Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri

Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri
11. Menggoda Jessi


__ADS_3

Damar POV


"Mas, bangun! Katanya lapar, kok malah tidur!" Mataku menyipit, mengangguk, lalu duduk dengan kaki yang masih berselonjor di sofa.


Jessi mendudukkan tubuhnya di ujung kakiku. Sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya sudah Jessi siapkan untukku di atas meja. Ayam goreng, tempe goreng, lalapan beserta sambal. Di dalam mangkok samping piring juga ada sayur asem yang masih panas.


"Hemm, iya. Tunggu sebentar, aku cuci muka dulu," jawabku.


Setelah mencuci muka, aku merasa jauh lebih segar. Badanku pun terasa lebih ringan dari tadi pagi. Mungkin karena kurang tidur tadi malam aku menjadi merasa lebih lelah dari biasanya.


"Kamu enggak makan?" Tanyaku pada Jessi. Karena kulihat tidak ada piring lain selain sepiring ayam goreng beserta teman-temannya. Juga dua mangkok sayur asam di atas meja.


"Ini lagi makan," Jessi mengarahkan satu piring kecil berisi sambal juga jagung yang aku tebak berasal dari sayur asam. Ditangannya ada paha ayam yang sudah dimakan separuh.


"Enggak pakai nasi?" Tanyaku heran.


Jessi menggeleng. Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya, dan kembali beralih ke arah dapur. Mengabaikan Jessi, aku mulai memakan makanan yang sudah disiapkannya.


Sungguh bodoh Danu mengabaikan istri seperti Jessi. Wanita itu tahu bagaimana merajakan seorang suami. Empat tahun aku memperhatikan Jessi, dari apa yang aku nilai. Jessi merupakan tipikal wanita yang ingin direpotkan.


Dia akan senang jika dimintai tolong. Ketika dia masih menjadi menantuku, aku bahkan sering memintanya untuk membuatkan kopi. Bahkan jika ada kesempatan untuk makan siang di kantor, aku akan memintanya mengantarkan makanan ke kantor.


Meskipun Jessi selalu meninggalkannya di meja resepsionis. Tapi aku tahu jika dia senang, Yem biasanya akan mengirimkan vidio-vidio singkat kebersamaannya bersama Jessi ketika menyiapkan makan siang untukku. Tentunya Yem melakukan itu atas keiingan ku!


"Ini kopinya, Mas!" Aku mengangguk. Kulihat ditangannya sudah membawa beberapa potong ubi jalar rebus.


"Kamu enggak makan nasi, Sayang?" Tanyaku penasaran.


"Iya, nasinya beras putih. Aku takut gemuk," jawabnya santai, membuatku hampir tersedak. Buru-buru aku mengambil gelas air putih. Menenggaknya sampai habis tak tersisa.

__ADS_1


"Jes, kamu itu kurus loh. Enggak apa-apa berat badannya naik dikit,  tambah sepuluh kilo pun belum bakal buat kamu kelihatan gemuk!" Aku memberikan nasehat pada wanitaku tercinta ini. Bisa-bisanya dia takut gemuk, di saat tubuhnya yang kurus ramping itu bisa saja melayang jika diterpa angin kuat.


Aku tahu selama ini dia selalu makan dengan beras merah. Ku pikir karena dia suka itu, makanya kubiarkan saja.


Ku tebak, berat badan Jessi saat ini mungkin tidak lebih dari 45 kilogram. Wajar sih, meskipun dia pernah menikah. Tetapi dia masih gadis, belum merasakan yang namanya perubahan hormon.


"Jadi menurut Mas Damar aku kurus, gitu?" Ujar Jessi dengan nada sewot.


"Bukannya gitu, Sayang. Tapi 'kan maksudku, meskipun kamu nambah berat badan juga tubuhmu masih akan terlihat sama. Gitu loh,"


"Iya, nanti Jessi coba naikin berat badannya. Tapi nanti, enggak sekarang!" Ujarnya tanpa melihat ke arahku. Dia kembali mengambil potongan ayam yang tadi dia makan. Diselingi dengan potongan ubi berwarna ungu yang sialnya terlihat lezat di mataku.


"Kamu yakin tenaga kamu cukup buat ngelayani aku dengan makan itu?" Godaku memberikan kerlingan mata nakal pada Jessi.


"Apa sih, Mas. Semalam itu aku khilaf, oke, jadi enggak ada lagi lain kali. Pokoknya sebelum kita sah, jangan coba-coba lagi!" Ketusnya dengan nada suara sedikit tinggi.


Aku menghentikan suapan tanganku. Menatap Jessi yang masih sibuk memakan ubi dengan intens. Aku tidak salah dengarkan? Dia minta dinikahi olehku 'kan?


"Jadi menurut Mas aku harus nikah sama siapa? Jangan mentang-mentang aku udah janda, mas mau lari dari tanggungjawab, ya!" Hardiknya kesal.


Aku hanya terkekeh geli mendengar ucapannya. Memangnya siapa yang mau lari dari tanggungjawab? Ada-ada saja. Susah-susah aku menjebaknya sampai ke sini hanya untuk meminta restu pernikahan masa malah lepas tanggung jawab. Itu adalah satu-satunya hal yang tidak mungkin akan terjadi!


"Mas, benar-benar akan menikahi ku 'kan?" Tanyanya lagi dengan nada suara rendah. Tatapan matanya berubah menjadi sendu. Seketika aku merasa bersalah karena menanyakan hal bodoh yang tidak bermanfaat seperti tadi.


"Iya, Sayang. Besok kita ke rumah Paman Afit, ya. Kita minta restu dari Paman, juga meminta beliau untuk menjadi wali nikah mu nanti," jawabku menenangkan Jessi.


"Paman Afit?" Tanyanya bingung.


"Iya, Paman Afit. Adik dari ayahmu, Sayang!" Jessi nampak mengangguk. Aku tahu apa yang dia pikirkan. Meskipun dia tidak mengatakannya, aku tahu dia pasti merasa sedih.

__ADS_1


Dari kecil, Jessi tidak pernah bersama ayahnya. Ibunya Jessi di Jakarta, sedangkan ayahnya menikah lagi setelah satu tahun pernikahan karena mendapatkan warisan pembagian kebun dari kakek Jessi.


Ibunya Jessi orang hebat, aku sangat tahu itu. Dia merupakan seorang desainer perhiasan terkenal pada masanya, juga sahabat baik almarhum istriku. Setelah beliau tahu ayahnya Jessi menikah lagi di Kalimantan, beliau tidak meminta cerai seperti wanita lainnya. Tetapi beliau juga tidak pernah sekalipun menerima kembali ayah Jessi untuk kembali ke rumah.


Ketika istriku meninggal dunia. Ibunya Jessi adalah orang yang membantu membesarkan putraku. Empat tahun setelah itu, Ibunya Jessi depresi hingga hampir gila. Ayahnya Jessi benar-benar bejat. Karena terus saja ditolak untuk kembali, beliau memperkosa ibunya Jessi hingga mengandung. Kemudian lahirlah Jessi dari kejadian itu.


Ibunya Jessi mengalami gangguan mental. Selain itu dia juga terkena kangker payudara. Dia harus melakukan pengobatan selama bertahun-tahun hingga harta mereka perlahan habis untuk biaya pengobatannya.


Sebelum meninggal dunia. Ibunya Jessi sempat memintaku menjaga Jessi. Itulah yang membuat Jessi ku nikahkan dengan alasan perjodohan dengan Danu---putraku.


Di hari pernikahan Jessi, ayah kandung Jessi datang menjadi wali. Saat itu pulalah pertemuan pertama, dan terakhir Jessi dengan ayahnya. Almarhum ayah Jessi memberikan warisan perkebunan untuk Jessi. Karena tidak ada yang mengelola, akhirnya aku juga yang turun tangan untuk perkebunan itu.


Ya, serumit itulah kehidupan orang tua Jessi. Dan sekarang, Jessi bahkan harus merasakan yang namanya di selingkuhi sama seperti almarhum ibunya.


"Sayang, enggak usah terlalu dipikirkan. Nanti kamu juga akan kenalan  dengan semua kerabat ayahmu, kok. Aku cukup dekat dengan semua kerabat ayahmu, mereka juga mengharapkan bertemu denganmu. Percaya mereka sebenarnya sangat menyayangimu meskipun belum pernah bertemu secara langsung. Di rumah paman Kaduk, aku bahkan pernah melihat foto ibu, juga kamu dipajang di samping foto keluarga mereka." Jelasku menenangkan Jessi yang tengah berkecamuk dengan pikirannya sendiri.


"Bahkan aku enggak pernah liat foto ayah kamu di rumah paman Kaduk. Enggak tahu kalo di rumah paman Afit, belum pernah bertamu soalnya," sambungku diiringi kekehan.


"Iya, Mas. Aku cuman penasaran aja sama saudara-saudara ayah. Sama ayah aja aku cuman sempat ketemu sekali," adunya dengan senyum yang dipaksakan.


"Lanjut makan, sana. Habis ini aku minta jatah ranjang darimu," godaku mencoba mencairkan suasana melow di hati Jessi.


"Mas! Ihh ... Dibilangin nanti tunggu sah." Gerutunya marah, dengan bibir manyun. Jessi menghentikan makannya. Membereskan piring yang ia gunakan, lalu membawanya menuju dapur.


"Mau kemana, Jes. Aku belum selesai makan loh!" Teriakku semakin gencar menggodanya.


"Enggak peduli! Aku ngambek sama kamu." Pekiknya lantang dari dapur. Aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Jessi. Kembali melanjutkan acara makan ku yang tertunda karena obrolan yang melow.


...*Kalian ada yang seperti Jessi enggak? Suka direpotkan kalo sama orang sekitar. Seperti orang tua, saudara, atau kekasih juga suami, mungkin?!...

__ADS_1


...Next Chapter yaa😁*...


__ADS_2