
POV Jessi
Sebelum matahari terbit. Aku sudah membuka mataku. Ku lihat Mas Damar yang masih tertidur dengan pulas di samping kanan.
Aku memang sengaja bangun lebih pagi mengingat Mas Damar akan ke kantor pagi ini. Bangkit dari tempat tidur, aku menuju kamar mandi untuk segera mandi.
Aku tidak mau ketika mas Damar bangun yang dilihatnya aku yang masih menggunakan pakaian tidur, dan kucel. Oh No, itu adalah sesuatu yang sangat harus aku hindari.
Setelah membersihkan diri. Dan memastikan penampilanku perfect. Aku turun ke bawah.
"Mbok, lagi ngapain?" Tanyaku pada Mbok Yem. Wanita paruh baya itu terlihat sedang duduk di bawah wastafel. Memunguti sesuatu yang aku tidak tahu.
"Eh ayam, ayam, ayam!" Latahnya, "Neng Jessi ih ngagetin aja. Kok udah bangun, Neng? Enggak nyenyak ya?"
Aku menggeleng. Melangkahkan kaki menuju kulkas. Kemudian mulai memilih bahan apa saja yang akan ku olah untuk sarapan suamiku tercinta itu pagi ini.
Meskipun belum cinta, tak ada salahnya 'kan aku mendiktekan pada hatiku jika aku akan mencintai Mas Damar setulus hati.
"Mas Damar mau ke kantor pagi ini, Mbok. Mas Danu ada di rumah Mbok?" Tanyaku penasaran.
Aku jadi teringat rentetan pesan susulan dari Anaya yang mengatakan jika aku wanita jahat. Sudah bercerai, tetapi kenapa ingin menikah lagi dengan Mas Danu. Wanita itu mengira jika yang akan ku tikahi adalah Mas Danu.
Sekarang aku jadi ragu. Apa Anaya benar-benar mencintai Mas Danu? Aku yang hanya bertemu sesekali saja di rumah bisa tahu jika itu bukan badan Mas Danu. Maksudku, aku tahu persis badan mantan suamiku itu. Karena dia sering melepaskan bajunya ketika di rumah.
"Ada, Neng. Neng, maaf Mbok ikut campur. Tapi, apa enggak seharusnya Neng panggil Den Danu, dengan nama aja. Aneh rasanya kalo Neng masih manggil den Danu dengan panggilan mas," tutur Mbok Yem memberikan nasehat.
Aku terdiam sejenak. Mbok Yem benar sih, tapi aku juga ragu. Sejujurnya aku takut. Takut tidak diterima sebagai ibu tirinya oleh pria itu.
Bagaimana jika nanti Mas Danu memakiku. Lalu, memintaku menceraikan Mas Damar yang notabenenya ayahnya. Kenapa aku tidak kepikiran sampai kesana kemarin?
"Akan ku coba, mbok!" Jawabku di iringi senyuman.
Setelah pembicaraan itu. Area dapur menjadi gaduh dengan pembicaraan nyeleneh antara aku dan mbok Yem. Bahkan ayam-ayam tetangga jadi bahan gibahan kami.
Aku menoleh ke arah tangga. Sudah pukul tujuh tapi Mas Damar belum terlihat turun. Padahal sebelumnya perlengkapan pakaian kantornya sudah aku siapkan.
"Mbok, aku ke atas dulu. Jangan-jangan Mas Damar kesiangan," ucapku sembari meninggalkan Mbok Yem yang lagi menata sarapan di meja makan.
Sialnya, sebelum sampai tangga. Pintu kamar Mas Danu terbuka. Pria itu terkejut melihat kehadiranku. Begitupun aku!
"Jessi," gumamnya pelan.
"Sarapan sudah ada di meja, Dan. Nanti kami nyusul," ucapku sebelum melangkahkan kaki naik ke lantai atas.
Aku gugup, aku takut, tubuhku gemetar karena terkejut. Astaga! Yang benar saja. Padahal aku tidak membuat kesalahan, lalu kenapa aku harus setakut ini.
__ADS_1
Cklek ...
Aku membuka pintu kamar. Menarik napas dalam, lalu melangkah masuk. Kulihat Mas Damar tengah mengancingkan lengan kemejanya. Rambutnya masih berantakan, dasinya juga belum di pasang.
"Mas, kamu telat bangun?" Tanyaku sembari mendekat dan dengan sigap mengambil alih apa yang dia kerjakan.
"Dari setengah enam. Nungguin kamu naik, tapi enggak datang-datang. Ck, kalo aku tahu kamu udah mandi duluan mana mungkin ku tungguin!" Ketusnya sembari mendudukkan tubuhnya di tempat tidur.
Aku terkekeh. Tanganku masih sibuk merapikan kemejanya. Lalu, mengambil dasi dan memasangkannya.
"Makanya, nanya dulu. Biar enggak salah sangka," jawabku seadanya.
"Gimana mau nanya. Orang kamu udah gak ada di kamar. Kamu dari mana sih, Jes?" Tanyanya dengan nada kesal.
Aku mematung sesaat. Sejak kapan mas Damar begini? Atau dari awal sifatnya memang begini?
"Nyiapin sarapan sama bekal buat kamu. Nanti aku 'kan mau panggil tukang, sama beli furniture. Kamu lupa?" Mas Damar mendengus. Dia memeluk pinggangku erat, sembari menyerahkan sisir padaku.
Ya Allah, ini sebenarnya aku dapat suami atau anak? Kenapa manja sekali.
"Jadi enggak mau kerja," rengeknya pelan. Wajahnya mendusel-dusel perutku hingga terasa geli.
"No, jajanku banyak loh, Mas. Belum lagi minggu depan Mila nyusul ke Jakarta. Kamu harus ngisi dua dapur, kalo enggak kerja uang dari mana?" Cecarku seperti istri sungguhan yang menolak suaminya pengangguran.
Mas Damar terkekeh kecil. "Benar juga, belum lagi kalo kamu hamil. Biaya ngidam, lahiran, susu, peralatan bayi. Banyak, ya," dia tertawa sendiri dengan ucapannya yang berandai-andai. Yah, sejujurnya aku juga berpikiran sama dengan Mas Damar. Gimana jika aku hamil?
"Mas, tadi aku sempat berpapasan dengan, Danu di bawah," Mas Damar mendongak. Menatap wajahku dengan lamat. Kemudian melepaskan pelukannya.
"Terus?"
"Aku takut dia tidak bisa terima aku sebagai ibu tirinya, Mas. Gimana kalo dia marah, lalu maksa kita buat cerai. Kamu enggak akan ceraiin aku 'kan, Mas?" Tanyaku cemas.
"Kamu ini sebenarnya takut sama Danu, apa takut aku ceraikan sih? Khayalan mu dalam banget," ucap Mas Damar santai. Ku lihat dia sudah selesai menggunakan sepatu kerjanya.
"Mas, aku serius," cicitku dengan suara lirih.
"Kalo Danu yang enggak terima. Tinggal dia yang pergi. Toh, sebelumnya dia juga enggak mau tinggal di rumah ini 'kan? Jadi sayang, berhentilah berpikir yang macam-macam. Gimana aku dapat bayi cepat, kalo ibunya berpikir berat hingga stres begini!" Aku bernapas lega mendengar penuturan Mas Damar. Pria itu memeluk tubuhku erat, mengusap-usap kepalaku dengan lembut.
"Jangan banyak pikiran, ya. Mas enggak bakalan pernah kecewain kamu!" Senyumku terbit mendengar janji penuh makna dari Mas Damar. Mas Damar benar, aku harus membuang jauh-jauh pemikiran itu.
Jika Danu tidak terima kami di sini. Bukankah aku masih memiliki rumah. Aku bisa meminta Mas Damar pulang ke rumahku tanpa harus membuat Danu merasa terusir dari rumah.
"Ayo, Mas sudah harus berangkat ke kantor. Katanya enggak mau suaminya pengangguran," cubitan pelan di pinggangnya ku berikan. Mas Damar ini memang ahlinya membuat orang jengkel.
Malas meladani Mas Damar. Aku segera membuka pintu, keluar lebih dulu diiringi Mas Damar yang terkekeh kecil di belakang.
__ADS_1
.
.
.
"Jadi, ini alasan ayah ngizinin Jessi meminta cerai dari aku?" Tanya Danu dengan nada tinggi.
Ruang makan yang seharusnya menambah energi. Malah berganti menjadi tempat menambah emosi.
"Jadi cincin di status wa ayah itu cincin pernikahan kalian? Foto wanita yang berpaling dengan pakaian pengganti itu ternyata foto Jessi?" Tanya Danu beruntun, "Pantas saja aku tidak diizinkan datang. Ayah takut Jessi membatalkan pernikahan kalian dan berpaling lagi denganku 'kan?"
"Cukup Danu!" Murka Mas Damar Berteriak keras. Membuatku takut mereka menjadi benar-benar bertengkar karena permasalahan ini.
"Ayah yang cukup! Aku enggak habis pikir. Bisa-bisanya ayah berselingkuh dengan menantu ayah sendiri! Ayah macam apa yang bejat seperti ini. Saat putranya tidak ada, menantunya ayah gunakan!"
Plak ...
Aku menampar pipi Danu dengan keras. Mataku memanas mendengar penuturan Danu.
Perkataannya barusan sama saja dengan mengatakan jika aku berselingkuh dengan Mas Damar bahkan sebelum kami bercerai.
"Aku tidak sehina, dan serendah itu, Danu! Aku ada harga diri yang ku junjung tinggi. Hanya karena Anaya mau menjadi selingkuhan, bukan berati aku juga sama!" Pekik ku marah.
"Jangan libatkan Anaya, Jessi. Kamu sendiri yang menjadi murahan! Jangan mengatakan wanita lain."
Brak ...
"Danu!" Damar menampar meja dengan keras. Urat-urat kekesalan terlihat jelas di pelipisnya. Aku tidak tega, diusianya yang seharusnya hidup damai. Mas Damar harus emosi seperti ini hanya karena aku.
"Kamu benar, Danu. Aku murahan! Aku bahkan tidur dengan ayahmu sebelum kami menikah. Mau tahu kapan kami melakukannya? Tepat kali pertama kamu menghubungiku setelah perceraian. Saat kamu bertanya pakaian siapa yang ingin ku pinjam, itu pakaian ayahmu. Aku murahan, aku hina, aku pendosa. Tapi aku bukan tukang selingkuh seperti kamu!"
Aku menghapus kasar air mataku yang telah tumpah ruah. Tidak sanggup rasanya mendengar ucapan Danu. Aku memang hina, tapi Mas Damar tidak.
Aku yang menggodanya. Andai saja aku tidak menggunakan kaos kebesaran itu, andai saja aku tidak mencuci celana dalamku, andai saja aku menolak Mas Damar malam itu. Semua ini tidak akan terjadi! Andai ... Andai saja.
Aku meninggalkan meja makan. Berlari menaiki tangga dan menuju kamar tidur. Segera ku ambil koper, kumasukkan sebagian pakaian mas Damar ke dalam koper. Tidak, bukan pakaianku yang kubereskan tapi pakaian suamiku.
Aku tidak ingin ayah dan anak itu semakin bersitegang. Setiap hari dengan suasana seperti ini tidak akan membuat kenyamanan. Jadi, sudah ku putuskan akan membawa Mas Damar pulang ke rumahku hari ini juga.
Aku menarik turun koper besar di tanganku. Mas Damar nampak kaget, begitupun dengan Danu. Meski sekilas aku bisa melihat raut keterkejutan pria itu diwajahnya.
"Sayang, kamu mau kemana? Jes, kita selesaikan baik-baik ya, jangan kayak gini," mohon mas Damar padaku. Tapi maaf Mas, hatiku terlanjur sakit. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kita semua.
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa. Pulanglah ke rumahku malam ini. Aku sudah membawa sebagian pakaianmu. Jangan lupa makan bekalnya nanti siang, aku menyayangimu, Mas."
__ADS_1
Cup ... Setelah mengatakan itu. Aku segera keluar dari rumah. Kudengar pertengkaran kembali terjadi di dalam sana. Tapi aku sudah tidak peduli!
"Mang, antar aku pulang ke rumah!" Pintaku pada Mang Kardi dengan mata berlinang air mata.