Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri

Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri
6. Cinta Terlarang yang Terpendam (2)


__ADS_3

Damar POV_


Suasana rumah terlihat sepi. Tidak ada satu orangpun yang terlihat di rumah ini, ya, itu karena Jessi dan Danu memutuskan untuk tinggal berdua saja. Jessi pandai memasak jadi urusan perut kedua anak itu aman. Soal bersih-bersih, Yem akan datang ke rumah ini tiga hari sekali untuk membantu membersihkan keseluruhan rumah.


Masuk ke dalam kompleks perumahan inipun. Kami menggunakan identitas Yem yang mendapatkan izin bebas masuk dari Jessi. Bahkan hansip penjaga gerbang masuk kompleks pun tidak mengenal siapa aku?


Menyedihkan sekali. Aku ayah mereka, tetapi tidak memiliki izin masuk bebas untuk menjenguk mereka ckckck.


"Cari dimana Jessi, Yem. Panggil ke sini!" Ujarku memberikan perintah pada Yem. Art itu hanya mengangguk, lalu segera menaiki tangga dan menghilang di balik tembok.


Beberapa menit kemudian. Yem datang bersama dengan Jessi. Astaga, kacau sekali keadaan wanita itu. Rambut acak-acakan, hidung merah, mata merah dan sembab, bahkan bibir bawahnya sedikit terluka. Tunggu, terluka? Ya Allah, apa putraku melakukan kdrt sebelum pergi bersama selingkuhannya itu?


"Jes," panggilku selembut mungkin. Wanita itu hanya menatap dengan wajah sendu, lalu tak lama dia mendekat ke arahku, duduk di hadapanku dengan bersimpuh. Ya Tuhan, apa yang terjadi? Hatiku benar-benar tidak tega melihat wanita yang ku cinta sepenuh hati malah berakhir menyedihkan seperti ini.


"Ayah, maafin Jessi, Yah. Jessi tahu, Jessi banyak berhutang budi sama ayah. Tapi Jessi mohon, Yah. Izinkan Jessi bercerai dengan Mas Danu!" Tuturnya sembari tergugu. Yem yang mengerti mendekat, mengelus pelan pundak Jessi.


"Izinkan saja, Tuan. Neng Jessi sudah terlalu banyak menahan sakit hati. Kasihan, Tuan," sambung Yem mendukung keputusan Jessi.


Aku tidak tahu harus berkata apa. Sedih atau bahagia? Sedih karena rumah tangga anakku retak, atau bahagia karena akhirnya Jessi akan menjadi Janda. Entahlah, aku bingung sekarang.


"Jelaskan, kenapa ayah harus mengizinkan kalian bercerai? Apa Danu memukul mu?" Tanyaku memancing cerita dari Jessi. Tetapi Jessi hanya menggeleng.


"Sudah berapa lama kamu tahu Danu selingkuh, Jes?" tanyaku lagi.


Jessi menundukkan kepalanya. Air mata wanita itu menetes, mengenai ujung sepatu yang aku kenakan. Karena sedari tadi dia memang bersimpuh di hadapanku.


"E--empat tahun ayah." jawabnya pelan, bahkan aku kesulitan untuk mendengarnya.


"Apa?!"


"Ta--tapi baru kali ini Mas Danu pergi ke luar negri bersama selingkuhannya. Hiks ... Selama ini aku memang tahu, Yah. Tapi mendiamkannya karena aku memang tidak mempunyai alasan untuk sekedar memarahinya, ataupun mengadukannya pada ayah! Hiks ... Hiks ... Mereka saling mencintai ayah. Jadi, izinkanlah aku bercerai!" tuturnya dengan isak tangis yang semakin jelas.


"Ceritakan padaku dari awal permasalahan kalian, Jessi. Tanpa satupun yang kau coba tutup-tutupi!" tekan ku pada Jessi. Aku benar-benar penasaran, apa yang membuat putra bodohku itu berani berselingkuh sejak awal.


Apa Jessi sudah tidak virgin ketika mereka malam pertama? Atau Jessi tidak bisa memuaskannya? Atau ada alasan yang lainnya? Aku penasaran!

__ADS_1


Setelah terdiam cukup lama. Jessi akhirnya bercerita, tentang bagaimana kehidupan rumah tangganya dengan Danu selama ini. Aku bahkan terkejut ketika mendengar Danu tidak pernah menyentuhnya sekalipun. Anak itu, menyia-nyiakan permata demi seonggok batu kosong. Kasihan sekali!


"Ayah akan mengizinkan kalian bercerai. Perilaku Danu memang sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Sekalipun dia anak ayah, tetap saja ayah harus menegakkan keadilan bukan. Jadi, lakukanlah jika memang itu yang kau inginkan." ucapku kala itu dengan bijak.


Jessi menyambut ucapanku dengan ratusan terima kasih. Dia tidak tahu saja jika aku sudah menyiapkan niat terselubung di balik perceraian mereka. Setelah mereka bercerai, akan ku ajak dia ke Kalimantan. Menemui salah satu wali Jessi untuk meminta izinnya menikahi Jessi. Setelah itu, mau tidak mau Jessi harus tetap menikah denganku hoho ... Ide yang cerdik.


Satu bulan berlalu, perceraian Jessi dan putraku telah resmi. Hari ini, aku memiliki janji temu dengan Jessi. Aku benar-benar tidak sabar untuk melihat wajahnya, padahal baru kemarin aku melihat Jessi. Tapi rasanya sudah setahun, haaa cinta memang membuatku gila.


Tok ... Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Aku yang memang sudah menunggu kedatangan Jessi seperti remaja yang tengah kasmaran menarik napas dalam, lalu membuangnya.


Setelah merasa siap, aku membuka pintu. Tapi, astaga apa ini? Jessi terlihat begitu seksi, dan menggoda. Andai saja aku tidak mempertahankan akal sehatku. Aku pasti sudah membopong Jessi ke kamarku dan memakannya hingga dia berteriak memohon pengampunan dan kehabisan tenaga. 


"Jessi, ka--kamu ... Ahh masuklah!" ajakku setelah berhasil mengeyahkan pikiran kotorku pada Jessi. Putraku, terimakasih karena telah melepaskan wanita se-seksi dan se-cantik Jessi untuk ayahmu ini hohoho.


"Terimakasih, Om!" Jawabnya sembari mengikuti langkahku di belakang. "Mbok Yem kemana Om?" Dia bertanya padaku perihal keberadaan Yem dengan sedikit antusias.


"Yem ke rumah sakit. Kekasih Danu itu masuk rumah sakit kemarin. Karena anak itu pergi ke luar kota tiba-tiba, jadi Yem yang menemaninya." Jawabku sekenanya.


Aku terus meneruskan langkahku tanpa memperhatikan Jessi mengikuti apa tidak. Setelah tiba di ruangan ku, aku segera menuju kulkas khusus di ruang kerjaku.


Menoleh ke belakang. Aku terdiam ketika tidak mendapati Jessi di belakangku. Bahkan di seluruh ruangan kerjaku tidak ada tanda-tanda Jessi berada di sini.


Menghembuskan napas panjang, akhirnya aku kembali melangkah keluar ruangan. Dari pintu aku bisa melihat Jessi yang duduk dengan sopan di sofa ruang tamu. Ya, calon istriku itu benar-benar begitu sopan. Mungkin karena dia menganggap dia tamu, makanya hanya berada di ruang tamu. Jessi, Jessi, membuatku gemas saja.


Ngomong-ngomong tidak masalah bukan aku mengklaim Jessi sebagai calon istriku? Atau haruskah aku menyebutnya calon ibu dari anakku selanjutnya?


"Jes, kemarilah!" Panggil panggilku dari depan pintu ruang kerja. Jessi menganggukkan kepala. Berdiri, lalu ikut mengekori ku hingga ke ruang kerjanya. "Duduklah!" Jessi duduk di kursi depan meja kerjaku dengan patuh. Ahh  manisnya!


"Terimakasih, Om," jawabnya terdengar sedikit sungkan.


"Enggak usah sungkan gitu, Jes. Mau minum?"


"Te--rimakasih, Om!"

__ADS_1


"Penampilanmu cukup nyentrik juga, ya, setelah bercerai dari Danu, Om suka." Komentarku spontan.


Uhuk ... Jessi terbatuk mendengar ucapanku. Astaga, salahku, kenapa aku haru mengomentari penampilannya secara gamblang seperti itu.


.


.


.


Setelah pertemuan kemarin, sudah diputuskan aku dan Jessi akan pergi ke Kalimantan. Sebelum berangkat aku benar-benar di buat kesal oleh Jessi! Bisa-bisanya dia lebih memilih duduk di samping Mang Kardi daripada di sisiku.


Setelah tiba di Kalimantan pun dia membuatku kesal. Wanita itu lebih memilih untuk naik di belakang dari pada duduk si sampingku. Menyebalkan!


Jika tidak dipaksa. Mungkin Jessi tidak akan mau untuk duduk berdempetan denganku seperti ini. Sejujurnya ini di luar rencana ku. Karena kami akan memasuki area perkebunan, maka hanya mobil ini yang mampu untuk masuk ke sana dengan jalanan yang dipenuhi bebatuan, dan bahkan berlumpur di beberapa badan jalan.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan. Akhirnya kami tiba di area perumahan perkebunan. Satu rumah kecil dengan satu kamar, satu ruang tamu, dapur beserta satu kamar mandi sudah disiapkan oleh mandor yang bertugas di bagian sini.


"Sudah sampai, Om?" Tanya Jessi.


"Iya, turunlah. Kita akan menginap di sini selama beberapa hari. Lalu, pas pulang kita mampir ke rumah pamanmu yang ada di kota!" Jelasku yang hanya dibalas anggukan oleh Jessi.


Ketika menurunkan barang bawaan kami. Aku terkejut karena hanya ada satu koper besar yang diturunkan. Lalu beberapa kantong kresek berisi persediaan bahan makanan yang sempat kami beli di salah satu pasar sore yang kami lewati tadi.


"Koper saya mana, Pak?" Tanya Jessi bingung. Aku juga ikut melirik ke atas mobil, hanya ada karung beras, mesin air, lalu beberapa barang-barang pesanan warga perumahan ini.


"Enggak tahu, Non. Tadi sempat di naikkan enggak?" Tanya sopir itu pada Jessi.


Jessi seketika membelalakkan matanya. Lalu wanita itu spontan menggigit jari telunjuknya. "Enggak, aku lupa." Cicitnya hingga hampir menangis.


Aku menghembuskan napas berat. Bisa-bisanya Jessi meninggalkan koper di halaman bandara. Sudah pasti itu akan hilang di bawa maling karena sudah ditinggal yang punya. Apalagi mereka meninggalkan koper itu di luar area bandara.


"Isinya apa aja?" Tanyaku tenang. Jessi menatap wajahku dengan tatapan mengiba. "Hanya pakaianan dan peralatan makeup, Om. Tapi tetap saja, aku harus gimana!" Ujarnya frustasi. Setitik buliran bening jatuh membasahi pipinya.


"Nanti kita pikirkan. Sekarang masuk dulu, kasihan tubuh kamu kelelahan!" Ujarku sembari memberikan beberapa lembar uang ratusan pada sopir tadi sebagai tanda terimakasih. Setelah berpamitan, sopir itu pergi meninggalkan kami. Barang-barang juga sudah dibantunya untuk di masukkan ke dalam rumah.

__ADS_1


...*Hohoho 😂 Bagaimana? Kesal Sama Om Damar? Aku juga, ternyata tua-tua keladi 🤭...


...Dah ahh ... Tinggalkan jejak, dan cus meluncur ke part selanjutnya 😒*...


__ADS_2