Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri

Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri
14. Sah


__ADS_3

POV Jessi


"Bagaimana saksi, sah?" Tanya penghulu pada orang-orang yang berada di ruang tengah.


"Sah," orang-orang berseru. Aku memeluk erat tubuh bibi Tati. Air mataku luruh, entah rasanya berbeda sekali dengan pernikahan pertamaku.


Ada harapan, dan impian yang bisa kulihat dari binar mata Mas Damar tadi pagi kala dia meminta izinku untuk kesekian kalinya mempersunting diri ini.


Perasaan dicintai, dan dihargai yang Mas Damar berikan. Membuatku merasa jika aku telah menjadi wanita yang sesungguhnya. Ini yang aku impikan sejak dulu. Dicintai, meskipun tidak di umbar.


"Ayo, Jes, bibi antar keluar!" bibi Ida mengulurkan tangannya padaku. Perlahan ku genggam, lalu berdiri dan beralih memeluk istri paman bungsuku ini.


"Terimakasih, Bibi. Karena kalian, Jessi merasakan bagaimana memiliki keluarga yang mendukung keputusan Jessi," ucapku tulus. Bibi Ida menepuk-nepuk punggungku pelan.


"Sudahlah, ayo. Suamimu sudah menunggu di luar!"


Aku digiring untuk menuju ruang tengah. Mengambil duduk di samping mas Damar. Sepasang cincin pernikahan berbalut kan berlian Mas Damar keluarkan.


Mas Damar memasangkan cincin itu ke jari manis ku. Aku juga melakukan hal yang sama,  setelah itu aku mencium tangannya takzim. Mas Damar juga membalas dengan mencium keningku lamat.


"Selamat datang di kehidupanku, istriku!" Bisik Mas Damar sebelum menjauhkan wajahnya dari wajahku.


Aku hanya bisa menahan gugup jantungku. Aku malu, juga bahagia. Semoga ini adalah awal untuk kebahagiaanku.


.


.


.


Sore ini kami sudah tiba di rumah Mas Damar. Rumah yang dulu sering aku kunjungi sebagai menantu, lagi sebagai tamu, dan sekarang menjadi istri.


Sembari mengeluarkan koper dari bagasi. Mang Kardi selalu mandangi ku dengan tatapan aneh. Aku jadi merasa tidak nyaman karena selalu di tatap oleh mang Kadir.


"Kenapa, Di. Istriku cantik, ya?" Tanya Mas Damar tiba-tiba membuat Mang Kardi tersentak. Dia tersenyum kikuk, lalu mengangguk.


"Cuman enggak nyangka aja, Pak. Bapak bisa nikah sama, Neng Jessi. Udah cantik, baik lagi! Jadi iri," jawab Mang Kardi cengengesan.

__ADS_1


"Enggak usah puji istri saya, Di. Dia milik saya, awas aja kamu muji-muji dia lagi!" Ancam Mas Damar dengan mata melotot tajam. Mang Kardi hanya cengengesan, mengangguk, "Ampun, Pak. Galak benar," candanya yang segera di balas pelototan lagi oleh Mas Damar.


Aku hanya menggeleng. Mengambil paper bag yang berisi sopenir pernikahan kami kemarin khusus untuk Mbok Yem. Aku melangkah lebih dulu masuk ke rumah. Mas Damar sama Mang Kardi masih mengurus barang bawaan kami.


Aku sendiri sedikit heran. Pergi hanya dengan satu koper. Pulangnya bawa tiga koper. Belum lagi kardus-kardus hadiah pernikahan yang belum sempat kami buka.


"Assalamualaikum, Mbok!" Panggilku dari balik pintu. Menunggu Mbok Yem datang, dan mempersilahkan masuk. Toh, meskipun aku istri sah mas Damar sekarang. Aku masih harus mengutamakan kesopanan.


"Waalaikumsallam, Neng. Eeh... Nyonya, udah sampai?" Tanya Mbok Yem sedikit kikuk. Aku tahu dia pasti bingung harus memanggilku apa sekarang. Neng seperti yang sering ia gunakan, atau nyonya untuk menghormati status baruku. Aku sendiri terkadang suka kikuk dengan status baruku ini, apalagi Mbok Yem.


"Panggil Neng aja, Mbok. Seperti biasa, toh Jessi 'kan memang masih muda!" Ucapku dengan nada bangga.


Mbok Yem terkekeh mendengar ucapanku. "Mbok, ini hadiah khusus Jessi bawa untuk, Mbok. Harus diterima, loh," ujarku sembari menyerahkan paper bag yang berisi handuk, juga kain untuk bahan baju.


"Ya Allah, makasih, Neng. Repot-repot bawa buat mbok ke Jakarta!" Mata Mbok Yem berembun. Siap menumpahkan tangis haru. Aku tidak tega melihat wanita yang sudah kuanggap keluarga sendiri ini menangis.


Dengan cepat, aku mengeluarkan jurus andalanku untuk membuat Mbok Yem gagal menangis.


"Itu sogokan, Mbok. Biar Mbok mau ajarin aku buat jamu kuat," bisikku pelan membuat Mbok Yem hampir terjungkal.


"Aduh Neng, buat apa?"


"Sih Neng mah bisa aja. Ya udah entar malam Mbok buatin khusus buat, Neng! Tenang aja." Jawab Mbok Yem bersemangat. Aku terkekeh geli, melihat wajah mbok Yem yang sudah memerah karena mendengar permintaan anehku.


Sejujurnya, itu hanya akal-akalan ku saja. Mana mungkin aku meminum hal-hal seperti itu. Toh, kami juga baru tiba dari Kalimantan sore ini. Mana mungkin Mas Damar punya tenaga untuk melakukannya malam ini.


"Buatin apa, Yem?" Tanya Mas Damar tiba-tiba. Tangannya perlahan melingkar di perutku. Sesekali memberikan kecupan singkat di atas kepalaku.


Mendengar Mas Damar bertanya. Aku sontak membulatkan mata. Tanganku sudah terarah untuk memberikan kode pada Mbok Yem agar jangan memberitahu Mas Damar atas permintaanku.


"jangan, Mbok. Jangan," ucapku tanpa suara karena hanya gerakan bibir dan tangan saja.


"Ini, Pak. Neng Jessi minta buatin jamu penambah stamina. Katanya biar kuat ngelayani, Bapak."


Plak ...


Tamatlah sudah riwayatku!

__ADS_1


Tanganku spontan menepuk keningku pelan. Selamat tinggal rasa malu. Kau lagi-lagi meninggalkan sore ini!


"Benarkah?" Tanya Mas Damar sembari mengedipkan mata nakal.


"Iy--"


"Aku capek, Mas. Mau istirahat, kamarnya di mana?" Elak ku memotong ucapan Mbok Yem. Maafkan aku Mbok. Bukan bermaksud kurang ajar, tapi jika Mbok lanjutkan. Urat maluku benar-benar akan kehilangan tempatnya.


"Ceritanya udah gak sabar, nih?" Tanya Mas Damar lagi-lagi menggodaku.


"Sudahlah, Mas. Katakan di mana kamarnya. Apa aku harus kembali ke kamar biasanya?" Tanyaku sedikit memberikan jarak antara kami.


Mas Damar mendengus. "Enggak! Kita di atas. Yem, nanti tolong antar koper kami ke atas yah!" Titah Mas Damar sebelum menggiring ku menuju kamarnya. Kamar yang mulai hari ini juga akan menjadi milikku.


.


.


.


Ketika pertama kali aku masuk. Kesan pertama yang aku lihat adalah kamar ini suram. Hanya ada satu lemari besar, satu tempat tidur luas, satu nakas, ordeng berwarna hitam, cat tembok berwarna hitam, lampu kamar yang juga rada redup.


"Mas, besok kayaknya harus panggil tukang sama harus beli furniture," ujarku tanpa melihat pada Mas Damar. Langkahku mengarah pada pintu balkon. Segera ku buka agar udara segar dapat masuk.


Ini ternyata balkon kamar lantai dua. Balkon yang sering ku tatap setiap kali aku datang ke rumah ini.


"Besok? Tapi besok aku harus ke kantor, Sayang!" Jawab Mas Damar terdengar menyesal.


"Aku cuman bilang loh, Mas. Enggak nyuruh, kamar kamu suram banget soalnya. Mentang-mentang cowok semuanya berwarna hitam!" Tuturku sembari melangkah menuju tempat tidur.


Perjalanan hari ini melelahkan. Tenagaku sepertinya benar-benar diperas habis selama beberapa hari ini.


"Sayang, Mas pengen. Jangan tidur dulu," pinta mas Damar sembari mendaratkan ciuman-ciuman pelan di seluruh wajahku.


"Aku capek, Mas. Nanti malam aja," tolak ku halus.


"Tapi aku maunya sekarang, sayang." Mendengar suara mas Damar yang semakin memberat. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.

__ADS_1


Toh, bibi Tati juga mengatakan. Dosa menolak keiingan suami. Meskipun badanku lelah dan letih, aku masih memberikan pelayan terbaik untuk Mas Damar. Aku tidak ingin, suamiku menjadi melirik wanita lain seperti di film-film karena tidak mendapatkan kepuasan.


__ADS_2