
Leno duduk mematung di tempat tidurnya. Ia merasa tidak nyaman. Sekarang pukul 7 di pagi hari dan ia tidak tidur semalam. Kepalanya pusing dan berdenyut menyakitkan. Leno sudah berkali-kali mencoba untuk tidur tapi yang terjadi tidak lebih dari mata yang terpejam. Pikirannya berlarian kemana-mana. Semua pertanyaan, perasaan, kecemasan, dan kilatan-kilatan bayangan menghantui kepala Leno sejak kemarin ia bertemu Joke.
Dinding di sisi kanannya terbuka. Nampan putihnya sekarang berisi 1 mangkuk bubur dan segelas susu. Leno memperhatikan makanan itu. Harusnya ia merasa lapar sekarang. Tidak ada selera makan walaupun ia belum menghabiskan makanannya sejak tadi malam.
Leno menaikan kakinya ke atas tempat tidur. Ia menekuk kedua lutut dan membenamkan kepala ke dalamnya. Rambut panjang Leno terurai menutupi sebagian tubuh dan kakinya. Rasa sakit dikepalanya sedikit menghilang. Leno memeluk erat tubuhnya sendiri.
Apa yang terjadi padaku? batin Leno.
Tanpa sadar, kedua matanya terpejam. Ternyata sejak tadi matanya lelah dan perih sekali. Membenamkan seluruh wajahnya di dalam tubuhnya sendiri membuat Leno merasa lebih nyaman. Kemudian sekelebat bayangan itu kembali muncul di dalam kepalanya.
Kali ini Leno melihat wanita itu di sebuah rumah yang nampak familiar. Tapi itu bukan rumahnya. Wanita itu menggeser meja makan besar di sebuah ruang makan dengan tergesa-gesa. Leno melongok ke atas, Bibi Irin menggenggam tangannya. Ia juga sedang menggendong bayi. Mereka semua nampak tidak tenang.
Di bawah meja itu, terdapat karpet merah tebal. Wanita itu menggeser karpet dan mencari-cari sesuatu di lantai. Ada sebuah gagang yang menempel dengan lantai. Ia menariknya ke atas. Sebuah ruangan kecil untuk 2 orang dewasa terbuka di hadapan mereka.
Wanita itu berkata sesuatu tapi Leno tidak bisa mendengarnya. Ia menggandeng tangan Leno dan menuntunnya ke dalam ruangan kecil itu. Bibi Irin dan si bayi ikut digiring bersama Leno.
Ruangan itu tidak terlalu sempit. Leno bisa duduk dan berdiri di sana. Wanita itu menutup pintu yang ada di atap mereka. Sesaat ruangan menjadi gelap gulita. Kemudian beberapa garis cahaya masuk dari pintu itu, ada celah-celah kecil yang sengaja dibuka untuk cahaya masuk dan memungkinkan mereka mengintip keluar.
Wanita itu menunduk di dekat garis-garis celah. Leno bisa melihat wajahnya dari dekat. Ia mengatakan sesuatu tapi Leno tidak bisa mendengarnya.
Lalu Leno berteriak, “Jangan pergi, Ibu!!”
Leno tersentak. Ia tersadar dari mimpinya. Leno mengangkat kepalanya dengan bingung. Ibu?
Wanita itu adalah ibuku?
Kepala Leno sekarang berdenyut-denyut hebat. Ia menjambaki rambutnya sendiri. Sakit sekali.
Mikrofon di ruangan Leno mengeluarkan suara, “Lenolea, apakah kau baik-baik saja?”
Leno berhenti menjambaki rambutnya yang sekarang sudah kusut dimana-mana. Ia menekan dinding di belakangnya. “Kepalaku sakit sekali.”
“Apa kau merasa mual atau muntah?”
“Tidak.”
“Apa kau sudah meminum obatmu?”
Leno menggeleng. “Belum.”
“Baik, sekarang atur nafasmu dulu. Lalu minum obat yang ada di mejamu. Apa sarapanmu sudah habis?”
“Belum.”
“Baik, silahkan makan dulu. Atau apakah kau butuh seseorang ke ruanganmu sekarang?”
“Apakah Moonasera Joke di sana?” tanya Leno spontan.
“Um.. tidak. Ia sedang tugas di ruangan lain.”
“Kalau begitu aku baik-baik saja. Terima kasih.”
“Oke, minum air putih jika kau merasa cemas. Cobalah untuk makan.”
Leno mengangguk. Ia menjauhkan tangannya dari dinding. Leno menarik nafasnya dan menghitung satu sampai lima, seperti yang Joke ajarkan kemarin. Leno kembali duduk di kasurnya. Sakit kepalanya sedikit berkurang.
Ia merangkak di atas kasur dan menjatuhkan kepalanya di atas bantal. Leno berbaring menatap langit-langit putih yang juga balik memperhatikannya kembali. Leno mencoba mengingat kembali bayangan yang muncul tadi. Ia yakin ia memanggil wanita itu dengan kata Ibu. Tapi, mengapa ia tidak ingat apapun tentang wanita itu?
Kecemasan mulai menghampiri Leno kembali. Ia menggelengkan kepalanya. Tidak, aku harus bisa menguasai diri, batin Leno.
Ia kembali mengatur nafasnya. ia kembali tenang. Jadi, sampai mana tadi? Oh ya, siapa wanita itu.. Ibunya? Mengapa ia tidak bisa mengingat apapun tentang ibunya atau wanita itu sebelumnya? Tidak ada hal yang bisa mengkonfirmasi hal tersebut karena ia memang tidak ingat apapun…
Leno mengingat-ngingat apa yang Joke katakan kemarin, bisa saja ini efek Lentipede yang menyerangnya. Tapi Leno idak pernah tahu mengapa bisa seperti itu. Kalau saja Mia ada di sini ia bisa memberi penjelasan untuk Leno.
Mia..
__ADS_1
Mn. Joke bilang Mia tidak bisa dihubungi dulu, menjawab pertanyaan Leno mengapa ia bisa mendapatkan gelangnya namun Mia tidak menjawab satupun pesan atau menelfon kembali.
Mungkin mereka mau Mia istirahat dulu, batin Leno.
Setelah 7 hari, Leno berjanji akan mencari Mia di ruang perawatannya. Dan semoga sebelum itu, Mia sudah bisa menghubunginya kembali.
Leno kembali menatap langit-langit. Mencari-cari serpihan memori lain yang bisa ia panggil kembali.
Terutama tentang ibunya. Ibu yang melahirkannya, yang membesarkannya, yang tentu saja harusnya sayang padanya. Mengapa tidak ada apapun yang ia ingat tentang hal itu?
Perasaan lain sekarang muncul di dalam hatinya. Leno merasa.. sedih. Kalaupun wanita itu benar-benar ibunya mengapa ia tidak mengenalinya sejak awal ia mendapat bayangan itu? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepalanya? Ia tidak tahu apa yang ia tidak tahu. Semuanya menjadi kumpulan benang yang sangat kusut di benaknya.
Selang beberapa menit, gelang dX85 Leno bergetar. Ada panggilan masuk namun tidak ada identitas yang tertera. Sepertinya profil baru. Leno menimbang-nimbang apakah ia sebaiknya menjawab panggilan itu sekarang atau tidak. Ia sebenarnya sedang tidak ingin berbincang selain dengan Mn. Joke yang merawatnya. Setelah beberapa detik, akhirnya Leno mengusap layar di gelangnya.
“Lenolea?”
“Halo, maaf saya tidak menyimpan ini nomor siapa,” jawab Leno dengan cepat
“Ini aku, nak. Giona.”
“Ona?” tanya Leno setengah tidak percaya.
“Ponselku rusak 3 hari yang lalu. Aku menggunakan ponsel baru sekarang. Bagaimana kau di sana?”
Leno hampir menangis mendengar suara Ona. Ona tidak muncul sebagai hologram, Leno tidak dapat melihat wanita tua itu secara langsung.
“Aku.. aku baik.. sepertinya,”kata Leno sedikit terisak.
“Sayangku, aku sangat khawatir! Aku menelfon ayahmu, dia berkata kau sedang dirawat di Geduna. Lalu aku melihat berita dan mereka bilang korban serangan sekarang sedang dalam kondisi kritis. Aku takut terjadi padamu..”
Leno menelan ludahnya dengan tegang. Ia kembali teringat Mia. Tapi, ia tahu Ona mengatakan hal itu karena ia sedang khawatir pada Leno.
“Aku baik-baik saja, Ona. Tenanglah.”
“Syukurlah. Apa kau makan dengan baik? Kamarmu nyaman?”
“Yah, memang menyedihkan,” jawab Ona. “Banyak sekali petugas yang datang dan menutup Jalan 56. Aku diminta untuk pindah ke rumah saksi sementara waktu mereka membersihkan rumah.”
“Rumah saksi?” tanya Leno bingung.
“Iya, rumah yang dibuat untuk saksi kasus ketika Reppe sedang mengusut mereka hingga putusan pengadilan. Aku juga ditanya beberapa hal berhubung Kerdina sedang bekerja denganku.
“Mereka melakukan interogasi yang cukup lama dan dalam, seperti apa yang ia lakukan pada malam hari itu, mengapa ia tidak di dalam rumah. Dan hal-hal lain. Aku masih bersedih untuk mengingatnya…
Aku juga harus mengabari orang tuanya yang tinggal di luar Trikad. Beruntung pekerja lain…”
“Sebentar Ona, Kerdina?” potong Leno karena bingung.
“Iya, aku sangat kehilangan gadis itu. anak yang baik. Hanya beda beberapa tahun di atasmu.”
Leno tersentak. Kerdina Jose, korban wanita itu. Tentu saja Leno familiar dengan namanya. Ia bertemu
perempuan itu sehari sebelumnya, saat Leno berkunjung ke pusat hari Minggu lalu.
“Aku turut berduka, Ona. Harusnya aku langsung tahu,” ucap Leno sepenuh hati.
“Tidak apa-apa. Sekarang yang penting kau baik-baik. Mendengar suaramu membuat hatiku tenang,”
jawab Ona menenangkan. Leno tersenyum. “Aku juga.”
Leno merasa sangat lega mendengar suara yang familiar di telinganya. Ia hampir melupakan Ona karena kejadian beberapa hari ini. Leno teringat sesuatu, ia memutuskan bertanya pada Ona. “Ona, apa kau bisa bercerita sedikit?”
“Cerita apa, sayang?” tanya Ona.
“Cerita… tentang ibuku,” ujar Leno sedikit pelan.
__ADS_1
“Latifa? Oh baik, apa kau rindu dengannya?”
Latifa… Nama itu menyentil sesuatu di kepala Leno. Ia mencoba mengingat kembali, tapi tetap tidak menemukan apa-apa.
“Ya, begitulah,” kata Leno dengan ragu.
“Aku juga, sayang, aku sangat merindukan perempuan itu. Ia gadis yang sangat baik.” Ona mulai bercerita.
“Aku bertemu dengannya ketika Lentipede menyerang suamiku di halaman belakang rumahku yang lama. Banyak sekali makhluk hitam kecil itu yang mengejar Ari. Aku sangat panik dan menekan tombol darurat.
Aku tidak tahu berapa lama, tapi bantuan segera datang. Aku sudah panik sekali… aku tidak tahu harus berbuat apa..
Kemudian mereka menolong Ari. Memberikan pertolongan dan sebagainya, tapi kau bisa menebak bagaimana akhirnya, sayang..”
Ona menghentikan kalimatnya. Ia terdiam beberapa saat. Leno bertanya,”Apa Ia selamat?”
“Tidak,” jawab Ona. “Aku sudah ada diujung kegelisahanku, memikirkan bagaimana aku bisa hidup tanpa Ari. Aku kira aku lebih baik menyusulnya pergi. Tapi, ternyata tidak.”
Leno mendengar isakan dari sisi Ona. “Aku turut berduka.”
“Oh, itu sudah lama, nak. Tidak apa-apa.” Leno tahu wanita itu sekarang sedang tersenyum di balik telfonnya.
“Aku bisa bertahan karena ibumu datang. Ia duduk di sampingku, mendengarkan ceritaku, dan menemaniku hingga pemakaman.”
“Aku tahu itu bukan bagian dari pekerjaannya tapi ia tetap melakukannya. Dan hal setulus itu, tidak akan ku temui dengan mudah di sudut-sudut kota Trikad.”
Mereka kemudian terdiam lagi. “Nah, sejak saat itu aku berkawan baik dengan ibumu. Ia dan kau sering datang ke rumah baruku. Terutama ketika ia hamil adikmu.”
Leno tersentak, “Oh ya? Ia membawaku ke rumahmu?”
“Tentu saja! Kalau ia tidak pernah mengajakmu bagaimana kau bisa tau rumahku sekarang?”
Leno termanggu. Ia kembali merasa bingung. Semua yang ia tahu sekarang menjadi kepingan puzzle yang tidak lengkap. Ia merasa banyak sekali hal penting yang tidak Leno ingat.
”Nak, apa kau masih di sana?” panggil Ona. Leno menyahut cepat. “Iya, Na, tapi aku…” Leno memandang ke sekeliling ruangannya. Ia dilanda kebimbangan yang hebat. “Mereka akan datang memeriksaku sekarang. Aku akan menelfonmu lagi, Na,” kata Leno berbohong.
Kemudian Leno menutup panggilannya. Ia merasa lemas dan bingung. Sesaat yang lalu ia masih senang setelah mendengar suara Ona, wanita tua yang menyayanginya. Tapi setelah mendengar cerita tentang Latifa, Leno kembali merasa cemas. Bagaimana ia tidak ingat dengan itu semua?
Kepalanya kembali berdenyut menyakitkan. Kali ini cahaya lampu membuat sakitnya menjadi lebih parah. Leno membenamkan kepalanya ke dalam bantal. Ia tidak tahu apa yang harus dipikirkan sekarang.
Leno mengulang percakapannya dengan Ona tadi. Serangan pertama di Jalan 56, Kerdina, cerita tentang Latifa…
Percakapan tentang Jalan 56 membuat Leno teringat sesuatu. Pemandangan pusat kota. Grafiti indah di dinding-dinding jalan. Berbagai toko pernak-pernik. Ia memejamkan mata, mengulang kembali memori indah tentang pemandangan kota.
Cahaya matahari warna merah jingga yang tenggelam perlahan, lampu-lampu utama yang menyala dari Menara Trikad, hologram Neena yang hilang timbul di tengah kota, lampu-lampu jalan dan trem yang begitu cantik diilihat dari kejauhan.
Tiba-tiba ia rindu untuk berada di luar. Hari-hari di kamar ini terasa sangat menyebalkan. Dengan mengesampingkan apa yang ia rasakan sekarang, Leno cenderung kesal dan bosan di saat yang
bersamaan. Pikiran-pikiran ini membuat kepalanya yang tadinya membaik sekarang kembali berdenyut lagi.
Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kepalanya penuh sekali. Empat hari yang lalu ia hanya anak sekolah biasa yang sangat ingin pergi dari kotanya yang sempurna. Sekarang untuk keluar dari kamar saja tidak bisa.
Leno menarik nafas panjang. Berusaha kembali berpikir. Atau sebaiknya ia tidak usah berpikir saja?
Leno membalikan badannya. Sekarang wajahnya menatap langit-langit kembali. Gelangnya bergetar satu kali, ada pesan masuk dari Bu Denia. Ia membukanya.
“Halo, Lee? Apa kabar, jagoan? Apa kau membaik di sana?”
Leno sedikit terkejut melihat foto wajah Bu Denia dan Fino yang terpampang di ruang cakap mereka. Leno berusaha mengetik sesuatu untuk menjawab, tapi ia bahkan tidak ingin dan tidak tahu harus membalas apa-apa. Melihat foto mereka berdua justru mengingatkan Leno ke musim liburannya 1 minggu yang lalu. Leno merasa jahat mengabaikan pesan Bu Denia, tapi ia tidak bisa menjawabnya sekarang.
Kebimbangan dan keengganan ini adalah hal yang baru untuk Leno. Belum pernah ia merasa seaneh ini. Semua emosi dan perasaan membuatnya merasa kewalahan. Belum lagi pikiran-pikiran yang terus menghantuinya dan mencetuskan serangan cemasnya kembali.
Ketika Leno memutar badannya ke sisi kanan, perutnya tiba-tiba berbunyi meminta perhatian. Sekarang ia baru merasa lapar. Leno menolehkan kepalanya, mangkuk dan gelasnya masih terisi penuh. Leno juga belum meminum obatnya lagi. Ia kembali menatap langit-langit, rasanya berat sekali untuk mengangkat kepalanya lagi. Tapi entah mendapat pikiran darimana, Leno berpikir masalah apapun yang ia hadapi tidak akan selesai dengan menolak makan walaupun ia lapar. Leno menghembuskan nafas kencang.
Ayo bangun Lee, kau harus tetap baik-baik, tekad Leno.
__ADS_1
Leno duduk tegak dan turun dari kasurnya. Ia menarik kursi terbang yang ada di pojok ruangan dan menaruhnya di hadapan nampan putih berisi sarapannya itu. Leno menatap nampannya dan mencoba makan perlahan. Di antara semua hal rumit yang terjadi dalam hidupnya, Ia bersyukur bubur itu enak sekali.