
POV Danu
Setibanya di Jakarta, aku segera mencari Ayah. Tapi kata mbok Yem, ayah lagi ke luar kota bersama calon istrinya. Kutanyakan tepatnya di mana, Mbok Yem malah menggeleng tak tahu.
Mang Kardi juga melakukan hal yang sama. Dia tidak tahu katanya, dia hanya mengantar ayah dan seorang wanita yang masih muda ke Bandara.
Jantungku semakin berpacu mendengar kata muda. Sepertinya ayah memang ingin membuatku malu dengan menikahi wanita muda dan juga miskin. Sudah bisa kutebak jika wanita itu hanya ingin memoroti ayah.
Aku meneror ayah dengan ratusan panggilan, juga pesan. Sore harinya, ayah baru membalas pesanku.
Tak ingin hanya mendapatkan jawaban singkat. Aku memilih menghubungi ayah.
"Assalamualaikum, yah!" Sapaku berbasi-basi.
"Ada apa, Nu? Dari pesanmu kamu kelihatan keberatan ayah menikah lagi?" Ku hela napas panjang menanggapi ucapan ayah. Ayah salah paham, aku tidak keberatan asalkan perempuan itu seumuran ayah dan juga berada satu garis biru dengan kami.
"Ayah memangnya mau menikah dengan siapa, yah? Jangan asal ambil keputusan lah. Nanti ayah ditinggalkan baru tahu rasa. Yah, wanita zaman sekarang itu harus diseleksi dengan benar. Apalagi kata mang Kardi calon istri ayah itu seumuran dengan Jessi, masih sangat muda, Yah." Tuturku pada akhirnya.
"Dia bukan orang sembarang, Nak. Asal muasal keluarga jelas, keluarga mereka memiliki perkebunan sawit terluas di Kalimantan. Dia juga anak yang baik, penurut, selain itu dia bukanlah orang yang seperti kamu katakan. Dia sudah janda, dia juga orang yang berada satu garis biru dengan kita. Pokoknya ayah tetap akan menikah, tidak peduli kamu restu atau tidak!" Tegas Ayah yang membuatku semakin shok dan hampir jantungan mendengar rentetan pujian dari ayah.
Tapi setidaknya aku bisa bernapas lega. Ayah tidak menikahi wanita sembarangan.
"Ayah bukan seperti kamu yang memilih wanita tak selevel dengan kamu!" Sindir ayah sarkas padaku. Kena lagi! Jika sudah membahas kasta, Anaya memang lebih cepat kena. Sebab, dia berasal dari orang pinggiran yang berjuang keras bertahan di kota Jakarta.
Meskipun begitu, dia anak yang tangguh dan kuat. Dia berjuang demi ibunya. Ayahnya yang jahat meninggalkan mereka dan memilih menikah lagi dengan perempuan lain.
"Enggak usah bawa-bawa Anaya, yah."
"Loh, siapa yang bilang itu Anaya. Ayahkan enggak sebut nama, memangnya cuman Anaya perempuan miskin yang sempat kamu kencani?!" Tanya Ayah membungkam mulutku telak.
Dasar ayah tidak punya perasaan! Bisa-bisanya dia mengungkit para perempuan bayaran yang selama ini aku kencani.
"Tahu, ahh. Sudahlah, katakan ayah akan menikah di mana. Biar Danu datang sama Anaya, masa ayah nikah Danu enggak datang." Ketus ku menyindir ayah yang mempersiapkan pernikahan tanpa memberitahu ku terlebih dahulu.
"Enggak perlu. Ayah enggak butuh wali buat nikah. Pokoknya kamu tunggu aja di rumah. Nanti setelah sah pasti ayah bawa ke rumah. Kamu--"
"Mas!" Suara seorang wanita yang memanggil ayah menghentikan ocehannya. Tanpa aba-aba, ayah tiba-tiba mematikan panggilan teleponnya.
"Ck ... Dasar ayah laknat!" Pekik ku kesal.
Karena merasa diabaikan ayah. Aku mencoba menghubungi Jessi, tetapi tidak diangkat sama sekali. Tidak kehabisan akal, aku mengetikkan rentetan pesan pada Jessi.
Jes, apa kabar?
Kamu tahu enggak ayah mau nikah lagi, loh!
Calon ayah katanya masih muda. Seumuran kamu, tapi udah janda sih katanya. Hebat ya, ayah kita bisa dapat istri muda. Padahal ayah udah tua 😁
Jes, kamu udah ada pasangan lagi, ya?
__ADS_1
Jes, kalo kita rujuk. Aku janji bakal lepasin Anaya. Bahkan jika harus, aku akan buat dia enggak bisa nemuin kita lagi. Kamu, apa enggak bisa buka hati buat aku lagi, Jes?
Jes, ngomong-ngomong kamu di undang ayah enggak ke nikahannya? Pergi bareng yuk. Aku yang bayar transportasi.
Jessi, i Miss you ☺️
I love you, baby♥️
"Mas, nagapain senyum-senyum sendiri? Kamu chatting sama siapa?" Aku tersentak melihat Anaya yang sudah berdiri di depanku. Buru-buru aku menyimpan ponselku ke dalam kantong celana. Lalu beranjak pergi ke kamarku.
Sejak kembali dari Bali. Aku memutuskan pisah kamar dengan Anaya, meskipun masih di apartemen yang sama.
Malam harinya, aku terkejut melihat Anaya yang sudah berkaca-kaca menatap layar ponselku. Dia menatapku dengan tajam, lalu menghempaskan ponselku hingga hancur.
"Apa maksudmu berbicara begitu dengan Mbak Jessi, Mas!" Marahnya dengan tatapan tajam menusuk. "Kamu tega ninggalin aku terus nikah lagi sama Mbak Jessi, iya, Mas! Jawab, Mas!"
"Kamu apa-apa'an sih. Makanya jangan sembarangan lihat privasi orang lain, sakit sendiri 'kan!" balasku sesantai mungkin.
"Tega kamu, Mas! Jahat! Enggak, kamu pokoknya enggak boleh ninggalin aku. Enggak boleh!" Pekiknya lantang sembari meremas rambutnya sendiri seperti orang gila.
"Gila kamu, Nay! Lepas, rambut kamu bisa rontok!"
"Aku enggak peduli, Mas. Aku enggak mau kamu pergi, Mas. Enggak, tolong jangan tinggalin aku. Aku bakal mati jika enggak ada kamu," racaunya sembari berlutut di samping kampus membuatku merasa bersalah. Ya, Allah, sebenarnya sejauh apa engkau mau menguji batas kesabaran hamba mu yang pendosa ini.
"Iya, iya, Mas janji, Nay. Mas janji, udah, Ya!" Ucapku menenangkan Anaya yang untuk pertama kalinya menjadi menggila.
.
.
.
Jadi, untuk menghindari itu. Aku terpaksa membujuk Anaya dengan pelan. Untung saja Anaya bisa mengerti dan membiarkan aku pulang ke rumah. Namun, tetap saja setelah menemaninya makan malam seperti biasa.
Sesampainya di rumah ayah. Ku lihat suasana sudah sepi. Mbok Yem bahkan sudah tak terlihat padahal masih pukul delapan malam.
"Den Danu, baru pulang yah?" Tanya Mbok Yem tiba-tiba dari arah pintu masuk utama.
"Iya. Dari mana, Mbok?" Tanyaku heran.
Mbok Yem terlihat senyum malu-malu. Kemudian dia menunjukkan paper bag ke arahku. "Itu, Den. Dari nganterin kain hadiah dari Neng-- ehh maksudnya nyonya muda. Tadi nunggu jadi, agak lama. Den Danu mau makan, bibi panaskan makanannya dulu, ya, Den. Tuan dan nyonya malam ini enggak makan malam, sibuk malam pengantin hehe," tutur Mbok Yem sembari mengulum senyum malu.
Aku menggelengkan kepala heran. Dasar pengantin baru, bisa-bisanya absen makan hanya karena ingin saling makan ckckck.
"Enggak perlu, Mbok. Aku udah makan di apart tadi," tolak ku halus pada Mbok Yem.
Setelah itu aku segera menuju kamarku. Memikirkan Jessi sejenak, kemudian tertidur dengan nyenyak.
Pukul enam pagi aku terbangun. Bersiap-siap untuk ke kantor. Sesekali terdengar suara gaduh Mbok Yem dan istri baru ayah dari arah dapur. Haa ... Persis sama ketika Jessi masih menjadi menantu di rumah ini. Aku rindu suasana menenangkan seperti ini.
__ADS_1
Mungkin keputusan ayah untuk menikah lagi memang sudah benar.
Setelah siap, aku membuka pintu. Hanya saja aku terpaku melihat wajah cantik, dengan polesan makeup natural, juga pakaian dress selutut yang nampak pas di lekuk tubuhnya.
Jessi, itu adalah Jessi. Ku lihat dia berbicara denganku. Hanya saja aku tidak terlalu mendengar karena masih terpaku dengan kecantikannya. Mengapa sebelumnya Jessi tidak berdandan seperti ini ketika menjadi istriku? Selain itu, apa yang dilakukannya di sini? Atau jangan-jangan---
Ketukan sepatu pentopel dan heels yang saling bersahutan mengalihkan perhatianku ke arah anak tangga. Aku yang memang sudah menunggu kedatangan ayah dan istri barunya, yang ternyata mantan istriku---istri dari anaknya sendiri menatap tajam ke arah ayah.
"Jadi, ini alasan ayah ngizinin Jessi meminta cerai dari aku?!" Sembur ku tak sabar.
Jessi nampak terkejut dengan nada suara ku yang tinggi. Ku lihat Jessi menautkan telapak tangannya pada Ayah. Dan sialnya, ayah malah mengelus punggung tangan itu dengan ibu jarinya.
Membuat amarahku semakin mendidih. Aku merasa dikhianati. Apa mungkin mereka sebenarnya sudah berselingkuh di belakangku dari lama? Tapi sejak kapan? Apa sejak ayah terlihat sering memamerkan makanan masakan menantu kesayangan di whatsapp? Bodoh sekali aku bisa percaya begitu saja pada mereka.
Pantas ayah mengizinkan Jessi bercerai denganku. Pantas Jessi berani mengambil keputusan bercerai dari ku. Ternyata dia sudah mendapatkan pengganti sebelum bercerai dariku.
"Jadi cincin di status wa ayah itu cincin pernikahan kalian? Foto wanita yang berpaling dengan pakaian pengganti itu ternyata foto Jessi?" Cecarku beruntun, "Pantas saja aku tidak diizinkan datang. Ayah takut Jessi membatalkan pernikahan kalian dan berpaling lagi denganku 'kan?"
"Cukup Danu!"
"Ayah yang cukup! Aku enggak habis pikir. Bisa-bisanya ayah berselingkuh dengan menantu ayah sendiri! Ayah macam apa yang bejat seperti ini. Saat putranya tidak ada, menantunya ayah gunakan!" Murka ku penuh dengan emosi yang menguar. Hanya saja, ketika tangan putih, halus, dan lembut itu menyentuh wajahnya dengan kuat. Aku terhenyak!
Ini pertama kalinya Jessi menamparku. Selama ini, dia bahkan tidak pernah menunjukkan kemarahan padaku. Bisa-bisanya ayah memperdaya Jessi-ku yang lemah lembut menjadi kasar seperti ini?!
Plak ...
"Aku tidak sehina, dan serendah itu, Danu! Aku ada harga diri yang ku junjung tinggi. Hanya karena Anaya mau menjadi selingkuhan, bukan berati aku juga sama!" Jessi berteriak keras padaku. Hatiku terasa sakit, ketika dia mengungkit perselingkuhan ku dengan Anaya. Padahal dia juga melakukan hal yang sama.
Setelah menamparku, Jessi juga berteriak padaku. Aku geram mendengarnya, membayangkan Jessi beradu malam dengan ayah membuatku semakin tersulut amarah.
"Jangan libatkan Anaya, Jessi. Kamu sendiri yang menjadi murahan! Jangan mengatakan wanita lain."
Brak ...
"Danu!" Ayah membentakku. Aku tersadar, ucapanku terlalu kasar pada Jessi yang selama ini ku anggap adikku sendiri. Bahkan beberapa waktu ini, hatiku pun telah berpaling mencintainya.
"Kamu benar, Danu. Aku murahan! Aku bahkan tidur dengan ayahmu sebelum kami menikah. Mau tahu kapan kami melakukannya? Tepat kali pertama kamu menghubungiku setelah perceraian. Saat kamu bertanya pakaian siapa yang ingin ku pinjam, itu pakaian ayahmu. Aku murahan, aku hina, aku pendosa. Tapi aku bukan tukang selingkuh seperti kamu!" Raungnya keras, lalu berlari menaiki tangga.
"Puas kamu? Puas melihat istriku menangis setelah sehari dia ku nikahi? Puas melihat istriku menyalahkannya dirinya sendiri, mengatakan dirinya sendiri murahan? Puas kamu menghina istri saya?! Pergi, kamu. Jangan kembali lagi ke rumah ini sebelum kamu bisa menerima kenyataan jika Jessi adalah ibu tiri kamu!"
"Yah?!" Bantahku tidak terima. Tidak masalah aku di usir, hanya saja membayangkan Jessi menjadi ibu tiriku. Hatiku remuk redam rasanya!
Ayah terlihat ingin memarahiku lagi. Hanya saja dia mengurungkan niatnya ketika kami mendengar suara roda koper di seret dari lantai atas. Aku membulatkan mata melihat Jessi dengan mudanya ingin pergi. Tapi, itu bagus!
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa! Pulanglah ke rumahku malam ini. Aku sudah membawa sebagian pakaianmu. Jangan lupa makan bekalnya nanti siang, aku menyayangimu, Mas."
Cup ...
Aku mematung mendengar ajakan Jessi pada ayah. Dia tidak meninggalkan rumah karena ingin bercerai, tetapi malah mengajak ayahku?
__ADS_1
"Kamu lihat! Jessi lebih memilih turun dari rumah ini dari pada melihat anakku yang turun dari rumah. Lihat, Danu. Istriku bahkan mengutamakan kepentingan mu! Malam ini ikut ayah ke rumah Jessi. Minta maaf sama ibumu itu, aku tidak mau tahu!"