguard dibandingkan asisten profesor teknik dan biomedik. “Rosi, Senang bertemu dengan Anda.” katanya sambil mengulurkan tangan. Kay menjabat tangan Rosi secara formal,


“Moonasera Kay.”


              Setelah mereka melepas jabat tangan, Kay menoleh ke Prof. Said. “Saya kira Anda akan mengutus anak buah Anda untuk melakukan pengecekan alat. Maksudku Anda sendiri tidak perlu repot-repot turun tangan langsung dengan datang kemari, bukan?”


              Prof. Said tampak ragu untuk menjawab. Pria itu justru balik bertanya, “Apakah Mn. Sito akan datang bersama Anda?”


              “Tidak, aku sendiri, Prof. Beliau harus menggantikan salah satu unit utama yang berjaga,” jawab Kay.


              “Bagus. Bisakah kita berbicara di tempat aman?” tanya Prof. Said lagi. Kay agak heran mengapa Prof justru tidak ingin bertemu Mn. Sito. Kay juga menangkap gelagat berbeda dari Prof. “Di tempat aman? Bukankah kita mau mengecek kerusakan pada rompi kami?” tanya Kay memastikan.


              “Iya..iya benar,” kata Prof. Said dengan gugup. “Namun ada yang ingin ku sampaikan sebelumnya.”


              “Oh, baiklah,” jawab Kay dengan cepat. “Kita bisa ke ruang rapat di lantai -4. Mari ikut saya.”


              Kay memimpin Prof. Said dan Rosi masuk ke dalam lift kapsul kembali. Suasana canggung di dalam lift tidak berlangsung terlalu lama. Lift dengan cepat langsung turun ke 4 lantai di bawah lantai utama.


              Ketika pintu lift membuka, mereka berpapasan dengan Joke yang sedang menunggu di depan pintu lift. Joke menundukan kepalanya sedikit dan memberi hormat dengan tersenyum. “Selamat sore, Prof. Said dan Kay.” Prof. Said tersenyum kikuk. Kay juga tersenyum sambil menepuk bahu Joke. “Joke.”


              Joke balas menepuk bahu Kay. Ketika Joke hampir memasuki pintu lift, Ia baru melihat Rosi yang berada di samping Prof. Said. “Rosi?” tanya Joke memastikan. Rosi mengangkat tangannya. “Hai, Joke.”


              Joke mengangkat dagunya tanda mengenali Rosi. Namun sebelum Rosi menjawab, Kay sudah berjalan mendahului mereka. Rosi melambaikan tangannya dan dengan langkah tegap mengejar Prof. Said dan Kay menuju ruang rapat di sudut kiri ruang Gardnella.


              Ruang rapat memiliki dominansi warna putih seperti sebagian besar ruangan di Geduna. Tidak sebesar ruang rapat di Gedung pusat, berukuran 3x4 meter dengan satu meja oval berlapis kaca di tengah ruangan. Kay mengambil kursi di ujung meja, diikuti Prof. Said dan Rosi yang kemudian duduk di samping kanan Kay.


              “Jadi, Prof, apa hal yang sebenarnya Anda ingin sampaikan?” Kay sengaja memberi penekanan pada kalimatnya, ia tahu kedatangan Prof. Said ke Geduna bukan untuk perihal pengecekan alat.


              Prof. Said menelan ludah. Ia menatap Kay dengan raut wajahnya yang ragu-ragu. Kemudian ia berkata, “Saya akan mengatakannya langsung, alat kalian tidak rusak.”


              “Tidak.” Prof. Said mencondongkan badannya sedikit. “Aku sudah tidak bisa percaya siapapun, termasuk Greeta yang kalian temui tadi pagi. LTK sudah berubah dan diisi orang-orang yang tidak ku


sukai.”


              Kay menangkap sedikit ketakutan dalam nada pria tua ini. Ia mendengarkan dengan seksama. Prof. Said menoleh kepada Rosi di samping kanan. Rosi mengangguk kemudian Ia mengetuk tablet yang ada di hadapannya.


              Sebuah proyeksi kota persis seperti yang ditampilkan pada saat rapat tadi pagi muncul di hadapan mereka. Titik-titik biru dan beberapa titik merah terlihat bergerak-gerak berkonsentrasi di 4 gerbang utama. Rosi mengusap tabletnya lagi, ia menambahkan menara-menara kecil pada proyeksi kota. Menara-menara itu memiliki puncak yang berkedip-kedip dan memancarkan gelombang hitam yang mencakup keseluruhan luas


kota.


              “Ini siaran langsung pemancar internet dan gelombang radio yang tersebar di seluruh kota. Di sini terlihat semuanya berjalan baik.


              “Kecuali di sekitar beberapa perumahan warga dan di sebrang gerbang utama.” Kay memerhatikan beberapa menara nampak tidak berkedip di bagian barat daya dan utara, lebih banyak lagi yang tidak menyala di sekitar FIGHR.


              “Masih ada gangguan jaringan di sekitar FIGHR. Anda berkata ini karena pemakaian yang berlebihan oleh siswa dan orang tua,” kata Kay. Prof. Said mengangguk. “Ya, perbaikan masih dikerjakan sampai sekarang. Tapi bukan itu yang mau saya tunjukan.”


              Prof. Said kembali menoleh kepada Rosi. Rosi mengusap tabletnya lagi, proyeksi kota berubah. Tidak ada titik-titik biru dan merah yang tersebar di gerbang-gerbang. Menara-menara kecil masih ada dan  memancarkan gelombang hitam yang mencakup seluruh luas kota, kecuali daaerah FIGHR. Hanya sedikit sekali Menara yang berkedip dan memancarkan gelombang hitam kecil.


              “Ini adalah rekaman jaringan kota pada hari serangan Lentipede di FIGHR. Apa kau lihat  perbedaannya?”


              Kay mengamati banyak sekali pemancar jaringan yang tidak berfungsi, sebagian mati total. Ia  mengangguk. Prof. Said menoleh kepada Rosi lagi. Rosi mengusap tabletnya, sekarang semua. Menara di sekitar FIGHR mati total. Satu Menara memancarkan sinyal yang lemah sekali di daerah barat FIGHR. “Semua


pemancar di daerah FIGHR mati?” tanya Kay dengan heran. Prof. Said mengangguk, “Hanya pemancar di FIGHR yang mati.”


              “Jadi wajar saja kalian tidak bisa berkomunikasi begitu masuk ke sana.” Kay menggelengkan kepalanya dengan bingung. “Tapi, tadi pagi Anda berkata tidak ada kerusakan pada jaringan di pusat pada hari itu?”


              “Karena memang tidak ada kerusakan,” ujar Prof. Said. “Seseorang dengan sengaja mematikan seluruh Menara pemancar di FIGHR pada hari  itu.”


              Kay terkejut mendengar pernyataan Prof. Said. “Seseorang? Siapa?”


              “Sayang sekali kami tidak belum berhasil melacak siapa yang mematikan pemancar itu, berhubung data-data ini juga sudah dibuang hingga ke penyimpanan cadangannya. Siapapun yang melakukannya sudah


berhasil menutupi hal ini dengan baik.”


              “Ini adalah satu-satunya rekaman yang asistenku berhasil dapatkan dari data sub-cadangan sebelum terhapus otomatis dari server kami..”


              Kay berusaha mencerna informasi baru ini perlahan. Kalau benar seperti ini, berarti semua serangan Lentipede bisa jadi sebuah kesengajaan. Tapi siapa?


              “Apakah tidak ada petunjuk lai n siapa pihak yang bisa mengendalikan Menara-menara tersebut? Aku yakin tidak semua orang bisa dengan mudah memiliki akses itu.”


              “Tentu tidak semua orang, bahkan dewan LTK sendiri tidak bisa melakukan hal itu. Termasuk aku,” ujar Prof. Jery. Ia nampak ragu sebentar. “Hanya Neena yang bisa memiliki akses untuk masuk ke panel kontrol menara pemancar.”


              “Karena alasan itu, Moonasera,” Prof. Said terdengar lebih gugup, “Saya tidak bisa mengatakan hal ini di rapat tadi. Banyak sekali pihak yang saya curigai menjadi pelakunya, termasuk di dalam LTK.”


              Kay teringat dengan Greeta yang ia temui tadi pagi. “Bu Greeta juga termasuk salah satunya?”


              “Tentu, aku sangat mencurigai dia. Terutama saat Neena membiarkan ia mengambil alih rapat dengan membuat kita semua percaya kalau tidak ada kerusakan jaringan pada malam itu. Padahal faktanya

__ADS_1


bersimpangan.”


              “Mohon maaf tapi yang saya tangkap adalah Anda secara tidak langsung menuduh Neena dalam membuat serangan ini?”


              “Ya,” ujar Prof. Said. “Itu yang saya maksudkan.”


              “Ini adalah tuduhan serius, Prof.”


              “Dan tidak.. masuk akal. Maksudku.. kenapa dia mau menyerang rakyatnya sendiri? Dan bagaimana caranya ia mengendalikan makhluk itu? Bagaimana cara ia membuat Lentipede raksasa itu?!”


              “Kami belum tahu pasti. Tapi ada satu hal lagi yang Anda perlu ketahui.”


              “Sampel Lentipede dari wabah 12 tahun yang lalu sudah dicuri. Semua data penelitianku, catatan-catatan perhitungan, dan deskripsi biomolekuler makhluk-makhluk itu sudah tidak ada. Dihapus hingga ke data cadangannya.”


              “Jadi, Anda mencurigai pelaku ini juga mengambil data-data perhitungan Anda? Anda membutuhkan data itu untuk membuat perkiraan pola serangan berikutnya kan?”


              Prof. Said menghela nafa. “Benar, tapi sayangnya bukan hanya itu.”


              “Kami sebenarnya, sudah mengembangkan riset untuk menggabungkan kode genetic tertentu yang bisa, dengan sengaja, membuat Lentipede tanpa inang, projek: Anti-Lent”


              Rosi mengganti proyeksi kota dengan gambar baru. Sebuah hologram Lentipede besar yang hampir memenuhi meja oval di ruangan itu. Beberapa algoritma dan rantai DNA yang bersilang membentang di bawah hologram Lentipede yang bergerak-gerak di tempatnya.


              “Hanya ini data yang tersisa.”


              “Sebentar,” kata Kay menyela.  “Jadi LTK sudah mengembangkan bagaimana caranya membuat Lentipede? Mengapa kami belum mendengar kabar tentang ini?”


              “Karena riset ini belum sempurna. Kami.. bukan ingin mengembangkan makhluk ini secara sengaja, kami ingin meneliti pola mutase mereka sehingga wabah atau serangan selanjutnya bisa dicegah,” kata Prof. Said.


              “Tapi, justru sepertinya Anda ingin mengembangkan hal itu dengan sengaja,” ujar Kay dengan curiga.


              “Anda bisa berkata apapun yang Anda mau tentang kami, tapi intinya riset itu sekarang sebagian besar sudah hilang,” sela Prof. Said. “Yang saya ingin tekankan adalah seseorang sudah berhasil mengembangkan Lentipede dalam waktu singkat dan mengatur serangan ini.


              “Ini bukan sebuah kebetulan, Moonasera. Anda bisa melihat itu sekalipun Anda tidak percaya pada saya


sepenuhnya.”


              “Dan Anda menuduh Neena ada di balik semua ini?” tanya Kay semakin curiga.


              “Aku bisa bilang mungkin. Semua masih berupa kemungkinan. Atau bisa juga orang yang paling dekat dengan Neena, yang memiliki motif tertentu, yang bisa menggunakan aksesnya untuk merencanakan serangan dengan Lentipede ini.”


              “Aku tidak bisa berkata apapun, Prof. Ini semua di luar bidangku. Kami selama ini hanya diminta untuk bertarung melawan makhluk itu, merawat para korban mereka, memburu habis mereka yang masih terlihat di sekitar pulau…” Kay berhenti sebentar karena kehabisan kata-kata. “Tapi sekarang Anda berkata bahwa Trikad, di bawah hidungnya sendiri, mengembangkan riset untuk membuat hewan itu?”


              “Apa yang membuat Anda yakin saya percaya dengan semua itu? Dan.. dan.. mengapa harus saya? Saya bahkan bukan pimpinan tinggi, bukan unit utama, tidak memberi perbedaan bermakna apakah saya


mengetahui hal ini atau tidak. Saya bahkan tidak bisa membantu Anda jika memang semua yang Anda katakan benar,” sambung Kay. Ia merasa tertekan dengan semua informasi baru ini.


              “Tentu saja Anda bisa membantu saya. Anda bukan termasuk orang yang saya curigai, jauh dari politik kota dan konspirasi gerakan yang baru-baru ini menghebohkan kota seperti yang Anda dengar di rapat tadi,” ujar Prof. Said.


              “Saya merasa harus ada pihak Mandala yang mendengar informasi ini. Saya tidak bisa mempercayai siapapun di luar ruangan ini. Saya butuh Anda untuk menyimpan fakta yang saya ketahui. Dan jika memungkinkan, membagikannya kepada pihak yang sekiranya bisa membantu kita menyelesaikan masalah ini. Saya yakin serangan ini baru merupakan awalnya. Kita belum tahu kemana arah semuanya ini dan apa tujuan utama mereka,” kata Prof. Said berusaha meyakinkan.


              “Bahkan kita belum tahu siapa mereka,” ucap Kay sedikit pelan.


              “Karena itu kita harus mencari tahu. Dan lebih mudah untuk melakukan seleksi kepada siapa kita harus percaya dibandingkan berasumsi siapa yang menjadi musuh utama kita,” kata Prof. Said.


              Kay menggelengkan kepalanya, “Saya tidak bisa menjanjikan banyak hal. Mungkin lebih baik saya memberitahukan hal ini kepada Mn. Sito.”


              “Tentu saja. Jika memang menurut Anda itu yang terbaik,” ujar Prof. Said dengan tenang.


              “Anda tidak mencurigai beliau? Lalu mengapa Anda tidak bicara dengan beliau langsung?” tanya Kay bingung.


              “Aku hanya berjaga-jaga. Apakah Anda tahu Mn. Sito memiliki sejarah dengan Neena kita sekarang?”


              Kay kembali menggeleng. “Itu hanya cerita lama. Mn. Sito tidak akan berkhianat hanya karena hatinya.”


              “Siapa yang bisa menjamin?” tanya Prof. Said. “Tapi, jika Anda berpendapat Mn. Sito harus tahu, aku menyerahkan pilihan itu kepada Anda. Saya membagikan informasi ini dengan risiko bahwa infromasi ini bukan lagi milik saya. Sehingga jika si pemiliki informasi selanjutnya ingin membaginya dengan orang lain yang ia percaya,” Prof. Said menghela napasnya, “Saya akan terima.”


              Keheningan tercipta di antara mereka bertiga. Kay berkutat dengan pikirannya, berusaha mencerna,


menimbang-nimbang, dan memutuskan apa yang harus ia lakukan dengan informasi ini. Prof. Said bergeming di tempatnya dengan tenang, menunggu tanggapan Mandala yang ada di hadapannya. Rosi duduk di sudut meja sambil memerhatikan mereka berdua, sesekali ia mengetikan sesuatu di tablet yang ia bawa.


              Kemudian Kay membuka suara, “Mengapa Anda begitu mempercayai saya?”


              “Karena saya mempercayai Mandala, bagaimana cara kalian berfikir, bertindak, memilih sebuah keputusan, bagaimana kalian merawat, dan mengedepankan keselamatan manusia lain serta cara-cara untuk mempertahankan keutuhan mereka.


              “Saya mempercayai Mandala yang masih belum tersentuh politik kota dan kepentingan lain yang bisa membiaskan pemikiran dan hati kalian dalam mengambil keputusan.


              “Setidaknya itu yang saya dapatkan dari mendiang istri saya.” Sambung Prof. Said.


              “Karena itu, saya percaya pada Anda. Jika memang Anda berpendapat Mn. Sito harus mengetahuinya, maka lakukanlah.”


              “Tapi jika tidak, tolong pertimbangkan baik-baik. Saya belum tahu kemana ujungnya dari serangan ini,


tapi tiga korban yang berjatuhan dalam dua hari bisa menjadi awal mula sesuatu yang lebih berbahaya, dengan kata lain, bisa menjadi ancaman untuk warga kota dan manusia itu sendiri,” ujar Prof. Said dengan serius.


              “Saya tahu Anda memahami perkataan saya. Dan percayalah saya tidak lebih paham dari Anda mengenai situasi saat ini. Karena itu kita harus bertindak. Tentunya dengan hati-hati, karena mungkin saja, mereka akan menyerang lagi malam ini.”


              “Tidak kah lebih baik kita lapor pada Reppe? Mereka memiliki wewenang untuk kasus kriminal dan kejahatan lainnya,” kata Kay mengusulkan.


              “Entahlah, Nak. Melihat salah satu petingginya tadi membuatku tidak yakin dengan pilihan itu.” kata Prof. Said. “Atau bisa saja, tapi kita perlu mengumpulkan bukti dan lebih banyak kepala untuk merumuskan kecurigaan ini.”


              Kay merenungkan semuanya. Kepalanya sangat penuh seperti ingin meledak. Kay butuh bantuan.


              Mereka butuh bantuan.


              “Profesor, kita jelas tidak bisa bergerak sendiri,” ujar Kay.


              “Tentu saja.”


              “Aku akan meminta tolong seseorang.”

__ADS_1


__ADS_2