
"Aqila,maaf mengganggu perjalanan pulang, apakah ini punya aqila?" ucap nya sambil menunjukkan sebuah tasbih kauka berwarna coklat.
Aqila berbalik arah menuju sumber suara
"Ehhh ustadz Salman nggak mengganggu sama sekali kok(sambil menyunggingkan senyum.)benarkah? aqila cek dulu iya ustadz "
ucapnya sambil membuka gulungan mukena.
"Astaghfirullah iya ustadz itu punya aqila,Terima kasih ustadz sudah menemukan tasbih ini,hehehe aqila ceroboh tidak menyadari ohhhh iya ustadz tadi jatuh dimana kok ustadz tahu itu punya Aqila?" ucapnya bingung.
Ustadz Salman pun menjawab
"Jadi begini ketika aqila membereskan mukena dan beranjak pergi tadi ada tasbih yang jatuh dan ustadz liat kayak nya ini punya aqila jadi ustadz bertanya tanya dulu kepada jamaah lain, ternyata tidak ada yang merasa kehilangan,setelah itu ustadz coba meyakinkan kalau ini punya aqila" senyum manis tergambar di wajah nya.
"Alhamdulillah masih rezeki aqila,Terima kasih ustadz,kalau gak ketemu sangat di sayangkan ustadz ini tasbih paling berharga" ucap aqila sambil mengamati struktur tasbih nya dengan tersenyum.
"Alhamdulillah kalau begitu,kakak pamit dulu aqila hati hati di jalan" ucap ustadz Salman tersenyum lalu berjalan pulang.
Aqila mengangguk dan melangkah kan kaki menuju rumahnya.
Tidak terasa sampai lah di depan pintu rumah dan membuka nya.
"Ceklek assalamu'alaikum ayah ibu,qila pulang" ucapnya lalu mencium tangan orang tua nya.
"Anak ayah yang sholihah udaah pulang nih taruh mukena di kamar sayang setelah ini ada yang mau ayah bicarakan" ucap sang ayah sambil mengelus kepala yang tertutup hijab.
"Baik ayah siap laksanakan" ucap aqila berjalan menuju kamar.
#Di sisi lain berbeda daerah......
"Arsyad,abah sudah tidak muda lagi saatnya kamu meneruskan perjuangan abah le,pulang lah pimpinlah pesantren ini dan temani masa tua abah dan umi,sebelum penyesalan menghampiri,abah harap Arsyad bisa mempertimbangkannya,sampai di sini dulu le,abah tunggu kepulangan mu jaga kesehatan dan takdzim kepada guru mu agar ilmu yang beliau sampai kan di ridhoi,abah tutup telepon nya le,
assalamu'alaikum warahmatullah" ucap abah menutup telfon.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh abah,Arsyad pasti pulang bah" ucap seorang pemuda yang tak lain adalah gus Arsyad yang sedang di landa keraguan.
Setelah menutup sambungan telepon,gus Arsyad menuju saung dari bambu yang biasa di gunakan untuk pembelajaran santri,sambil menikmati kesejukan angin malam yang berhembus dan menatap gugusan bintang di langit yang membentuk sebuah rasi di temani cahaya rembulan berbentuk seperti clurit.
Dalam pikiran nya beliau di hadapkan oleh dua masalah antara mengabdi kepada sang kyai atau pulang kerumah untuk melanjutkan kepemimpinan sang ayah,sungguh keputusan yang berat karena waktu mengabdi selama 3 tahun hampir usai kurang setelah tahun lagi sedangkan sang ayah menunggu kepulangan nya untuk menggantikan nya.
Dalam lamunan nya,gus Arsyad di sadarkan oleh seorang santri yang memanggil nya.
(sambil menepuk bahu)"gus,njenengan di timbali abah wonten ndalem "ucap seorang santri yang begitu sopan.
" Astaghfirullah maaf,saya melamun Terima kasih telah menyadarkan saya,kalau begitu saya masuk ke ndalem dulu mas" ucap gus Arsyad lembut.
Saat di perjalanan menuju arah ndalem,ada seorang khodam pondok yang mengintip gus Arsyad secara diam-diam.
"Gus,andai aku bisa mengungkapkan rasa cinta secara langsung maka aku akan mengumumkan melalui papan pengumuman di pondok pesantren ini gus bahwa aku mencintaimu,agar semua orang tahu bahwa aku lah orang yang sangat mengharapkan kasih sayang mu.ucap nya berbisik pada diri nya sendiri.
Dan memang cinta itu bisa membuat buta mata kita dan menghalalkan segala cara agar kita bisa memiliki nya,kadang kita tidak sadar bahwa semua itu hanyalah hal konyol untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya.
Sampai di depan pintu ndalem gus Arsyad mengetuk pintu dan mengucapkan salam
Tidak berselang lama ada seorang pemuda yang membuka kan pintu rumah.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah monggo gus pinarak,kula timbali abah rumiyin(silahkan gus masuk,saya panggil kan abah dahulu).buat yang belum mengerti bahasa JawaðŸ¤.
" Maturnuwun gus(sambil menyunggingkan senyum)dan duduk di karpet sebagai rasa takdzim."
"Alhamdulillah mas Arsyad,sudah sampai duduk di atas to gus,jangan di bawah" ucap abah yai yang sudah berumur di tuntun oleh pemuda tadi.
Sambil menundukkan kepala "Nggih bah kula mriki mawon,Pangapunten niki bah wonten nopo nggih kula di timbali wonten ndalem?
Menawi enten tingkah kula ingkang mboten sekeco(iya bah saya disini saja,maaf kalau boleh tahu ada apa iya saya di undang di rumah?apa ada kelakuan saya yang kurang meng enakan?)
" ucapnya santun dan menjaga adab
__ADS_1
Abah yai pun tersenyum melihat adab santri nya
"Jadi begini nak,kamu sudah lama menimba ilmu disini bahkan sudah rela menjadi penderek abah,Sudah waktunya kamu meneruskan perjuangan ayah mu nak,bukan maksud abah mengusir tapi berbakti kepada orang tua juga lebih utama le,walaupun masa mengabdi mu tinggal beberapa bulan tapi abah harap Arsyad bisa melaksanakan apa yang ayah mu amanat kan,kembali lah ke rumah sampaikan salam abah ke ayah mu"ucap sang abah yai sambil mengelus pundak gus Arsyad.
Sambil mencium telapak tangan sang guru berkali-kali " Maaf abah kalau selama Arsyad disini sering nakal,dan belum bisa menaati peraturan pesantren ridhoi ilmu yang abah berikan untuk Arsyad,mungkin tanpa abah Arsyad tidak bisa sampai sekarang." ucapnya dengan menitihkan air mata.
"Sudah le,abah sudah ridho atas semua ilmu yang abah berikan abah disini hanya sebagai perantara,manfaatkan lah ilmu yang Arsyad punya dan bagikan kepada teman teman mu jaga adab mu dan jauhi sikap takabur ," ucap abah yai mengusap pelan kopiah gus Arsyad.
"Kalau begitu Arsyad pamit bah,terima kasih atas semua ilmu dan wejangan yang abah berikan semoga menjadi ladang pahala" ucapnya sambil berpamitan.
Abah tersenyum dan mengaamiin kan ucapan gus Arsyad dan kembali ke kedalam untuk melanjutkan istirahat nya.
#flashback to aqila
"Ayah emang ada apa seperti hal yang sangat serius untuk di bicarakan?" ucap aqila bertanya.
"Jadi begini nak,aqila kan sudah tahu kalau ayah akan mengirim kan qila ke pesantren,kira kira bagaimana menurut kamu nak ayah tidak mau ada unsur keterpaksaan dalam hatimu karena belajar di pesantren itu harus ada kelegaan hati dan niat yang kuat"
ucap ayah meyakinkan
Aqila tersenyum manis mendengar penjelasan ayah nya
" Ayah,aqila udah siap kok menimba ilmu di pesantren biar aqila tahu rasanya mandiri dan jauh dari orang tua,merindukan suasana rumah yang biasanya di iringi tangisan hehehe aqila penasaran juga yah dengan suasana pesantren yang penuh dengan kegiatan mengaji"
"Alhamdulillah kalau begitu ayah juga lega mendengar langsung dari aqila ayah takut jika terpaksa akan membuat mu tidak nyaman di pesantren dan kabur begitu saja" ucap sang ayah khawatir.
"Hehehe nggak dong ayah kalau aqila tidak betah maka hal yang pertama dilakukan yaitu menelpon orang tua untuk mengobati rasa rindu atau meminta bantuan teman teman di sana agar tidak merengek minta pulang hehehe" ucap aqila nyengir.
"Jadi apakah aqila siap kalau berangkat ke pesantren setelah kelulusan?" ucap ayah.
"Siappp dong ayah kebetulan sekali aqila bisa merasakan puasa ramadhan di pondok pesantren,aqila sudah tidak sabar yah" ucap nya girang.
"Iya sudah kalau begitu setelah kelulusan langsung siap siap kan keperluan yang harus di bawa nak,3 hari lagi pengumuman kelulusan mu berdoa lah semoga hasilnya memuaskan selama 3 tahun qila sekolah" ucap sang ayah mengelus kepala mungil putrinya.
__ADS_1
"Aqila ibu mau memberi wejangan juga,kalau di pesantren banyak teman dari berbagai daerah menimba ilmu di sana sebisa mungkin qila menyesuaikan iya,perbedaan bahasa pun menjadi masalah jadi hati hati ketika bercanda,tidak semua orang mampu menerima nya tinggal kita saja yang menyesuaikan,beradaptasi lah dan berteman tanpa melihat dari sisi harta nak karena di pesantren lah aqila akan menemukan banyak pengalaman hidup," ucap sang ibu mewanti wanti anaknya.
Aqila pun mengangguk dan masuk ke kamar untuk mengejar mimpi nya melalui tidur panjang nyaðŸ¤