
Musim non-panas 2 minggu yang lalu. Angin berhembus kencang sekali. Beberapa dahan terlihat tertiup mengelilingi kubah langit Trikad. Sebagian berhasil tembus ke dalam kota, berupa serpihan-serpihan kayu yang membuat mata mudah kelilipan. Suhu kota menjadi lebih dingin, mereka belum menyalakan pemanas sentral. Tapi semua terbayar dengan pemAndangan Trikad yang indah dari sisi utara ini, Kompleks Cemara.
Ini pertama kalinya Maha diundang ke rumah Ayu. Bon tentunya sudah lebih sering berkunjung, 3 temannya yang lain juga baru kali ini menginjakan kaki di rumah besar di lereng pegunungan utara Trikad. Pohon-pohon besar mengelilingi kompleks perumahan yang diberi jarak berupa jalanan berkelok di antara rumahnya. Suhu jelas lebih dingin dan nyaman di saat yang bersamaan.
Tapi di dalam rumah terasa berbeda. Hari ini Prof. Jery, dewan tinggi LTK sekaligus ayah dari sahabatnya, mengadakan pesta yang cenderung tidak terlalu menyenangkan. Pesta ini dipenuhi banyak orang tua dan music yang membuat anak muda mengantuk. Tamu-tamu sebagian besar berasal dari LTK yang ditandai dengan kemeja atau jas abu-abu kebanggaan mereka. Sebagian lainnya merupakan petinggi Reppe dan Mandala yang seumuran dengan Prof Jeri, 68 tahun kurang lebih. Mn. Sito. Mn. Hiroya, dan jajaran tinggi Geduna turut diundang.
Secara keseluruhan, pesta itu lebih mirip pertemuan petinggi Trikad secara informal, yang ditambahkan kue cokelat tanpa gula superbesar di tengah-tengahnya.
Maha melihat Bon yang membaur dengan Mn. Sito dan guru-guru yang lain. Ayu menemani Prof. Jery di tengah ruangan. Sedangkan Frian sudah biasa menghilang dari keramaian. Joke tidak terlihat. Maha juga ingin tidak terlihat dari sana, tapi Sito masih meliriknya berkali-kali menunggu momen yang tepat untuk mengenalkan murid sekaligus rekan kerja terbaik yang pernah ia punya. Kalau Maha menghilang, Sito pasti akan menariknya lebih jauh ke dalam percakapan dengan sesepuh lainnya.
Dan Maha sangat menghindari obrolan dengan orang-orang itu.
Selain wajah-wajah petinggi yang ia pernah temui, ada beberapa orang yang Maha baru kenal hari itu. Terutama wajah-wajah petinggi LTK. Pria dan wanita tua yang nampaknya sudah terlalu lama bekerja, tapi tetap bahagia.
Ketika acara inti dan doa sudah selesai, sebagian tamu pamit pulang. Tapi masih banyak yang bertahan di sana, mengobrol dengan kawan lama mereka. Joke dan Frian terlihat sedang mengunyah di meja dekat balkon di sebrang ruang tempat Maha berdiri. Bon masih membaur dengan Sito diikuti dengan Ayu yang sudah selesai berbincang dengan teman-teman ayahnya.
Maha bertolak ke luar balkon, sendirian. Ia akhirnya mendapat kebebasan memandangi Trikad dari atas sini. Setidaknya sampai Prof. Jery menepuk pundaknya. “Kau senang ada di sini?”
Maha mengangguk, “Ya, damai sekali. Anda sangat pandai memilih hunian.”
“Ah bukan saya. Istriku yang menginginkan tempat ini dulu. Katanya untuk menghabiskan masa tua bersama,” kata Prof. Jery berkilah. Ia melanjutkan, “Sayang sekali hanya aku yang menua sedangkan dia sudah berdamai duluan.”
“Saya turut berduka,” ujar Maha.
“Ah, bukan begitu maksudku. Tidak perlu sedih hari ini,” jawab Prof. Jery. Mereka terdiam sambil menikmati pemandangan di sekitar perumahan tersebut. Maha berkata, “Saya menyukai sisi utara ini. Walaupun lebih dingin dari di pusat.”
“Ya, memang lebih sejuk. Dua minggu lagi musim panas, suhu sudah mulai meningkat sekarang.” Hembusan angin dingin menyapa kulit mereka, satu buah daun mampir ke balkon tempat mereka berdiri. “Ayu bercerita tentang misi terakhir kalian. Sepertinya Lentipede sudah tidak terlalu banyak terlihat di sekitar sini,” kata Prof. Jery.
Maha kembali mengangguk, “Kami tidak menemukan terlalu banyak. Penduduk dante di sekeliling Trikad pun tidak banyak diganggu. Mereka relatif memiliki kehidupan yang lebih baik. Trikad dan kota lain ikut membantu perekonomian mereka.”
“Bagus sekali,” saut Prof. Jery. Kemudian ia bertanya, ”Apa kau lahir di sini, Maha?”
Maha menoleh ke arah pria tua itu dan tersenyum, “Iya. 28 tahun yang lalu.”
“Berarti kau masih sangat muda ya. Dibandingkan umur kota ini,” kata Prof. Jery. “Anda juga masih sangat muda kalau begitu,” kata Maha tersenyum. “Hahaha.. Iya bisa dibilang begitu.” Prof. Jery memandang lurus ke depan, seperti sedang menerawang.
“Ayahku dulu masih kecil ketika Trikad mulai berdiri menjadi satu kota baru. Kota pertama di pulau ini. Setelah sekian lama manusia bersembunyi dari alam yang mengamuk, kita bisa kembali hidup dengan bernegosiasi.”
Maha mengangguk. “Pasti masa-masa yang sulit.”
“Trikad tidak secanggih sekarang. Membangun bata demi bata secara konvensional dilakukan untuk membuat rumah baru di tengah banyaknya badai debu dan polusi di seluruh permukaan bumi. Beruntung
para jenius berkumpul di sini. Kita bisa membangun kota hanya dalam 2-3 tahun pengerjaan.
“Semua berjalan dengan baik. Puluhan tahun penuh kesadaran bahwa kita tidak sendiri. Kita hanya manusia, salah satu makhluk yang menumpang hidup di bumi. Hanya karena kita lebih pintar dari pohon dan hewan bukan berarti kita bisa memperbudak mereka. Setidaknya kesadaran mendalam tentang kedudukan kita di alam membuat kita bertahan, berusaha sekuat tenaga tidak mengulangi kesalahan yang diperbuat nenek moyang kita dulu, manusia-manusia tamak.”
Kemudian Prof. Jery berhenti sebentar, “Usia 68 tahunku sudah terlihat ya? Aku terlalu banyak bicara.” Maha tersenyum. “Saya suka mendengar cerita Anda. Kalau Anda tidak keberatan, saya mau mendengarnya hingga habis.”
“Hahaha.. Ayu biasanya menghentikanku. Mungkin 27 tahun diasuh olehku membuatnya bosan,” kata Prof. Jery tertawa.
“Saya baru 5 menit diasuh oleh Anda. Tentu saya belum bosan,” saut Maha setengah meledek. Prof. Jery menepuk pundak Maha. “Anda orang yang menarik. Tidak heran semua orang mengidolakan Anda.”
Maha terkekeh. “Tidak semua orang, anak Anda lebih menyukai teman saya.”
“Ah, Bon? Ia juga anak yang baik.Ayu sangat menyukainya. Saya juga. Tapi ini lain dengan Anda. Saya tidak menaruh romatisme kepada Anda, tapi Anda sangat mudah untuk disukai. Ah, saya melantur lagi. Sampai mana kita tadi?”
“Sampai saya adalah orang yang menarik?” jawab Maha. Prof. Jery pun kembali tertawa. Ia terlihat sangat bahagia. Maha senang bisa membuat orang tua bisa tertawa seperti ini. Mereka kembali menikmati hembusan angin yang semakin banyak. Namun, udara memang tidak terlalu dingin. Benar kata Prof. Jery, suhu sudah mulai naik sekarang. Sesuatu muncul di benak Maha, ia kembali membuka suara.
“Sekarang saya yang tertarik dengan perkataan Anda tadi. Kesadaran mendalam tentang kedudukan kita di alam mungkin sangat erat dirasakan oleh generasi yang mengalami secara langsung. Namun saya sejujurnya sudah tidak terlalu terpapar dengan keyakinan seperti itu, mungkin akan jauh lebih parah lagi untuk generasi di bawah saya. Seperti adik saya yang masih bersekolah, ia tidak menghayati kesadaran tersebut seperti Anda, tentunya.”
“Itu masalah kita sekarang!” seru Prof. Jery tiba-tiba. “Orang-orang bisa jadi lupa dengan apa yang manusia pernah alami di zaman yang lalu. Semua bisa terulang kembali.”
“Semua hal?” tanya Maha.
“Ya, semua kerusakan dan kesulitan yang diberikan alam kepada kita. Semua akan kembali jika kita kehilangan kesadaran itu.”
Mereka kembali terdiam, selagi Maha berkutat dengan pikirannya, Prof. Jery melanjutkan, “Tapi, harus ku akui Trikad tidak lagi sama. Kasus-kasus berbau politik sudah mulai bermunculan sejak 10 tahun terakhir. Apa kau mengikuti?”
“Tidak terlalu tapi sesekali aku membaca berita,” jawab Maha
“Desas-desus munculnya gerakan pemberontak di dalam Trikad. Mereka cukup berani untuk berkata kita harus menjadi pemimpin pulau ini dan memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimiliki, termasuk
spesialisasi kota lain,” kata Prof. Jery menjelaskan.
“Mereka ingin.. Trikad menjajah kota lain?” tanya Maha.
“Iya bisa dibilang begitu. Atau setidaknya itu kesimpulan yang bisa kau dan aku tarik sekarang. Dan itu jelas sekali tidak dibenarkan.”
“Konflik akan segera muncul jika hal ini belum ditangani,” kata Maha berpendapat.
“Terakhir aku dengar Komisaris Roman, petinggi Reppe sedang mengusut kasus ini. Semoga mereka berhasil. Aku sudah lama tidak berbicara dengannya. Hubungan kami belum membaik sejak mereka berpisah.”
Maha teringat di awal tahun Ayu dan Rosi memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka. Mereka tidak pernah bercerita masalah utamanya, Maha juga tidak ingin mengulik lebih lanjut jika Ayu tidak mau bercerita. Maha dan teman-teman yang lain juga mengetahui hubungan kedua keluarga masih agak renggang sejak saat itu.
Maha kembali ke topik pembicaraan, “Gerakan ini.. mengapa ya bisa timbul? Saya jadi bertanya-tanya.”
“Karena kita segera kembali ke sifat dasar kita. Manusia yang selalu ingin lebih. Tidak puas dengan sumber daya yang kita miliki, orang-orang itu berusaha menguasai kepemilikan orang lain. Ini adalah yang kita barusan bicarakan, sebuah awal dari kehilangan kesadaran mengenai alam. Ketamakan, egoisme, ambisius yang salah jelas tidak dibenarkan dan akan membuat kita tenggelam dalam kesalahan yang sama. Tidak
pernah puas dan mementingkan diri sendiri,” kata Prof. Jery sambil kembali menerawang.
“Apa mereka sudah bisa mengusut siapa pemimpin gerakan pemberontak ini, saya lupa namanya, Gephu?”
“Gephu belum memiliki wajah. Hanya kecurigaan-kecurigaan yang muncul. Bisa jadi mereka adalah orang-orang biasa. Orang-orang yang kau lihat di dalam trem ketika ingin belanja di pusat kota. Bisa jadi bukan. Orang-orang yang lebih tinggi, yang memiliki jabatan, yang ada di lingkungan kita juga. Atau juga pihak di luar kota.”
“Pihak luar seperti kota lain?”
__ADS_1
“Yah, bisa jadi. Trikad selalu memiliki musuh. Entah 4 kota lain yang terlihat pura-pura baik di depan kita
atau dante-dante di sekitar Trikad yang meminta diberi perhatian berlebih. Bagaimanapun semua masih berupa kemungkinan,” kata Prof. Jery. “Tapi, saya memikirkan hal ini. Jika memang gerakan ini timbul dari dalam Trikad, terutama orang-orang penting, mereka bisa menyerang Trikad dari dalam. Merobek tatanan yang kita miliki sekarang.”
“Apakah Neena sudah merespons terhadap hal ini?” tanya Maha.
“Saya kurang memahami. Saya hanya seorang profesor tua yang meneliti di dalam laboratorium. Saya mendengar ini semua dari berita. Tidak lebih. Mungkin jika Anda penasaran, Anda bisa bertanya pada guru Anda sendiri, Moonasera Sito. atau pada Komandan Ri yang menjadi tangan kanan Neena secara langsung,” kata Prof. Jery menyarankan.
Maha mengangguk setuju, “Saya mungkin akan bertanya pada Mn. Sito.”
Terdengar suara wanita memanggil Prof. Jery dari kejauhan. Tidak lama setelahnya, pintu balkon terbuka. Seorang wanita tua berambut abu-abu dengan rok bahan hitam dan blus merah menyala berdiri di ambang pintu. Hologram kecantikannya tampak aneh karena terlalu banyak efek yang digunakan. Maha belum
pernah bertemu wanita itu sebelumnya.
“Mohon maaf mengganggu, tapi aku izin pamit, Jer,” kata wanita itu.
“Ah, Greeta. Ya, terima kasih sudah datang. Apa kau sudah bertemu Maha, pimpinan unit utama Mandala? Ia satu unit dengan Ayu,” kata Prof.Jery mengenalkan mereka berdua.
“Salam,” ujar Maha sambil memberi hormat.
“Oh, aku belum bertemu tadi. Di mana saja Anda? Aku tidak melihat Anda di dalam,” kata wanita itu sambil tersenyum. “Tidak perlu repot-repot, saya kadang bisa menyamar sebagai pohon,” kata Maha setengah bercanda. Greeta tertawa sedikit, “Kalau begitu harusnya Anda berada di luar kebun sana.”
“Greeta anggota dewan LTK juga. Rekanku yang baru di LTK,” kata Prof. Jery. “Hanya sebagai wakil. Mengurus berbagai data bersama Said dan teman-teman lain,” saut wanita itu.
Sebagai orang yang memiliki banyak kenalan dengan dewan di LTK, Maha belum pernah melihat wanita ini, ia bertanya, “Saya benar-benar belum pernah melihat Anda dimanapun. Apakah Anda aktif di pertemuan ilmiah LTK?”
“Oh, saya sering datang,” katanya sedikit gugup. Kemudian wanita itu tersenyum kepada mereka. “Tapi, Anda mungkin tidak menyadari pernah melihat saya,” katanya lagi.
“Jeri, Aku harus pergi.”
Kemudian wanita itu pamit dengan mereka berdua. Lalu pada saat inilah Maha kembali ke waktu sekarang, di mana ia masih duduk merenung di dalam ruang tunggu kamar Mia di Geduna. Maha mengusap
gelangnya, mencari-cari sebuah berita yang pernah ia baca beberapa hari setelah pesta ulang tahun Prof. Jery terselenggara. Berita singkat yang mungkin tidak semua orang akan menyadarinya.
Ketika Maha sedang mencari berita tersebut, Joke mengirimkan berkas. Itu adalah laporan kasus serangan hari pertama dengan korban atas nama Kerdina Jose. Maha menyimpan berkas itu untuk
dibacanya nanti.
Maha kembali mencari berita lain di internet. Setelah kurang lebih 15 menit memilih, menyortir, dan membaca judul-judul berita yang berseliwean di lama pencarian. Maha menemukannya. Ia membaca berita itu.
Kasus Gephu dari Perspektif Pengamat
Oleh:
Bagus L.
Gephu sudah menjadi sorotan penting tentang munculnya keberagaman pemikiran penduduk Trikad yang tadinya memiliki visi yang sama.
Maha membaca hingga sampai ke paragraf-paragraf akhir.
terlihat muncul di beberapa tempat di pusat kota tepat setelah LTK mengumumkan pergantian dewan tinggi yang baru. Cukup banyak yang berubah, terutama penempatan orang-orang baru yang belum pernah kita kenal sebagai penemu. Apakah ini sebuah kebetulan? Silahkan interpretasi sesuai nalar dan logika Anda
sekalian.
Suatu pemahaman menghantam Mahadengan keras. Gephu. LTK. Kay. Prof. Said. Projek Anti-Lent. Neena. Ambil alih jaringan. Lentipede raksasa…
Itu dia.
***
Sudah 24 jam sejak Frian terakhir berjaga di gerbang barat daya. Kali ini ia berjaga sendirian sejak pukul 2 siang. Semua temannya beristirahat. Hanya ada satu anggota unit utama dan dua unit lain yang berpatroli mengelilingi pusat kota, terutama di gerbang-gerbang masuk.
Frian tiba di tenda istirahat Mandala di gerbang utama. Ketika ia ingin mengganti seragamnya, Frian melihat Kay sedang duduk tertunduk di salah satu kasur. Frian duduk di samping Kay.
“Istirahat saja. Jangan tidur sambil duduk.”
Kay menegakan kepalanya. Ia menoleh ke arah Frian. Kay cepat-cepat mengusap wajahnya dengan lengan baju. “Aku baik-baik saja.”
Frian bisa melihat lelahnya raut wajah Kay yang ia berusaha sembunyikan. Mungkin ada yang mengusik waktu istirahatnya sehingga Ia tidak cukup tidur.
“Selain masalah serangan ini, apa hal lain yang mengganggumu?”
Kay terdiam sambil memandang sepatunya. Kemudian Ia berusaha tersenyum, “Tidak ada hal lain.”
Frian sudah hafal raut wajah orang-orang di sekitarnya yang sedang berpura-pura tidak ada apa-apa. Mengapa sekarang ia sering melihat raut wajah seperti ini.
Gelang f32 Kay berkedip-kedip berwarna merah. Panggilan darurat dari Maha. Frian melihatnya sekilas. Kay bangkit berdiri, berjalan menuju pintu tenda. Kay mengusap gelangnya dan suara Maha terdengar di dalam earphone. “Kay, dimana kau?”
“Gerbang utama. Ada apa?”
“Aku harus berbicara dengan Prof. Said,” jawab Maha dengan cepat. Ia terdengar serius dan sedikit terburu-buru. Kay menduga Ia telah menemukan sesuatu.
“Oke. Aku akan menghubunginya. Kau akan ku kabari.”
Kay mengakhiri panggilannya. Ia mengambil peralatannya kembali. Kay tidak akan menghubungi Prof. Said di dalam tenda ini.
Melihat Kay yang buru-buru berseragam lengkap membuat Frian semakin curiga, “Ada apa?”
Kay menggeleng singkat. “Tidak ada apa-apa, kok. Aku mau berbicara dengan Vanya.” Kemudian Kay meninggalkan Frian di dalam tenda itu sendirian.
***
Laboratorium Teknologi dan Komunikasi terletak di sisi Timur pusat kota. Tanah di tempat ini cukup keras dan banyak bebatuan. Walaupun sederetan gunung membentang di sisi utara Trikad, sisi timur memiliki lebih banyak tebing yang kadang mengandung kapur. Bersama dengan Konrad, penggalian kapur dilakukan sebagai bahan bangunan yang cukup berguna. Hasil penggalian kapur akan digunakan Heriad untuk menghasilkan lebih banyak bangunan menakjubkan di seluruh pulau.
Dibalik itu semua, LTK dibangun di bawah tebing curam dengan tanah bebatuan yang keras dan padat. Bukan perkara mudah untuk membangun sebuah laboratorium raksasa 8 lantai di bawah tanah yang
__ADS_1
begitu keras, tapi dewan LTK menginginkan pondasi yang kuat bagi tempat kerja mereka. Bertahun-tahun pengerjaaan, LTK berhasil berdiri di bawah tanah sisi timur Trikad.
Profesor Rasaid merupakan dewan sepuh LTK yang masih aktif terlibat berbagai penelitian biomedik dan senjata berbahan aktif untuk para Mandala. Ia memiliki kamar kerja tersendiri yang mencakup se pertiga luas lantai -7 di LTK. Di dalamnya tidak tampak begitu rapi. Beberapa benda seperti tombak perak pendek, anak panah dengan pemancar jaringan, baju pelindung berwarna biru keperakan, pelindung kepala, monitor-monitor besar tanpa tombol, dan beberapa piagam menghiasi meja-meja panjang yang tersusun menempel ke-empat dinding di dalam ruangan. Di tengahnya terdapat 3 komputer kuno dan beberapa tablet yang memproyeksikan hologram perhitungan yang panjang dan rumit.
Ruangan itu hanya pernah dimasuki 3 orang: Prof. Said sendiri, istrinya, dan Rosi sebagai anak magang pertama yang pernah Prof. Said terima. Prof. Said tahu dirinya tidak dapat bekerja sendirian, karena itu sejak istrinya meninggal ketika bertugas, Ia harus mencari teman yang bisa membantu menyelesaikan projeknya. Projek besar arahan dari Neena terdahulu, 11 tahun lamanya Ia mengerjakan projek ini bersama istrinya. Setahun kemudian, Ia harus meminta bantuan asisten dan empat hari yang lalu sebagian besar datanya dicuri.
Memang banyak yang terjadi akhir-akhir ini. Beberapa orang tidak dikenal menduduki posisi dewan tinggi di LTK. Orang-orang yang bahkan tidak pernah terlihat di pertemuan ilmiah manapun. Beberapa temannya tidak pernah terlihat lagi di sini. Terakhir ia mendapat kabar Prof. Jery mengambil cuti karena sakit. LTK sudah bukan lagi tempat yang ramah, apalagi menjadi sebuah rumah.
Prof. Said masih menyimpan rasa kesal dan sedih mengenang hal itu, tapi kota sedang membutuhkannya. Ia harus tetap bekerja. Setidaknya hal ini membuat kepalanya terlalu sibuk untuk bersedih karena rindu dengan Herona, mendiang istrinya.
Ketika Prof. Said sedang mengirim pesan ke Mn. Sito, panggilan suara masuk dari Kay. Prof. Said langsung mengangkatnya.
“Halo, profesor,” terdengar suara Kay dari salah satu monitornya. Tapi Ia tidak menampilkan wajahnya, mungkin Ia tidak sedang sendirian.
“Moonasera! Apa kabar?” seru Prof. Said sedikit terlalu ceria. “Saya sedang membuat alat-alat baru untuk kalian. Selain itu saya baru menemukan formulasi untuk membentuk serum bagi para korban di Geduna.”
“Wah hebat sekali, Prof,” jawab Kay dengan cepat. “Bisakah aku bertemu dengan Anda hari ini? Sekarang mungkin?Saya ingin berbicara.”
Prof. Said langsung mengetahui apa yang Kay ingin bicarakan. “Apa kau sudah memberitahukan orang lain tentang apa yang kita diskusikan?”
“Iya.. Hmm… Seseorang yang ku percaya,” ujar Kay. Kemudian Ia bertanya, “Apakah Anda sedang berada di LTK? Saya bisa ke sana sekarang.”
“Tidak! Jangan ke sini,” tukas Prof. Said. Mendatangkan Mandala ke LTK yang sudah dipenuhi orang-orang ini sama saja seperti menjebak diri sendiri. “Lebih baik aku ke sana. Di Geduna?”
“Oke, kami tunggu,” jawab Kay. “Temui aku di rubanah Geduna.”
Kemudian Kay mengakhiri pannggilannya. Prof. Said segera membereskan peralatannya. Ia mengenakan kacamata pintar sekaligus alat komunikasi yang berfungsi mirip seperti seri gelang yang dipakai hampir seluruh penduduk Trikad. Ia memasukan beberapa benda yang baru saja ia buat: ujung tombak-tombak mini berukuran 10cm, pelindung kepala lipat yang bisa dipadatkan sekecil permen karet, satu botol spray dengan
bahan campuran baru, dan salah satu tabletnya. Prof. Said memandang sebuah tabung setinggi 15cm yang setengah terbuka di hadapannya. Itu merupakan sentrifuger dan dialiser otomatis yang sedang ia kembangkan untuk menghasilkan serum untuk para korban Lentipede di geduna. Entah mengapa ia merasa lebih baik memasukan benda itu ke dalam tasnya.
Ketika Ia menutup tas selempang kulit kesayangannya, Rosi menggeser pintu ruangan. Ia tadi sempat izin keluar untuk makan siang. Rambut panjangnya dikuncir kuda pendek. Ia mengenakan kaus putih agak ketat dengan jaket abu-abunya diikat di pinggang.
“Oh, Rosi. Aku akan ke Geduna. Apa kau bisa ikut?” tanya Prof. Said langsung.
“Saya kira Anda sedang melanjutkan proses sintesa peptide Lentipede untuk pembuatan serum Anti-lent,” ujar Rosi. Ia masuk ke dalam ruangan dan mengeluarkan tabletnya. “Saya baru saja memasukan algoritma pertama.”
“Hmm.. tapi kita tidak tahu mau memulai darimana. Kita butuh tambahan data untuk sentrifuge dan dialysis otomatis ini. Kita hanya butuh sampel korban wabah aslinya. Kalau belum ada, kita harus mencoba seluruh formula satu-satu yang mana akan memakan waktu banyak sekali.”
“Karena itu mungkin saya sarankan lebih baik kita memulainya sekarang,” ujar Rosi dengan tenang.
“Hmm.,. saya rasa kita bisa memulai besok. Atau nanti malam saya sendiri yang akan memulainya. Atau
menunggu Mn. Sito memberikan daftar para korban wabah yang selamat.” Prof. Said berhenti sebentar sebelum melanjutkan. “Sekarang saya harus ke Geduna. Moonasera Kay memiliki hal penting yang ingin dibicarakan.”
“Apa kau tetap ingin di sini?” tanya Prof. Said.
“Tidak, Prof. Saya akan ikut,” jawab Rosi. Ia memasukan kembali tablet itu ke dalam tasnya.
“Ya, itu lebih bagus,” kata Prof. Said dengan lega. “Saya tidak berani sendirian sekarang. Terlalu banyak
orang-orang di sini yang tidak saya percaya. Saya tidak bisa membedakan yang mana saja yang berniat buruk dan yang mana yang benar-benar teman yang bisa dipercaya.”
Rosi mengangguk, Ia menempelkan telapak tangannya ke pemindai di depan pintu ruangan uuntuk membukanya.
“Saya akan menemani Anda,” ujar Rosi.
***
Frian duduk di batu besar di bawah Menara Reppe di gerbang timur. Ia memutar-mutar anak panah keperakan, senjatanya yang selalu ia gunakan untuk membasmi Lentipede beberapa bulan yang lalu. Tentu ukuran Lentipede kecil bisa dihilangkan dengan baik menggunakan anak panah itu. tapi Frian tidak yakin apakah senjata ini berguna jika mereka harus menyerang Lentipede raksasa lagi. Ia menimbang-nimbang apakah sebaiknya Ia memintakan senjata baru seperti gada milik Maha untuk seluruh unit. Mungkin sebaiknya ia berbicara dengan Maha terlebih dahulu.
Maha sulit ditemui akhir-akhir ini, terutama sejak serangan ke dua yang membuat adiknya menjadi korban. Apakah itu yang menjadi alasannya Maha menjadi sulit untuk berdiskusi dengan anggota unitnya sendiri?
Tapi ada hal lain yeng terjadi sekarang. Beberapa orang terlihat menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Frian merasa sangat bodoh karena tidak mengetahui apa-apa tentang ini. Apalagi melihat Maha menghubungi Kay dengan panggilan darurat. Sebenarnya apa yang sedang terjadi sekarang?
Frian memutar anak panahnya terlalu cepat. Ia membuat bunyi besi jatuh yang cukup keras. 2 orang Mandala, anggota unit Kay, menoleh ke arahnya. Frian mengambil anak panah itu lagi dan pura-pura tidak memerhatikan mereka. Tidak banyak orang yang berani mengajak Frian berbicara, selain wajahnya yang dingin, kepalanya yang botak seperti laki-laki dewasa, dan kedudukannya yang cukup tinggi sebagai anggota unit utama
Maha membuatnya disegani oleh unit lain apalagi junior-juniornya. Sebenarnya Frian tidak tahu kalau mereka takut dan minder dengan sosoknya yang dingin, Ia selalu merasa beberapa orang memang tidak dilahirkan untuk punya banyak teman. Itu bukan hal yang menyedihkan bagi Frian.
Frian melihat seseorang mendekati tempat Ia duduk. Kay berdiri di hadapannya.
“Aku izin sebentar. Sekitar 30 menit,” ujar Kay nampak sedikit terburu-buru.
“Kemana?” tanya Frian.
“Mengambil barang di rumah. Vanya akan menggantikanku sementara.”
Frian berpikir sejenak. Kemudian Ia mengangguk. Kay tersenyum singkat dan menunduk memberi hormat. Ia berbalik dan langsung memanggil mobilnya dengan mengusap gelangnya.
Mobil Kay datang 30 detik kemudian. Kay masuk ke dalam mobil listriknya yang hanya berisi dua buah kursi berdampingan. Arus listrik mengangkat mobil Kay ke udara setinggi 10cm. Kay menginjak pedal maju dan mobil itu melesat menuju pusat kota.
Frian melihat ke arah mana Kay melaju. Ia tahu perumahan Kay terletak di arah yang berlawanan dengan itu. Frian berdiri, mencari-cari sosok berambut ikal panjang di sekitarnya. Ketika Ia melihatnya, Frian memanggil, “Vanya.”
Wanita yang tempo hari menyapa Maha itu menghampiri Frian. “Ya, Moonasera?”
“Aku dan Kay izin sebentar. Tolong kabari aku jika terlihat sesuatu.”
Vanya mengangguk beberapa kali. “Oke.”
“Kalau boleh tahu kalian izin kemana?” tanya Vanya, Ia adalah satu-satunya anggota unit Kay yang bisa
berbicara dengan Frian tanpa gugup.
“Geduna,” jawab Frian singkat.
“Setelah ku pikir-pikir, mungkin akan sedikit lebih lama.”
__ADS_1