
POV Jessi
Menatap kantong-kantong bahan makanan yang menumpuk di depan kulkas. Aku menghembuskan napas lelah. Tapi pekerjaan ini harus segera aku selesaikan, jika tidak ingin ada yang busuk dan berakhir terbuang percuma. Dengan cekatan aku mengeluarkan bahan makanan yang tadi sempat aku beli di pasar. Seperti biasa, jika aku sudah belanja di pasar, maka akan hilaf.
Niat hati membeli seperlunya, ehh malah sebaliknya. Ada tiga kantong kresek hitam besar di hadapanku. Aku mengeluarkan isi-isinya. Sayur-sayuran, daging-daging, bumbu-bumbu dapur, bahkan buah-buahan ku beli lengkap hingga ke anggur-anggurnya.
Astaga! Sebanyak itu aku berbelanja. Aku menghembuskan napas panjang. Akhirnya memilih mengeluarkan dua potong ikan, sayur bayam, beserta tahu putih. Tidak lupa aku juga mengambil tomat, cabai, dan juga bawang-bawangan. Untuk mempercepat waktu istirahat, malam ini aku hanya akan memasak ikan goreng, tumis bayam tahu putih, juga memasak sambal matah. Ya, setidaknya lauknya sudah lengkap hingga ke protein.
Sebelum memasak, aku sempat melirik sekilas penampilan ku di cermin kecil yang tergantung di dapur. Entah apa fungsinya aku tidak tahu, yang jelas itu sudah ada di sana.
Haa ... Karena keteledoran ku. Akhirnya malam ini aku menggunakan pakaian Om Damar. Kaos berwarna putih yang kebesaran, tanpa celana tambahan.
Semoga saja malam ini Om Damar tidak khilaf melihatku. Karena jika Om Damar khilaf, sudah dipastikan aku juga bakalan khilaf. Hei ... Bagaimanapun aku tetaplah seorang wanita yang mendambakan sentuhan suamiku selama empat tahun terakhir.
Karena terlalu sering mendengar Bu Rini, dan Mbak Andien menceritakan kegiatan ranjang mereka secara terang-terangan ketika kami merujak bersama di setiap hari minggu. Otakku menjadi terkontaminasi, membayangkan gerakan-gerakan liar Mas Danu diatas tubuhku. Yah, tapi apa mau dikata itu hanya tinggal angan-angan. Buktinya aku telah menjadi janda sekarang! Janda perawan lagi.
Aku mengabaikan pikiran kotorku. Mencoba berkonsentrasi dengan masakan ku, satu persatu masakan itu selesai. Hanya tinggal mengulek cabe rawit dan selesai.
"Jes,"
Spontan aku menoleh pada Om Damar. Rambutku yang tadi kuikat rapi telah berantakan kembali karena dibawa berjalan kesana-kemari. Sembari mencoba mengalihkan anak rambut dari mataku, aku menjawab, "Iya, Om. Kenapa? Masakannya bentar lagi selesai. Tinggal sambalnya!"
Aku tahu Om Damar memperhatikan gerak-gerik ku. Punggungku bahkan terasa panas karena diperhatikan sedemikian rupa.
"Besok kita bisa ke kota, Om?" Tanyaku sembari mengulek cabe di cobek.
"Kalo panas ya bisa. Kalo hujan belum tentu, Jes. Kenapa?" Tanya Damar.
Aku merengut kesal. Itu aki-aki benar tidak paham atau berpura-pura tidak paham. Dia tidak lihat apa, malam ini saja aku meminjam pakaiannya! Sudah jelas niatku ingin membeli pakaian, terutama pakaian dalam. Ini saja aku sudah risih karena tidak ada ganti. Mungkin nanti malam aku akan tidur tanpa mengenakannya, yah Sepertinya tidak buruk. Sekaligus mencucinya agar bisa digunakan lagi besok.
__ADS_1
Lagipula Om Damar tidur di sofa. Aku bisa mengunci pintu kamar, lalu tidur dengan tenang.
"Cari baju lah, Om. Gimana sih!"
"Hehehe ... Ya udah besok doa'in enggak hujan." Jawab Om Damar tanpa dosa diiringi kekehan kecil.
Dasar om-om menyebalkan! Argh ... Aku kesal. Rasanya kekuatanku untuk mengulek cabe ini bertambah dua kali lipat karena rasa kesal ku akan sifat santai Om Damar.
.
.
.
Setelah makan malam. Aku membawa piring-piring kotor ke kamar mandi. Karena tidak ada wastafel, jadinya setiap kegiatan harus dilakukan di kamar mandi.
Sialnya, aku kecolongan. Aku terkejut melihat Om Damar yang tengah berdiri di meja makan sembari menggigit potongan apel yang sudah dia kupas. Spontan aku menyembunyikan tanganku di belakang dengan gugup. Jantungku bahkan sudah berdegup berkali-kali lipat lebih kencang.
"Kamu ngapain, Jes? Buang air?" Tanya Om Damar sembari melirik ke arah belakangku.
Aku hanya mengangguk. Tersenyum lebar ke arah Om Damar sembari beringsut selangkah demi selangkah sembari tetap menyembunyikan celana dalamku yang habis di cuci di belakang.
"Apa yang kamu sembunyikan?" Ucapnya lagi sembari melangkah mendekatiku.
Aku menggeleng cepat. "Ti--tidak ada, Om. Jessi pamit tidur dulu, bye--"
Greb ...
Om Damar menarik tubuhku hingga limbung ke belakang. Syukurlah dia cepat menangkap ku hingga tidak langsung terjengkang ke belakang. Karena takut aku spontan berpegangan dengan kerah kemeja yang ia kenakan. Setelah bertatapan beberapa saat, aku tersadar. Kemudian menegakkan tubuhku dengan sigap.
__ADS_1
"Maaf, Om. Enggak sengaja," cicit ku tak enak hati.
Alih-alih menjawab permintaan maafku. Om Damar malah semakin manatap wajahku dalam. "Celana dal*m?" Tanyanya gamblang, "Jadi kamu enggak make apa-apa dong?" Sambungnya diiringi seringai licik yang menakutkan.
Aku yang baru tersadar dari keterkejutan. Segera menggapai tangannya, ingin merebut segitiga bermuda milikku yang sudah berpindah tangan ke dalam genggaman Om Damar.
"Ini seharusnya di jemur di sana!" Tunjuk Om Damar pada seutas tali yang berada di pojok kamar mandi. Menyambung antara kosen kamar mandi dan Kosen pintu belakang.
"A--aku jemur di kamar aja, Om. Sini'in" pintaku dengan memelas. Namun alih-alih memberikannya, Om Damar malah menjauhiku. Menjemur ****** ***** itu ke tempat yang tadi dia tunjuk.
Aku tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Aku malu! Sungguh. Bagaimana mungkin Om Damar bisa bersikap sesantai itu. Sedangkan aku sendiri sudah gemetaran karena menahan malu.
Tanpa menunggu Om Damar berbalik. Aku sudah lari terbirit-birit. Ngacir ke dalam kamarku, kemudian menguncinya dengan erat dari dalam. Om Damar, menakutkan!
Bagaimana bisa dia sesantai itu ketika melihat seorang wanita tanpa ****** ***** di hadapannya. Bahkan dia menjemur pakaian itu tanpa rasa ragu, ataupun malu. Aku jadi curiga, jangan-jangan setelah mantan mama mertua meninggal pasca melahirkan Mas Danu. Om Damar jadi berbelok, itu sebabnya dia tidak pernah menikah lagi.
Hiihhh ... Memikirkannya saja aku bergidik ngeri. Ya Allah, tolong sadarkanlah mantan mertuaku ini jika benar dia telah tersesat.
Itu adalah doa tertulus yang pernah aku berikan. Setelah mendoakan kebahagiaan untuk Mas Danu dan Anaya. Ngomong-ngomong tentang Mas Danu, apa dia sudah pulang dari luar kota?
Aku jadi ingat kenangan lama. Biasanya meskipun dia tidak menyentuhku ataupun membalas ucapanku. Mas Danu tetap akan membawakan aku sesuatu ketika dia pulang dari luar Kota. Yah, meskipun tidak ada kata-kata "Jes, ini untukmu!", Atau, "Jes, ini oleh-oleh dariku."
Sudahlah, tak usah kupikirkan. Bisa gila aku lama-lama karena gagal move on dari mantan suami. Seharusnya aku mulai memikirkan masa depan sekarang. Belajar mengurus perkebunan sawit yang luar ini, atau menjualnya lalu membangun bisnis baru.
Ck, dipikir-pikir dari kemarin aku belum juga bisa menentukan masa depanku mau gimana. Baiklah, kita pikirkan itu besok saja. Sekarang saatnya aku tidur dari melupakan semua kenangan kelam itu. Semangat Jessi!
...Om Damar meresahkan 🤧...
...skip ... skip ... Next part! ...
__ADS_1