
POV 3: Author
Keesokan harinya, Jessi terbangun lebih pagi dari biasanya. Bersiap, dan kembali memastikan barang bawaannya lengkap tanpa ada yang tertinggal. Koper yang akan dia bawa untuk pergi ke Kalimantan sudah tertata rapi di sofa kamarnya.
"Sudah belum, ya?" Monolog Jessi bertanya pada dirinya sendiri.
Sekali lagi Jessi mendikte barang bawaannya. Pakaian, jaket, daleman, peralatan mandi, skincare, dan handuk. Setelah memastikan lengkap, Jessi menutup kopernya.
Suara klakson mobil terdengar dari bawah. Jessi keluar, mengintip dari balkon kamar untuk melihat apakah Mang Kardi dan Om Damar sudah datang.
Di depan gerbang rumahnya. Ada mobil hitam yang terparkir, itu mobil Om Damar. Dengan buru-buru Jessi menutup pintu balkon, menarik koper, dan tak lupa menjinjing handbag miliknya di tangan kiri.
Setelah memastikan semua pintu terkunci. Jessi menyerahkan kopernya pada Mang Kardi, "Tolong ya, Mang. Jessi ke rumah Bu RT dulu!" ujarnya sembari berjalan sedikit cepat ke rumah Bu RT yang bersebrangan dengan rumahnya.
Di mobil, Danu yang melihat Jessi pergi menuju pagar rumah depan hanya melirik sekilas. Membuka kaca mobil, lalu bertanya dengan Mang Kardi, "Ada apa, Mang?"
"Ehh ... Enggak Tuan Besar. Itu si non Jessi ke rumah Bu RT dulu katanya. Mau bilang dia enggak di rumah kali, ya, kompleks ini 'kan terkenal dengan keamanan dan kerukunan warganya." Jelas Mang Kardi, Damar yang mendengar penuturan sopirnya hanya mengangguk saja.
"Hai, Om. Jessi duduk di sini, apa di depan?" Tanya Jessi tiba-tiba, dengan kepala yang menyembul setengah di pintu mobil.
"Senyaman mu, Jes. Jangan sungkan," jawab Damar.
Jessi mengangguk. Kemudian kembali menutup pintu, dan membuka pintu samping kemudi. "Jalan, Mang!" ucap Jessi sembari tersenyum lebar ke arah Mang Kardi yang sedikit kaget karena Jessi memilih duduk di kursi samping kemudi.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara. Bahkan setelah sampai di bandara, landing, bahkan setelah mereka tiba di Kalimantan pun Om Damar masih belum membuka suaranya.
.
.
.
Jessi POV_
Kami sudah tiba di Kalimantan. Bahkan sudah keluar dari Bandara, hanya saja sepertinya ada yang aneh sama OM Damar.
Sejak dalam perjalanan menuju bandara hingga sekarang. Dia tidak berbicara sama sekali. Pertanyaanku bahkan hanya dijawab anggukan dan gelengan.
Sebenarnya Om Damar, kenapa sih? Bisu mendadak? Sariawan? Atau kenapa? Haiss ... Membuat pusing saja.
"Kita dijemput, Om?" Tanyaku. Om Damar hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan yang tadi aku ucapkan.
__ADS_1
"Dari sini tempatnya jauh?" Tanyaku sekali lagi. Oke, ini pertanyaan terakhir. Jika saja tidak dijawab dengan benar, maka aku akan benar-benar menutup mulutku juga.
"Tunggu mobilnya datang! Setelah itu kamu bisa tidur di mobil. Butuh sembilan jam dari sini untuk tiba di area perkebunan!" Di jawab! Akhirnya, setelah berjam-jam aku tidak mendengar suara Om Damar sekarang dijawab juga.
"Baiklah,"
Tidak lama menunggu akhirnya sebuah mobil tiba di hadapan kami. Mataku terbelalak kaget. Tidak, bukan mobil seperti ini yang kubayangkan. Yang kubayangkan adalah mobil seperti yang sering ku gunakan untuk berpergian selama ini. Kenapa yang datang Strada Triton Single Kabin? Kenapa?!
"Kita naik ini, Om?" Tanyaku pada Om Damar.
"Iya," jawabnya singkat. "Jes, ayo naik!" Aku tersentak. Ku lihat Om Damar sudah duduk di kursi samping kemudi. Apa itu artinya aku akan duduk di belakang? Di atas besi tanpa penutup ini? Astaga, ayolah!
"Iya, Om." Kesal, aku menarik langkah ku gontai. Berusaha naik ke atas mobil bak terbuka ini walaupun terlihat mustahil aku bisa naik tanpa bantuan. Meskipun tidak ingin, aku tetap harus naik, bukan? Masa iya aku harus menjadi pengungsi korban bencana tiba-tiba di bandara.
"Jes, ngapain kamu di sana?" Tanya Om Damar sembari mengintip kegiatanku dari balik pintu mobil.
"Naiklah, Om. Om enggak liat?" Jawabku ketus sembari masih berusaha untuk bisa naik ke atas mobil.
"Sini! Siapa yang suruh kamu naik di belakang. Duduk di depan!"
Aku membelalakkan mata spontan. Mendengar penuturan Om Damar entah mengapa aku merinding tiba-tiba.
"Di de--depan, Om?" Tanyaku gagu. Om Damar mengangguk, entah mengapa tenggorokanku rasanya kering. Bahkan untuk menelan ludahku sendiri pun susah.
"Je--jessi di belakang aja, Om. Terimakasih tawarannya," kilahku sembari kembali berusaha untuk naik ke atas mobil.
Tetapi alih-alih membiarkan aku untuk naik. Om Damar malah turun, menyeret ku ke depan pintu samping kemudi. Om Damar masuk lebih dulu, lalu menyisahkan ruang untukku duduk di sebelahnya. "Masuklah, jangan keras kepala!" ujar Om Damar datar.
Mau tidak mau aku harus masuk bukan. Apalagi mendengar nada suara datar dari Om Damar, ihh menakutkan. Selama empat tahun lebih aku bertemu dengan Om Damar menjadi menantunya. Baru kali ini aku mendengar dia berbicara sedingin ini.
"I--iya," akhirnya aku menurut. Mendudukkan tubuhku di samping Om Damar dengan jantung yang berdegup kencang seperti habis meraton puluhan kilometer.
Suasana di mobil terasa canggung untukku. Tapi berbeda dengan Om Damar yang nampak asik berbicara dengan sopirnya. Sedangkan aku hanya bisa menatap jalanan dengan perasaan berkecamuk. Sesekali bahkan Om Damar tidak sengaja menyentuh paha ku ketika dia ingin memperbaiki tempat duduknya. Astaga, "Situasi macam apa ini?!" pekik ku frustasi dalam hati.
.
.
.
Damar POV_
__ADS_1
Wajah cantik, body menggoda, senyum tipis yang manis, serta bibirnya yang terus memanggil untuk di cium. Ya, itu dia, menantuku Jessi Sasmita Andara.
Sudah tiga tahun lebih dia menikah dengan putra sewatawayang ku, Danu. Tetapi setiap hari kerjaannya hanya berada di rumah ini. Bercengkrama dengan Yem, asisten rumah tangga di rumahku ataupun dengan Mang Kardi, satpam sekaligus sopir pribadiku.
Entah perasaan ini bermula sejak kapan. Yang pasti, aku telah jatuh cinta dengan istri anakku sendiri. Bajingan memang, ayah macam apa yang mencintai istri anaknya sendiri. Tetapi itulah kenyataannya, aku mencintai Jessi, menantuku sendiri.
Mungkin aku bisa lebih mendekatkan diri dengan Jessi. Karena ku lihat, Danu sering pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaannya. Katakanlah aku manusia tak beradab, atau apapun yang kalian pikirkan tentangku. Aku tidak peduli! Aku ingin mendekati Jessi, dan menjeratnya dalam pesona ku. Meskipun sudah berusia 46 tahun lebih, begini-begini aku masih kuat untuk membuat wanita itu tidak bisa berjalan dalam semalam.
Astaga, apa yang aku pikirkan. Kotor sekali, tetapi aku suka hohoho.
Namun, satu tahun berlalu. Jessi sama sekali tidak termakan oleh pesona ku. Bahkan jika kami tidak sengaja berada di posisi yang ambigu seperti dia yang tidak sengaja jatuh dan aku menangkapnya. Tidak sengaja terhantuk karena memang ku sengaja, atau bahkan di saat aku hampir mencium bibirnya. Dia bahkan tertawa terbahak-bahak karena menganggap raut wajahku lucu.
Ya, Jessi memang wanita yang aktif dan periang. Menyenangkan rasanya ketika melihat Jessi bisa tertawa bahagia seperti ini. Sudahlah, lupakan saja. Jika Jessi benar-benar bahagia bersama Danu, kenapa aku harus merusaknya. Bukankah tahta tertinggi dalam mencintai itu merelakan dan melepaskan?
Hari ini, seperti biasa aku mengawasi kinerja Danu sebagai CEO baru dari ruang kerjaku. Perusahaan yang aku bangun bergerak di bidang real estate, dan perhotelan. Dan soal pekerjaan aku cukup tegas. Meskipun Danu adalah penerusku, aku tetap membuatnya berusaha dari awal.
Menjadi karyawan biasa, lalu merangkak naik dengan prestasinya sendiri. Hingga tujuh bulan yang lalu aku mengangkatnya sebagai CEO. Sedangkan aku tentu saja masih menjadi pemegang kekuasaan tertinggi, Presdir. Setidaknya sampai putraku itu berhasil membuatkan ku penerus baru untuk generasi selanjutnya.
Meskipun sakit melihat wanita yang aku cintai hamil anak pria lain. Tetapi aku tetap bahagia, selama dia berada di dalam pandanganku itu sudah cukup.
Brak ...
Aku terkejut melihat Yem yang tiba-tiba datang ke ruangan ku dengan tergesa-gesa. Bahkan wanita yang terkenal dengan tata Krama yang sempurna ini terhadap majikan. Melupakan kesopanannya yang dia junjung tinggi. Bahkan lebih tinggi dari harga dirinya sendiri!
"Pak!" ujarnya panik.
"Ada apa, Yem?"
"Saya izin pergi ke rumah Neng Jessi ya, Pak. Tadi Neng Jessi telpon sambil nangis. Katanya Den Danu pergi ke luar negeri sama, ehh ... Itu, sama apa? Ehh--"
"Sama siapa?!" Tanyaku tidak sabaran dengan ucapan Yem yang tertahan.
"Sama selingkuhannya, Pak."
Jderr ...
Untuk pertama kali, rasanya jantungku berhenti berfungsi. Danu, putraku selingkuh! Astaga, rasanya aku tidak percaya ini. Sejak kapan anak itu berselingkuh, kenapa aku tidak tahu sama sekali? Selain itu, apa Jessi sudah tahu dari lama. Kenapa wanita itu tidak berbicara apapun denganku!
"Kita ke rumah anak-anak sekarang! Suruh Mang Kardi siapkan mobil!" Titah ku.
Yem segera menganggukkan kepala mengerti. Setelah Yem pergi, aku menghubungi nomor putraku yang tidak tahu diuntung itu. Tetapi berapa kali pun aku menghubungi tetap saja nomor itu tidak aktif. Sial!
__ADS_1
...Jejak lah jejak... Scorpio malak Vote dan Coment dari kalian😑😁 ...
...Setelah itu baru kalian boleh, Next! Bisa kawan? Bisa dong, masa enggak hohoho 😜😈...