
POV Danu
"Mas, mau kemana?" Anaya berlari-lari kecil. Menyusuri tangga, membuat aku menghentikan langkah sejenak.
"Aku ada pekerjaan di luar kota. Maaf untuk tadi pagi, aku hanya masih terlalu terkejut karena perceraian ini. Kamu tahu 'kan, Jessi sudah seperti adik untukku," jelasku pada Anaya.
Anaya tampak merengut. Bibirnya maju beberapa inci, dengan tangan yang bersedekap di dada.
"Mas, ninggalin aku. Sekarang?!"
Menghembuskan napas sejenak. Aku mengangguk. Ya, aku memang akan ke luar kota. Lebih tepatnya, Bali. Hanya saja bukan karena urusan kantor. Tetapi, menenangkan pikiran dan meyakinkan hati ini. Siapa yang sebenarnya benar-benar aku inginkan dan cintai? Benar Anaya, atau jangan-jangan malah Jessi yang sudah menyerah dan pergi.
"Kemana, Mas?!" Tanyanya lagi masih belum menyerah mengetahui tujuan kepergian ku.
"Bandung, ada proyek hotel baru yang ingin ayah bangun di sana. Aku harus turun tangan langsung," bohongku meyakinkan Anaya yang masih terlihat jengkel.
"Lalu aku di tinggal di sini? Sendirian?" Cecarnya.
Aku tahu maksud Anaya. Selama ini aku memang selalu mengajaknya setiap kali aku harus turun tangan menghandle pekerjaan di luar kota.
Ayah memang sudah mempercayakan sepenuhnya padaku untuk masalah proyek-proyek kecil dan sedang. Sedangkan untuk proyek besar, seperti pembangunan hotel bintang lima yang akan di bangun oleh perusahaan kami pertama kali di luar negeri, ayah masih menghandlenya sendiri.
MH hotel, atau Maldevis Honeymoon. Itu adalah proyek hotel yang sudah ayah kerjakan selama hampir dua tahun ini. Aku belum pernah meninjaunya secara langsung. Tapi ayah bilang, hotel itu sengaja dia bangun untuk menjadi hadiah pernikahan aku dan Jessi. Tapi, entahlah sekarang itu jika selesai akan berfungsi seperti apa. Aku tidak yakin jika aku menikah lagi, ayah akan memperlakukannya sama seperti Jessi.
Ayah itu orang yang pemilih!
"Mas, kamu ngelamunin apa sih?! Pokoknya aku enggak mau di tinggal. Mas, enggak boleh pergi kalo enggak bareng aku." Tukas Anaya sembari berjalan menuju sofa. Mendudukkan tubuhnya di sana dengan kaki yang menyilang.
"Jangan egois, Nay. Jessi bahkan tidak pernah melarang ku untuk berkerja. Kenapa kamu beda sekali sama Jessi!" Keluhku sembari ikut mendudukkan tubuh ini ke sofa.
"Aku sama Mbak Jessi itu emang beda, Mas. Mas lupa, aku bisa muasin Mas, sedangkan dia apa? Dia cuman bisa leha-leha di rumah. Berdandan aja dia enggan becus!"
Aku tersentak mendengar ucapan Anaya. Apa yang dia katakan barusan? Jessi tidak bisa berdandan, siapa yang bilang? Dia adalah wanita tercantik, termodis, dan terseksi pada masanya. Anaya tidak tahu saja, jika Jessi sebenarnya bisa tiga kali lipat lebih cantik dari pada dia.
Hanya saja semenjak menikah denganku, dan tidak pernah keluar rumah. Dia jadi abai, hanya sesekali saja merias wajah seadanya untuk menemaniku ke beberapa acara perusahaan.
__ADS_1
"Jaga bicara kamu, Nay! Jangan sampai kamu kelimpungan sendiri setelah melihat Jessi menjanda. Jessi hanya tidak menunjukkan diri saja selama ini," belaku tanpa sengaja.
Anaya membuka mulutnya lebar tidak percaya. "Kamu bela Mbak Jessi, Mas?! Keterlaluan kamu, Mas!" Pekiknya lantang.
"Sudahlah, aku pergi. Jadwal penerbangan ku hampir lewat."
"Really?! Ke Bandung kamu naik pesawat, Mas?! Mas, bilang sebenarnya kamu mau ke mana!" ucap Jessi sembari merentangkan tangannya menghalangi jalanku.
Aku lagi-lagi menghembuskan napas panjang. Kenapa Anaya menyebalkan sekali sekarang. Berbeda dengan Jessi yang selalu bisa ngertiin kemanapun aku pergi.
"Sudahlah, minggir!" Menggeser posisi Anaya dari jalanku. Mengabaikan teriakan-teriakan wanita itu dalam apartemen.
"Argh ..." Namun, suara rintihan berhasil membuat aku menghentikan langkah. Anaya sudah terduduk di lantai, memegangi dadanya kuat dengan tangan yang terkepal erat.
"Nay!" Panik, itulah yang aku rasakan. Tanpa banyak berpikir aku segera membawa Anaya ke rumah sakit. Mengantarkannya yang sudah terkulai lemah ke ruang UGD.
Setelah Anaya di tangani dokter. Aku kembali melangkahkan kakiku kembali ke apartemen. Mengambil koper ku dan melanjutkan tujuanku untuk terbang ke Bali. Anaya, biar ku titipkan saja pada Mbok Yem. Toh, dia juga mendapatkan pengobatan meskipun tidak ada aku.
.
.
.
Aku membuka mata, menatap datar seorang perempuan yang menghalangi wajahku dengan senyum manis.
"Hai, aku duduk di sini boleh, ya?"
Perempuan itu mengenakan baju pantai dengan tali yang diikat di leher. Punggung nya yang menunjukkan warna kulit coklat eksotis sedikit menggangu penglihatan ku.
"Kita boleh kenalan gak, sih?" Tanyanya padaku.
"Danu,"
"Heemm ... Aku Solaria, biasa dipanggil Ola. Di Bali, liburan sendiri?" Tatapannya mengarah padaku. Tidak mau larut dalam obrolan, aku segera bertanya ke inti.
__ADS_1
"Butuh berapa? Aku akan mengenakan jasamu malam ini!" Ola nampak terkejut mendengar ucapanku. Bibir wanita tiba-tiba terkatup, senyumnya hilang begitu saja.
"Thanks karena udah tertarik. Tapi sorry, aku cuman melakukan dare dari teman-temanku. Kau mematahkan ekspektasi ku mengenai pria berkulit putih," ketusnya sembari melangkahkan kakinya menuju segerombolan orang dengan yang memiliki warna kulit sama dengannya.
Dia nampak bercerita sembari sesekali melirik ke arahku. Teman-temannya juga memperhatikan, lalu kemudian mereka tertawa terbahak-bahak. Mengabaikan Ola yang terlihat kesal karena di tertawa kan. Bisa ku tebak, mereka pasti menertawakan Ola yang sempat ku tawar karena ku kira wanita bayaran.
Setelah sunset berakhir. Aku melajukan mobil sport Lamborghini yang aku sewa menuju salah satu restoran. Duduk sendiri, sembari menikmati makan malam ditemani sebotol anggur.
Bosan, aku merindukan Jessi. Ku coba menghubungi nomor itu berkali-kali, tetapi malah di luar jangkauan. Apa mungkin ponsel Jessi mati? Atau malah dia sengaja mengganti nomornya.
Selagi merenungkan Jessi. Seseorang menepuk pundak ku, membuat aku tersentak dan menoleh.
"Hai, ketemu lagi. Maaf aku sama dia temanku bisa gabung sini enggak. Kata resepsionisnya meja kosong sudah tak ada," Ola berdiri dengan dua orang temannya yang terlihat seperti pasangan di depan mejaku.
Merasa bersalah karena sempat mengira dia wanita bayaran. Aku tersenyum, "Silahkan, maaf untuk tadi siang," tuturku tulus.
Ola duduk di sampingku. Dua temannya duduk di kursi yang berada di hadapan kami.
"Kamu sudah menikah?" Tanya Ola padaku di sela-sela obrolan mereka yang tidak aku mengerti.
"Hemm,"
"Ouh, maaf." Aku menganggukkan kepala. Tidak peduli apa status kami sekarang, bagiku Jessi masih seperti istriku. Berada di rumah yang sama bahkan dengan senyum manis yang sama.
Drttt ... Drttt ...
Anaya is calling
Ola melirik ponselku yang berada di atas meja. Tapi aku tidak berniat sama sekali untuk mengangkat panggilan itu.
Saat ini aku tidak ingin mendengarkan rengekan Anaya yang akan membuat kepalaku sakit.
"Kenapa enggak di angkat? Lagi bertengkar sama istrinya, ya?"
Tidak ingin terlalu menanggapi Ola. Aku hanya tersenyum tipis padanya. Mematikan ponselku, lalu melanjutkan acara minum anggurku sampai tandas.
__ADS_1