Mandala

Mandala
Koordinasi Trikad


__ADS_3

 “Semua sudah berkumpul, Neena. Rapat siap dimulai” lapor Komandan Ri. Ia berdiri membelakangi meja kaca besar di ruangan rapat utama kantor pusat Trikad.


              Neena menyibakan gaunnya dan duduk dengan anggun di kursi paling ujung meja. “Baik, mari kita mulai.”


              Semua yang hadir di ruangan duduk tegak. Komandan Ri dan Komandan Hos duduk mengapit Neena


di ujung meja. Mn. Sito dan Mn. Kay berada di sisi kiri Komandan Ri. Di sebrang mereka, duduk seorang wanita berumur 50an dengan proyeksi kecantikan yang tebal dan pria dengan usia yang relatif sama. Keduanya mengenakan seragam kemeja abu-abu tua dengan tulisan “Laboratorium Utama” di dada sisi kanan dan bawahan hitam berbahan kain longgar. Di sisi kiri sang wanita tua, duduk Komisaris Roman, pengamat Reppe tertinggi. Semua nampak serius dan memperhatikan Neena di tempatnya.


              “Aku ingin mendengar kronologis kejadian semalam. Mn. Sito bisa tolong jelaskan?”


              Sito mengeluarkan tabletnya dan mengetuknya pelan. Ia mulai membaca.


              “Sejak pukul 19.00 kemarin malam, Empat unit utama Mandala ditugaskan menjaga empat pintu


utama Trikad. Unit Mn. Tria di gerbang utara dan sekitar pegunungan, unit Mn. Andri di gerbang barat daya, unit Mn. Wira di gerbang timur, dan Mn. Kay di gerbang utama dan perpanjangannya.


              “Semua unit sudah menempati posisi di waktu tersebut. Pada pukul 20.45, unit Mn. Kay mengidentifikasi adanya 6 Lentipede berbentuk makhluk dengan tinggi kurang lebih 1.5 meter yang muncul dari arah barat. Lentipede bergerak cepat namun tidak menuju gerbang utama, melainkan bertolak lurus memasuki FIGHR.


              “Kemudian unit Mn.Kay, dibantu dengan sebagian unit Mn. Maha mengejar Lentipede yang sudah


memasuki FIGHR. Lalu komunikasi terputus sehingga kedua unit terpencar. Mn. Maha berhasil menemukan keenam Lentipede di perpustakaan lama FIGHR.”


              “Terputus?” celetuk wanita dengan dengan kemeja abu-abu. “Apakah memang ada gangguan pada


alat kalian?”


              Mn. Kay berdeham. “Saya berniat menanyakan ini kepada Anda di akhir penyampaian oleh


Mn.Sito tapi berhubung Anda bertanya..”


              Mn. Kay melirik Neena meminta persetujuan.


              “Lanjutkan,” kata Neena.


              “Kami tidak bisa menghubungi satu sama lain. Internet mati ketika kami masuk ke gerbang FIGHR. Kami sudah mencoba semua alat komunikasi anggota, bahkan telfon genggam lama pun tidak bisa digunakan. Apakah ada penjelasan dari Anda terkait hal ini?”


              Pria yang berseragam abu-abu menjawab, “Kami tidak mengadakan penutupan jaringan di daerah manapun tadi malam.


              “Tapi, memang pagi ini kami menerima cukup banyak komplain terutama di fraksi gerbang selatan.”


              “Bisa jadi karena memang banyak orang tua yang berusaha menghubungi anaknya di dalam FIGHR


pada saat karantina dimulai,” tukas Wanita tua itu.


              Si Pria nampak agak bingung dengan pernyataan temannya. Tapi ia tidak berkata apa-apa.


              “Jadi, apa yang menyebabkan kami tidak bisa saling menghubungi? Pasti ada penjelasan yang baik


dari pihak LTK.” tanya Mn. Kay.


(LTK adalah Laboratorium Teknologi dan Komunikasi)


      “Apakah sudah ada yang mengecek chip inti dari masing-masing rompi kalian? Kerusakan bisa saja terjadi di perangkat keras saat di lapangan.” tanya si wanita.


              Sito dan Kay melirik satu sama lain. Keduanya berpandangan dengan sebal terhadap wanita tua itu.


              “Alat langsung terhubung kembali setelah kami keluar dari area. Kalau memang kerusakan alat


ada pada kami, kami tidak perlu bertanya kepada Anda,” jawab Kay.


              Terdengar suara ketukan kaca di ujung meja. Neena menatap tajam Kay dan wanita itu. “Mungkin


sebaiknya kita fokus pada kronologis terlebih dahulu. Profesor Said, bolehkah saya minta ditinjau ulang mengenai jaringan komunikasi semalam?”


              Pria itu mengangguk. “Baik, Neena.” Prof. Said membuka tabletnya dan menelusuri berbagai grafik dan peta Trikad yang diproyeksikan ke udara. Sedangkan wanita yang duduk di sebelahnya nampak tidak nyaman. Ia membetulkan sanggul rambutnya berulang kali.


              “Apakah saya boleh melanjutkan?” tanya Sito. Neena mengangguk tanda menyetujuinya.


              “Mn. Maha bersama anggotanya, Mn. Joke melawan enam Lentipede raksasa itu di depan perpustakaan. Belum diketahui apa yang menarik mahluk itu untuk bergerak di sana. Hanya diketahui ada dua orang siswi yang ada di sana pada saat serangan.”


                “Ini yang kedua kali,” kata Neena. Raut wajahnya mengeras. Ia mengetuk-ngetukan jarinya di meja.


              “Iya, benar Neena. Dua hari ini sudah terjadi 2 kali serangan Lentipede pada malam hari. Jumlah dan ukuran tubuh mereka menjadi sangat besar.”


              “Kami belum mengetahui apakah ini benar produk evolusi lagi. Terutama menilik kejadian 12 tahun yang lalu yang juga menewaskan banyak sekali warga sipil di dalam maupun di luar Trikad. Bisa jadi Lentipede yang tersisa mengalami mutasi kembali dan menghasilkan sesuatu yang berbeda.” ujar Kay menambahkan.


              Neena berhenti mengetukan jarinya. Ia menoleh ke arah Komandan Ri. “Kembali ke masa lalu.”


              Komandan Hos mengangkat tangannya. “Neena, Kita harus peringatkan Freo di kota lain. Mereka


juga harus siap jika memang Lentipede sudah berevolusi.” Komandan Ri mengangguk tanda menyetujui.


               “Terutama Mikrad. Kita belum mendengar kabar dari mereka lagi,”


              “Sito, apakah duta kita di Konrad memiliki informasi terkait Mikrad?”


              “Belum ada, Neena.”


              “Sejauh ini Lentipede belum terlihat di daerah lain di pulau. Tapi kami sudah memberi kabar resmi


dari Geduna ke kota lain terkait serangan 2 hari ini,” kata Sito menambahkan.

__ADS_1


              “Bagus. Sejauh ini kita fokuskan pertahanan di dalam kota.” Neena mengedarkan pAndangannya ke


seluruh ruangan. “Saya ingin mendengar strategi pertahanan malam ini.”


              Komandan Ri mengangguk ke arah Sito. Kemudian Sito mengetuk tabletnya untuk memunculkan


grafik dan peta Trikad di tengah meja rapat. Pada proyeksi itu nampak keseluruhan pemandangan kota: gedung-gedung tinggi, patung logo Trikad, terminal-terminal trem yang sudah kosong, perumahan warga yang mengelilingi pusat kota, serta satu area luas yang bersebrangan dengan gerbang utama, FIGHR. Terdapat titik-titik berwarna biru terang yang berkonsentrasi di empat gerbang dan sekitar FIGHR. Lima titik merah yang tersebar di setiap gerbang nampak mencolok di antara titik-titik biru.


              “Ini adalah siaran langsung dari seluruh kota. Kami menugaskan 1 unit untuk siang hari dan 2 unit di malam hari untuk berjaga di tiap-tiap gerbang.” Sito memperbesar proyeksi itu hingga menampilkan gedung pusat tempat mereka semua berada. Satu titik biru dan satu titik hitam nampak diam berdampingan. Sito menekan titik hitam itu dan label namanya sendiri muncul di atasnya.


              Kemudian ia menggeser pemandangan kota ke arah selatan, tempat gerbang utama yang dihiasi 5


titik biru dan satu titik merah. Ia menunjuk satu titik biru yang ada di dekat gerbang utama. Sebuah label muncul di atasnya: “Moonasera Dolyan, Unit 2: Aktif.” Label itu bergerak mengikuti titik biru yang ditunjuk Sito. Kemudian


Sito menghilangkan label itu dan menunjuk satu titik merah yang diam di gerbang barat daya. Label muncul kembali, bertuliskan: “Moonasera Joke B. Unit Utama: Aktif.”


              “Semua personel unit utama akan berjaga bergantian sebagai penghubung di pusat.” Sito membiarkan label itu tetap muncul sehingga semua bisa memantau kemana Mn. Joke bergerak di sekitar gerbang utama. “Mereka sudah mulai berjaga sejak pagi. Kami khawatir makhluk itu datang tidak hanya pada saat malam hari.”


              “Apakah tidak berlebihan?” Wanita tua itu bertanya dengan nada heran. “Kalau semua unit dipekerjakan bergantian pada siang hari, Trikad akan kekurangan personel saat malam hari.”


              Sito mengangkat kepalanya, menatap wanita itu dengan pAndangan menusuk. “Tentu saja tidak,


semua sudah diperhitungkan dengan baik. Saya tahu bagaimana cara mengatur unit-unit aktif kami agar bisa optimal melindungi kota.”


              Sito menolehkan kepalanya ke arah Neena, “Apakah Anda ingin mendengar bagaimana perhitungan


yang sudah kami rancang untuk jadwal jaga ini?”


              Neena tersenyum kecil, “Tidak perlu, saya percaya Moonasera sudah mengatur ini dengan baik.”


              Sito mengangguk, sedikit rasa puas terlihat dari rautnya. “Baik, Neena.” Wanita itu mengangkat sebelah bahu dan memutar bola matanya ke kiri. Terdengar ******* nafas kelelahan dari Prof. Said. Kerutan di kedua sudut matanya nampak lebih terlihat.


              Komandan Ri berdehem. “Saya akan melanjutkan mengenai pengamanan warga di dalam kota dan di


sekitar perbatasan.” Komandan Ri diam sejenak, menunggu persetujuan dari Neena. “Baik, lanjutkan.”


              Komandan Hos mengetuk tabletnya dan menambahkan garis-garis hitam di proyeksi yang sebelumnya sudah dibuat Sito. Garis-garis itu memagari ke empat gerbang yang dikelilingi Mandala di seluruh perbatasan. Beberapa garis hitam terlihat mengelilingi kompleks perumahan warga di lingkar dalam dan lingkar luar kota.


Beberapa gedung di FIGHR dibatasi garis hitam yang sama, begitu pula di gerbangnya.


              “Kami menutup semua gerbang sementara. Tidak ada penerbangan dan pelayaran yang berasal dari


dan menuju Trikad. Kami khawatir akan lebih banyak korban jika warga dibiarkan beraktifitas di dalam kota,” ujar Komandan Hos.


              Neena mengangguk setuju. “Saya mendukung pembatasan kota. Tutup semua akses sehingga warga aman di dalam rumahnya.”


              “Dengan berkaca pada sejarah, kira-kira sampai berapa lama kita bisa melawan makhluk itu?”


              “Tentu saja, mereka sangat besar sekarang,” celetuk Wanita tua itu tiba-tiba. “Kami harus meninjau ulang pola mereka kembali. Mungkin Bu Greeta bisa membantu kami? Saya ingat LTK punya algoritma untuk menganalisa serangan dan pergerakan musuh. Itu akan bisa membantu kita semua dalam memprediksi kedatangan makhluk itu lagi.” Sito kembali menatap lurus Bu Greeta yang nampak terkejut.


              “Sebenarnya...” potong Prof. Said. “Serangan ini berbeda dari yang sebelumnya. Jumlahnya terlalu sedikit untuk dihitung kembali. Namun mungkin saya bisa membantu Anda kemungkinan dari arah mana saja mereka datang. Apakah Anda ingin kami membuat analisa itu kembali?” tanya Prof.Said.


              “Saya akan sangat menghargainya, Prof. Memang itu yang kita butuhkan untuk memprediksi


langkah selanjutnya.” Neena tersenyum kepada Prof. Said.


              “Komandan Ri, untuk sementara siapkan kebutuhan pokok kita untuk didistribusikan ke seluruh


kota. Kita harus tetap bersiap-siap yang terburuk walaupun mengusahakan yang terbaik.”


              “Tapi Neena, kita belum bisa menghubungi Mikrad untuk memesan kebutuhan pangan. Mereka tidak


merespon sejak tersebar kabar Hidroform itu,” kata Komandan Ri.


              Raut wajah Neena mengeras. “Mereka sepertinya menganggap serius tuduhan itu. Kita belum


mendapatkan dalang penyebar tuduhan Hidroform?”


              “Sejauh ini kami belum mendapatkan apa-apa. Beberapa warga mengaku mereka mendapatkan


sampel hidroform dari orang di luar Trikad yang tidak dikenal,” kata Komisaris Roman. “Kami sedang mewawancarai warga lebih lanjut mengenai pelaku penyebar itu.”


              Mereka semua mengetahui kasus Hidroform  bisa merenggangkan hubungan antar kota yang sudah semakin renggang dalam beberapa tahun terakhir ini. Tuduhan Trikad menyuruh warganya bercocok tanam dengan metode Hidroform benar-benar memengaruhi petinggi Mikrad dalam mendistribusikan bahan pangan pokok kepada Trikad. Mereka mengira Trikad akan mengambil alih spesifikasi Mikrad sebagai kota lumbung dan pangan lalu mengambil alih seluruh pulau. Petinggi Trikad sedang  gencar-gencarnya meredam tuduhan ini sebelum serangan Lentipede kembali datang.


              “Apa mungkin ada hubungannya dengan Gephu?” tanya Komandan Ri. Mereka semua menatap Komandan Ri. Komisaris Roman menggeleng. “Gephu hanya gerakan konspirasi yang dibuat sekelompok orang untuk mencari sensasi. Kami sudah menutup kasusnya minggu lalu.”


              Kay berbisik kepada Sito. “Yang dimaksud Gephu itu yang diperdebatkan oleh politikus-politikus murah akhir-akhir ini? Tentang gerakan yang mendukung Trikad menguasai kota lain?”


              Sito mengangguk. “Komisaris Roman yang memimpin investigasi tentang Gephu. Dia bilang kasusnya sudah berakhir, tidak ada bukti.”


              “Kami bisa pastikan gerakan pemberontak itu tidak melakukan apapun terkait kasus hidroform ini,” tegas Komisaris Roman.


              Neena mengangguk. “Aku akan menunggu perkembangannya. Jangan sampai lengah,” katanya kepada Komisaris Roman. Keheningan menghampiri mereka sejenak.


              Komandan Hos bertanya, “Persediaan pangan semester lalu masih tersisa setengah dari perhitungan kita. Apakah kita bisa menggunakan itu sementara?”


              Ia mengusap tabletnya, proyeksi tabel kebutuhan pokok muncul di samping proyeksi kota. Tercatat 130% di total presentase pemenuhan kebutuhan pangan dasar untuk tiga bulan ini.


              “Ya, saya setuju.” Neena mengetuk-ngetukan jari-jarinya ke meja, nampak serius berfikir. “Saya akan menghubungi Freo Mikrad untuk meluruskan hal ini. Bagaimanapun kita semua terikat Dekrit Satu Pulau yang tidak boleh dilanggar.”


              Suasana hening di dalam ruang rapat. Komandan Ri dan Hos sibuk mencatat. Prof. Said masih

__ADS_1


mencari sesuatu dari tabletnya. Sedangkan Kay memperhatikan Bu Greeta yang baru kali ini ia temui. Kay membatin pasti bukan ia saja yang sebal dengan tingkah ibu itu di sepanjang rapat ini.


              “Kami akan menemukan penyebar tuduhan itu secepatnya,” ujar Komisaris Roman memecah keheningan. “Lebih cepat lebih baik. Kita harus bisa meyakinkan Mikrad dan menjaga hubungan baik dengan mereka.”


              “Siapapun berpotensi mengganggu kedaulatan Trikad akan diberikan sanksi yang tidak main-main.” Neena berucap dengan nada yang tajam. Aura ketegangan menyelimuti ruang rapat. Semua orang berhenti melakukan aktifitasnya.


              Kemudian Neena bertanya kembali, “Prof Said, apakah Anda sudah menemukan sesuatu mengenai


gangguan jaringan di FIGHR tadi malam?”


              Prof. Said mengangguk beberapa kali. “Saya sudah meninjau ulang jaringan di seluruh kota tadi malam.”


              “Memang dikatakan tidak ada kerusakan atau pemadaman jaringan.” Sito dan Kay nampak terkejut. Komandan Hos mengernyitkan dahinya. Neena kembali mengetuk-ngetukan jarinya ke meja. “Hmm.. aneh sekali.”


              “Tapi, kami benar-benar kehilangan komunikasi semalam. Kalau hal itu tidak terjadi, mungkin tidak akan ada korban,” ujar Kay dengan nada bingung dan kesal.


              “Data kami tidak berbohong, Moons,” kata Bu Greeta sambil tersenyum menyebalkan. “Saya kira Anda bisa memahami hal tersebut.”


              Prof. Said mengangkat tangannya, meminta perhatian.” Mungkin memang kerusakan ada pada


perangkat keras yang digunakan.”


              Kay sudah bersiap-siap melontarkan kata-kata serangan yang ada di dalam kepalanya sebelum


akhirnya dicegah oleh Sito. Ia menatap Kay lekat, memohon untuk tidak meneruskan.


              “Kami bisa mengirim orang untuk mengecek perangkat kalian ke Geduna. Sekedar memastikan.”


Prof. Said mencoba menawarkan pilihan tersebut. Neena mengangguk. “Silahkan.”


              “Kami akan melaporkan hasilnya setelah itu. Mungkin pembaruan perangkat juga bisa dilakukan untuk menghindari kerusakan selanjutnya.”


              Sito mengetahui Kay tidak merasa puas sepenuhnya dengan keputusan tersebut. Tapi, pada akhirnya


Kay menundukan kepalanya sedikit dan tidak berkata apa-apa lagi.


              “Baik, apakah masih ada yang belum jelas?” tanya Neena. Matanya menyapu bersih semua rekannya


yang ada di ruangan itu. “Sudah cukup, Neena. Saya akan melapor jika sudah ada perkembangan kasus Hidroform atau jika ada kabar dari Mikrad lagi terkait kebutuhan pangan,” ujar Komandan Ri.


              “Kami akan terus berjaga di perbatasan sesuai rencana. Saya akan mengabari jika terjadi


sesuatu,” kata Sito dengan tegas.


              “Kami akan membuat analisa serangan Lentipede kali ini. Secepatnya akan saya kabari.”


Prof. Said membalas tatapan Neena dengan meyakinkan.


              “Baik, rapat saya cukupkan.”


              Sito mematikan proyeksinya dan melipat tabletnya kembali. Neena dan kedua komandan berbincang


di ujung meja sementara Prof. Said dan Bu Greeta memberi penghormatan dan keluar dari ruangan. Kay tidak bisa menahan diri untuk bertanya.


              “Moons, aku tidak pernah melihat ibu itu selama rapat dengan LTK. Dia siapa sih?” tanya Kay


setengah berbisik. Sito mendekatkan diri dan memutar badannya menjauhi pandangan Neena. “Dia pengganti Prof. Jery yang harusnya bersama Prof.Said menghadiri rapat ini, salah satu dewan tinggi di LTK. Prof. Jery katanya sedang sakit.”


              “Dia tampak sok tahu dan menyebalkan,” kata Kay menggerutu. Sito hanya menarik nafasnya dan


mengangguk kecil. “Aku setuju.”


              Tedengar suaralangkah sepatu tinggi mendekat. Ketika Kay melirik ke balik punggung Sito, Neena sudah berdiri di belakang mereka. Sito membalikan badannya dan memberi hormat. Neena menganggukan kepalanya dan tersenyum.


              “Moonasera Sito, ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan. Apakah Anda memiliki waktu


sebentar?”


              Sito menoleh ke arah Kay sebentar. “Ya, tentu saja.”


              “Kalau begitu saya pamit dahulu. Unit saya juga sudah menunggu saya di gerbang utama.” Kay tersenyum kepada Sito dan Neena. Setelah memberi penghormatan, Kay berbalik dan keluar dari ruang rapat.


              Ketika Kay melangkah keluar dari pintu otomatis, Prof. Said memanggilnya tiba-tiba. “Moonasera Kayrina.”


              Kay agak terkejut melihat pria yang setua ayahnya ini sedang menunggu di depan pintu. “Siang, Profesor. Saya pikir Anda sudah pulang terlebih dahulu.”


              Kay melirik ke sekitarnya, mencoba mencari-cari sosok wanita yang ia ingin hindari. Tapi kelihatanya Prof. Said hanya sendiri sekarang. “Oh, ya saya lupa bertanya sesuatu. Apakah hari ini kami bisa langsung melakukan pengecekan perangkat keras di Geduna?”


              Kay nampak heran dengan pertanyaan beliau. Sebenarnya Kay juga enggan memikirkan mengenai


“pengecekan perangkat” yang ia tahu bukan sumber masalahnya di sini. “Bisa, Prof.”


              “Walaupun saya tidak yakin apakah benar kerusakan ada pada perangkat keras yang tertanam di


rompi kami,” saut Kay lagi.


              “Kita bicarakan nanti. Apakah Moons bersedia menemani saya?” kata Prof. Said cepat-cepat.


              Kay berpikir sebentar. “Tentu saja. Mn. Sito akan sangat sibuk mengatur unit-unit aktif yang


bertugas. Aku akan meminta izin untuk menemani Anda.”

__ADS_1


              “Baik. Saya akan ke Geduna sore ini.” kata Prof. Said. Terlihat jelas ia sedang sangat tegang, seperti ada hal yang tidak bisa diutarakan. Seperti sedang menyimpan rahasia.


__ADS_2