Mandala

Mandala
Pulang


__ADS_3

              Maha kembali ke ruang 04 di Gardnella. Ia duduk di atas sofa yang sekarang sudah menjadi kamar barunya. Sejak Mia dirawat dibalik kaca isolasi ini, Maha tidak bisa tidur sendirian di rumahnya. Memang banyak yang terjadi perubahan dalam seminggu terakhir ini. Bahkan terlalu banyak hingga ia hampir kehilangan adiknya sendiri.


              Mia sedang diberikan transfusi serum yang telah dimodifikasi oleh Prof. Said dari darah Leno. Aksi heroik anak itu 2 hari yang lalu berhasil menyelamatkan nyawa Kay yang juga hampir hilang karena kejadian di Menara. Prof. Said berhasil melakukan ekstraksi ulang dan memproduksi serum dari Leno sebagai pengobatan. Mereka sama-sama berharap ini bisa menolong Mia dan membuatnya sehat kembali.


              Gelang t95 miliknya bergetar. Ada panggilan masuk dari Bon. Maha mengusap gelangnya. “Apa kau masih di dalam?” tanya hologram Bon dari dalam gelangnya. Maha mengangguk. “Kau mau ke sini?”


              “Aku sudah di sini.” Pintu otomatis ruangan itu terbuka. Bon sudah ada di depan ruangan, menenteng kantung kertas yang cukup berat. Maha menebak Bon membawakan makan siangnya yang kedua.


              “Nasi padang?” tanya Maha.


              “Bukan lah,” tukas Bon. Ia mengeluarkan satu liter minuman soda dan 2 kotak kecil susu rasa berry. “Kau kan sudah makan siang. Ini yang kau butuhkan.”


              Bon membuka kotak susu itu dari sampingnya dan memberikannya kepada Maha. Maha tertawa melihat mereka berdua: dua orang pria dewasa, minum susu kotak rasa berry, dengan gambar koala tercetak di kemasannya.


              Maha menenggak susu itu perlahan. “Benar, kan? Lebih enak dari rasa cokelat,” kata Bon sambil memerhatikan Maha menghabiskan susu kotaknya.


              “Iya, tapi aku gak suka koala. Yang rasa cokelat punya gambar panda yang lucu,” ujar Maha dengan serius. Bon tertawa dengan kencang.


              Maha tersenyum dan ikut tertawa. Ketika Bon selesai tertawa, mereka terdiam. Kedua pandangan mereka menembus kaca isolasi, mengamati Mia yang berbaring di tempat tidurnya.


              “Bagaimana Mia?”


              “Sejauh ini tidak ada reaksi berlebihan terhadap serum donor. Semoga tetap stabil,” kata Maha. Bon


mengangguk mendengarkan. “Tapi belum ada perbaikan klinis yang berarti. Aku terus memantaunya.”


              Bon menepuk bahu Maha. “Mia akan membaik.” Maha menyambut tangan Bon. “Semoga begitu.”


              “Bon, apa kau baik-baik saja?” tanya Maha tiba-tiba. Ia tahu kejadian belakangan ini  mengacaukan hubungannya dengan Ayu. Bon menundukan pandangan. Kemudian mereka berdua terdiam. “Bon,” panggil Maha.


              Bon menoleh ke arah Maha. “Sebaiknya kita mengobrol di luar saja.,” ajak Maha. Maha berdiri dan


mengulurkan tangannya kepada Bon. “Ayo, cuci mata sebentar.”


              “Mau kemana?” tanya Bon.


              “Ikut saja.”


              Bon menimbang-nimbang sebentar. Sebenarnya ia sedang tidak ingin kemana-mana. “Tidak keluar dari gedung ini. Aku janji,” ujar Maha, mengetahui apa yang Bon pikirkan.


              Bon melirik temannya yang masih berdiri di sampingnya. Ia menyambut tangan Maha dan berdiri. Maha memberi instruksi kepada salah seorang Mandala di ruang monitor, meminta diberi kabar jika terjadi sesuatu. Kemudian Maha dan Bon keluar dari ruang Gardnella.


              Air terjun buatan sudah dinyalakan kembali. Undak-undakan kaca yang diproyeksikan sebagai bebatuan dan pohon kembali dialiri air dari ujung lantai -1. Maha mengajak Bon masuk ke dalam lift dan turun ke lantai -6.


              Di lantai terdalam ini, hanya ada kantin, bangku-bangku terbang, meja panjang tempat membaca, serta taman buatan. Proyeksi air terjun raksasa itu bermuara ke kolam kecil yang dikelilingi miniatur batang pohon besar. Berhubung airnya hanya berupa proyeksi, tidak perlu ada saluran pembuangan di sana. Mereka bisa duduk di bawah undakan tersebut, mengamati indahnya air yang seolah-olah jatuh dan turun menghempas


bebatuan, mendengar suara rekaman alam, tanpa benar-benar basah.


              Dan itu sangat indah.


              Tidak terlalu banyak orang yang berlalulalang di sini. Mahasiswa baru akan kembali masuk pada esok hari. Mereka bisa duduk dimanapun yang mereka mau.


              Bon sudah lama tidak ke tempat ini. Penugasan unit mereka selalu berada di luar Geduna. Ia lupa air terjun buatan ini masih ada sejak mereka masih berkuliah.


              “Pantas saja kau gak mau pulang ke rumah,” ujar Bon. Ia duduk menghadap proyeksi itu. Maha berdiri di sampingnya.


              “Rumahku biasanya memang sepi. Kalau kita tidak sedang tugas keluar, Aku tetap sendiri di sana. Mia hanya pulang ketika libur sekolah.”


              “Sekarang ia ada di sini. Walaupun aku tidak pernah berharap sesuatu terjadi padanya, aku..” Maha berhenti sejenak. “Aku hanya ingin menemaninya selagi bisa. Hanya dia keluargaku yang masih ada.”


              Bon menarik lengan Maha untuk duduk di sampingnya. “Kita semua ada di sini, Kawan,” ujar Bon. “Kita


keluargamu juga. Kau tidak pernah sendirian.”


              Maha tersenyum. Mereka terdiam sambil mengamati proyeksi arus air deras yang turun di depan mereka.


              “Aku sudah menengoknya,” kata Bon. Maha menoleh, mencoba menerka siapa yang Bon maksudkan. “Aku sudah bertemu Ayu di Render.”


              Render adalah penjara bawah tanah di bawah kantor Reppe di bagian utara Trikad. Tidak banyak orang yang pernah dipenjara di sana. Kasus kriminalitas Trikad cenderung berada di antara angka rendah hingga tidak ada sama sekali.


              “Aku turut bersedih, Bon.”


              “Ya, aku…” Bon berusaha menemukan kata-kata yang tepat. “Aku tahu alasannya. Rosi berbicara kepadaku.”


              Maha mengernyitkan dahi. “Rosi?”


              Bon kemudian menceritakan apa yang Rosi sampaikan kepadanya. Mengenai dendam lama, konflik FIGHR dan Menara, serta peran yang dimainkan oleh mereka berdua. Maha menyimaknya dengan serius.


              “Aku sudah bertanya kepada Ayu.”


              “Ayu meminta maaf untuk Mia. Ia tidak menyangka adikmu yang menjadi korban mereka. Emosi sedih yang terlihat kemarin itu sebenarnya karena ia merasa bersalah telah membuatmu hampir kehilangan Mia.”


ujar Bon.


              Maha menggeleng, “Siapapun korbannya, tetap saja itu hal yang salah.”


              “Iya, dia tahu itu,” kata Bon. “Ia mengakui semuanya. Ia bilang mereka mengancam ayahnya yang sengaja dibuat sakit di rumah.”


              “Ia juga mengaku bersalah. Mereka semua sebenarnya memang bersalah. Sidang akan digelar 3 hari lagi di Menara.”


              Mereka kembali berdiam diri. Sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Maha mengulang apa yang terjadi 2 hari yang lalu di dalam kepalanya.


              Beberapa menit setelah listrik menyala, Frian dan dua unit lain datang ke Menara untuk membantu mereka. Tiga Lentipede yang tersisa mati setelah itu. Unit-unit lain berdatangan dan membantu melakukan sterilisasi.


              “Prof. Said bilang LTK sudah berhasil melacak dimana mereka melangsungkan riset itu.”


              “Aku dengar Mikrad terlibat?”


              Maha menggeleng. “Semuanya berasal dari lab lama LTK di pesisir pantai di dekat hutan. Kau ingat ada bangunan di bawah mercusuar? Tempat kita berjemur ketika sekolah dulu?”


              Bon mengangguk. “Aku lupa itu laboratorium lama mereka.”


              “Ya, mereka menggunakan tempat itu. Memanipulasi pemancar sinyalnya sehingga semua terdeteksi di luar Trikad. Di dalam lumbung pemerintahan Mikrad.”


              “Mereka… sengaja mengadu domba kita..”


“Iya. Berbahaya sekali.” Maha menghela nafas lega. “Kita beruntung semua bisa diatasi kemarin.”


              “Rosi berhasil kabur setelah ia mengembalikan jaringan di LTK. Ia pintar bersembunyi,” kata Bon. “Komisaris Roman dan Rosi tidak ditemukan”


              “Anggota mereka yang lain juga tidak. Sebagian besar dewan baru LTK tidak terlihat sejak kejadian itu. Prof. Said yang bercerita.”


              Berhubung Kay sedang dalam perawatan, Prof. Said menghubungi Maha secara berkala. Ia menceritakan progress serum, keadaan di LTK, dan perkembangan kasus ini tanpa Maha minta. Kemudian


Maha teringat sesuatu.


              “Hmm… Bon.. apa kau sudah bertemu Prof. Jery?”

__ADS_1


              “Aku sudah menelfonnya. Dia sedang di rumah. Aku akan menjenguknya setelah ini,” jawab Bon. Maha bersyukur mendengarnya, “Aku lega sekali beliau tidak ikut menghilang. Apa ia tidak apa-apa?”


              “Ya, begitu aku mendengar Prof. Jery terlibat, aku langsung menelfonnya malam itu. Tapi ia tidak apa-apa.”


              Kemungkinan Prof. Jery berhasil bersembunyi. Mungkin Maha juga akan menengoknya nanti bersama Bon. Ia juga belum menjenguk Ayu di Render. Ternyata masih banyak yang harus dilakukan.


              Tiba-tiba Bon tertawa kecil.


              “Ada apa?” tanya Maha heran.


              “Rumit sekali hidup kita selama seminggu ini.”


              Maha tertawa dengan lepas, lebih kencang daripada Bon. “Memangnya kau berharap apa? Kehidupan memang rumit dan terkadang… gila.”


              Suara air menghampas bebatuan terdengar sangat nyata di telinga mereka. Mereka kembali berdiam diri sambil berpura-pura ada di bawah air terjun yang sebenarnya. Lalu gelang Maha dan Bon bergetar bersamaan. Joke mengirimkan sesuatu ke grup mereka.


              Maha melirik Bon. Ia membuka pesan itu. Rekaman hologram Mn. Sito muncul dihadapan mereka.


              “Arahan gawat darurat untuk seluruh Mandala di Geduna: Semua unit yang bertugas di Geduna dirumahkan. Telah ditunjuk beberapa orang untuk mengawasi yang sedang dirawat. Jadwal penjagaan


baru akan diberikan selanjutnya. Jika Anda tidak menerima pesan ini secara langsung, berarti Anda diwajibkan untuk meninggalkan Geduna. Tertanda, Moonasera Sito.”


              Joke mengirimkan pesan,“Palsu. Aku mendapatkan dari Mn. Jana yang bertugas kemarin. Semua orang pergi saat kejadian itu berlangsung di Menara.”


              Bon mengangguk paham. “Pantas saja tidak ada orang yang terlihat di sana. Mereka meretas juga jaringan komunikasi kita.”


              Maha ikut mengangguk. “Mereka sempat membuatku berpikir Mn. Sito adalah bagian dari mereka.”


              “Tapi itu tidak mungkin.”


              “Iya, aku tahu. Aku hanya…” Maha berhenti sebentar. “merasa bodoh sekali pernah berpikir seperti itu.”


              Bon menepuk bahunya. “Kalau kau bodoh, aku ini apa? Jangan menghardik temanmu yang lulus dengan nilai pas-pasan ini.”


              Maha, si peringkat satu sejak sekolah dan lulusan terbaik Geduna, tertawa. “Siapa suruh mengikuti jejakku dan sekolah di sini bersamaku?”


***


              Leno membuka matanya. Ia berbaring menatap langit-langit putih yang ia kenal. Ia melihat ke sekelilingnya, Leno mengenali ini kamar perawatan yang ia tempati beberapa hari belakangan. Ia merasa sedikit sempoyongan. Leno berusaha mengingat-ngingat apa yang terjadi sebelum ia tidur tadi.


              Kakek tua, penembakan, pintu dikunci, berkeliling Geduna yang kosong melompong, lari ke atas Menara, melawan Lentipede….


              Leno menarik satu kesimpulan: mimpinya semalam sangat menegangkan. Bahkan ia bisa mengingat detailnya secara nyata.


              Leno meregangkan tangannya, lalu ia melihat sesuatu di lengannya. Plester putih menempel di dalam sikunya. Ia membukanya dan melihat satu titik hitam kecil, seperti sisah darah yang mengering. Mengapa ia tidak ingat ada yang mengambil darahnya selain Profesor yang ada di mimpinya itu?


              Pintu ruangan terbuka, ia melihat Mn. Joke masuk ke dalamnya. Joke masuk ke dalam ruangan isolasi dan duduk di depan Leno.


              “Apa kabar Lee? Aku tidak menyangka kau siuman secepat ini.”


              “Si..siuman?”


              “Ya.. kau pingsan saat di Menara. Tapi setidaknya tidak ada perburukan yang berarti. Kau tidur hampir 48 jam penuh sejak kejadian itu.”


              Kedua mata Leno membelalak kaget. Kejadian di Menara? Tidur 24 jam penuh? Berarti hal itu benar-benar terjadi…


              “Lee, apa ada masalah?”


              Leno masih cukup syok untuk bersuara. Ia segera menggeleng. Leno merasa malu sekali jika Joke tahu ia menganggap semuanya hanya mimpi.


              Leno menundukan kepalanya, selain merasa bersalah ia juga mengutuk dirinya sendiri. Kenapa dia membahayakan dirinya seperti itu?


              “Tapi kalau kau tidak ada,” Joke menggenggam pundak Leno. “Temanku tidak akan selamat. Jadi, terima kasih.”


              Leno mengadahkan kepalanya. Ia melihat Joke tersenyum dibalik jas hujan itu.  “Terima kasih karena sudah berlaku ceroboh dan.. yah.. melanggar aturan. Tidak, tidak, itu bukan kalimat yang tepat.” Giliran  Joke yang merasa bingung.


              Leno tidak tahu harus merespons apa. Tapi tidak ada yang pernah mengatakan hal itu kepada dirinya. Leno tersenyum dan mengangguk kaku.


              Joke tertawa kecil. Ia melepaskan genggamannya di pundak Leno. “Aku ingin memberitahu sesuatu. Apa kau ingin tahu apa yang terjadi pada Mia?”


              Leno hampir lupa dengan Mia. Ia mengangguk semangat. “Apa yang terjadi? Apa ia sudah siuman?”


              “Belum, tapi kondisinya membaik. Ia sudah setengah sadar sekarang. Mungkin 2 hari ke depan ia sudah sadar penuh.” Kelegaan tergambar dari wajah Leno. Ia tersenyum lebar. “Aku tahu dia akan membaik.”


              “Ya, dan terima kasih kepadamu.”


              “Karena?” tanya Leno bingung.


              “Mia dan temanku, Kayrina, berhasil diselamatkan oleh serum yang berhasil diambil dari darahmu. Prof. Said sudah mengatakannya kepada kami semua kau memiliki apa yang kami cari,” ujar Joke. “Aku juga sudah berbicara kepada ayahmu. Ia setuju untuk melakukan pendonoran serum itu atas namamu.


              “Kemarin Mia sudah diberikan serum tersebut, tidak beberapa lama kesadarannya membaik. Walaupun belum penuh.” Joke tersenyum kepada Leno. “Tapi itu sangat membantu.”


              Leno tidak pernah sebahagia ini. Mia akan membaik sebentar lagi. Leno teringat dengan kakek tua yang Ia tinggalkan kemarin malam, “A..apakah profesor itu baik-baik saja?”


              “Oh, ya. Dia berhasil memanggil kami semua segera setelah listrik dan jaringan stabil. Ia baik-baik saja, hanya sedikit terkilir di kakinya karena itu ia tidak bisa berjalan saat kau pergi meninggalkannya ke Menara.”


              Leno meringis. “Aku.. aku tidak tahu apa yang ku lakukan.. aku merasa kalian benar-benar membutuhkan apa yang ku bawa.. jadi..” Leno menelan ludahnya dan memberanikan diri untuk berkata,


“Aku minta maaf.”


              “Sejujurnya Aku tidak tahu harus bereaksi apa. Tapi kali ini tolong jangan merasa bersalah terlalu dalam. Semua terjadi dengan alasannya.”


              Leno mengangguk. “Jadi.. kapan aku bisa pulang dan menjenguk Mia?”


              “Oh, tentang itu.” Joke berpikir. “Karena kau terkena paparan Lentipede 2 hari yang lalu jadi hitungan isolasi dimulai kembali. Jadi.. 5 hari lagi.”


              “Apa….,” seru Leno dengan kecewa. “Aku sudah menunggu untuk bisa pergi dari sini. Harusnya aku pulang hari ini,”


              Joke tertawa melihat ekspresi Leno. “Yah, jangan pulang cepat-cepat. Nanti kau rindu ada di sini.”


              “Tidak akan. Aku lebih rindu kasurku di asrama.”


              “Atau rindu seseorang di asrama?” tanya Joke mengejek.


              “Ti..tidak.. umm.. ya aku rindu teman-temanku,” jawab Leno.


              “Baiklah. Kau harus beristirahat dulu. Kau bisa mengobrol dengan mereka dari sini kan?”


              Leno mengangguk. Ia tidak menyangka hal ini terulang lagi. Leno memandang lurus ke dinding yang menyimpan televisi besar itu. Ia teringat hal terakhir yang muncul di kepalanya sesaat sebelum tidak sadar.


              “Hmm.. Moonasera aku melihat sepotongan memori lagi di malam itu.”


              “Memori yang sama?”


              “Ya… dan beberapa memori lainnya. Tapi, semuanya terasa berbeda.”


              Leno merasa sedikit gugup. “Aku merasa mengenali mereka. Aku akhirnya bisa mengingat dan mengenal ibuku.”

__ADS_1


              Joke merasa lega. “Oh, itu bagus sekali.”  Kemudian Joke menimbang-nimbang sejenak, “Leno, aku sudah berbicara kepada ayahmu beberapa kali. Sepertinya aku harus mengatakan ini kepadamu.


              “Beberapa hari yang lalu aku mengira Lentipede itu memberikan efek pada sistem saraf mu, terutama di bagian memori. Aku sudah membaca banyak penelitian, laporan, bahkan catatan teori mengenai hal ini.  Sayangnya aku melupakan satu hal.


              “Yaitu bisa saja bukan Lentipede yang menyebabkan kau kehilangan memori itu.”


              “Lalu.. kalau bukan karena Lentipede, karena apa?” tanya Leno dengan bingung.


              “Kau tidak kehilangan memori tentang ibumu beberapa hari yang lalu, kau hanya baru menyadari kehilangan memori itu.”


              Leno nampak tidak mengerti.


              “Lee, kau sudah melupakan ibumu sejak lama sekali. Tapi kau baru menyadarinya.”


              “Ba..bagaimana bisa?”


              “Karena kenangan tentang ibumu begitu menyakitkan. Aku mengetahuinya dari ayahmu. Ia bercerita bagaimana kau menyaksikan kematian ibumu.” Joke menatap Leno dengan haru, “Aku turut berduka…”


              Leno menggeleng, “Aku tidak mengerti..”


              “Tidak apa-apa. Kau tidak harus langsung mengerti. Ini cukup sulit untuk dipahami, bahkan untuk kami sendiri,” kata Joke menenangkan.


              “Ketika kita mengalami stress atau kejadian buruk yang sangat tidak kita sukai, tubuh kita berusaha melindungi dirinya sendiri dari rasa sakit yang lebih jauh. Hal ini disebut mekanisme defensif.


              “Beberapa orang memiliki mekanisme defensif yang matang, seperti mengubah kejadian yang tidak menyenangkan itu menjadi humor atau semacamnya.


              Tapi beberapa orang tidak.”


              “Ada orang-orang yang malah menyalahkan keadaan atas apa yang terjadi pada dirinya, sedangkan ada orang lain yang menyalahkan dirinya atas hal-hal yang bukan kesalahannya. Ada juga orang-orang yang berfantasi mengenai hal-hal yang menyakitkan itu, berusaha berandai-andai bagaimana jika hal itu tidak terjadi padanya.”


              “Lalu ada sebagian orang yang sengaja menghapus memori tentang kejadian itu. seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Dan dalam hal ini, aku yakin itulah yang terjadi pada dirimu.”


              Leno masih kebingungan.


              “Otakmu dengan sengaja menghilangkan memori tentang kejadian itu. Ia membuatmu lupa kalau pernah mengalaminya. Otakmu berusaha melindungi dirimu dari rasa sakit yang berkepanjangan. Itu lah mekanisme defensif yang kau miliki.”


              “Ayahmu bercerita bagaimana kau tidak mau berbicara selama 3 bulan setelah kejadian itu. Ia melihat kau sebagai anak yang berbeda. Dan sangat jauh dari apa yang ia rasakan. Ia kehilangan sebagian dari dirimu…”


              Tidak sadar, air mata Leno menetes keluar.


              “Kau hidup dengan melupakan memori itu, sampai-sampai kau lupa dengan semua hal yang berkaitan dengan kejadian itu. Kau juga melupakan kenangan tentang ibumu.”


              Leno terisak. Ia tidak tahu mengapa kata-kata Joke terasa benar. Joke berhasil membawa sesuatu dalam benaknya yang sudah hilang sejak lama.


              “Ayahmu juga bilang kau sangat jauh dari keluarga. Kau tidak pulang ke rumah beberapa tahun ini ya?”


              Leno mengangguk.


              “Aku tebak karena kau tidak pernah merasa…’pulang’.”


              Leno mengusap air matanya. Ia menatap Joke dan mengangguk. Bagaimana Joke bisa mengetahui apa yang ia rasakan tanpa harus bercerita?


              “Ya, karena kau tidak pernah merasa itu rumahmu. Selain melupakan kenangan tentang ibumu, kau juga lupa kalau itu rumahmu. Kau lupa kalau orang-orang yang tinggal di sana, keluargamu yang masih ada, mereka sayang padamu.”


              Leno terisak semakin keras. Sudah lama ia tidak merasakan sedih yang sedalam ini. Seperti ada yang menggali luka yang sengaja ditutupi di dalam hatinya, terasa perih namun berangsur-angsur membaik.


              “Tidak apa-apa. Menangis itu tanda kau orang yang kuat,” kata Joke tersenyum.


              Leno menyeka air matanya. Masih terisak sedikit tapi ia merasa sangat lega. Ada beban yang sangat berat yang terangkat dari dadanya.


              “Berjanjilah kepadaku kau akan pulang ke rumah setelah ini.”


              Leno mengangguk.  “Bagus sekali,” kata Joke tersenyum lagi. “Nah, nak. Apa yang kau rasakan?”


              “Aku.. aku merasa lega,” jawab Leno sambil menyeka air matanya kembali. Hidungnya sekarang berair dan mampet sebelah. Ia merasakan sesuatu. “Aku senang mendengarnya,” ujar Joke.


              “Dan..”


              “Dan?” tanya Joke.


              “Dan aku lapar sekali.”


              Joke tertawa sambil mengacak-acak rambut Leno dari balik jas hujannya. Ia berkata, “Aku akan mengirimkan makanan untukmu.”


***


‘Mia jelek, aku barusan menjengukmu. Kau belum bisa bertemu denganku, ya. Mereka bilang kau belum bisa diganggu dulu walaupun sudah bangun. Aku sudah selesai dirawat di sini. Mereka sangat baik. Mn. Joke dan Kakakmu sering menjenguk dan membantuku selama aku di sini selama… hampir 2 minggu. Lama juga


yaa.


Cepat sadar penuh ya, Mi. Nanti aku akan ke sini lagi. Balas pesanku kalau kau sudah bisa membukanya.


Semua orang merindukanmu.’


              Leno mengetikkan pesannya sebelum memasukan gelang dx85 itu ke dalam box sterilisasi di lantai -1 Geduna. Semua peralatan pribadi yang digunakan harus dibersihkan sebelum meninggalkan Geduna. Leno mengganti gaun putih yang ia kenakan dengan kaus sablonan SevenG kesukaannya. Bibi Irin membawakan rok pendek yang sudah lama tidak ia kenakan. Untung saja masih muat.


              Leno menunggu gelangnya dibersihkan hingga selesai. Ia segera berlari keluar, menenteng tas ranselnya, dan melompat masuk ke dalam motor terbang ayahnya.


              Leno pulang ke rumah.


              Tidak banyak yang mereka bicarakan sepanjang perjalanan pulang. Ayahnya hanya bertanya beberapa hal seperti sudah makan atau belum, apa ia mau membeli sesuatu untuk di rumah, dan hal-hal lain seputar itu. Leno menjawab bahwa ia sudah makan. Makanan di Geduna sangat enak, ia tidak akan menyia-nyiakan satu porsi terakhir sebelum pulang ke rumah.


              Ketika mereka hampir meninggalkan gerbang barat daya, Ayahnya menekan tombol di tengah layar sepeda motor. Dua buah roda karet keluar dari dalam motornya. Jalanan di luar pusat kota tidak aliri arus listrik untuk membuat kendaraannya mengambang di udara.


              Mereka berbelok ke utara dan mengitari tembok besar Trikad di sebelah kanannya. Rumah Leno dan ayahnya terletak di Dante sebelah Barat Daya Trikad. Bukan rumah yang besar seperti rumah Mia di perumahan Jati, di sisi Timur Trikad.


              Leno melompat turun dari motor ayahnya. Ia memandang rumahnya beberapa saat. Rasanya memang sudah lama, ia tidak berada di tempat ini.


              “Ada apa?” tanya Ayahnya. Ia sudah selesai memarkirkan motor di garasi samping rumah. Leno menggeleng. “Tidak ada apa-apa.” Leno menghampiri pintu rumah yang tertutup di hadapannya. Ia menekan


kelima jari tangan kanan pada pemindai sidik jari.


              Suara robot wanita muncul dari dalam pemindai, ‘Halo, Leno!’


              Leno tersenyum kecil. Rumah ini, tentu saja, masih mengingat Leno. Pintu rumah itu menggeser secara otomatis. Apa yang menunggunya di dalam rumah ternyata jauh dari apa yang ia bayangkan.


              “WELCOME HOME LENOOOOOOOOOOO!!!!” jerit Amber dan Niken bersamaan. Sept, Dika, dan Jaffray juga ada di sana. Mereka semua memakai kaus warna merah muda senada. Mereka menghias ruang tamu Leno dengan balon-balon helium serta pita warna-warni, seperti pesta ulang tahun anak balita. Sept membawa setumpuk pizza daging di tangannya. Jaffray dan Dika mengenakan bandana putih bertuliskan: Selamat Datang, Pahlawan!


              Leno tidak bisa berkata-kata sangking terkejutnya. Ayahnya masuk sambil merangkul Leno. “Aku tidak tahu kau punya teman sebanyak ini.”


              Leno menggeleng, “Aku juga tidak tahu.”


              Mendengar itu, Jaffray dan Dika tertawa kencang sekali. Spontan, Amber mencubit perut Jaffray. Niken ingin ikut tertawa tapi ia urungkan niatnya setelah melihat Jaffray meringis kesakitan. Sept tersenyum kepada Leno, entah mengapa kegembiraan Leno bertambah berkali-kali lipat saat melihat wajah Sept.


              Leno melihat sosok wanita tua duduk di kursi belakang mereka, Ona dengan bandana ungunya sedang duduk tersenyum melihat mereka semua.


              Dalam hati Leno berkata, mungkin memang apa yang dikatakan Joke benar, sudah saatnya Leno kembali pulang.

__ADS_1


__ADS_2