
Jessi POV_
Setibanya di dapur, aku segera menata sayuran yang tadi di beli ke dalam kulkas khusus sayuran dan bahan olahan makanan.
Merasa lapar, aku beralih membuka kulkas yang disediakan khusus menyimpan berbagai macam makanan siap makan. Kulkas itu penuh dengan stok eskrim, minuman soda, beberapa kotak dessert, cake dan cemilan-cemilan lainnya.
Aku mengambil dessert yang sempat aku beli kemarin siang di perjalanan pulang ke rumah. Rasanya tidak banyak berubah meskipun aku telah bercerai. Masih sama seperti ketika aku masih bersama Mas Danu, mungkin karena dia yang memang jarang sekali pulang ke rumah. Makanya aku merasa tidak ada yang berubah di rumah ini.
Setelah menghabiskan dessert. Aku meninggalkan area dapur, menaiki tangga menuju kamarku.
Sebelum masuk ke dalam kamar. Aku sempat melirik kamar dengan pintu berwarna abu-abu gelap tepat di depan pintu kamarku. Mulai sekarang pintu itu akan tertutup rapat. Mungkin baru akan terbuka lagi setelah aku memiliki buah hati bersama pria yang aku cintai nantinya. Entahlah, semoga saja itu bukan sekedar impian belaka.
Melirik jam di atas nakas. Ternyata masih pukul sembilan pagi. Seperti biasa aku tidak memiliki kegiatan. Dan setelah empat tahun aku begini, baru sekarang aku merasakan bosan. Hidupku terlalu monoton sepertinya.
Di rumah, ke rumah mertua, kembali lagi ke rumah. Begitu-begitu saja tanpa ada yang berubah. Mungkin mulai sekarang aku harus mulai mencari kegiatan. Seperti bekerja, atau sekedar jalan-jalan untuk merilekskan tubuhku agar tidak terlalu kaku LP.
Soal uang, aku tidak pernah khawatir. Sebelum orangtuaku meninggal. Mereka meninggalkan warisan perkebunan sawit yang sangat lebar milik papa di Kalimantan. Hanya saja selama ini yang mengatur, dan mengawasi kinerja dan pendapatan dari sana adalah ayah mertuaku.
Mungkin mulai sekarang aku bisa meminta itu pada ayah, ahh ... Ataukah harus kupanggil Om Damar mulai sekarang. Karena ku rasa kurang enak masih memanggilnya ayah, sedangkan aku sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan anaknya.
Lupakan soal panggilan. Sekarang aku akan mencoba mengurus perkebunan itu. Jika memang tidak bisa, aku akan menjualnya dan memindahkannya ke sektor yang aku kuasai. Seperti bisnis kuliner, dan properti. Aku yakin hal itu cukup menjanjikan untuk kesejahteraan hidupku di kemudian hari.
Sebagai langkah awal, aku akan menghubungi Om Damar. Tanpa menunggu lama, aku segera mengambil ponselku yang sengaja aku tinggalkan di meja hias. Membuka gawainya dengan semangat karena memikirkan akan memiliki kegiatan lain selain bersih-bersih rumah yang kelewat luas untuk ku tinggali sendiri ini.
15 panggilan tak terjawab dari ayah
Aku cukup terkejut melihat banyaknya panggilan yang tidak terjawab dari mantan mertuaku itu. Rasa penasaran menyeruak masuk dalam pikiranku. Ada apakah gerangan sehingga Om Damar menghubungiku sebanyak itu.
"Halo," suara berat bernada itu mengalun memasuki gendang telingaku. Astaga, ada apa denganku? Kenapa aku jadi memikirkan wajah Om Damar setelah mendengar suaranya dari ponselku.
"Ha--halo Om," sapaku terbata. Aku gugup! Catat, aku gugup!
"Om? Astaga, Jes. Kamu tidak harus merubah panggilanmu. Ya, meskipun sebenarnya tidak buruk juga kembali dipanggil, Om. Kapan terakhir kamu memanggilku dengan panggilan itu? Empat tahun lalu? Saat kamu masih 20 tahun?" Tanyanya beruntun yang membuatku semakin salah tingkah, dan gugup. Padahal tujuanku hanya menanyakan harta warisan dari papaku kenapa aku jadi seperti seorang yang berbuat salah sekarang! Ayolah jantung, bekerjasamalah.
"Hehehe ... Sepertinya iya, Om. Ehh ... Itu, anu, apa? Duh, Jessi lupa mau ngomong apa? Tunggu sebentar!" Aku menarik napas dalam-dalam. Menghembuskan nya secara perlahan berulangkali. Lalu kembali mendekatkan ponselku ke telinga, "Jessi mau nanyain tentang kebun yang di Kalimantan, Om. Gimana?" imbuhku diakhiri bernapas lega karena berhasil menyampaikan tujuanku.
"Kabun? Ouh iya, tadinya Om juga mau bahas itu sama kamu. Ditelpon-telponi enggak aktif. Kamu ke rumah Om, ya. Nanti Om jelasin garis besarnya, juga sekalian surat-surat tanah, dan perizinannya." Tukas Om Damar dari seberang sana.
__ADS_1
"Kapan, Om?"
"Ya, kalo bisa sekarang. Kalo enggak, kapan kamu bisa aja, Jes. Jangan buru-buru. Kalo masih belum siap ketemu Danu datangnya jangan terlalu sore."
"O-oh Iya, Om. Jessi ke sana sekarang! Siap-siap dulu, assalammualaikum." jawabku cepat menutup telepon sebelum mendapatkan jawaban salam dari Om Damar di seberang sana.
Tidak sopan memang. Tetapi bagaimana lagi. Jantungku sudah berdetak sangat cepat, aku sudah sesak napas menahannya.
Setelah panggilan terputus. Aku meletakkan ponselku di atas meja hias, menatap wajahku yang mulus tanpa jerawat dan flek-flek hitam sama sekali dengan lamat.
Rasa bahagiaku membuncah, "Yes, yes, yes. Pekerjaan aku datang!" pekik ku riang sembari melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan.
Tanpa menunggu lagi. Aku segera memasuki kamar mandi. Membersihkan diri, kemudian bersiap untuk pergi ke rumah mantan mertuaku.
.
.
.
Aku menatap penampilanku di cermin sekali lagi. Ternyata di usiaku yang masih 24 tahun dan sudah menjanda ini. Aku masih cocok menggunakan kemeja yang membentuk lekuk tubuhku, dilapisi kardigan lengan panjang senada. Tidak lupa rok pendek diatas lutut yang aku kenakan juga berwarna sama dengan baju atasan yang aku gunakan.
"Ini masih, SEMPURNA!" Pekik ku riang bukan kepalang.
Aku memutar-mutar tubuhku berulangkali. Hingga suara dering ponselku membuyarkan kesenanganku yang tengah menghadapi puber kedua ini.
"Assalamualaikum," sapaku ramah pada sang penelepon yang tidak lain adalah sahabatku sendiri, Zoraya.
"Waalaikumsallam, Jes. Hee ... Lo kok cerai enggak bilang-bilang sih! Gila Lo, masa mau ngalah gitu aja sama pelakor!" Hardik Zora keras, mencecar ku tanpa jeda.
Zoraya memang sahabat terbaikku dari dulu. Dari kami sekolah dasar, kami sudah berteman. Bisa dibilang Zoraya adalah teman pertama, dan satu-satunya teman yang aku punya sepanjang hidupku.
Baik buruknya Zora aku tahu luar dalam. Bahkan tentang pergaulan gadis itu yang terlalu bebas bergonta-ganti pasangan karena tidak mau terikat pernikahan pun aku tahu.
Tentang hubungan intim. Zoraya bahkan lebih tahu, dan berpengalaman daripada aku yang sudah menikah. Menyedihkan memang, menikah selama empat tahun, tetapi tidak pernah disentuh sama sekali.
Padahal kupikir-pikir aku tidak jelek, tubuhku juga seksi sempurna, ya, selain bagian dadaku yang tidak terlalu menonjol dan terbilang cukup kecil di mata Zoraya.
__ADS_1
Setiap menjelang jam makan siang. Aku terbiasa mendengarkan cerita Zoraya yang berada jauh di negeri Jiran itu tentang betapa menyenangkannya fantasi hubungan intim yang wanita itu lakukan tadi malamnya.
Sudah terbiasa, dan aku sudah kebal. Meskipun aku harus menekan kuat-kuat hasrat yang mulai bergejolak setiap kali mendengar cerita Zoraya. Aku wanita normal, bahkan aku sudah pernah menikah. Wajar jika aku menginginkan sesuatu semacam itu juga bisa aku rasakan.
Hanya saja, aku terlalu takut untuk memulai. Aku tidak seberani Zora yang akan terang-terangan mengajak seorang pria yang disukainya menghabiskan malam panjang bersama. Aku penakut! Tapi aku penasaran.
"Woi, jawab! Diam bae, Lo!" Sentak Zoraya berteriak keras dari dalam ponsel. Ya Allah, sahabatku ini memang sedikit kasar. Sangat berbeda denganku yang penakut.
"Ngapain lagi aku pertahananin, Zo. Mau sampai kapan aku perawan bersuami. Gini-gini aku masih pengen ngerasain gimana sentuhan cowok tahu. Lagian, ayah mertuaku juga sudah beri izin. Apalagi yang aku tunggu?" Belaku, membenarkan keputusan yang aku ambil beberapa waktu yang lalu untuk bercerai dari Mas Danu.
"Ck, ya deh, iya. Jadi, Lo udah resmi cerai 'kan, ya?" Tanya Zora seperti belum yakin.
"Iya, Zoraaa. Udah! aku udah janda sekarang! Puas kamu!"
"Banget hahaha," ejeknya tanpa beban. "Jes, Lo harus tahu. Ini kesempatan bagus buat, Lo. Pokoknya Lo harus balas dendam sama, Danu. Gila aja dia senang-senang sama selingkuhannya, Lo malah ngenes karena jomblo!" Aku terkekeh kecil mendengar penuturan Zora. Jalan pikir kami ternyata memang berbeda. Bagi Zora harga diri adalah harga mati! Sekali disakiti, yang menyakiti harus merasakan sakit yang sama bahkan lebih dari pada sakit yang dia rasakan.
Berbeda denganku yang akan selalu mengikhlaskan segala perbuatan jahat orang-orang itu selagi belum bersangkutan dengan nyawa seseorang. Aku suka ketenangan, dan menurutku dendam adalah jalan cepat untuk membuat keributan.
Tapi, sepertinya tidak ada salahnya jika aku sedikit menggodanya pagi ini, "Menurut kamu aku harus balas dendam kayak apa?" Tanyaku, memancing emosi Zoraya agar lebih bersemangat lagi.
"Cari cowok yang lebih tampan, tajir, dan benar-benar bucin parah sama Lo!" Tukasnya semangat.
"Ya, itu bisa kucari seiring berjalannya waktu," jawabku malas. Zoraya sepertinya terlalu bersemangat, yang dia ucapkan itu bukan dendam. Melainkan memang kewajiban untukku, agar hatiku bisa merasakan bahagia setelah sekian lama tertunda.
"Lo harus dekati Om Damar. Kapan perlu Lo nikah sama dia. Bapaknya Danu itu kan duda hot, tampan, tajir melintit, bahkan Danu enggak ada apa-apanya kalo dibandingin sama bapaknya."
Jder ...
Ku tarik kembali kata-kataku yang mengatakan Zora bersemangat. Dia berkali-kali lipat lebih bersemangat! Dan yang pasti gila.
"Enggak usah aneh-aneh deh, Zo. Aku ikhlas ngelepas, Mas Danu buat Anaya. Lagian tanpa mereka aku juga bisa bahagia. Kamu mau lihat penampilan aku hari ini enggak, angkat vc aku, ya!" Suruh ku pada Zoraya, mengalihkan pembicaraan.
"Oh My God, Jessi!" Pekik Zoraya heboh. "Mau kemana Lo pake pakaian kayak gitu. Lo kelihatan muda banget gila! Argh ...." Sambungnya sembari berteriak-teriak histeris setelah panggilan Video Call itu tersambung.
"Mau kerumah Om Damar. Ngurus surat-surat tanah peninggalan papa. Jadi, e--ehh, ASTAGA! Zo, aku telat! Nanti aku telpon kamu lagi. Sekarang aku harus pergi. Assalamualaikum!"
Karena terlalu panik. Aku segera menarik kunci mobil, juga tas milikku tanpa melihat kembali isinya. Bergegas aku turun ke bawah, menuju bagasi untuk mengeluarkan mobilku yang sangat jarang aku gunakan selama ini.
__ADS_1
Bisa-bisanya aku melupakan janji bertemu dengan Om Damar karena terlalu antusias dengan penampilanku sendiri. Astaga, pubertas ke-dua memang menakutkan!
...Yuhuuu ... percayalah ini belum berakhir kawan-kawan! Tinggalkan jejak kalian, kemudian cuss next part selanjutnya 😏...