Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri

Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri
2. Ketuk Palu


__ADS_3

Jessi POV_


Dua minggu sudah berlalu. Hari ini aku menghadiri sidang putusan pengadilan kasus perceraian ku dengan Mas Danu.


Meskipun satu minggu yang lalu Mas Danu sempat mendatangiku ke rumah untuk meminta kesempatan kedua. Tetapi aku tidak berniat sama sekali untuk membatalkan perceraian. Selain alasan dia yang tidak bisa meninggalkan Anaya, pada dasarnya aku juga tidak ingin memupuk benci pada Mas Danu.


Dari pengalaman Mbak Andien, tetangga depan rumah ku. Laki-laki sekali mencoba berselingkuh, itu akan terus seperti itu. Mereka tidak akan ragu untuk mengulanginya lagi, lagi, dan lagi. Jika sekarang aku memberikan kesempatan pada Mas Danu, bisa jadi kedepannya akan ada Anaya, Anaya yang ke-dua, ke-tiga, dan seterusnya.


Tidak banyak yang hadir dalam persidangan ini. Hanya Aku, Mas Danu, Anaya, Ayah mertuaku, juga Mbok Yem---pembantu di rumah ayah mertuaku yang sudah menganggap ku sebagai putrinya sendiri.


Palu sudah diketuk. Aku dan Mas Danu telah resmi bercerai. Dengan tersenyum manis, aku menjabat tangan Mas Danu yang telah resmi menjadi mantan suamiku.


Mulai hari ini, aku resmi menjadi janda perawan tanpa anak secara hukum dan agama. Status baru, yang semoga saja tidak menyulitkan ku di masa depan.


"Neng Jessi," panggil Mbok Yem sembari merentangkan tangannya ingin memelukku. Aku membalas pelukan Mbok Yem dengan erat. Air mata wanita paruh baya itu mengalir deras.


Mungkin saja dia merasa sedih karena seseorang yang telah dia anggap sebagai putrinya sendiri malah bercerai. Tatapan mata Mbok Yem menajam pada Anaya yang mengapit lengan Mas Danu erat.


"Mbok, jangan nangis. Jessi aja biasa aja, masa Mbok yang nangis," gurauku memecahkan ketegangan antara Mbok Yem, serta Mas Danu dan Ayah mertua.


"Jika bukan karena ayah menyetujuinya. Jessi tidak akan pernah berani meminta cerai dariku!" Desis Mas Danu menyalahkan Ayah mertua.


Aku membulatkan mata tidak percaya dengan ucapan Mas Danu terhadap ayahnya sendiri. "Mas!" Tegur ku tidak terima ayah disalahkan.


"Sudahlah, Jes. Laki-laki yang sudah dibutakan oleh cinta mana tahu yang benar dan yang salah. Meskipun salah dia tetap akan menyalahkan orang lain!" Tutur ayah menyela ucapan ku yang siap mencerca mantan suamiku itu.


Aku menatap mantan ayah mertuaku sejenak. Pria itu tak kalah gagah dari mas Danu, dadanya yang bidang, badannya yang tinggi, rahangnya yang tegas, tatapan mata yang tajam namun selalu lembut jika padaku, serta jalannya yang tegap membuat pria berusia 48 tahun itu terlihat awet muda di mataku.


Tidak, bukan aku saja yang mengatakannya. Bahkan ibu-ibu tetangga ayah mertuaku juga sering menggoda ku.


"Hee Jes, kalo aku jadi kau, ya. Dari pada si Danu yang jarang pulang ke rumah, lebih baik sama bapaknya itulah aku. Udah tampan, kaya raya lagi. Enggak mau selingkuh aja kau sama bapak mertuamu itu? Kalo kau enggak mau, biar ku suruh si Ning yang selingkuh. Menantuku itu udah gak ada gunanya--nya itu, miskin, kurus, jelek lagi. Beda kali lah sama bapak mertuamu itu. Pokoknya kau harus tahu, Jes, sayang kali duda-duda kayak bapak mertuamu itu dianggurkan loh!" Ucapnya kala pertama kali kami bercengkrama lewat pembatas pagar sembari menyiram tanaman.


Aku hanya menanggapinya dengan senyuman setiap kali ibu-ibu itu mengulang kata-kata yang sama kala ada kesempatan. Memang kurang waras otak tetangga mertuaku itu, selain gila harta dia juga terkenal menyukai berbondong-bondong tampan. Jadi, aku sudah tidak heran jika dia mengatakan seperti itu dengan gamblang tanpa tahu malu.


"Ayah mengizinkan Jessi bercerai denganmu karena ayah tidak mau melihat Jessi terus menerus merasa sakit hati karena perselingkuhan mu, Danu. Sekarang kamu bebas melakukan apa saja. Termasuk menikah dengan Anaya, hanya saja hak waris tidak akan turun padamu jika kamu menolak tinggal di rumah ayah!" Aku tersentak, tersadar dari lamunanku yang berpikir kemana-mana.


Mantan mertuaku itu segera berbalik, mengelus rambutku pelan lalu pergi diikuti Mbok Yem dibelakangnya.


"Jangan kurang ajar sama ayah, Mas. Bagaimanapun dia yang sudah berusaha mati-matian membesarkan mu sendirian selama dua puluh lima tahun kamu hidup di dunia." Tuturku sebelum ikut meninggalkan Mas Danu dan Anaya di ruang sidang.


.

__ADS_1


.


.


POV author_


Danu melajukan mobilnya cepat menuju apartemen. Pria itu bahkan tidak menggubris pekikan Anaya yang ketakutan karena cara menyetirnya yang ugal-ugalan.


"Mas! Pelankan mobilnya. Kamu mau kita mati hati ini juga haa!" Pekik Anaya mencecar Danu dengan keras.


"Diamlah, Anaya. Jangan berisik!"


"Kamu kenapa sih, Mas. Tenang sedikit kenapa?!"


"Bagaimana bisa tenang, Anaya. Aku baru saja bercerai dengan istriku! Bagaimana caranya agar aku bisa tenang?!" Amuk Danu sembari memukuli stir mobil dengan kuat. Pria itu menepikan mobilnya dipinggir jalan yang sepi, pelan ia tergugu. Menangis dengan deras untuk pertama kali sepanjang sejarah waktu dewasanya berjalan.


"Mas, kamu nangis?" Tanya Anaya tidak percaya.


"Kalo bukan aku sudah berjanji sama ibu kamu buat nikahin kamu, kami pasti tidak akan bercerai. Andai saja hari itu aku tidak membantumu dan ibumu, Anaya. Andai saja!" Racau Danu kehilangan kendali.


"Kamu nyalahin aku, Mas? Nyalahin almarhum ibu aku?" Tanya Anaya semakin tidak percaya dengan kata-kata yang Danu ucapkan.


"Iya, semua ini salah kamu, Nay. Salah kamu! Kamu tahu aku sudah punya istri, tapi kamu sama sekali enggak jelasin sama ibu kamu kalo aku udah menikah!"


Lagi-lagi Danu tergugu. Benar, semua ini salahnya. Kenapa tidak dia tolak saja waktu itu?


Tetapi mau bagaimana lagi. Waktu itu dia belum merasakan perasaan cinta pada Jessi. Bahkan perasaan itu baru muncul selama tiga bulan terakhir.


Sebelumnya Danu ingin meminta izin secara baik-baik dengan Jessi untuk menikahi Anaya. Dia berjanji akan bersikap adil pada mereka. Nafkah batin, nafkah materi, bahkan kasih sayang akan dia sama ratakan. Kapan perlu, dia akan bolak balik apartemen rumah dua hari sekali untuk keadilan istri-istrinya. Tetapi semuanya gagal, Jessi bahkan sudah meminta cerai sebelum dia meminta izin.


Ini memang salahnya. Salahnya karena telah menyia-nyiakan wanita sesabar, dan sebaik Jessi.


.


.


.


Jessi POV_


"Duh, mbak Jes. Sekarang benar-benar udah sendiri yah di rumah. Udah resmi bercerai belum, Mbak?" Tanya Bu Rini, istri ketua RT di kompleks perumahanku.

__ADS_1


Entah mereka dapat kabar dari mana. Baru saja kemarin ketuk palu, pagi ini sudah diberikan pertanyaan tentang perceraian itu saja.


"Benar, Bu RT. Gimana lagi, udah enggak jodoh!" Jawabku seadanya.


Aku kembali memilih beberapa sayuran untuk ku masak pagi ini. Seperti kacang panjang, wortel, tahu putih, dan beberapa sayuran lainnya. Untuk bagian protein seperti ikan, dan ayam sudah tersedia dalam kulkas freezer.


Biasanya aku akan pergi ke pasar sendiri untuk bagian itu. Soalnya kalo beli di tukang sayur, sering sudah tidak segar lagi. Selain itu harganya juga lebih mahal dari pada di pasar. Jadi, aku biasa membeli untuk stok seminggu.


"Mbak Jessi di rumah sendirian, Mbak?" Tanya Siska, tetangga pengantin baru di samping rumahku.


"Iya, Mbak. Enggak apa-apa, toh kompleks kita selalu aman dari kejahatan. Iya 'kan Bu RT?" Ujarku melempar pertanyaan pada Bu Rini.


"Benar, Mbak Siska. Aman mah di kompleks kita. Bapak-bapaknya selalu ronda. Selain itu 'kan gerbang kita menerapkan sistem tanda pengenal buat masuk. Mantan suami Mbak Jessi aja udah enggak bisa lagi masuk kompleks kita! udah diurus Mbak Jessi seminggu yang lalu." Tutur Bu Rini menjelaskan betapa amannya kompleks perumahan mereka pada Siska yang merupakan penghuni baru di samping rumah Jessi.


"Syukurlah kalo gitu. Enggak salah kami beli rumah di sini dengan harga dua kali lipat lebih mahal dari perumahan elit biasanya," ucap Siska sembari mengelus dada.


"Iya, belinya mahal. Tapi kalo mau dijual, susahnya minta ampun!" Kelakar ku disambut tawa keras Bu Rini.


"Jadi inget sama Mbak Andien, deh. Dia terpaksa harus pergi sebelum rumahnya laku terjual setelah bercerai! Jadi kasihan, aku."


Aku menganggukkan kepala setuju dengan penuturan Bu Rini. Tetangga samping rumah Bu Rini, yang bernama Andien seminggu yang lalu terpaksa pergi dari rumah karena telah menjadi aset pembagian harta gono gini setelah bercerai. Padahal sampai sekarang, rumah dua tingkat dengan halaman luas itupun belum juga laku.


"Memangnya di sini banyak yang cerai yah Bu RT?" Tanya Siska penasaran.


"Enggak banyak, Mbak. Hanya Mbak Andien sama Mbak Jessi aja. Itupun karena suami mereka yang berulah!" Sungut Bu Rini mulai memanasi suasana, bersiap untuk menggosip ronde ke dua.


"Ihh ... Jadi tremor deh aku," ujar Siska bergidik ngeri.


Aku hanya terkekeh geli, sembari memberikan belanjaan ku pada tukang sayur langganan untuk dihitung. "Berapa, bang?" Tanyaku sembari mengeluarkan uang merah selembar.


"Tiga puluh delapan ribu, Mbak."


"Kembaliin lima puluh ribu aja, Bang. Sisanya buat jajan si adek," ujarku sembari mengambil belanjaan yang sudah dihitung oleh abangnya.


"Duh, enggak usah, Mbak. Masa setiap hari anak saya dikasih jajan. Enggak usah, saya balikin aja."


"Biarin aja, Bang. Enggak usah sungkan. Buat jajan anaknya, aja." Aku menarik lima puluh ribu selembar dari tangan Abang sayurnya. Menyisahkan dua belas rebu kembalian di tangan abangnya.


"Aku duluan yah, Buk RT, mbak Siska," pamit ku sebelum memasuki pagar rumahku yang menjulang tinggi lalu kembali menutupnya.


...Next Oii ......

__ADS_1


...Tinggalkan like, dan Coment ......


...Kemudian lanjut part selanjutnya, kawan-kawan hohoho 🤣...


__ADS_2