
POV Jessi
Malam ini, setelah tadi siang sibuk berkenalan dengan sanak saudara dari keluarga besar Papa. Juga membantu bibi Tati menghandle pihak wedding organizer yang akan memasang seluruh dekor. Aku memutuskan untuk tidur lebih cepat. Badanku terasa lelah dan letih. Seluruh sendiku terasa mau lepas dari tempatnya.
Dua malam ini aku tidur bersama Mila. Sedangkan Mas Damar tidur di ruang tengah bersama paman Afit, Bang Rian, juga kerabat-kerabat dekat lainnya yang memutuskan untuk menginap.
Aku sempat terkejut, kala mengetahui bahwa tenda yang ada dihalaman. Ternyata untuk persiapan resepsi pernikahanku dengan Mas Damar. Ternyata, Mas Damar benar-benar diterima baik dalam keluarga papa meskipun jarak usia kami terpaut jauh.
Untuk keluarga ibu. Mereka tidak ada yang datang. Hubunganku dengan mereka memang tidak pernah baik, apalagi setelah aku mendapatkan warisan dari papa. Mereka mengatakan aku pengkhianat. Demi harta, rela mengkhianati ibuku yang telah disakiti oleh papa berulangkali.
Padahal sebagai anak. Tentu aku tidak bisa memilih. Sejahat-jahatnya papa, dia tetap ayah kandungku. Dan seburuk-buruknya ibu, dia tetap ibu terkasihku. Tidak ada yang namanya mantan orangtua. Jadi, aku hanya berusaha bersikap netral. Jika keluarga ibu tidak menyukaiku, maka aku hanya bisa tersenyum ketika bertemu mereka.
Selain itu, aku merasa kewalahan dengan persiapan ini. Meskipun kami berada di titik kota. Ternyata di sini kekeluargaan masih terjalin erat. Beda sekali suasananya dengan pernikahanku dan Mas Danu kala itu.
Saat itu kami menikah di hotel. Seluruh persiapan dilakukan pihak hotel. Kami hanya tinggal datang ketika akad, dan resepsi saja. Sedangkan sekarang, aku merasakan bagaimana letihnya mengurus persiapan pernikahan.
Apalagi waktu yang tersisa hanya tinggal dua hari. Besok akad akan digelar, dilanjutkan resepsi sampai sore. Besok paginya lagi, kami akan kembali bertolak ke Jakarta. Karena mas Damar harus segera menghandle perusahaannya, lalu menentukan jadwal untuk kami pergi honeymoon.
Sejujurnya aku tidak terlalu ingin pergi honeymoon. Hanya saja, Mas Damar mengatakan dia ingin kembali merasakan bagaimana menjadi pengantin baru. Menikmati waktu berdua dengan pasangan sebanyak mungkin.
Pubertas ke-dua memang sedikit berbahaya. Aku merasakannya, tidak hanya Mas Damar yang bersemangat. Aku juga, hanya saja dalam artian yang berbeda!
"Mbak, udah mau tidur?" Mila menghampiriku dengan ponsel yang ada di tangannya. Ku lihat dia sedang belajar di salah satu aplikasi bimbel yang tengah tren saat ini.
"Rencananya, gitu. Kamu belajar, Mil?" Tanyaku sedikit penasaran. Karena sesuai dugaan ku kemarin. Mila sudah tamat SMA.
__ADS_1
"Iya, Alhamdulillah aku dapat beasiswa untuk kuliah di Universitas Indonesia, Mbak. Pintar 'kan aku!" Bangga Mila sembari menepuk-nepuk dadanya sombong.
Aku terkekeh, menganggukkan kepala membenarkan. Toh, kenyataannya dia memang pintar. Jauh berbeda dengan otakku yang pas-pasan. Pas kuliah, aku bahkan membeli beberapa mata pelajaran karena tidak mengerti.
"Rencananya mau tinggal di mana nanti di Jakarta?"
"Sama Mbak, dong!" Ucapnya penuh keyakinan. "Aku enggak mau ngekost, buang-buang duit. Juga, gak mau beli apartemen, kemahalan. Toh di Jakarta aku juga cuman beberapa tahun!"
Aku tersenyum. Benar juga, selain itu memang akan lebih aman jika Mila tinggal bersamaku dan Mas Damar. Hanya saja, aku ragu.
Di rumah nantinya juga akan ada Mas Danu. Dia masih muda, Mila juga gadis polos yang masih lugu. Aku takut dia jadi terpincut dengan ketampanan mantan suamiku itu.
Aku bersyukur, jika apa yang aku takutkan tidak terjadi. Atau ketika Mila menyukai mas Danu, perasannya juga terbalas. Jika tidak? Maka aku akan sangat merasa bersalah dengan paman Kaduk dan Bibi.
"Iya, ini Mila enggak minta izin loh, ya. Cuman ngasih tahu aja, toh Om Damar udah ngizinin juga!"
Menghembuskan napas panjang. Aku mengangguk pasrah. Memang tidak ada tempat paling aman untuk Mila selain bersama kami. Tapi, tunggu dulu! Sepertinya aku tahu harus menempatkan anak ini di mana.
"Sebenarnya, Mbak enggak mau kamu tinggal sama Mbak, Mil. Jujur aja!" Tuturku pelan, raut wajah Mila berubah seketika. Terlihat kesedihan dan kekecewaan di mata gadis manis itu. "Ya, masa Mbak pengantin baru digangguin. Enggak asik dong!" Sambungku diiringi tawa kecil.
Hanya saja, Mila masih menundukkan pandangannya. Mungkin sebentar lagi sepupuku itu akan menangis. "Tapi, Mbak ada solusinya buat kamu. Gimana kalo nanti kamu tinggal di rumahnya, Mbak. Yang di kompleks RT 3 perumahan elit permai. Di sana aman, rumah Mbak juga luas, nanti Mbak sama mbok Yem bakal ke sana tiga atau dua hari sekali untuk liat keadaan kamu. Gimana?" Tanyaku penuh harap.
Mila mengangkat kepalanya. Binar di matanya kembali menyala. Gadis itu mengangguk antusias, "Tapi gratis 'kan, ya? Terus stok makanannya Mbak yang isi. Biar uangnya nanti Mila suruh bapak kasih, Mbak. Sebenarnya, Mila itu enggak bisa masak. Enggak bisa beres-beres rumah. Makanya enggak mau tinggal sendiri," aku-nya dengan suara pelan.
Bibirku berkedut menahan tawa. Perutku terasa geli kala mendengar pengakuan Mila. Ya, setidaknya aku masih unggul dalam urusan dapur dan rumah dari Mila.
__ADS_1
"Kalo gitu, Mbak bakal cariin kamu art untuk bantu masak, dan beres-beres rumah. Repot juga kalo harus nganterin makanan tiap hari ke rumah. Ntar sama aja, dong. Waktu Mbak berduan dengan Om Damar berkurang," kelakar ku disambut gelak tawa keras dari Mila.
Setelah puas tertawa. Gadis itu membaringkan tubuhnya, menarik selimut lalu menatapku.
"Mbak kenapa mau nikah sama Om Damar? Dia kan udah tua, seumuran paman Afit loh!" Celetuk Mila bertanya padaku. Aku terdiam, tidak tahu harus menjawabnya bagaimana.
Aku sendiripun bingung. Kenapa aku menerima pernikahan ini? Soal perasaan, jujur aku belum merasakan apa-apa selain rasa hormat. Ya, itu sudah ada dari Om Damar masih menjadi mertuaku.
Lalu, apa alasanku menerima Om Damar. Ya, mungkin ini berawal dari nafsu kami yang tidak terbendung. Hanya itu alasannya untuk saat ini, tapi semoga kedepannya. Aku bisa menumbuhkan perasanku untuk Mas Damar.
Aku selalu bermimpi memiliki kehidupan yang bahagia bersama pasangan 'kan. Karena aku akan menikah dengan Mas Damar. Tidak ada salahnya untuk membuka hatiku pada Mas Damar. Sama seperti ketika aku mencoba membuka hati untuk Mas Danu.
Aku yakin seiring berjalannya waktu. Perasaan cinta itu akan tumbuh sendiri dalam hatiku.
"Mbak, malah bengong. Jawab loh! Kok bisa Mbak mau nikah sama Om Damar?" Ulang Mila mengagetkanku dari lamunan.
"Ehemm ... Tampan, kaya, hot, terus diperutnya ada eight-pack--"
"What! Serius, Mbak?" Tanya Mila dengan suara melengking tinggi. Aku yakin, mereka yang masih mengobrol di luar mendengar teriakkan sepupuku ini.
"Iya, udah ihh... Enggak usah teriak-teriak. Malu, udah malam!"
"Aku jadi mau nikah sama om-om juga. Cariin Mila duda hot juga dong Mbak. Seumuran Om Damar enggak apa-apa. Yang penting hot, tampan, kayak aktor-aktor gitu," pintanya dengan tatapan mata berbinar. Aku hanya menghembuskan napas panjang.
Mila perlu segera disadarkan!
__ADS_1