
POV Damar
Memandangi wajah cantik Jessi yang tertidur nyenyak adalah suatu keberuntungan untukku. Aku bahkan belum sepenuhnya percaya, jika aku telah memadu kasih hingga pagi hari bersama wanita yang sudah sangat ku cintai selama satu tahun terakhir.
Dia mantan istri putraku, hanya saja aku yang mendapatkan mahkotanya. Sulit dipercaya jika Danu benar-benar mengabaikan Jessi selama ini.
Dilihat dari sisi manapun jika dibandingkan dengan Anaya. Tetaplah Jessi yang terbaik, cantiknya, body-nya, bahkan kepandaiannya dalam mengurus rumah jelas Jessi lebih baik.
Sedangkan Anaya, aku tahu gadis itu. Sebelum berpacaran dengan Danu dia pernah menjadi kekasih temanku Frans.
Seorang wanita muda yang masih berusia 21 tahun, malah berpacaran dengan om-om beristri. Dengan jarak usia terpaut sepuluh tahun lebih, Frans tergoda untuk menjadikan Anaya kekasihnya sementara karena hanya ingin coba-coba. Kata Frans, istrinya sudah lama tidak ingin disentuh. Tetapi hubungan mereka berakhir setelah Frans bercerai dengan istrinya, istri Frans hamil anak pria lain. Makanya Frans memilih untuk bercerai dan memulai hidup baru. Termasuk putus dengan Anaya. Sebagai teman yang lebih tua 8 tahun dari Frans, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk dia.
Aku memang tidak pernah berkenalan langsung dengan Anaya. Hanya saja aku sempat beberapa kali mendengar cerita dari teman bisnis ku itu bagaimana nikmatnya permainan ranjang mereka. Sejak saat itu, teman-temanku yang lain pun selalu menawarkan daun muda untuk sekedar menjadi kekasihku.
Hanya saja aku tidak tertarik. Jika hanya untuk membuang uang, aku bisa memberikannya pada menantu kesayanganku. Itulah hal yang kupikirkan saat itu.
Jika itu soal kegiatan ranjang. Aku bahkan sudah tidak memiliki nafsu seksualitas setelah istriku---ibunya Danu--- meninggal dunia pasca melahirkan. Kejadian itu bagaikan awan gelap yang selalu menghantuiku.
Seiring berjalannya waktu. Mereka menyerah untuk membujukku menjadikan gadis-gadis muda sebagai kekasih. Atau istilahnya, sugar baby kalo zaman sekarang.
Hanya saja seperti bom waktu yang siap menghancurkan. Aku malah tertarik dengan menantuku sendiri!
"Ughh...." Aku kembali mengeratkan pelukanku pada Jessi. Pagi ini suasana mendung, rintik-rintik hujan bahkan sudah turun dari setengah jam yang lalu. Meskipun tidak deras, namun jika berjalan sejauh lima meter rasanya baju masih akan basah.
Merasa lapar. Aku kembali mendaratkan ciuman singkat di keningnya. Beranjak turun dari tempat tidur, lalu bergegas menggunakan pakaianku yang sudah berserakan kemana-mana.
Ngomong-ngomong soal pakaian. Aku jadi mengingat Jessi, wanitaku itu tidak memiliki baju ganti karena keteledorannya di bandara kemarin. Bisa-bisanya dia lupa menaikkan kopernya sendiri.
Antarkan aku ke kota. Calon istriku tidak memiliki baju ganti, karena kemarin tertinggal di bandara.
Isi pesanku pada Togar. Kepala mandor yang berada di perumahan afdeling dua tempat kami tinggal di perkebunan ini.
Perkebunan sawit seluas 20 hektar ini memang kubagi menjadi empat bagian. Dari afdeling satu sampai empat, masing-masing afdeling memiliki satu kepala mandor dengan wilayah kepengurusan lima hektare tanah.
Warga-warga di afdeling ini juga telah bertambah. Mereka tidak hanya orang-orang yang bekerja di perkebunan saja. Juga ada yang mengontrak untuk sekedar tinggal di perumahan afdeling ini.
Masing-masing afdeling ada seratus rumah. Itu aku yang telah menambahkan. Luas tanah yang dibangun untuk perumahan juga tidak terhitung dalam luas kebun, dalam artian kata jika disatukan dengan luar wilayah perumahan maka akan lebih dari 20 hektar.
Duh, maaf pak bos. Enggak bisa, hujan! Jalanan becek, takut nanti kita enggak bisa pulang.
__ADS_1
Kalo bapak mau, di afdeling satu ada yang kredit baju buat ibu-ibu. Kalo bapak mau nanti saya antarkan ke sana. Meskipun jalannya becek, seenggaknya kita masih bisa pulang.
Setelah meneguk habis air putih di gelas ku. Aku kembali lagi ke kamar. Mengingat tentang Jessi yang tidak memiliki pakaian ganti, seketika lapar ku menjadi hilang.
Otakku hanya memikirkan tentang Jessi saja. Bukan tentang pakaian luarnya, tapi pakaianan dalamnya. Semalam saja dia mencuci pakaian yang ia kenakan. Hal yang membuatku hampir gila hingga nekat untuk menyentuhnya tadi malam.
Baiklah, jemput!
Mengecup kening Jessi sebentar. Lalu kembali menatapnya yang masih tertidur dalam damai. "Mas pergi dulu, ya. Hanya bentar, kok, kamu jangan kecarian!" Pamit ku sembari terkekeh geli.
Lucu dengan tingkahku sendiri. Aku sudah seperti anak remaja yang baru mengenal pacaran sekarang. Maunya yang dilihat kekasihnya saja. Padahal hanya pergi sebentar, tetapi rasanya seperti berhari-hari.
.
.
.
Pulang dari afdeling satu. Aku mengetuk pintu pelan, "Assalamualaikum, Jes. Jeesi!" Panggilku, berharap dibukakan pintu dan di sambut dengan hangat oleh wanita pujaan hatiku.
Hanya saja beberapa kali mengetuk. Tidak ada jawaban. Mungkin Jessi belum bangun juga, pikirku.
Dengan pelan aku membuka pintu. Masuk, kemudian segera menuju kamar. Tetapi kulihat pintu kamar telah terbuka. Jessi juga sudah tidak ada lagi di tempat tidur. Samar-samar ku dengar suara orang berbicara dari arah dapur. Ternyata Jessi benar ada di sana, sedang menelepon dengan raut wajah yang memerah.
Siapa yang berani menelepon kekasihku itu, hingga wajahnya memerah.
"Kamu bicara apa sih, Mas Danu. Udahlah, kalo enggak ada yang penting aku matiin teleponnya!"
Dgehh ... aku meremas dadaku yang terasa sesak seketika. Ternyata putraku masih menghubungi Jessi. Apa yang mereka bicarakan hingga Jessi terdengar marah seperti itu.
Meskipun aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tetap saja aku cemburu! Sejak semalam aku telah mengklaim Jessi sebagai istriku. Meskipun kami belum sah menikah, tetapi dia sudah melayaniku layaknya suaminya.
Ini tidak bisa dibiarkan. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Aku harus segera menemui pamannya Jessi---Paman Afit. Adik kandung bungsu dari almarhum ayah Jessi. Padahal sebelumnya aku berniat meminta izin pada paman Kaduk---kakak dari ayahnya Jessi.
Tetapi melihat situasi. Akan lebih baik jika aku mendatangi Paman Afit. Tempatnya dekat dari sini. Perkebunan ini berbatasan dengan perkebunan milik Paman Afit. Iya, besok aku akan segera mengajak Jessi ke sana. Kapan perlu kami harus sudah menikah sebelum kembali ke Jakarta. Ya, itu harus!
"..."
"Mas--"
__ADS_1
"Assalamualaikum, Jes. Kamu udah bangun, Sayang?" Tanyaku memotong pembicaraan mereka. Aku harus mengakhiri obrolan mereka. Aku takut Jessi akan kembali berpaling pada Danu---putraku.
Terlihat Jessi sempat terkejut. Panggil telepon itu juga dengan sigap dimatikannya. Entah apa yang ada dalam pikirannya? Wajahnya terlihat gugup. Seperti seseorang yang takut ketahuan berselingkuh.
Meskipun ini tidak normal. Tapi aku senang melihat ekspresi wajahnya. Bukankah itu artinya dia sudah menganggap ku?
"Waalaikumsallam, Mas. Dari mana?" Tanyanya sembari tersenyum manis padaku. Pandangannya terarah ke kantong kresek besar warna hitam di tangan kiri ku. "Kamu bawa apa?!"
"Pakaian buat kamu. Tadi pagi hujan deras, sekarang aja masih mendung. Enggak bisa keluar untuk pergi ke kota. Untunglah ada ibu-ibu di sini yang menjual pakaian. Ya, pakaian biasa, terus daster-daster. Cukuplah buat kamu ganti-ganti selagi kita di sini!"
"Terimakasih, ya, Mas!"
Cup ...
Aku mematung di tempat. Apa yang barusan terjadi? Dia menciumi terlebih dahulu. Benarkah? Ini bukan mimpi kan?
Astaga, aku sangat senang!
"Sayang, kamu menggodaku?" Tanyaku sembari mengejarnya masuk ke dalam kamar.
"Apa sih, Mas." Elaknya sembari berpura-pura sibuk membongkar pakaian baru yang tadi aku beli.
"Kamu mencium ku sayang,"
"Jadi enggak boleh?" Tanyanya sembari melangkahkan kaki menuju lemari. Memasukkan pakaian-pakaian baru yang telah dia lepas harganya.
"Ya--ya bukan gitu, Jes. Kok kamu ngomongnya gitu?"
"Terus, boleh?" Tanyanya lagi membuat wajahku memerah karena menahan panas. Debaran jantungku jangan ditanya lagi. Sudah benar-benar tidak terkendali.
"Sudahlah aku lapar. Masak sana!" Suruh ku mengalihkan pembicaraan. Bisa-bisanya aku merona hanya karena digoda daun muda seperti Jessi, huu! Mau di taruh di mana wajahku jika teman-temanku tahu tentang ini. Aku segera keluar dari kamar, menuju sofa di ruang tamu lalu merebahkan tubuhku yang lelah.
"Mau makan pakai apa, Mas? Ayam sambal penyet aja, ya. Aku mau itu soalnya," ucapnya sembari keluar dari kamar dan segera menuju dapur.
Aku tidak menjawab. Hanya bergumam tidak jelas, karena rasa kantuk yang mulai menyerang.
...*kawan-kawan, nanti next part tunggu aku bangun bobo ya, up lagi. Ngantuk banget takut banyak typo nanti♥️...
...Jangan lupa Vote , juga koment pokoknya.😅*...
__ADS_1