
“Aku sudah sangat baik. Kau tidak boleh mengurungku di sini terus,” ujar Kay di atas tempat tidurnya. Ia berada di Gardnella kamar 01. Tidak ada kaca isolasi yang menghalangi Kay dengan penjenguk atau perawatnya. Tapi Kay justru berharap supaya kaca itu ada, supaya orang ini tidak terlalu dekat ketika ia menjenguknya setiap hari.
“Satu hari lagi, Kay. Kenapa buru-buru, sih?” ujar Maha. Kali ini Ia membawakan Kay boneka panda kecil untuk mengganjal lehernya. Atau menurut Maha begitu.
Kay tertawa mendengar jawaban Maha. “Bukannya kau punya hal lain yang lebih penting dibandingkan berada di sini?”
“Siapa kau? Kenapa kau mengatur-atur apa yang aku lakukan?” kata Maha, pura-pura serius.
“Kau semakin menyebalkan sekarang. Apa yang makhluk itu lakukan kepadamu?” tanya Kay sambil tertawa.
“Tidak tahu,” jawab Maha. Ia menatap Kay, “Apa yang mereka lakukan kepadamu?”
Kay terdiam dan menunduk. Ia menelan ludahnya dengan gugup. “Aku lengah... Mereka terlalu banyak. Aku belum pernah melawan makhluk sebesar itu.”
Maha menatap Kay lebih lekat. “Maafkan aku, seharusnya kau tidak ada di sana.”
Kay membalas tatapan Maha. Ia belum pernah melihat Maha memandangnya seperti ini. Kemudian ia tertawa, “Apa sih kau melow sekali.”
“Tidak, sungguh.” Maha masih menatapnya dengan raut wajah yang sama. “Maafkan aku.”
Kay menggeleng. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ketua. Aku selamat dan sekarang sudah membaik. Kau tidak perlu menjengukku lagi karena merasa bersalah.”
“Aku di sini bukan karena merasa bersalah kepadamu,” ujar Maha.
Kay mengangkat alisnyaa, “Tidak?”
“Tentu saja tidak. Kenapa kau tidak menyadarinya.”
“Aku tidak paham apa maksudmu.”
Maha melipat tangannya di depan dada. “Hmm… Aku harus menggunakan cara yang lain.” Kay merasa sangat bingung. Ia semakin tidak paham dengan apa yang Maha bicarakan. Kemudian gelang t95 Maha bergetar, Mn. Sito mengirimkan pesan formal kepada Maha.
“Oke, aku harus pergi,” ujar Maha.
“Ya, perg-“
Ucapan Kay terpotong karena Maha mencium keningnya. Lalu tanpa merasa bersalah, Maha menyelonong keluar dari kamar perawatan. Kay termanggu selama beberapa detik.
Kemudian ia tersenyum dan tertawa kecil. Ternyata begitu, ujar Kay dalam hati.
***
“Kau mencuri baju darimana?”
“Ini punya ibuku.”
“Kau tidak pernah mengenakannya.”
“Ngapain aku pakai saat ketemu kau.”
__ADS_1
“Huh, pasti kau mencurinya di suatu tempat. Atau Amber yang meminjamkannya?”
Leno menggeleng. Ia teringat Amber yang memang berkali-kali memaksa Leno mengenakan stelan formal miliknya. Baju terusan semata kaki yang ketatnya sampai membuat ia tidak bisa bernafas.
Leno mematut dirinya di depan kaca isolasi Mia. Samar-samar terlihat bayangan dirinya sendiri mengenakan blus putih semi transparan, dengan dalaman kaus putih, dan rok rempel selutut berwarna biru gelap. Rambutnya dikuncir tinggi seperti ekor kuda. Ia bahkan menanggalkan sepatu larinya dan mengenakan sepatu tertutup sewarna kulit, tanpa hak tinggi. Leno menunjukan tampilannya kepada Amber dan Sept saat mereka menelfonnya pagi tadi. Amber menjerit histeris, sedangkan Sept tidak berkedip sama sekali.
Sepertinya setelan ini cukup baik untuk acara nanti. “Sudah, jangan ngaca terus. Nanti pecah kaca ini.” Leno tertawa. Mia ikut tertawa bersamanya. Sudah seminggu sejak Leno pulang dari Geduna. Hari-hari selanjutnya Leno habiskan untuk menjenguk Mia setelah pulang sekolah, terutama ketika Leno tahu Mia akan segera menjalani operasi untuk lengan kanannya. Baru 2 hari ini mereka bisa berbincang. Dan baru 2 hari pula mereka saling mengejek lagi.
“Bagaimana tanganmu?” tanya Leno.
Mia mengangkat tangan kirinya yang masih dibalut perban. “Mereka akan membukanya hari ini.” Leno menunduk sedih. “Aku..”
“Tidak.. tidak ada kata maaf lagi. Aku sudah mendengarnya berkali-kali,” kata Mia dengan tegas.
“Aku.. senang kau sudah baikan,” ujar Leno. Ia mengangkat bibirnya, berusaha tersenyum. “Kau juga sudah mengatakan itu ratusan kali. Di dalam pesan singkat, pesan suara, di telfon, saat bertemu pun kau berkata hal yang sama,” kata Mia. Leno tertawa.
“Tapi, aku sangat terharu. Kau benar-benar memperhatikan aku,” sambung Mia. Situasi di ruangan itu menjadi canggung. Leno terkekeh, “Apaan sih, Mi.” Mia ikut tertawa bersama Leno.
Pintu ruangan itu bergeser terbuka. Maha melongokan kepalanya ke dalam ruangan. “Lee, ayo. Sudah saatnya,” panggil Maha.
Leno mengangguk. Ia berkata kepada Mia, “Aku pergi dulu, jangan kemana-mana.”
“Tidak mau, aku mau jalan-jalan ke pantai,” kata Mia.
Leno tertawa dan melambaikan tangannya. Mia balas melambai sambil tertawa juga. Maha tersenyum melihat mereka berdua.
Bersama Maha, Leno naik lift ke lantai -2. Maha membawa Leno masuk ke dalam ruangan besar, Aula Geduna. Ada ratusan kursi terbang yang melayang tanpa diduduki. Kursi-kursi itu menghadap ke panggung besar berisi podium. Di belakang podium itu terdapat bendera Trikad, hologram Neena, dan lambang Trikad yang melayang. Aula itu terang benderang, tapi tidak ada satupun orang di sana. Maha mengajak Leno masuk ke
Mn. Joke dan dua orang lain, Bon dan Frian, berdiri di di depan meja oval. Di sebrangnya terdapat laki-laki yang berjas putih seperti Maha namun nampak lebih tua, Mn. Sito, dan juga Prof. Said. Di ujung meja berdiri Neena Trikad dengan gaun biru tua yang sangat anggun. Leno menunduk memberi hormat dengan canggung.
“Selamat datang di Geduna.” Suara laki-laki berat menyapa Leno. Ia menegakan tubuhnya kembali. Mn. Sito tersenyum kepadanya. “Silahkan duduk.”
Maha mengangguk kepada Leno, mengisyaratkan Leno untuk mengikutinya. Leno duduk di apit oleh Joke dan Maha.
“Kau nampak berbeda,” kata Joke berbisik.
“Apa ini berlebihan?” tanya Leno gugup.
“Tidak. Justru bagus sekali.” Joke tersenyum. Leno merasa lega mendengarnya.
“Lenolea Arbour Vitae, nama yang sangat indah. Bagaimana aku memanggilmu?” tanya Mn. Sito.
“Lee saja cukup.”
“Wah, kau cukup tomboy rupanya.” Mn. Sito tersenyum, “Oke, Lee. Aku ingin kau mengenal kami semua.”
Mn. Sito mengenalkan siapa yang duduk bersama mereka satu persatu. Leno memberi hormat dengan canggung setiap mereka tersenyum ke arahnya.
“Sa..saya mewakili ayah saya, meminta maaf bahwa beliau tidak bisa hadir. Ia baru saja dikirim ke Heriad untuk bekerja di sana,” ujar Leno.
__ADS_1
Mn. Sito mengangguk. “Tidak apa-apa. Kami sudah menerima surat resmi dari yang bersangkutan.”
Ia berdehem kecil, lalu kembali melanjutkan, “Tujuan kami mengundang kamu ke sini sebenarnya untuk memberikan tanda terima kasih kepadamu karena sudah berjuang bersama kami pada malam itu.”
“Tidak dipungkiri bahwa hal tersebut adalah tindakan yang ceroboh, melanggar aturan, dan tidak
bertanggungjawab.”
Leno merasa sangat canggung. Ia masih merasa bersalah sedikit.
“Tapi, mungkin semuanya tidak akan seperti sekarang tanpamu. Kau berhasil menyelamatkan salah satu Mandala terbaik kami. Kami sangat berterima kasih untuk itu.” Mn. Sito tersenyum lagi kepada Leno.
Leno kembali menunduk. “Sama-sama.”
“Lee, jangan terlalu banyak menunduk,” bisik Joke. Leno meliriknya sedikit. Ia mengangguk.
“Kami akan sangat senang jika kamu mau menerima hadiah dari kami.” Mn. Sito membuka sebuah kotak. Leno melihat bahwa itu adalah kertas identifikasi berwaran hijau dengan lambang cemara kecil. Itu
adalah kode kunci awal saat kau membeli rumah baru di pusat Trikad. Leno tercengang melihat akses rumah baru itu.
“Kompleks perumahan cemara adalah salah satu rumah terbaik kami. Kau boleh memilikinya.” Leno menganga dan tidak tahu harus berkata apa.-apa. “Aku.. aku tidak tahu apakah ini hadiah yang tepat.,” gagap Leno.
“Oh, bukan. Ini belum menjadi hadiah yang tepat,” ujar Neena sambil tersenyum. Semua orang diam ketika Neena berbicara. Leno baru menyadari wanita ini sangat anggun dan berwibawa.
“Katakan padaku, nak, apa cita-citamu?” tanya Neena dengan lembut.
Otak Leno berhenti bekerja seketika. Ia sekarang.. tidak tahu. “Aku... belum tahu.”
“Kau sudah kelas 8 bukan? Tingkat akhir FIGHR?”
“Iya, Neena.”
“Kalau begitu aku akan sangat senang jika kau mau bergabung menjadi murid Moonasera Sito di Geduna.”
Jantung Leno seakan berhenti berdetak secara mendadak. Apa?
“Kau diberikan kehormatan untuk melanjutkan studi setelah lulus tahun depan,”
“Menjadi seorang Mandala.”
Joke menyenggol bahu Leno dengan sengaja. Ia tersenyum. Maha mengangguk-angguk setuju. Prof. Said, Mn. Sito, dan teman-teman Joke tersenyum dan mengangguk, kecuali wanita botak itu. Ia hanya
mengangguk dengan kaku.
Rasa panik dan cemas menghampiri benak Leno. Bagaimana dengan mimpinya untuk menjelajahi luar kota? Bagaimana dengan rencananya untuk belajar bertahan dari serangan hiu di lautan? Bagaimana
dengan keinginannya untuk tidak menetap di sini, di dalam Trikad, kotanya sendiri?
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
Ia tidak tahu harus bagaimana.
Bolehkah Ia pulang saja?