Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri

Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri
4. Om Damar yang aneh!


__ADS_3

Jessi POV_


Setelah setengah jam mengemudi, akhirnya aku tiba juga di depan pintu pagar rumah mantan mertuaku. Aku membunyikan klakson, tidak lama kemudian Mang Kardi segera membuka pintu pagar setengah. Melirik sebentar ke arah mobilku, mungkin dia tidak tahu siapa yang menyetir.


"Tolong bukain, Mang!" Pintaku menyembulkan kepalaku sedikit dari jendela mobil. Tidak lupa disertai senyuman manis pada satpam penjaga pintu pagar rumah Om Damar. Yah, rumah mantan mertuaku ini berada di sisi kanan jalan lintas yang tidak terlalu padat pengendara.


"Ehh, Non Jessi. Baik, Non!" Jawab Mang Kardi sembari mengangkat jempolnya tinggi-tinggi.


Aku kembali menjalankan mobilku. Memasuki area depan, tanpa memasukkan mobilku ke dalam garasi seperti biasanya aku mampir ke sini.


"Terimakasih, ya, Mang!" ucapku pada Mang Kardi. Terlihat pria yang berusia sekitar 30 tahunan itu mengangguk sembari memberikan cengiran lebar.


Aku melirik sekilas ke arah lantai atas rumah ini. Aku yang biasanya datang sebagai anak menantu, sekarang harus masuk sebagai tamu. Haa ... Kira-kira apakah aku masih bisa menatap jalanan dari balkon lantai dua rumah ini yah? Ck, apa yang aku pikirkan.


Aku mengeyahkan pikiranku yang berandai-andai. Mengetuk pintu dengan sopan, menunggu Mbok Yem membukakan pintu.


Ceklek ...


Pintu terbuka. Tetapi bukan Mbok Yem yang membuka, melainkan Om Damar. Pria itu terlihat terkejut melihat penampilanku yang sangat berbeda seperti biasanya aku datang ke rumah ini.


Aku yang biasanya datang hanya menggunakan daster, ataupun baju kebesaran yang tertutup. Sekarang malah menggunakan pakaian semi formal yang membentuk lekuk tubuh.


"Jessi, ka--kamu ... Ahh masuklah!"


"Terimakasih, Om!" Jawabku sembari mengikuti langkah Om Damar untuk masuk ke dalam rumah. "Mbok Yem kemana Om?" Tanyaku bertanya pada Om Damar perihal keberadaan asisten rumah tangga rumah ini.


"Yem ke rumah sakit. Kekasih Danu itu masuk rumah sakit kemarin. Karena anak itu pergi ke luar kota tiba-tiba, jadi Yem yang menemani kekasihnya." Aku mengangguk-angguk mengerti.


Aku baru tahu jika Anaya juga sering ditinggalkan ke luar kota? Padahal selama ini kupikir Mas Danu membawa Anaya bersamanya jika bepergian. Pasalnya setiap kali aku mencari tahu, selalu dua kursi berdekatan di kelas bisnis yang dia pesan. Apa selama ini aku yang berpikir berlebihan?

__ADS_1


Tapi-- ahh... sudahlah. Intinya tetap saja, Mas Danu telah berselingkuh dari awal kami menikah. Atau sebenarnya aku yang selingkuhannya di sini. Tahu ahh ... terserah!


Setibanya di ruang tamu, aku melihat Om Damar masuk ke ruang kerjanya. Karena tidak ingin dianggap tidak sopan. Aku mendudukkan tubuhku di sofa ruang tamu. Namanya juga aku tamu, yah hanya sebatas ruang tamu.


Mana boleh mengikuti langkah Om Damar sampai ke ruang kerjanya tanpa diminta.


"Jes, kemarilah!" Panggil Om Damar dari depan pintu ruang kerjanya. Aku menganggukkan kepala. Berdiri, lalu ikut mengekori Om Damar hingga ke ruang kerjanya. "Duduklah!" Titahnya, setelah aku berdiri di depan meja kerja pria itu.


"Terimakasih, Om," jawabku dengan canggung. Jelas saja ini canggung. Meskipun kami pernah menjadi keluarga. Tetapi sekarang status kami berbeda, bukannya aku takut Om Damar melecehkan ku ataupun bersikap kurang ajar denganku. Hanya saja, aku masih belum terbiasa!


"Enggak usah sungkan gitu, Jes. Mau minum?" Tawar Om Damar sembari mengeluarkan dua botol kaleng soda dari lemari pendingin di ruang kerjanya.


"Te--rimakasih, Om!" Aku lagi-lagi membalasnya dengan gugup. Bahkan tanganku bergetar ketika menerima kaleng soda dari Om Damar. Astaga! Ada apa denganku!


"Penampilanmu cukup nyentrik juga, ya, setelah bercerai dari Danu, Om suka."


Uhuk ...


Apalagi gaya berpakaian ku hari ini pasti terlihat aneh dimatanya. Aku benar-benar, malu. Siapapun cepat sembunyikan aku kemanapun!


"Hehehe ... Terkejut, ya." Kekeh Om Damar menatapku dengan tatapan lucu, "Ini surat tanahnya. Tanah peninggalan papa mu ada Lima belas hektar, terus kemarin om membeli tanah-tanah disekitarnya lima hektare menggunakan uang dari perkebunan itu sendiri. Jadi totalnya ada dua puluh hektar," jelas Om Damar sembari memberikan dua lembar sertifikat kepemilikan tanah resmi.


"Ini surat izin untuk membuka perkebunan ini. Lalu, ini surat-surat penting lainnya, seperti surat tanda pertanggungjawaban terhadap keamanan pekerja. Beberapa rekapan slip gaji para karyawan kantornya, juga--"


"Stop, Om. Aku liat di rumah aja. Nanti aku pelajari sendiri. Kok aku jadi pusing dengerin Om jelasinnya!"


"Baiklah. Selain itu, nanti hari Jum'at kita bakalan pergi ke Kalimantan. Kamu juga harus melihat sendiri bagaimana luasnya tanah yang nanti akan menjadi tanggung jawab kamu!" Ujar Om Damar. Aku hanya mengangguk patuh saja, toh aku juga tidak mengerti apapun sekarang. Mungkin nanti setelah belajar aku akan mengerti sedikit demi sedikit.


Atau jika memang benar-benar tidak mengerti. Aku akan kembali ke rencana awal, menjual lahan!

__ADS_1


"Kamu bisa kan?" Tanya Om Damar sembari menatap ku dengan tatapan bertanya.


"Bisa, Om. Aku masih pengangguran, kok. Tenang aja!" Candaku yang segera dibalas gelak tawa oleh Om Damar.


Setelah itu, cukup lama aku berdiam diri di ruangan itu. Tidak ada apapun yang terjadi, oke, jangan berpikiran sesuatu yang buruk. Aku benar-benar hanya duduk, memainkan gawai ponselku, sembari menunggu Om Damar bekerja. Entah apa yang dia kerjakan aku tidak tahu.


Kreekk ...


Aku mendongak ketika melihat Om Damar memundurkan kursi yang ia duduki. Lalu, berjalan mendekatiku. Pria itu mendudukkan bokongnya di atas meja, sembari memandangiku yang mendongak karena mengikuti pergerakannya sedari tadi.


"Membalas pesan siapa, Jes?" Tanyanya sembari memberikan kode pada layar ponselku yang menunjukkan aplikasi whatsapp tengah terbuka. "Sudah ada dapat pasangan?" Tanyanya lagi membuat aku terkejut hingga hampir tersedak ludahku sendiri.


"Temanku, Om. Ada yang ngajak main nanti malam. Mana mungkin aku dapat pengganti secepat itu, baru juga kemarin ketok palu!" Tukasku sedikit ketus, karena tidak terima dituduh sudah memiliki pasangan lagi oleh Om Damar.


Hello ... Memangnya aku ini seperti anaknya apa? Yang sudah berselingkuh, padahal istirnya masih setia menunggu kepulangan suaminya ke rumah.


"Baguslah, karena Om enggak mau kamu punya pacar!"


"Haa ... Maksudnya, Om?" Tanyaku tidak mengerti dengan maksud pembicaraan dari mantan mertuaku ini. "Aku enggak boleh punya pacar gitu?" Om Damar mengangguk, menanggapi ucapan ku yang membalikkan pertanyaan.


"Terus kalo enggak pacaran aku dapat suami dari mana, Om. Masa aku peraw*n seumur-- Ups!" Aku segera membekap mulutku karena ucapan ku yang terlalu gamblang. Bisa-bisanya aku mengatakan hal se vulgar itu pada mantan mertuaku sendiri. Astaghfirullah! Urat malumu memang sudah putus Jessi. Ucapkan selamat tinggal pada rasa malu.


"Hemm ... Sepertinya itu enggak mungkin terjadi, deh. Pulanglah! Enggak usah dipikirin. Jangan lupa Jum'at kita pergi ke Kalimantan, Jes!" Ujar Om Damar sembari berdiri dan memalingkan wajahnya cepat.


Pasti Om Damar tidak nyaman dengan ucapanku barusan. Lagipula, bisa-bisanya aku mengatakan hal mengerikan seperti itu. Sudahlah, lebih baik aku menurut apa kata orang tua.


Pulang, dan bersiap untuk pergi. Karena hari Jum'at itu besok pagi! Dasar Om Damar, sepertinya aku banyak-banyak beristigfar menanggapi sikap mantan mertuaku itu sekarang.


"Ya sudah, Jessi pamit pulang, ya Om. Assalamualaikum!" Ucapku sembari menyalami punggung tangannya dengan hormat. Kemudian berlalu dari sana, dan meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


...Jejak jangan lupa kawan 😏 dah ahh ... Next aja😒...


__ADS_2