Mandala

Mandala
Kecurigaan


__ADS_3

              “Tidak diangkat. Pasti sudah tidur.”


              Ayu mengusap gelangnya kembali dan menoleh ke Frian. Mereka sedang berada di gerbang timur yang didominasi bebatuan. Gerbang ini dijaga oleh Ayu dan satu unit Mn. Andri. Frian menghampiri Ayu untuk mengambil peralatannya yang dititipkan ke mobil milik Bon, yang dipakai Ayu. Namun kenyatannya tidak begitu.


              “Aku tidak menyangka kalian bisa bertukar kendaraan tanpa sadar,” ujar Frian datar. Walaupun tanpa ekspresi, Ayu tahu Frian sedang kesal. Wajahnya selalu terlihat dingin dan menyeramkan, seperti es batu.


              “Ya, mungkin karena aku keseringan mengisi ulang baterai mobil Bon,” kata Ayu lagi.


              “Tapi, aku menaruh peralatan dan baju gantiku di sana,” kata Frian


              “Pakai bajuku dulu,” kata Ayu menawarkan.


              “Aku tidak mau pakai rok saat pulang,” kata Frian.


              Ayu melipat tangannya dengan heran. “Kau kan juga wanita. Masa tidak pernah pakai rok.”


              “Pernah, dan aku tidak mau lagi,” jawab Frian dengan lebih dingin.


              “Ya sudah aku carikan dulu di Geduna.” Ayu mengusap gelang t95 miliknya untuk memanggil mobil Bon datang menjemput.


              Frian menggenggam lengan Ayu dengan cepat. Ayu terkaget. Frian kembali berkata, “Tidak perlu. Aku hanya kesal saja.”


              “Dasar,” umpat Ayu sambil menyipitkan kedua matanya. Ia melihat Frian tersenyum kecil. Kesempatan yang langka sekali melihat teman-super-dingin-dan-seram itu tersenyum di depannya.


              Mereka terdiam beberapa saat. Ayu juga tidak berkata apa-apa lagi. Sesuatu kembali mengusik pikirannya. Frian memerhatikan hal itu.


              “Ayu,” kata Frian memanggil.


              Butuh beberapa detik bagi Ayu untuk menyadari Frian sedang berbicara kepadanya. “Ya. kenapa?”


              “Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu,” kata Frian lagi. Tatapannya masih kaku namun tidak lagi dingin. Tatapan yang membuat orang lain merasa harus menjawab apa yang ia katakan.


              Ayu sedikit terkejut. Ia menyisirpelan rambutnya. “Yah, aku hanya capek. Aku belum menyentuh kasur dalam 2 hari ini.”


              Frian mengangguk mengerti. “Iya, sistem penjagaan ini membuat kita kelelahan.”


              “Nah, kan kau juga. Apa aku minta Maha untuk menyampaikannya ke Mn. Sito ya?” tanya Ayu.


              “Iya. Ide bagus,” jawab Frian. Kemudian keheningan kembali di antara mereka. Namun Frian merasakan masih ada kejanggalan pada Ayu.


              “Tapi di luar itu semua, apakah kau baik- baik saja?” tanya Frian lagi.


              Ayu sudah tidak sekaget tadi. Ia menjawab, “Iya.  Aku tidak apa-apa.”


              “Masih kepikiran adikmu lagi?”


              “Sedikit.” Ayu menegakkan kepalanya dan tersenyum. “Tapi itu sudah bukan masalah. Aku tidak boleh larut terlalu lama.”


              Ayu berjalan menjauhi Frian. Frian mengetahui temannya berbohong karena jelas Ayu tidak baik-baik saja. Namun, sebelum Frian menyusul Ayu, lambang bulan sabit di rompi mereka berdua berpendar. Maha memanggil.


              Ayu menoleh ke arah Frian dan menekan lambang mereka bersamaan. Hologram Maha muncul di depan mereka berdua. “Aku perlu satu orang dan satu unit untuk menyusuri hutan siang ini. Mn. Sito


mendapat perintah langsung dari Neena.”


              “Aku bisa pergi,” ujar Frian.


              “Tidak, aku saja. Frian tidak perlu kotor biar gak usah ganti baju nanti malam,” tukas Ayu dengan cepat.


              “Kau mengada-ngada,” kata Frian dengan nada datar yang sama.


              “Aku saja, aku bosan berjaga di sini,” pinta Ayu kepada kedua temannya.


              “Benar-benar alasan yang sangat valid,” kata Frian.


              “Kau ‘kan lebih tahan bosan daripada aku. Maha aku ikut, Unit Mn. Anja akan ku kabari,” kata Ayu. Maha tertawa kecil melihat kedua temannya. “Oke. Kabari mereka, Yu.”


              Frian menyadari tidak ada suara anggota lain selain mereka bertiga. “Dimana Joke?”


              “Ia masih mengurus Leno di Geduna. Tadi dia bilang padaku,” jawab Maha. “Nanti dia akan menemanimu setengah jam lagi.”


              Frian dan Ayu mengangguk. Frian bertanya, “Maha, apa yang mengarahkan kecurigaan Neena ke hutan?”


              “LTK menganalisa kemungkinan darimana mereka muncul dan juga, Kay bilang mereka melihat sebagian Lentipede meloncat dari dalam hutan. Neena hanya ingin memastikan.”


              “Kau bawa peralatan lengkap, kan?” tanya Ayu.


              “Iya, sebaiknya kau juga, Yu.”


              “Baik. Bawa gada keren itu, Maha,” ujar Ayu sambil tersenyum jahil.


              “Aku akan tetap keren dengan atau tanpa membawa gada apapun,” kata Maha, berpura-pura serius. “Tapi, terima kasih pengingatnya.”


              Hologram Maha menghilang dari rompi mereka berdua. Ayu dan Frian sama-sama mengernyitkan dahi. “Aku lupa kenapa dia bisa jadi pemimpin unit kita,” kata Ayu meledek.


“Aku juga,” balas Frian dengan datar.


***


              Hutan kiri Trikad merupakan daerah perbatasan yang sudah tidak dinaungi kubah langit Trikad. Walaupun masih merupakan daerah Trikad secara legal, Trikad membebaskan jika ada satu atau dua penduduk lain yang ingin bermukim di sana. Beberapa penduduk pernah singgah, tapi tidak untuk waktu yang lama. Selain dipenuhi satwa dan tanaman yang sudah berevolusi mengandung racun, bersebrangan dengan tembok Trikad yang menjulang tinggi membuat mereka lebih baik menginap di hotel di dalam pusat kota yang sering memberi kamar gratis bagi tuna wisma.


              Hutan ini terletak di luar gerbang utama. di sisi kiri pantai Trikad, yang juga sudah tidak dilindungi kubah


penyaring sinar UV. Pantai Trikad memiliki banyak karang besar. Kota Durjad berhasil membantu Trikad dengan menyulap setengah karang tersebut menjadi dermaga, landasan helikopter, dan bandara mini yang sekarang sunyi senyap karena 4 hari tidak beroperasi. Tidak jauh dari dermaga terdapat mercusuar tua yang sudah tidak beroperasi. Sebuah bagunan berpintu besi yang sudah berkarat berdiri persis di bawah mercusuar. Tidak semua orang mengetahui itu adalah laboratorium lama sebelum LTK dibangun.


              Dari depan gerbang utama, keluar jalur trem yang membelok ke hutan Trikad lain di sebelah kanan gerbang. Jalur trem menghubungkan gerbang utama dengan kompleks edukasi dasar FIGHR yang sedikit terlihat di kejauhan. Hutan kecil sisi kanan masih dilindungi kubah langit Trikad yang sekaligus mencakup keseluruhan area FIGHR.


              Maha dan satu unit Mn. Wira sedang menunggu di depan gerbang utama. Semua mengenakan rompi putih dan celana denim yang sama. Beberapa Mandala terlihat membawa parang, golok besar, senapan, dan


busur panah. Maha sendiri membawa gada besarnya di punggung.


              Ayu dan satu unit lain keluar dari gerbang utama dan berkumpul bersama Maha.


              “Halo, ketua,” sapa Ayu.


              “Hai,” ujar Maha  sambil tersenyum. Satu orang pria berambut hitam pendek dan berbadan besar, tapi tidak sebesar Maha, menyapa Maha secara dengan hormat.


              “Ketua,” katanya sambil menundukan kepala.


              Maha balas menunduk juga. “Moonasera Andri.”


              Andri, walaupun seumuran dengan Maha, nampak lebih tua dan kaku. Membuat seluruh unit jadi bersikap formal ketika bertemu dengannya.


              Maha menatap kedua unit serta pimpinan mereka satu persatu. Semuanya berhenti berbicara ketika menyadari sedang diawasi oleh Maha. “Oke, semuanya sudah berkumpul. Aku akan memulainya.”


              Seluruh anggota membentuk lingkaran di samping Maha. Kemudian Maha memulai. “Berdasarkan laporan Mn. Kay, sebagian Lentipede terlihat muncul dari hutan sebelum bertolak menyerang FIGHR.


Neena meminta kita untuk melakukan pengecekan menyeluruh di dalam hutan. Cari bukti infeksi, inang-inang yang mencurigakan seperti bangkai hewan dan semacamnya di dalam sini. Aku akan memberi waktu selama 2 jam sebelum kita kembali ke titik ini, atau titik selanjutnya jika ada perubahan.”


              “Tetap nyalakan komunikasi. Tidak ada yang boleh terputus. Apa semua membawa peralatan masing-masing?” Seluruh kepala mengangguk serius. Beberapa menjawab “Ya.”


              “Aku berharap kita tetap berhati-hati. Lentipede raksasa dengan jumlah yang besar selama 2 hari


berturut-turut jelas bukan hal normal yang terjadi selama ini. Kemungkinan bisa membaik atau lebih buruk dari ini.” Maha menatap mereka satu persatu sebelum melanjutkan.


              “Jika memang kalian menemukan hal baru yang mencurigakan, langsung laporkan.”


              “Bisa jadi kita semua bertemu Lentipede raksasa itu lagi di dalam sana, karena itu tetap waspada.” Maha mengangguk-angguk kecil. “Apa ada pertanyaan?”


              Beberapa orang bertatap-tatapan dan sedikit berisik. Tapi, tidak ada yang bertanya pada ketua mereka. Melihat situasi ini, Maha melanjutkan. “Mn. Sito akan menyusul beberapa menit lagi. Ia masih mengurus sesuatu di Menara.”


              “Oke kalau begitu, pembagiannya seperti ini.”


              Maha mengusap gelangnya. Proyeksi seluruh wajah anggota dan pemimpin mereka muncul dari gelang t95 Maha. Ia mengelompokan mereka menjadi 3 bagian, 2 untuk hutan kiri dan 1 untuk hutan kanan. Semua memencar sesuai tempatnya masing-masing.


              “Aku kira, aku akan dipecah ke kelompok lain,” ujar Ayu. Ia dan Maha memimpin sebagian unit Mn. Wira di bagian utara hutan kiri. Di sini, pohon-pohon besar mendominasi hutan. Beberapa sudah berusia lebih lama dari Trikad. Akar-akar mereka menjulur keluar dan memblokir jalan para Mandala setinggi hampir 1 meter. Di sini, cahaya matahari siang tidak terlalu menyengat kulit mereka. Suhu musim panas terasa lebih sejuk di antara


tumbuhan dan jamur-jamur besar yang mengelilingi mereka.


              “Andri terlihat lebih meyakinkan.” Maha mempercepat langkahnya sehingga Ayu tertinggal beberapa langkah di belakang.


              “Kau menyebalkan,” kata Ayu menggerutu.

__ADS_1


              “Memang,” jawab Maha dengan nada jahil.


              Mereka menyusuri setiap undakan yang terbentuk dari dahan-dahan besar dan akar pohon tua. Beberapa kelinci hutan melintas di hadapan mereka. Suara kicauan burung menemani penjelajahan mereka yang masuk semakin dalam ke hutan.


              Maha memelankan langkahnya lagi. Ia sekarang kembali sejajar dengan Ayu. “Ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan.”


              Ayu menoleh. “Tentang apa?”


              “Apa Bon pernah bercerita?” tanya Maha lagi.


              “Tentang apa dulu?”


              “Tentang serangan ini.”


              Ayu menghentikan langkahnya. Wajahnya nampak sedikit tegang. “Apa yang kau ketahui?”


              “Yah, memang agak aneh bukan. Memangnya menurutmu…” Maha menyadari Ayu menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang. Sedikit ketegangan di wajahnya sempat terlihat oleh Maha. “Memangnya apa yang harusnya ku ketahui?”


              Ayu mebuat senyuman paksa. Terlihat ia berusaha menghilangkan ketegangan pada dirinya.  “Aku hanya bertanya.”


              “Tidak.. aku hanya merasa aneh saja. Tiba-tiba Lentipede berubah menjadi raksasa. Apakah itu bukan sebuah kebetulan?” selidik Maha.


              “Iya, itu mengejutkan.” Ayu kembali melangkah menyusul Maha. “Tapi alam sudah lama bermain-main dengan kita. Jadi kemunculan hal baru bisa terjadi kapan saja,” jawab Ayu, kembali ke nada suaranya yang biasa.


              “Hmm.. benar juga,” ujar Maha.


              Mereka terhalang satu lagi undakan tinggi yang merupakan akar pohon besar setinggi satu meter. Maha dan Ayu melompat bersama-sama, diikuti dengan anggota unit lain di belakang mereka. Belum nampak hal yang mencurigakan.


              “Bon belum bilang apa-apa. Memangnya apa yang ia katakan padamu?” tanya Ayu.


              Maha tidak langsung menjawab. Ia menimbang-nimbang sejenak.


              “Setelah kupikir-pikir, tidak terlalu banyak yang sudah ia katakan. Bon curiga mengapa aku dan Joke selamat 2 hari yang lalu. Mereka besar sekali.”


              “Ooh,” ujar Ayu. Maha menangkap sedikit kelegaan muncul dari wajahnya. “Iya, dia bilang begitu. Dia kagum pada kalian. Sepertinya penggemarmu bukan hanya mahasiswi sekarang.”


              Maha tertawa. “Mahasiswi masih anak-anak. Aku tidak tersanjung jika itu niatmu berkata barusan.”


              Ayu tertawa, lalu kembali berkata. “Bon tidak bilang apa-apa kepadaku. Mungkin karena kita terlalu sibuk.”


              Maha mengangguk mengiyakan. Mereka kembali menelusuri hutan. Mengecek di setiap cekungan akar, lubang besar di dalam batang pohon mati, dan tempat-tempat yang potensial sebagai tempat bangkai.


              Gelang t95 Maha bergetar. Mn. Sito mengirimkan pesan. Ia sudah membaca pembagian tim yang dikirimkan Maha dan mengikuti Mn. Andri yang menelusuri hutan kanan.


              “Bagaimana Mia?” tanya Ayu lagi.


              “Masih sama. Belum ada tanda-tanda perbaikan,” jawab Maha tanpa menoleh. Lebih banyak lagi akar-akar pohon besar di depan mereka. “Tapi setidaknya stabil. Dan ku harap terus begitu.”


              Mereka kembali melompati akar pohon besar. “Sebentar lagi akan membaik,” ujar Ayu.


              Tiba-tiba Maha berhenti. Ia memandang Ayu. “Mengapa kau bilang begitu?”


              Ayu mengangkat bahunya, sedikit heran. “Aku hanya berdoa. Sebuah harapan.”


              “Tapi, kalau menilik kasus lain, kemungkinan sembuhnya sangat kecil. Aku sangat bersyukur Mia masih punya nafas spontan sekarang, walaupun masih membutuhkan bantuan ventilator.”


              “Hmm.. kau orang yang beruntung. Mia juga.” Ayu menghampiri Maha. Sekarang mereka berdiri dengan sejajar.


              Ekspresi Maha melunak. Ia tertawa kecil. “Diserang Lentipede nyatanya sudah jadi sebuah keberuntungan.”


              “Aku tidak bermaksud begitu!” kata Ayu sedikit berteriak.


              Maha tertawa. “Aku bercanda.”


              “Tidak lucu,” kata Ayu ketus.


              “Kau yang lucu.” Maha masih tertawa melihat wajah temannya yang begitu lucu saat marah.


              “Aku akan mengadu.”


              “Pada siapa? Bon? Dia masih tidur sekarang.”


              “Kau tahu sekali dengan Bon,” kata Ayu sambil melirik Maha..


              Ayu sekarang nampak canggung. Ia


menjawab, “Aku tidak akan mengadu pada Bon. Aku akan bilang ayahku.”


              Mereka berdua kembali sama-sama diam. Kemudian Maha teringat perkataan Kay semalam. “Apa ayahmu baik-baik saja?”


              Ayu terkejut sesaat setelah mendengarnya tapi Ia kembali menguasai diri. “Baik... Kenapa kau bertanya


begitu?”


              “Kay bilang Prof. Jery tidak bisa menghadiri rapat dengan Neena kemarin karena sakit.”


              Ayu mengangguk kecil. “Yah, hanya kewalahan.”


              “Semoga tidak apa-apa,” ujar Maha dengan lembut.


              “Terima kasih.”


              Mereka terus  berjalan ke sisi utara hutan. Hari sudah berganti menjadi sore, cahaya matahari mulai membentuk bayangan-bayangan panjang dengan pepohonan dan dahan-dahan besar yang tergeletak di tanah. Akhir dari sisi timur ini merupakan curug besar berisi beberapa air terjun yang cukup deras. Sayup-sayup kelompok mereka sudah dapat mendengar suara air di kejauhan.Mereka belum menemukan apa-apa.


              “Aku harap Sito melonggarkan pengamanan sekarang. Kita sudah berjaga penuh selama 4 hari,” kata Ayu. Maha tahu anggota unit mereka kekurangan istirahat. Ia bisa mengenali lingkaran di bawah mata Ayu yang sedikit lebih gelap. Mungkin kantung matanya sendiri juga jauh lebih gelap lagi.


              “Tapi, kita tidak pernah tahu kapan hewan itu kembali,” ujar Maha.


              “Ini sudah 2 hari kosong tanpa serangan mereka baik siang ataupun malam hari,” kata Ayu. “Menurutku kita tidak perlu seperti ini.”


              “Ini demi keselamatan warga,” jawab Maha.


              “Yah, bisa jadi. Tapi, kita akan kewalahan duluan karena terlalu paranoid,” kata Ayu lagi.


              Maha memikirkan pernyataan itu. Menghabiskan banyak tenaga di awal seperti pelari sprint, padahal harusnya mereka tetap bugar seperti pelari marathon. “Ya, kau benar. Mungkin kita bisa melonggarkan penjagaan. Satu atau 2 unit saja ditambah satu dari kita.”


              “Hmm ya itu lebih baik.” Ayu mengangguk setuju. “Aku dan Frian tidak tidur dalam 36 jam terakhir. Kita tidak bisa berjaga begini terus.”


              “Aku akan bicara dengan Mn. Sito.”


              Ayu tersenyum. “Ya, terima kasih.” Ia meregangkan kedua tangannya ke atas. “Aku ngantuk sekali tahu.”


              Maha menyentil dahi Ayu. “Sebentar lagi, Adik kecil.”


              Ayu nampak tidak senang dipanggil dan diperlakukan sebagai adik kecil. Ia memandang Maha dengan sinis. “Aku bertanya-tanya apakah kau pernah memanggil Frian dengan sebutan ‘adik kecil’.”


              “Hmmm.. tidak. Dia jelas akan menguburku hidup-hidup jika aku berani,” ujar Maha.


              “Kenapa kau pikir aku tidak bisa melakukan itu?” tanya Ayu dengan kesal.


              “Karena aku tahu kau.” Maha mengusap rambut Ayu dengan lembut. Hal ini mengingatkan Maha pada Mia.


              Maha melangkah menjauhi Ayu. Ia mempercepat langkahnya untuk menjangkau tempat-tempat yang belum mereka jamah pada hari itu. Tapi sekali lagi, mereka tetap tidak menemukan apa-apa.


***


              Joke mengendarai sepeda motor listriknya ke gerbang barat. Sepeda motor itu tidak memiliki roda, di bawahnya merupakan plat pipih yang mengambang di atas jalan elektromagnetik Trikad. Sepeda motor memiliki stang berupa dua tabung melengkung di kanan dan kiri untuk menempatkan ‘gas’, walaupun tidak ada gas yang dipakai pada mesin itu. Di tengahnya terdapat layar sentuh untuk memberitahu arah, memberi informasi sisa


baterai, dan memantau kecepatan. Seperti kendaraan yang berlalulalang di Trikad pada umumnya, semua bisa disambungkan ke perangkat komunikasi lain. Sepeda motor Joke lebih ramping dari mobil listrik, hanya ada tempat duduk sempit dan panjang paling banyak bisa memuat dua orang.


              Joke baru selesai menemui Ayahnya Leno di Geduna. Banyak sekali informasi yang Ia dapatkan, membuatnya ingin segera berdiskusi.


              Tapi, Maha sedang menelusuri hutan dan Bon pasti sedang beristirahat.


              “Hai, orang tua,” sapa Frian dengan nada datarnya yang sama.


              Joke turun dari motornya yang harus diparkirkan sendiri di kaki gerbang barat. “Kurang ajar. Umur kita hanya beda 2 bulan,” seru Joke.


              “Tapi, kau nampak 20 tahun lebih tua,” kata Frian. “Mengapa lama sekali di geduna?”


              “Aku hanya mengecek Lenolea, temannya Mia,” ujar Joke. Ia membetulkan surbannya.

__ADS_1


              “Kau masih menjadi penanggung jawabnya?”


              “Iya. Aku putuskan begitu.”


              “Kau sengaja menghindari kami atau bagaimana?” tanya Frian lagi. Ia menatap Joke dengan dingin.


              “Apa? Tentu tidak. Kau kenapa baperan begini,” tukas Joke dengan heran.


              “Aku hanya menebak. Aku kira terjadi sesuatu yang lain.”


              Walaupun Joke nampak tenang dari luar, ia merasa bimbang di dalam hati. Ia sudah berdiskusi dengan Maha mengenai kemungkinan kasus ini merupakan settingan belaka. Ia juga sudah membeberkan apa


yang Ia dapatkan dari kondisi Leno kepada Bon tadi siang. Sebenarnya tidak ada yang perlu ia sembunyikan dari Frian. Hanya saja ia belum ada kemauan untuk menjabarkan kepadanya. Frian pasti bertanya dengan kritis hingga ke akarnya. Hanyut dalam pikirannya sendiri membuat Joke mendiamkan Frian untuk beberapa menit. Frian belum menyerah, Ia bertanya kembali, “Atau benar terjadi sesuatu yang lain?”


              Joke menggeleng dengan cepat. “Tidak. Hanya yang kita ketahui saja.”


              Frian memperhatikan Joke lebih dalam. Joke adalah orang yang paling tenang yang pernah ia temui. Tapi berteman dengan Joke selama 7 tahun lamanya tentu membuat Frian tahu ada sesuatu yang terjadi.


              Mengapa dua orang temannya terlihat aneh hari ini?


***


              Sito menghampiri kelompok Maha di tengah-tengah sisi timur hutan kiri. Semua sudah berjalan balik ke arah datang. Sito mengenakan sepatu bootnya supaya lebih cepat. Ia mendarat di depan Maha


dan Kay.


              “Moonasera.” Semua anggota menundukan kepalanya, menghormati Sito. Sito membalas hormat mereka dan tersenyum. Dari jauh pun sudah bisa terlihat betapa lelahnya wajah guru mereka


ini.


              “Apa kabar kalian? Maaf aku baru bisa bertemu kalian sekarang,” ujar Sito. Mereka melanjutkan perjalanan menuju gerbang utama bersama-sama.


              “Sibuk sekali di Menara, ya?” tanya Maha.


              Sito mengangguk setuju. “Neena baru menghadiri rapat darurat. Aku dan Komandan Ri diminta untuk tetap di sana.”


              “Apa ada kabar dari Freo lain?”


              “Sempat ada cekcok.” Sito berhenti sebentar, Ia menatap mata kedua muridnya. “Dengan Mikrad.”


              “Oh, ya? Apa ini terkait kasus Hidroform lagi?” tanya Ayu.


              “Iya, mereka masih curiga kita mengembangkan Hidroform untuk mensuplai pangan kita sendiri.”


              “Ini semakin rumit,” ujar Maha. Rahangnya mengeras tanda ia sedang serius.


              “Lalu, apa respons dari Mikrad?” tanya Ayu.


              “Mereka tetap memberikan suplai pangan sampai urusan Lentipede raksasa ini selesai. Setelah itu mungkin akan dilakukan pengusutan dari Dewan tinggi pulau.”


              Anggota lainnya berjalan tidak jauh di belakang mereka. Tidak ada yang memberi tanggapan, namun Maha yakin semuanya mendengarkan.


              “Tapi, sebelum itu, kita harus selesaikan ini dulu. Kita belum tahu asal muasal Lentipede itu. bagaimana cara mereka sampai ke sini, dan Analisa pola serangannya jika ada. LTK juga baru mengeluarkan Analisa kemungkinan darimana mereka masuk, yang mana salah satunya hutan ini. Tapi belum ada pernyataan lain.


              “Kita hanya bisa terus waspada.”


              “Tapi menurut kami, menghabiskan tenaga di awal mungkin tidak terlalu efektif. Beberapa unit berjaga terlalu lama. Aku takut kita akan kewalahan ketika benar-benar dibutuhkan,” kata Maha. Ia melirik Ayu yang setengah tersenyum, tanda setuju.


               “Hmm.. bisa jadi. Mungkin kita hanya perlu berjaga di malam hari,” jawab Sito.


              “Atau ditambah satu unit saat siang hari tapi tidak perlu terlalu banyak,” kata Ayu menyarankan.


              “Aku setuju.”


              Garis pantai sudah ada di depan mata mereka. Maha mengisyaratkan Ayu dan anggota kelompoknya untuk mendahuluinya dan Sito. Ketika mereka hanya berdua, Maha membuka suara. “Moonasera, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan.”


              “Tentang apa?” tanya Sito.


              Maha memberi jeda sebelum bertanya, “Apa mungkin ini semua hanya jebakan saja? Bagaimana kalau ada yang sengaja menyebar Lentipede ke Trikad untuk mengancam kota?”


              Sito menghentikan langkahnya. Ia memandangi muridnya lekat-lekat. Saat itu terjadi, Maha merasa seperti kembali ke ujian anatomi 9 tahun yang lalu. Setelah memerhatikan Maha beberapa saat, Sito tersenyum, “Ah, kau terlalu mengada-ngada.”


              Sito melanjutkan, “Tidak ada yang pernah mengendalikan hewan itu. mereka hanya bagian dari evolusi, seperti hewan dan tumbuhan yang kita lihat di hutan tadi.”


              “Tapi kita tidak tahu darimana mereka berasal sekarang. Kita tidak bisa memprediksi kapan hewan itu datang kembali. Apa mungkin Trikad akan selalu di posisi siaga seperti ini?” tanya Maha kembali.


              “Kita belum tahu, bukan berarti kita tidak akan tahu. Hanya saja sekarang belum.” Sito kembali berjalan


melewati Maha. Kemudian ia menoleh, “Kita hanya bisa melindungi warga dengan cara seperti ini.”


              Maha berjalan perlahan mendekati Sito. “Apa mungkin LTK bisa membantu?”


              “LTK sudah membantu sejak awal. Mereka yang memberi kabar kemungkinan Lentipede itu berasal dari pesisir pantai dan hutan di kanan kirinya. Kita sama-sama berjuang di sini.”


              “Ya, maksudku LTK pasti bisa melakukan lebih, kan? Mereka sudah berhasil membuat Lentipede, ku dengar,” ujar Maha berusaha tetap tenang.


              Kali ini Maha bisa melihat ekspresi terkejut dari wajah Sito. Sito langsung bertanya, “Darimana kau


mendengarnya?”


              “Dari seorang teman. Hanya pegawai magang biasa di LTK.”


              Nampak keraguan terpancar wajah Sito. Ia menatap lurus Maha selama beberapa saat. Kemudian ia menunduk sambil tersenyum. Sito berkata, “Teman magangmu tidak paham apa yang ia bicarakan. Kalau LTK sudah bisa membuat makhluk seperti itu, kita pasti sudah tahu.” Sito menepuk bahu Maha yang keras. “Lebih baik kau istirahat, Maha. Aku akan mengatur kembali jadwal penjagaan oleh seluruh unit malam ini.”


              Kemudian Sito melenggang pergi ke pesisir pantai meninggalkan Maha.


***


              Dua jam sejak pencarian di dalam hutan sudah berlalu. Ketiga kelompok tidak menemukan apa-apa di dalam hutan. Maha mengumpulkan kedua unit kembali di depan gerbang utama.


              “Semua unit yang bertugas harap beristirahat. Jadwal penjagaan akan diberitahukan setelah ini. Terima kasih.”


              Mn. Andri dan Mn. Wira memberi hormat, meminta izin untuk meninggalkan tempat. Maha mengiyakan, lalu kemudian Ayu datang menghampirinya.


              “Oke, Aku akan pulang, Ketua,” kata Ayu.


              “Ya, pergilah. Aku sih mau bertemu teman-temanku dulu sebelum kembali tidur,” kata Maha setengah meledek.


              “Kau meledekku, ya?” tanya Ayu dengan sebal.


              “Bercanda, aku mau menengok Mia bersama Joke,” kata Maha.


              Ayu kembali tersenyum, “Oke. Sampaikan salamku untuk Joke.”


              Maha memerhatikan satu persatu Mandala yang bertugas memasuki gerbang utama. Ketika hanya tinggal ia sendiri di luar gerbang, Maha langsung memanggil Joke. Beberapa detik kemudian, Joke langsung


menjawab. “Di mana kau?” tanya Maha.


              “Gerbang Utara. Kau sudah selesai?”


              “Apa kau sendirian?”


              Joke memandang sekelilingnya. “Frian sedang berkeliling. Anggota unit lain agak jauh dariku.”


              “Joke, dengarkan aku. Jangan bilang siapapun tentang apapun yang kau ketahui tentang Leno,” ujar Maha cepat-cepat.


              Walaupun cukup kaget dengan perkataan Maha, Ia menjawab, “Aku… bilang pada Bon tadi siang.”


              Maha menutup matanya sebentar, ia mengumpat dalam hati. “Apa yang ia katakan?”


              “Ia membantuku.”


              Maha menghela nafas panjang. Ia berharap semoga segala hal tidak semakin buruk. “Oke, jaga tetap begitu.”


              “Ada apa, Maha?” tanya Joke dengan kebingungan.


              “Aku rasa kita tidak bisa percaya sembarang orang. Apapun yang kau ketahui tolong jangan bilang siapapun selain aku.”


              Joke menjadi semakin bingung. “Mengapa?”


              “Apa kau percaya padaku?”

__ADS_1


              “Tentu saja. Tapi mengapa?”


              “Aku tidak tahu siapa lagi yang bisa dipercaya. Salah satu dari kita, mungkin sedangmenyimpan rahasia."


__ADS_2