Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri

Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri
9. Bahagia itu sederhana


__ADS_3

POV Jessi


Lebih dari empat jam Om Damar menggagahi ku. Pria tua 48 tahun itu ternyata masih sangat bertenaga. Jika bukan aku memohon karena kelelahan mungkin dia belum akan berhenti juga.


Kalo begini, jelas kutarik lagi kata-kataku yang mengatakan jika Om Damar itu belok. Dia jelas masih pria tulen yang menyukai para wanita!


Cahaya matahari mulai terbit, dari sela-sela kaca jendela, cahaya perlahan masuk ke dalam kamar. Nafasku masih memburu, dadaku turun naik karena kelelahan. Ku alihkan pandanganku pada pria yang telah mengenalkan surgawi dunia, juga dosa terbesar sepanjang hidupku.


Berzinah! Itu yang aku lakukan. Meskipun Om Damar memintaku untuk menikah dengannya sebelum melakukan hubungan intim ini. Tetap saja kami hanya dua insan tanpa status. Dosa besar telah menghantam ku, tetapi berat untuk ku akui. Aku menyukai dosa ini.


Tuhan, semoga engkau memberikan tempat untuk diriku yang pendosa besar ini bertobat suatu hari nanti.


"Capek, huh?!" Om Damar menyibakkan anak rambut yang menghalangi wajahku. Tangannya membelai lembut pipi ini dengan penuh perasaan sayang. Aku tahu itu, tatapan mata itu menyiratkan kebahagiaan. Juga tanda kepuasan, senang, dan bangga dalam waktu bersamaan.


"Apa Om-- e-eh maksudku, Ma--mas enggak capek?" tanyaku canggung.


Dia menggeleng. Tangan kirinya telah berpindah ke pinggang ramping ku yang belum tertutup busana sama sekali.


"Tidurlah, hari ini kita tunda dulu pekerjaan. Besok, baru kita berkeliling kebun untuk melihat wilayah perbatasan dengan kebun milik pamanmu."


Aku mengangguk pelan. Perlahan mataku terpejam, menyelami dunia mimpi yang indah. Kelelahan membuatku semakin cepat tertidur.


"Selamat tidur, Sayang," bisik Om Damar sembari mengecup kedua mata dan keningku bergantian.


Perlahan hatiku menghangat. Bibirku tersenyum tipis dengan mata yang tertutup sebelum benar-benar kehilangan kesadaran. Begini Kah rasanya di cintai? Begini Kah rasanya berada di pelukan seorang suami? Ya, meskipun aku dan Om Damar belum berstatus suami istri. Tapi aku telah memiliki jawaban pasti untuk pertanyaannya tadi malam.


Aku akan menikah dengan Om Damar!


.


.


.


Drttt ... Drttt ... Drttt ...

__ADS_1


Ringtone ponsel milikku berbunyi nyaring, diiringi getaran kuat karena berada di atas nakas. Aku telah terbangun, hanya saja malas untuk membuka mata. Kesadaran ku belum pulih sepenuhnya. Apalagi seluruh tubuhku terasa remuk redam, dan pegal-pegal. Apa ini efek samping dari percintaan kami semalam?


Drttt ... Drttt ...


Aku mengambil ponselku di atas nakas dengan malas. Tanpa melirik siapa yang menelepon, aku langsung mengangkatnya, "Assalamualaikum," sapaku dengan suara berat pada sang penelepon.


"waalaikumsallam. Jes, kamu ada di rumah? Aku udah kamu laporkan sebagai orang luar ya, sama hansip penjaga kompleks?"


Mendengar suara yang tidak asing di pendengaran ku. Spontan aku membelalakkan mata. Ku jauhkan layar ponselku dari telinga, kupandangi dengan seksama. Hanya saja penglihatan ku masih buram. Sepertinya aku perlu mencuci muka agar bisa melihat dengan jelas.


"Tunggu sebentar!" Jawabku sembari meletakkan kembali ponsel di nakas. Aku berdiri, ingin melangkahkan kakiku ke luar dari kamar. Melihat kondisiku yang masih polos tanpa busana, aku menghela napas panjang. "Mas, aku pinjam kaosmu lagi, ya?" Aku berteriak. Meminta izin pada Om Damar untuk menggunakan pakaiannya lagi. Karena aku sama sekali tidak memiliki pakaian ganti sekarang.


Hanya saja beberapa waktu menunggu jawaban. Hening. Tidak ada sahutan sama sekali dari luar.


"Mas?!" Pekik ku sekali lagi. Tapi masih saja tidak ada sahutan. Kemana Om Damar? Apa dia tidak ada di rumah? Bodoh amat, yang penting aku telah mengatakan niatku untuk meminjam pakaiannya.


"Ckk, kemana sih Om Damar?! Mana pergi enggak bilang-bilang lagi." Sambil menggerutu. Aku mengambil kembali ponselku di atas nakas. Kali ini, aku sudah bisa melihat siapa yang menghubungiku meskipun belum sempat mencuci muka.


Mas Danu


"Ha--halo,"


"Iya, halo, Jes. Kamu di mana? Lagi sama siapa sekarang? Tadi siapa yang kamu panggil, kok aku dengar kamu pinjam baju orang itu? Pakaian kamu kemana?" Cecar Mas Danu menanyaiku dengan pertanyaan yang beruntun.


Tanganku bahkan sedikit bergetar mendengar rentetan pertanyaannya. Tidak tahu harus menjawab apa? Tidak mungkin 'kan aku mengatakan sedang bersama ayahnya di Kalimantan.


Bisa-bisa Mas Danu berpikiran macam-macam tentang Om Damar nanti. Apalagi sebelumnya pria itu menyalahkan Om Damar karena telah memberikan izin padaku untuk meminta diceraikan.


"A--aku sama teman, Mas. Lagi liburan!" Jawabku asal.


"Liburan?! Kemana?"


"Adalah pokoknya. Mas enggak perlu tahu lagi. Kita udah bercerai Mas, udah enggak ada urusan satu sama lain. Jadi, kenapa menghubungiku?" Tanyaku. Mengelak dari pembahasan yang terus ditanyakan oleh Mas Danu.


"Huft ... Kamu melaporkan aku sebagai orang luar di kompleks kita?" tanya Mas Danu, terdengar helaan napas berat dari pria itu.

__ADS_1


"Iya. Lagipula kita udah bercerai, Mas. Kita sudah enggak ada hubungan apa-apa lagi. Aku takut nanti jadi omongan tetangga kalo kamu masih bebas keluar masuk kompleks dan mampir ke rumah," jelasku serius.


"Jes, aku ingin rujuk sama kamu.  Aku janji bakal lepasin Anaya demi kamu. Kita rujuk ya,"


Uhuk ...


Aku tersedak ludahku sendiri. Napas ku tercekat mendengar penuturan Mas Danu di seberang sana. Setengah tidak percaya, dan setengah heran. Apa yang membuat pria itu mengatakan hal semacam ini tiba-tiba?


Tidak ayah tidak anak sama saja. Pandai sekali membuat orang setengah jantungan.


"Kamu bicara apa sih, Mas Danu. Udahlah, kalo enggak ada yang penting aku matiin teleponnya!" Kesalku.


"Jes, aku serius. Aku menyesal Jessi, aku sadar telah salah menyia-nyiakan perempuan sebaik kamu. Maafin aku ya, kita rujuk, nikah lagi. Kamu mau 'kan?" Kembali ku tarik napas dalam-dalam. Lalu perlahan ku hembuskan agar mengontrol emosi di dalam hatiku.


Semudah itu dia berselingkuh, lalu semudah itu juga dia meminta rujuk. Tidak, bahkan dari awal Mas Danu tidak pernah menganggap ku sebagai istrinya. Lalu apanya yang mau dirujuk? Apanya yang mau diperbaiki?  Kami bahkan tidak pernah memulai dari awal.


"Mas--"


"Assalamualaikum, Jes. Kamu udah bangun, Sayang?" Aku tersentak mendengar suara Om Damar yang sudah berjalan ke arahku. Cepat-cepat ku matikan panggilan telepon dari mas Danu.


Bukannya aku ingin menyembunyikan ini. Hanya saja tak enak rasanya jika Om Damar tahu, Mas Danu kembali menghubungiku.


"Waalaikumsallam, Mas. Dari mana?" Tanyaku sembari tersenyum manis padanya. Pandanganku terarah ke kantong kresek besar warna hitam di tangannya. "Kamu bawa apa?!" Sambung ku lagi.


"Pakaian buat kamu. Tadi pagi hujan deras, sekarang aja masih mendung. Enggak bisa keluar untuk pergi ke kota. Untunglah ada ibu-ibu di sini yang menjual pakaian. Ya, pakaian biasa, terus daster-daster. Cukuplah buat kamu ganti-ganti selagi kita di sini!" Aku menganggukkan kepala mendengar penjelasan Om Damar. Mengambil kantong itu dari tangannya, untuk ku bawa masuk ke dalam kamar.


"Terimakasih, ya, Mas!" ucapku tulus. Aku menatap wajah tegas Om Damar sekilas. Meremas telapak tanganku pelan, dengan jantung yang berpacu. Dengan tekad yang kuat akhirnya aku memberanikan diri memberikan satu ciuman singkat padanya di pipi sebelah kiri.


Cup...


Malu! Itulah yang aku rasakan setelahnya. Tanpa menunggu respon Om Damar. Aku segera berlari, masuk ke dalam kamar dengan buru-buru. Wajahku memanas seketika, aku yakin sekarang warna pipiku sudah merah muda merona dibuatnya.


...*Guys, aku up lagi 😂 ...


...kemaren itu bukannya enggak mau up, draft ku udah sampai bab 20 tapi ya, masalah perkoutaan yang menghadang. maklum anak kost🤣...

__ADS_1


...Cusss ... ahhh next part selanjutnya 😗*...


__ADS_2