Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri

Mantan Istri Menjadi Ibu Tiri
20.Pertemuan yang tidak disengaja


__ADS_3

Author POV


Jessi diantar pulang ke kompleks perumahan permai oleh mang Kardi. Sepanjang perjalanan, ia banyak melamun. Bukan karena sedih mengingat reaksi Danu, melainkan karena dia merasa bersalah telah menjadi pemecah belah pihak antara Danu dan ayahnya.


"Neng, kita udah sampai. Gerbangnya masih di kunci ya, Neng?" Jessi tersentak mendengar suara Mang Kardi.


Pelan, dia mengangguk. Buru-buru Jessi turun dari mobil, berlari-lari kecil menuju rumah buk RT.


"Assalamualaikum. Buk RT, ibuk...," panggil Jessi dari luar pagar.


Tak lama terlihat Pak RT membuka pagar rumah. "Ehh, Mbak Jessi. Mau ambil kunci, ya?" Tanya Pak RT sembari membukakan pintu pagar lebar.


"Iya, Pak. Sekalian mau ngasih tahu kalo aku udah nikah lagi. Ntar dikira Jessi nyelundupin laki lagi ke rumah," kelakar Jessi yang disambut tawa garing Pak RT.


"Oalah, udah nikah lagi, toh. Nikah di kampung ayahnya, ya, Mbak? Ouh iya, masuk ... Masuk ... Sebentar, saya ambil dulu kunci rumah, Mbaknya." Jessi mengangguk, dia lebih milih berdiri di dekat pagar dari pada duduk di teras.


Bukan apa-apa, takutnya Buk RT sedang tidak ada di rumah. Nanti malah jadi fitnah. Lebih baik menghindari, dari pada menjelaskan, bukan?


"Ini, Mbak. Ouh iya, boleh saya foto bukti buku nikahnya, Mbak. Sekalian fotonya, buat ditunjukkan pada penjaga keamanan kompleks. Toh, suaminya belum ikut pulang kan, ya," pinta Pak RT pada Jessi.


Jessi segera mengeluarkan buku nikahnya dari dalam tas. Dia sempat tertegun sejenak ketika melihat buku nikah suaminya juga masih di tangannya. Mungkin Damar lupa menyimpan buku nikah miliknya, atau memang sengaja dibiarkan bersama Jessi.


Jessi menggelengkan kepala pelan. Membuang spekulasi mengenai prahara buku nikah. Segera ia tunjukkan keduanya pada Pak RT. Setelah buku nikahnya di foto, Jessi juga mengirimkan satu foto pernikahan mereka beserta satu foto Damar yang mengenakan jas formal.


"Terimakasih, ya, Pak. Bilang sama Bu RT, oleh-olehnya nanti, belum sempat di bongkar," bohongnya. Padahal sudah jelas dia melupakan koper berisi oleh-oleh untuk para tetangganya samping kiri-kanan, juga depan rumah masih tertinggal di rumah Damar.


"Hehehe ... Iya, mbak. Nanti saya sampaikan," kekeh Pak RT menanggapi Jessi.


.


.


.


Berulangkali Jessi menghembuskan napas panjang. Rasa pegal, capek, letih, dan lelah seusai perjalanan belum hilang. Dia sudah di suguhi keadaan rumahnya yang pengap juga berdebu.

__ADS_1


Buru-buru Jessi menghubungi tukang sedot debu andalannya. Dia harus segera menyingkir setiap debu yang ada di rumahnya. Tak lupa, dia juga menghubungi orang yang biasanya membantunya membersihkan rumah selain Mbok Yem.


Benar kata orang. Emosi boleh, impulsif jangan. Lihatlah, gara-gara harga dirinya yang serasa di injak-injak oleh Danu. Dia malah memutuskan pulang dengan impulsif. Tanpa memikirkan bahwa rumahnya sudah berminggu-minggu tidak ditempati. Dia malah mengajak Damar---suaminya untuk tinggal di sini.


"Derita banget hidup ku," keluh Jessi sembari menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu.


Tak lama, tukang sedot debu datang. Jessi mengarahkannya untuk memulai dari kamar di lantai atas. Lalu setelah itu baru di gorden-gorden, kursi-kursi yang ada bantalan, serta sofa-sofa di lantai bawah.


Ketika mbak-mbak yang Jessi panggil juga datang. Jessi segera mengarahkannya untuk membersihkan kulkasnya terlebih dahulu. Buah-buahan, sayur-sayuran, juga daging pada busuk karena Jessi lupa mengatakannya pada Mbok Yem untuk di angkut ke rumah sana.


Padahal listrik dirumahnya di matikan total untuk menghindari adanya arus pendek listrik.


Semua orang sibuk bekerja membersihkan rumah. Jessi, dia malah berpamitan pada mbak yang membantunya untuk belanja stok makanan.


.


.


.


Turun dari mobil. Jessi terlihat sangat cantik, juga mempesona dengan penampilannya. Elegan, dan berkelas. Pakaian yang ia kenakan juga barang-barang branded ori yang mencapai harga ratusan juta.


Hanya saja saat itu Jessi enggan menggunakannya. Dia jarang keluar rumah, Danu pun tak pernah mengajaknya untuk pergi keluar. Sesekali dia di suruh Damar mendampingi Danu di pertemuan para pebisnis hebat dan sukses. Tetapi dia juga tidak berdandan, hanya memoleskan lipstik dan maskara untuk menunjang penampilan. Toh, Danu juga hanya memperkenalkannya sebagai sepupu jauhnya yang kebetulan tinggal di rumah.


Jadi, Jessi tidak repot-repot berdandan. Berbeda dengan sekarang. Damar terlihat menyukainya ketika menggunakan pakaian-pakaian seksi yang masih batas wajar, juga hiasan yang ia kenakan.


Untuk menyenangkan suami. Maka Jessi akan melakukannya. Bu RT pernah berkata, "Suami itu harus dimanjakan. Disambut dengan wajah cantik istri yang sudah berdandan di pagi hari. Menyenangkan suami itu wajib, bukan cuman urusan ranjang, penampilan juga. Biar suami tidak tergoda dengan pelakor di luar sana!"


Jessi berjalan dengan anggun memasuki area supermaket. Mendorong troli besar untuk menampung semua belanjaannya hari ini.


Di mulai dari pertepungan, perbumbuan, buah-buahan, lalu persusuan. Tak lupa, Jessi juga membeli makanan freezer seperti nugget, bakso, dan persosisan.


Saat Jessi tengah berada di lorong daging-daging. Jessi ingin mengambil daging sapi, tetapi seseorang lebih dulu mengambilnya.


"Maaf, yang ini berikan ke kami saja, ya, mbak," ujar seseorang itu sembari mengambil lima potong sisanya semua.

__ADS_1


"Anaya," gumam Jessi pelan. Nemun, masih bisa didengar oleh orang itu.


"Mbak Jessi!" pekiknya kaget. Anaya nampak terkejut melihat penampilan Jessi yang sangat modis, dan cantik dari atas sampai bawah. Kacamata hitam bahkan masih bertengger di kepala Jessi, karena dialih fungsikannya sebagai bando.


"Sama siapa ke sini, Nay?" Tanya Jessi basa-basi.


"Mas Danu, mbak. Mbak Jessi ke sini sama siapa? Suaminya, ya?" Tebak Anaya celingak-celinguk penasaran sosok suami Jessi.


"Enggak, sendirian, kok. Suami lagi kerja. Kebetulan baru pulang ke rumah tadi pagi, jadi harus belanja untuk stok di rumah." Anaya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Wanita itu melirik belanjaan Jessi yang sudah penuh seperti untuk stok sebulan, padahal jelas-jelas tadi dia mengatakan stok seminggu.


Suaminya Mbak Jessi sekaya apa? Apa lebih kaya dari mas Danu? Makanya dia bisa boros gitu belanja? Batin Anaya mulai merasakan iri.


"Jes--- ehh ... Maksudku, Ma." Sapa Danu terlihat canggung bertemu lagi dengan Jessi di sini. Padahal tadi pagi mereka masih bertengkar, bahkan saling usir dari rumah dengan ayahnya.


Meskipun berat bagi Danu menerima Jessi sebagai ibu tirinya. Tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Ayahnya terlihat bahagia bersama Jessi, pun sebaliknya. Mereka bahkan masih sempat saling cium di saat hati sedang panas membakar amarah.


Jessi sendiripun nampak kaget mendengar Danu memanggilnya Mama. Rasanya aneh memiliki anak yang hanya beberapa tahun lebih tua darinya.


Sebaliknya Anaya malah penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?


"Mama belanja sebanyak itu buat apa? Soal tadi pagi, aku minta maaf. Enggak ada maksud untuk menuduh ayah juga Mama. Aku hanya masih terkejut dan tidak menyangka," jelas Danu dengan mata berkeliaran ke mana-mana. Dia tidak bisa menatap Jessi. Tak sanggup rasanya, apalagi Jessi terlihat sangat cantik juga sempurna berpenampilan seperti itu.


"Ehh ... Hehehe ... Tak apa, Nu. Ini untuk stok di rumah. Makanan di rumah kosong, sedangkan ayah kamu mulai nanti malam akan tinggal bersama aku," jawab Jessi canggung.


"Tunggu? Mama, ayah? Ini maksudnya apa, Mas? Mbak Jessi nikah sama ayah kamu, gitu?" Tanya Anaya beruntun.


"Iya, Nay," Danu menjawab seadanya.


"Apa?!" Anaya limbung ke belakang. Syok mendengar penuturan Danu. Itu berarti Jessi akan menjadi ibu mertuanya nanti.


Hati Anaya menjerit-jerit. Gagal sudah dia berencana menguasai seluruh harta kekayaan Danu dan ayahnya. Jessi sudah lebih dulu mengambil start. Kemungkinan besar dia pemenangnya. Sebenarnya apa yang terjadi di sini?


"Anaya!"


"Nay!"

__ADS_1


Jessi dan Danu berteriak panik melihat Anaya yang hampir terjatuh. Bibir wanita itu tampak bergetar, dan memucat.


Jessi sialan! Maki Anaya dalam hati.


__ADS_2