
POV Jessi
Aku bangun saat cahaya mentari mulai memasuki celah-celah jendela. Mengangkat tangan, dan memutar pinggang guna meregangkan otot-otot yang kaku. Sudah genap seminggu aku berada di rumah sederhana perkebunan ini bersama Mas Damar. Astaga, geli rasanya di pendengaran ku sendiri ketika menyebut mantan mertuaku itu dengan panggilan Mas.
Tetapi demi kesopanan, memang sudah seharusnya aku memanggilnya begitu. Meskipun awalnya Mas Damar ingin dipanggil nama. Namun tak sopan rasanya. Setidaknya aku harus memanggilnya dengan embel-embel seperti Mas, Abang, atau yang lainnya.
Drttt ...
Ponselku bergetar, ku lirik sekilas pesan yang masuk. Ada beberapa pesan dari Mbok Yem, Zoraya, juga beberapa pesan dari Mas Danu dan Anaya. Tunggu? Apa?!
Anaya mengirimi aku pesan. Tumben? Padahal saat dia masih berstatus sebagai selingkuhan Mas Danu saja dia tidak pernah mengusikku dengan mengirimi pesan. Lalu kenapa dia mengirimiku pesan sekarang?
Karena tidak ingin terus menebak-nebak. Aku membuka pesan dari Anaya terlebih dahulu.
*M*bak.
Maaf, aku ganggu mbak lagi. Tapi, Nay ada hal serius yang mau ditanyakan?
Apa Mbak Jessi pergi berlibur dengan Mas Danu? Kata Mas Danu, dia ingin mengajak Mbak untuk rujuk lagi.
Mbak, maaf Jessi tidak tahu diri. Tapi Naya mohon, relakan Mas Danu untuk Naya. Naya hanya punya Mas Danu, Mbak. Tolong,
Tolong bujuk Mas Danu untuk pulang ke apartemen. Naya sendirian Mbak, padahal Naya masih sakit.
Sinting! Itulah yang ada di dalam benakku tentang Anaya dan Mas Danu. Mereka yang berselingkuh, mereka juga yang kepanasan ketika aku tinggalkan.
Padahal sebelumnya aku tidak pernah ingin mencaci Anaya. Aku sadar diri karena Mas Danu memang tidak pernah mencintaiku dari awal. Aku juga tidak pernah mengganggu kehidupan Anaya meskipun dia kerap kali membagikan kemesraannya dengan Mas Danu di sosial media Instagr*m.
Selama wanita itu tidak menggangguku, maka aku juga tidak akan mengganggunya. Sekalipun dia bersenang-senang dengan suamiku. Aku membiarkannya!
Seperti orang bodoh yang tidak mengetahui apa-apa. Setiap berpapasan di kantor Mas Damar aku selalu tersenyum padanya. Setiap Mas Danu pulang aku masih melayani kebutuhannya dengan sangat baik.
Lalu, kenapa sekarang seolah-olah aku yang merebut Mas Danu dari Anaya. Sial! Sepertinya aku harus merealisasikan rencana Zoraya. Segera menikahi Mas Damar, agar kedua orang itu tahu. Jika yang aku butuhkan itu seseorang yang memang tajir melintir. Memiliki kekuasaan, serta kekayaan yang memang mutlak miliknya tanpa harus takut tidak mendapatkan hak warisan.
Waalaikumsallam.
Aku enggak tahu Danu dimana. Sekarang aku lagi di Kalimantan, mempersiapkan pernikahanku dengan calon suamiku.
Jangan beritahu Danu keberadaan ku jika tidak ingin melihat dia menyusul ku kalo begitu. Aku hanya memberitahumu, Nay. Kalo aku akan segera menikah.
__ADS_1
Maaf, enggak bisa kirim undangan.
Pict.jpg
Pict.jpg
Ku balas pesan dari Anaya dengan sedikit emosi. Tidak lupa ku kirimkan foto badan Mas Damar tanpa wajah yang masih tidur di sofa ruang tamu pada Anaya. Biar wanita itu sadar, jika aku menceraikan Mas Danu bukan untuk menarik simpatinya dan berharap untuk dikejar.
Jika Anaya jeli, dia pasti bisa membedakan badan Mas Danu dan Mas Damar. Karena tubuh Mas Damar lebih berisi dari anaknya. Juga kotak-kotak di perutnya ada enam, sedangkan mas Danu hanya empat.
Jangan salah paham. Aku tahu itu karena Mas Danu sering melepas bajunya jika di rumah.
Beralih ke pesan dari Zoraya. Dia mengatakan mendapatkan undangan pernikahan atas nama ku dan Om Damar. Wanita itu bahkan mengirimkan voice note, meracau kegirangan karena mengira aku benar-benar berniat balas dendam pada Anaya dan Mas Danu.
Mbok Yem, wanita paruh baya itu mengirimkan foto cincin berlian. Bertanya model mana yang aku suka. Lalu beralih ke pesan Mas Danu, laki-laki itu menanyakan di mana keberadaan ku. Rentetan pesan yang sama dia kirim hingga berjumlah puluhan.
Pesan terakhir dia bercerita, jika ayahnya---Mas Damar---akan menikah lagi. Dia mengatakan jika dia hanya diberitahu, dan tidak diizinkan datang. Katanya ayahnya akan memperkenalkan istrinya ketika tiba di Jakarta. Dia juga bertanya apakah aku juga di beri kabar tentang pernikahan itu apa tidak. Mungkin karena Mas Danu tahu kedekatan ku dengan ayahnya, makanya dia bertanya.
"Andai kamu tahu jika aku yang akan menikah dengan ayahmu. Apa kamu masih bisa sesantai ini, Mas?" Gumamkan bertanya-tanya pada ruang kosong.
Hanya saja aku mengabaikan pesan itu. Tidak membalasnya, karena merasa tidak penting. Lebih baik sekarang aku menyiapkan barang-barang yang akan kami bawa ke rumah Paman Kaduk.
Entah karena apa, Mas Damar merubah rencananya. Sebelumnya dia mengatakan akan bertamu terlebih dahulu ke rumah adik mendiang papa. Tapi sekarang malah mengatakan akan meluncur ke kota segera.
Soal pekerjaan, tentu saja sudah beres. Butuh tiga hari full untuk berkeliling di perkebunan luas ini. Aku bahkan masih tidak percaya jika perkebunan seluas ini atas nama ku. Ckckck, papaku benar-benar jahat. Perkebunan seluas ini, tetapi dia sama sekali tidak membiayai pengobatan ibu sebelumnya. Cih, nasib baik pelakor itu tidak memiliki anak. Jadi, harta warisan jatuh telak atas nama ku.
Mobil yang mengantar kami tiba di depan rumah sederhana yang tidak terlalu besar. Di depan rumah sudah ada tenda besar yang terpasang. Juga beberapa dekor sudah tertata rapi di beberapa sudut. Salah satunya di depan pintu.
Halaman nampak lengang. Hanya beberapa kursi yang terlihat sedikit berantakan. Meja-meja kayu yang juga sedikit menghalangi jalan.
"Kita enggak salah rumah, Mas?" Tanyaku pada Mas Damar.
"Enggak. Ini memang rumah Kaduk, paman kamu. Aku beberapa kali nginap di sini sebelumnya." Jawab Mas Damar dengan sorotan mata penuh keyakinan.
Tapi, dihati kecilku masih ada keraguan. Kenapa ada tenda besar seperti habis ada pesta? Apa kami datang di waktu yang salah.
"Ayo, masuk!" Ajak Mas Damar menuntut jalan ku. Tangan kirinya juga menarik koper yang berisi pakaianku dan pakainya.
"Habis ada pesta, ya, Mas?" Tanyaku lagi masih penasaran.
__ADS_1
"Enggak. Pestanya dua hari lagi!"
Aku membulatkan mata. Kenapa Paman Kaduk membuat pesta? Apa Mila akan menikah? Atau jangan-jangan, Bang RianĀ ---putra sulung--- pamanku itu akan menikah lagi yang kedua kalinya.
"Siapa yang nikah, Mila?"
Mas Damar hanya tersenyum. Tidak bersuara. Tetapi dari senyumannya sepertinya benar sepupuku itu akan menikah. Padahal jika dipikir-pikir, dia pasti baru tamat SMA.
Ya, satu-satunya keluarga papa yang aku kenal adalah paman Kaduk. Karena sebelum ibu meninggal, beliau sempat beberapa kali datang menemui kami bersama istri, juga kedua anaknya.
Itulah kenapa aku mengenal Mila, dan Bang Rian. Bang Rian menikah dua tahun lebih dulu daripada aku. Sedangkan Mila, saat aku menikah pun dia masih SMP. Masih kecil, dan menggemaskan. Badannya seingatku sedikit gembul, pipinya chubby dengan mata bulat besar yang menurun dari ibunya.
Aku jadi penasaran. Laki-laki mana yang beruntung mendapatkan adik sepupuku yang manis itu.
"Assalamualaikum." Aku tersadar dari lamunanku ketika mendengar Mas Damar mengucapkan salam. Penasaran, aku sedikit mencondongkan kepala ke dalam. Mengintip dari pintu yang pada dasarnya memang terbuka lebar.
Melihat isi rumah, aku berdecak kagum. Dari depan, rumah ini terlihat sederhana dengan satu lantai juga halaman yang luas. Tetapi penampilan di dalamnya jauh melebihi ekspektasi ku.
Ornamen-ornamen megah layaknya rumah mewah di Jakarta. Bahkan dindingnya berwarna golden, dengan hiasan batu safir. "Ini namanya penipuan. Sederhana di luar, mewah di dalam! Cocok buat ngelabui maling," celetukku tanpa sadar.
Mas Damar mengalihkan pandangannya padaku. Mata kami bertatapan, sudut bibirnya berkedut seperti menahan tawa.
"Apa?" tanyaku dengan nada garang.
"Enggak. Panggil lagi sana, ucap salam!" titah mas Damar menyuruhku. Aku hanya memutar mata. Menarik napas dalam, lalu berteriak dengan keras, "Assalamualaikum, Bibi! Mila! Jessi in here!"
Hanya beberapa detik setelah aku berteriak. Dari salah satu kamar, sebuah kepala muncul dengan berbinar, "Mbak Jessi! Argh ... Emak Mbak Jessi sampai!" Pekik Mila sembari berlari menghampiriku. Dia memeluk tubuhku erat, sembari melompat-lompat kegirangan.
"Loh, sudah sampai kalian?" Mataku bergulir melihat sosok paruh baya yang aku rindukan. Setelah kepergian ibu, bibi Tati sudah seperti ibu kandungku sendiri. Meskipun tidak pernah lagi bertemu, beliau masih sering menghubungiku melalui panggilan Vidio.
Bibi Tati memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Itu yang membuatku sedikit melunakkan hati pada keluarga besar papaku, untuk tidak membenci.
"Bibi, Jessi kangen! Lama banget gak ketemu," keluhku sembari memeluknya erat.
"Ish, kamu ini. Bibi 'kansering liat kamu. Enggak kayak abangmu itu, semenjak menikah. Jangankan ngajak ibu main ke Bali, Vidio Call aja susah!" tuturnya sembari membalas pelukanku gemas.
"Ouh, iya, kenalin ini Bibi Ida. Dia istri paman Afit. Kamu tahu Paman Afit 'kan?" Tanya bibi Tati padaku. Aku menggeleng, tetapi meskipun begitu. Aku tetap menyalaminya dengan takzim, lalu memeluknya dengan hangat.
"Salam kenal, Bi. Maaf, Jessi baru tahu." Tuturku sedikit merasa bersalah.
__ADS_1
"Enggak apa-apa. Toh, ini juga salah pamanmu itu. Takut aja, kalo diajak ketemu kamu. Takut ditolak katanya," kekek bibi Ida membalas pelukanku.
Ya, keluarga papa memang tidak banyak. Hanya saja, mereka rukun dan akur. Sesama ipar tidak ada saling iri. Mereka juga saling merangkul dan membantu. Aku jadi iri, andai saja papa waktu itu tidak berselingkuh dari ibu. Aku pasti sudah ada diantara mereka dari lama!