Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri

Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri
1. Meminta Cerai


__ADS_3

POV Jessi


Aku menghembuskan napas berulangkali. Sudah hampir satu jam aku menunggu di depan apartemen ini, tetapi pemiliknya tak kunjung datang. Mungkin orang-orang akan mengira bahwa aku adalah wanita terbodoh di dunia karena tindakan aku kali ini. Tapi apa peduliku? Aku hanya mencoba mencari jalan keluar untuk hatiku.


Hatiku yang tercabik-cabik hingga ke dasar. Hatiku yang terluka tanpa tahu apa sebabnya.


Dari kejauhan, aku melihat sepasang kekasih tengah bergandengan dengan mesra. Berjalan sembari saling melempar senyum manis yang membuat semua orang iri.


Tetapi senyum itu tidak bertahan lama. Tepat satu meter dari jarak ku berdiri, langkah mereka terhenti. Raut wajah takut terlihat jelas dari sang wanita.


Kenapa dia harus takut melihatku? Padahal aku tidak akan memukulinya. Bahkan hanya sekedar mencacinya saja aku tidak terbesit sekali pun.


Bibirku tersenyum kecut tatkala melihat mas Danu melepaskan tautan tangan mereka secara paksa. Yah, sekali lagi ini salahku. Mungkin mereka terlalu kaget melihat kehadiranku yang tiba-tiba di depan apartemen mereka.


"Je--jessi," panggil Mas Danu menyebutkan namaku setelah berada tepat di hadapanku.


Kenapa Mas? Kenapa harus ekspresi seolah-olah kau ketakutan karena ketahuan selingkuh yang kau tunjukkan? Seharusnya kau menatapku dengan tatapan culas dan sombong seperti tiga bulan yang lalu.


"Hai, Mas. Hai Anaya! Aku hanya datang sebentar. Aku membawa beberapa koper baju Mas Danu, juga aku ingin berbicara secara pribadi dengan Mas Danu jika kalian berkenan!" Pintaku dengan halus.


"Si--silakan, Mbak." Izin Anaya dengan nada suara bergetar menjawab permintaan ku.


"Terimakasih, Anaya. Mas, apa aku boleh masuk?" Tanyaku lagi setenang mungkin.


Mas Danu sedikit terkejut, namun sedetik kemudian dia menganggukkan kepala setuju. "Kita bicara di luar saja, ayo!" Ajaknya sembari ingin menyentuh tanganku.


Tetapi aku tahu diri. Sebagai kekasih Mas Danu Anaya tidak akan senang melihat kepergian Mas Danu bersamaku. Meskipun aku istri sahnya, tetapi Anaya tetaplah kekasihnya. Bahkan jauh sebelum kami menikah mereka telah menjadi sepasang kekasih.


Sudah ku katakan, bukan? Mungkin kalian akan mengira bahwa aku wanita terbodoh di dunia. Tapi, sudahlah. Mari lanjutkan ini, dan cepatlah akhiri semuanya.


"Enggak, Mas. Apa aku benar enggak boleh masuk ke dalam. Kalo begitu kita bicara di sini saja!" Ujar ku sembari menghindari tangkapan tangannya.


Mas Danu menatapku dengan tatapan bertanya. Sedangkan Anaya melihatku dengan rumit. Tetapi sedetik kemudian Anaya berucap, "Masuklah, Mbak. Enggak baik bicara di depan pintu!"


Aku tersenyum tipis menanggapi ucapannya. "Terimakasih, Nay! Maaf merepotkan kalian. Padahal aku tahu kalian pasti lelah karena baru pulang liburan dari Swedia," tuturku sembari melempar senyum pada Anaya.


Bulshit, jika aku mengatakan aku baik-baik saja. Bohong jika aku mengatakan hatiku tak sakit melihat perselingkuhan dari suamiku sendiri. Namun, karena sakit itulah aku tegar!


Karena sakit itulah yang membuat aku datang ke apartemen ini dengan tekad yang kuat. Butuh dua hari bagiku menanamkan kekuatan, agar aku tidak menangis ketika meminta diceraikan hari ini.

__ADS_1


"Mbak tahu!" pekik Anaya dengan nada suara terkejut yang tertahan.


Aku mengangguk. "Karena itulah aku butuh bicara dengan kalian berdua hari ini," ujar ku lagi.


Dapat kulihat Anaya memilin-milin lengan bajunya hingga lecek. Sedangkan Mas Danu, pria itu melihatku dengan tatapan rumit seakan-akan merasa sangat bersalah padaku.


"Duduklah, Jes!" Titah Mas Danu menyuruhku untuk duduk di sofa ruang tamu apartemen. "Nay, naiklah terlebih dahulu. Setelah bersih-bersih baru turun!"


Lihatlah betapa perhatian suamiku pada kekasihnya. Sedangkan padaku, boro-boro berkata selembut itu. Bahkan untuk menginap satu ranjang saja dia tidak mau. Setelah kupikir-pikir, pernikahanku memang menyedihkan.


Tidak ada harapan di pernikahan kami. Bahkan ayah mertuaku yang sangat memanjakan ku pun pada akhirnya hanya bisa pasrah terhadap pilihan Mas Danu. Kata Ayah, selain demi kebahagiaanku yang tidak pernah ada. Keluarga juga butuh penerus.


Sedangkan aku? Bagaimana mau memberikan penerus, jika Mas Danu sekalipun tidak ingin menyentuh ku.


"Aku ke atas dulu, Jes. Bersih-bersih sebentar, kita bisa bicara nanti kan?" Tanyanya meminta izin padaku untuk membersihkan tubuhnya.


"Setengah jam, Mas. Lebih dari itu, aku akan meninggalkan apa yang aku perlukan saja. Tidak perlu terlalu repot jika masih butuh waktu bersama, Anaya!" Tuturku sembari melempar senyum manis padanya.


"Aku hanya bersih-bersih. Tunggu sebentar!" Aku mengangguk. Lalu perlahan aku melihat tubuh Mas Danu perlahan hilang di balik undakan tangga yang menjulang tinggi menuju kamar terbuka di lantai atas.


Yah, semenyedihkan itu nasibmu. Kasihan! Ejek ku pada diriku sendiri.


.


.


Dua puluh menit kemudian. Mas Danu turun, ia hanya menggunakan celana pendek dan kaos hitam yang memperlihatkan lekuk dada bidangnya yang sempurna. Ahh ... Segagah itulah pria yang sudah menjadi suamiku selama empat tahun terakhir.


Sayang sekali aku tidak pernah merasakan bagaimana berada di dalam dekapan dada bidang itu. Mungkin jika aku menjadi Anaya, aku akan mendapatkan kesempatan merasakannya. Aku jadi iri dengan Anaya, keberuntungan apa yang membawanya ke dalam pelukan Mas Danu hingga mendapatkan kesetiaan Mas Danu selama itu.


"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan, Jes? Apa tidak bisa kita bicarakan di rumah saja. Nanti malam aku pulang ke rumah, aku janji!" Tutur Mas Danu serius sembari berjalan mendekat ke arah sofa yang aku duduki.


Namun, tanganku spontan terangkat. Menahannya agar tidak duduk di sampingku. Aku tidak mau menjadi perusak hubungan antara Mas Danu dan Anaya, cukup mereka saja yang menjadi pematah kebahagiaan orang lain. Aku jangan!


"Stop di situ, Mas! Duduklah di sofa seberang ku. Kita bicara baik-baik."


Mas Danu terkejut mendengar ucapan ku yang lantang. Ini pertama kalinya aku menolak di dekati olehnya. Mungkin karena itu dia terkejut, atau mungkin hanya karena suara yang terlalu keras. Ya, aku harus minta maaf untuk itu nanti.


Tanpa banyak bicara. Aku mengeluarkan amplop berisi surat pengajuan perceraian dari pengadilan. Lengkap dengan surat pernyataan ayah mertuaku yang mendukung penuh perceraian ini terjadi.

__ADS_1


"Apa ini, Jes?" Tanya Mas Danu menatapku dengan curiga.


"Itu surat pengajuan perceraian dari pengadilan, Mas. Mulai hari ini, menit ini, detik ini, aku menyerah menjadi istrimu Mas. Aku enggak akan jadi penghalang hubunganmu sama Anaya lagi. Kita Cerai!" Ucap ku dengan suara sedikit bergetar karena menahan tangis.


Tidak, aku harus kuat. Jangan tunjukkan kelemahan ku di hadapan Mas Danu. Biarlah Mas Danu melihat bagaimana tegarnya aku melepas statusku sebagai istrinya.


"A--apa yang ... Ma--maksudku! Kamu enggak serius 'kan Jes?" Tanya Mas Danu sembari membuka amplop itu dengan tangan bergetar.


Apa yang kamu pikirkan mas? Bukankah itu yang kalian harapkan selama ini? Sekarang sudah ku kabulkan, kenapa kau terlihat seperti seseorang yang tidak rela.


"Harta gono gini tidak akan masuk dalam sidang, Mas. Aku tidak meminta apapun selain kompensasi rumah yang saat ini kita tinggali. Itulah kenapa aku membawa sebagai koper bajumu ke sini, sebagian, ayah bilang kirim saja ke rumah ayah. Aku sudah memilah bajumu yang sering kamu pakai, sama yang lama. Jadi jika kamu mau cari pakaian kamu yang lama. Kamu bisa cari di kamarmu di mansion ayah. Aku sudah menatanya dengan rapi kemarin di sana!"


"Jes, a--aku tidak ingin bercerai denganmu." Tolak Mas Danu sembari menatap wajahku dengan mengiba.


Aku menarik napas dalam. Kemudian tatapan mataku beradu dengan Anaya di dekat tangga. Mungkin Mas Danu belum menyadari kehadiran Anaya. Jika dia tahu, mana mungkin dia akan mengucapkan hal seperti itu.


"Lalu kamu mau meninggalkan Anaya?" Pancingku sembari melemparkan senyum tipis padanya.


"Aku tidak bisa meninggalkan Anaya, Jes. Orangtuanya menitipkannya padaku sebelum meninggal dunia. Selain itu, dia memiliki riwayat penyakit jantung. Kamu 'kan tahu itu, Jes. Tolong jangan membuatku berada di posisi sulit, Jes. Aku berjanji akan memperbaiki hubungan pernikahan kita. Aku janji, Jes. Aku janji!"


"Sudahlah, Mas. Ucapanmu barusan bisa saja membuat Anaya terkena serangan jantung jika benar apa yang kamu katakan. Tanda tangani saja itu, setelahnya kita akan melanjutkan jalan kita masing-masing. Dari awal, kita bahkan tidak pernah terlihat seperti suami istri, Mas. Aku sepupu tirimu, itu yang selalu kamu ucapkan pada orang-orang setiap kali mereka menanyakan tentang ku padamu."


Aku melirik pada Anaya sebentar. Wanita itu hanya mematung sembari membalas senyumku tak kala manis. Kamu menang, Anaya! Kamu berhasil mendapatkannya seutuhnya.


"Jes--"


"Nay, kemarilah." Pintaku pada wanita yang terus mengintip dari balik tembok tangga sedari tadi. "Tolong bujuk Mas Danu agar menandatangani ini. Aku ikhlas melepasnya untukmu," ujarku memohon pada Anaya agar Mas Danu segera menandatangani surat perceraian ini.


"Mas, tandatangani saja. Kasihan Mbak Jessi sudah terluka terlalu dalam karena kita!" Tuturnya halus memberikan pengertian pada Mas Danu.


"Tapi, Nay."


"Mas, aku mohon!" Anaya menatap Mas Danu dengan tatapan mengiba. Pada akhirnya Mas Danu menandatangani surat perceraian itu juga.


Meskipun berat, tapi aku benar-benar ikhlas melepas Mas Danu. Tidak ada terbesit sedikitpun rasa dendam dihatiku karena perceraian ini. Bagiku, kami terpisah karena tidak berjodoh. Lalu, mau sampai kapan aku menentang kehendak Allah yang sudah membekukan hati suamiku dari lama.


Ya Allah, setelah ini hanya satu pintaku. Tolong beri kebahagiaan untukku, dan hidupku. Berikanlah aku suami yang baik, serta mengayomi dan membimbingku dengan baik hingga menuju surga, Amin!


......Friends, Vote dan Coment jangan lupa♥️ Emak-emak FB, demi kalian ini ku hadirkan di sini😁 ......

__ADS_1


__ADS_2