Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri

Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri
18. Status Wa Ayah


__ADS_3

POV Danu


Pagi hari aku terbangun, mencoba mengumpulkan tenaga dan kepingan-kepingan ingatan tentang tadi malam yang masih tersisa. Tapi sialnya, aku melupakan semua ingatan itu karena terlalu mabuk.


Di sampingku, ku lihat Ola masih tertidur pulas tanpa sehelai benangpun. Haa ... Lagi-lagi aku membuat kesalahan.


"Kamu sudah bangun?" Suara serak Ola membuyarkan lamunanku. Ku lihat wanita itu bangkit, lalu bersender pada sandaran kepala kasur.


"Maaf, aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi. Jika sebelumnya aku memaksamu, maafkan aku!" ujarku sembari ikut menyenderkan punggung di sandaran kasur.


"A--aku, sudahlah. Aku juga tak mungkin merusak rumah tanggamu," suara Ola terdengar bergetar. Bibirnya melengkung ke bawah, mata wanita itu berkaca-kaca seolah meratapi takdir yang membuat kami berakhir di satu ranjang yang sama tanpa di sengaja seperti ini.


"Sekali lagi maafkan aku. Aku akan mengirimkan kompensasi untukmu. Jangan salah paham, anggap saja ini untuk menebus kesalahanku," Ola mengangguk. Tetapi dia tak kunjung memberikan nomor rekeningnya padaku. Mungkin, Ola tidak ingin harga dirinya di bayar dengan uang.


Hanya saja, cuman itu yang bisa aku lakukan. Aku tidak ingin menambah masalah dengan membawa Ola ke Jakarta. Ayah akan semakin marah, Anaya akan mengamuk, belum lagi memikirkan tentang Jessi yang sudah pasti akan menolakku mentah-mentah setelah ini.


"Aku tahu, dan sadar diri posisiku, Nu. Jangan terlalu dipikirkan," tuturnya sebelum menarik selimut menuju kamar mandi untuk menutupi tubuhnya.


Menghela napas, aku memunguti pakaianku. Ku lihat tas Ola berceceran di lantai. Mungkin tadi dia tidak sengaja menyenggolnya, dan terjatuh hingga isinya berceceran.


Mataku tak sengaja melihat buku tabungan yang terlihat sudah usang. Kubuka, dan tertera nama Solaria Triani di sana. Di dalam tabungan itu ada sekitar empat ratus juta. Dengan buru-buru aku mencatat nomor rekeningnya, lalu membereskan isi tas Ola.


Tidak tanggung-tanggung, aku mengirimkan 100 juta untuk kompensasi pada Ola. Bagiku itu tidak seberapa, dari pada rasa bersalahku padanya.


Selagi menunggu Ola di kamar mandi. Aku membuka aplikasi whatsapp, dengan tujuan menghubungi Jessi melalui panggilan. Karena jika ku hubungi melalui seluler, sepertinya nomor Jessi sudah dimatikannya.


Pesan yang ku kirimkan tadi malam sudah centang dua abu-abu. Tetapi belum juga di baca, aku iseng menghubunginya. Di angkat, tetapi kemudian terdengar suara Jessi memanggil seseorang dengan panggilan Mas. Apalagi dia ingin meminjam baju.


Ya Allah, apa Jessi baru saja bermalam dengan seorang pria. Padahal baru tiga hari kami resmi bercerai. Apa firasat ku yang mengatakan Jessi berselingkuh itu benar?


Sakit, rasanya. Tapi aku mencoba bersikap biasa saja. Aku bertanya dia ada di mana, karena ketika aku ingin mampir ke rumah sebelum ke Bandara aku tidak bisa masuk lagi ke kompleks perumahan itu.


Ketika ada suara pria memanggilnya. Panggilan langsung ia matikan. Ya Allah, Jessi. Apa kamu telah mengikuti jejak ku untuk mengumpulkan dosa dengan berzinah.


"Lagi ngapain, Nu?" Tanya Ola tiba-tiba saja duduk di sampingku. Aku segera menggulir ke bagian story' wa.


"Lihat story teman-temanku," jawabku bohong. "Kamu sudah mau pergi?"

__ADS_1


Ola mengangguk. Penampilannya sudah terlihat rapi dan fresh. Dia masih menggenakan pakaiannya yang semalam. Ketika Ola berdiri, dan beranjak dari tempat tidur. Aku mencekal pergelangan tangannya, "Aku sudah mengirimkan 100 juta ke rekeningmu. Sekali lagi maafkan aku, La," tuturku merasa bersalah.


Ola tidak merubah raut wajahnya. Dia tersenyum tipis. Terlihat ingin mengatakan sesuatu, hanya saja tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Sepertinya itu dalevery makanan yang sempat aku pesan.


"Sebentar," ujarku sembari beranjak dari tempat tidur. Membukakan pintu, lalu memintanya untuk menata makanan itu di meja.


Pelayan itu sempat terkejut ketika melihat Ola. Tapi, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Aku pergi, Nu." Ola terlihat buru-buru. Karena merasa tidak enak hati, aku menawarinya sarapan bersama. Tapi dia menolak, dan kekeuh pergi dari kamar.


Setelah Ola pergi. Pria yang mengantarkan makanan ke kamarku, terlihat mencuri-curi pandang. Ku pikir dia ingin mengatakan sesuatu, jadi aku mendekatinya. Duduk di Sofa, lalu bertanya dengan tenang.


"Ada apa?!" Tanyaku tanpa melihat ke arahnya.


"Ehh ... Ini, anu, Tuan. Wanita tadi?!"


Aku mengernyitkan dahi. Wanita tadi? Sepertinya dia merujuk ke Ola. Apa pria ini tahu sesuatu, Ola juga terlihat tak nyaman ketika pria ini masuk.


"Namanya, Solaria, ada apa dengannya?" Pancingku mencari informasi. Siapa tahu pria ini adalah saudaranya? Makanya Ola takut akan diadukan oleh pria ini ke ayah atau ibunya.


"A--aku minta maaf sebelumnya, Tuan. Sebenarnya aku tidak pernah mengurusi tingkah laku dia. Hanya saja, karena Tuan adalah anak pemilik hotel ini saya merasa bersalah jika membiarkan tuan termakan bualannya!" ucap petugas hotel itu dengan wajah tertunduk.


"Dia istri teman saya, hanya saja aku dengar-dengar besok adalah persidangan perceraian mereka. Sila itu sudah banyak sekali menipu para pengunjung, baik turis asing ataupun lokal dia akan memainkan triknya untuk menipu. Biasanya dia akan membuat korbannya mabuk, lalu berpura-pura tidur dengannya, dan kemudian diberi kompensasi atau ditawari jadi sugar baby...,"


"Setahun yang lalu dia sempat ditahan polisi karena melakukan penipuan. Hanya saja seseorang membebaskan Sila,  dan melimpahkan kesalahan pada teman saya yang menjadi suaminya. Sebulan yang lalu ku dengar seorang kerabat membantu membebaskan teman saya, lalu mengurus perceraian dengan Sila. Jadi, saya sarankan Tuan segera meninggalkan, Bali. Saya takut Sila menyadari jika Anda orang yang sangat-sangat kaya sehingga nekat menjebak Anda lebih jauh lagi," jelas petugas itu dengan wajah serius.


Aku terperangah, mendengar penjelasan petugas itu. Benarkah Ola telah menipuku? Tapi jika benar bagaimana aku membuktikannya.


"Minta bagian keamanan menyerahkan rekaman Cctv padaku siang ini juga!" Titah ku pada petugas itu.


"Baik, Tuan."


Kuharap memang ada sesuatu yang terjadi sebelumnya. Jiak tidak, sia-sia sudah uang 100 juta yang aku transfer ke wanita penipu itu hari ini.


.


.

__ADS_1


.


Daster desa, salah sendiri koper dihilangkan_-


Aku terperangah melihat status Wa ayah yang memperlihatkan tumpukan daster batik yang terlihat murah di status whatsapp ayah. Untuk siapa daster itu? Dan koper siapa yang hilang?


H-berikutnya ...


Aku berjanji akan membahagiakanmu, menjadikanmu ratu satu-satunya yang bertahta di hatiku


Foto seorang perempuan yang tengah berada di dapur di posting ayahku. Terlihat dapur itu sangat kecil, wanita itu mengikat rambutnya asal dengan daster kebesaran. Persis emak-emak yang tengah memasak di kompor kebanggaannya.


"Sebenarnya ayah sedang bersama siapa?" Gumamku pada diri sendiri.


Ayah, dia hampir tidak pernah membuat status wa jika bukan untuk memamerkan hadiah-hadiah yang akan dikirimkannya untukku dan Jessi.


Balenciaga untuk menantu kesayangan


Lamborghini Veneno untuk putraku tercinta


Rumah baru untuk sepasang suami-istri kebanggaan ku


Sebuket bunga untuk menantuku


Set perhiasan untuk Jessi menantuku


Biasanya hanya status pamer barang untukku dan Jessi yang ayah post. Tapi apa ini? Sejak kapan ayah dekat dengan seorang wanita? Dan sejak kapan ayah menjalin hubungan dengan perempuan berdaster yang miskin itu.


Astaga ... Ayah selalu mengingatkanku untuk mencari jodoh satu level agar tidak pusing dan merasa terbebani. Kenapa sekarang ayah malah yang mendekati wanita di bawah standar keluarga.


H-berikutnya...


Semoga pernikahan kita dilancarkan oleh Allah, dan restu mereka memudahkan kita.


Byur ...


Aku menyemburkan kopi yang aku pesan di cafetaria hotel. Tidak, sepertinya aku harus segera kembali ke Jakarta. Menyadarkan ayah, agar tidak tersesat menikahi perempuan miskin.

__ADS_1


Aku bukan merendahkan wanita yang tidak berada satu garis sama dengan kami. Hanya saja, setidaknya aku harus bertemu dulu dengan orangnya. Jangan sampai ayahku malah menikahi wanita matre yang hanya ingin harta kekayaan ayah saja. Bisa gawat kalo itu terjadi.


Dengan tergesa-gesa, aku segera mempersiapkan keberangkatan ku. Mengenai Ola, dia ternyata benar-benar menjebakku di bantu ke dua temannya. Mereka bahkan sebelumnya sempat mencuri uang di dompetku. Sial!


__ADS_2