Mati Saat Bermimpi

Mati Saat Bermimpi
Berharap Ada Kejutan Ulang Tahun


__ADS_3

Alarm berbunyi. Jam digital di atas meja yang terletak di samping tempat tidur menunjukkan pukul 06.00 pagi. Seorang gadis bernama Claire Morven terbangun dari tidurnya. Claire tampak bersemangat, sebab hari ini adalah hari istimewanya. Ia berulang tahun yang ke-30. Minum segelas air putih, lalu pemanasan tubuh, kemudian melakukan yoga di kamar selama 30 menit. Selesai berolahraga, Claire menuju teras rumah dari kamarnya.


“Happy Birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to me. Happy birthday Claire,” Claire bernyanyi sangat pelan sambil menari kecil saat menuju teras rumah.


Sesampainya di teras rumah, Claire mengambil selang yang terlingkar di kran air. Kemudian Claire menyiram bunga-bunga di teras rumahnya. Satu bunga cintanya dipandang dalam-dalam olehnya.


“Good morning my beautiful anggrek. Today is a wonderful day. Aku ulang tahun loh. Kamu enggak mau ucapin selamat buat aku?” sapa Claire pada anggrek pemberian kekasihnya, Adam.


“Oh, makasih anggrek sayang. Kamu adalah yang pertama mengucapkan happy birthday to me. Thank you,” peluk Claire pada anggrek itu, seolah-olah bunga tersebut sedang bicara padanya.


Tak lama, tetangga sebelah rumahnya muncul dari balik tembok samping rumah.


“Hei anak gadis. Ceria banget nih kelihatannya. Sampai meluk-meluk bunga begitu,” sapa Erik, tetangga Claire.


“Hei anak ingusan. Kenapa emangnya kalau kelihatan ceria?” sambut Claire tersenyum.


“Kayaknya lagi ada yang bahagia nih,” sahut Erik.


“Ya iya lah bahagia,” ujar Claire


“Naik gaji tante?” tanya Erik penasaran. Sebab tak biasanya Erik melihat Claire sebahagia itu.


“Hush anak kecil, mau tahu aja sih,” jawab Claire, tersenyum nakal.


“Ah, tante Claire enggak seru! Kenapa sih? Kepo nih,” kata Erik yang sudah siap bergegas pergi ke sekolah dengan sepedanya.


Claire yang sedari tadi terus menyiram bunga, meletakkan selang pada tempatnya dan menghampiri Erik dari balik pagar.


“Erik, anak ingusan. Berangkat sekolah sana. Ini urusan orang dewasa tahu. Daaaaaaa, hati-hati ya anak ingusan, hahahaha,” kata Claire berlalu sembari melambaikan tangan kepada Erik tanpa melihat ke arahnya, lalu masuk ke dalam rumah.


Sambil menggelengkan kepalanya, Erik pun melaju dengan sepedanya menuju sekolahnya di SMP Citra Bangsa. Erik adalah anak tetangga Claire yang ramah. Ia gemar mengajak Claire berbincang saat melihatnya berada di teras. Biasa mereka hanya bertemu di pagi hari saat Claire menyiram bunga-bunganya dan Erik bergegas


berangkat sekolah. Sementara pada malam hari, Erik hampir tak pernah melihat Claire yang selalu pulang larut malam.


Claire pun bergegas mandi. Lagu dari band legendaris Queen yang berjudul I Want to Break Free, menemaninya mandi. Sesekali ia ikut bersenandung dan sedikit berjoget.


Selesai mandi ia pun segera berdandan merias wajahnya dengan make up flawless, mengenakan kemeja biru muda dengan dalam kemeja putih dan dipadukan rok hitam selutut. Kemudian ia bergegas ke kantor tanpa sarapan dengan menenteng high heels putih dan masuk ke dalam mobil. Sebelum sampai di kantor, kakinya hanya akan beralas sandal jepit.


Di dalam mobil tipe city car warna merah cabai itu, Claire memutar radio kesukaannya. Suara dua orang penyiar terdengar lewat frekuensi udara.


“Eh Dika, elu tadi telat ya. Gue harus opening sendirian tahu enggak. Kebiasaan lu,” ujar penyiar wanita bernama Sesha bernada kesal.


“Oh my god.Sesha sayang, cuma 10 menit gue telat,” ujar Dika.


“Enggak bisa. Satu menit pun tidak gue maafkan!” kata Sesha dengan nada suara tegas.


“Oke, oke. Gini deh untuk menebus rasa bersalah gue nih ya ke elu, gimana kalau gue traktir elu makan siang ntar, gimana, gimana? Mau, mau? Mau ya, please,” bujuk Dika pada Sesha.


“Emangnya elu mau traktir gue dimana?” jawab Sesha dengan nada pelan, seperti terbujuk rayuan Dika.

__ADS_1


“Tuh kan. Gue tahu elu pasti luluh kalau dengar kata-kata ditraktir,” ujar Dika girang.


“Ah, enggak jadi deh. Enggak jadi gue maafin. Gue makan di kantin bawah aja ntar lah,” jawab Sesha ngambek


“Ya elah, wanita dasar wanita. Ngambeknya tuh level tinggi ya. Gini Sesha sayang, gue bakal ngajak elu makan di restoran barbeque ala-ala korea gitu,” ujar Dika.


“Yang kayak di drama-drama korea? Daging mentah tipis-tipis, terus bisa panggang sendiri di meja kita gitu?” tanya Sesha penasaran.


“You right baby. Soalnya ada restoran yang lagi promo makan berdua gratis seafood. Jadi nanti selain makan dagingnya, kita juga bisa pilih aneka seafood. Sebagai pelengkap ada aneka saus yang bisa kita pilih, seperti saus teriyaki, saus wijen, saus kerang, dan masih banyak lagi. Dan istimewanya lagi ada beragam toping yang bisa kita pilih, seperti keju cheddar, keju mozarella, rumput laut, dan lainnya. Pokoknya di sana bisa bebas pilih ini itu deh,” terang Dika.


“Wah, aku mau dong. Dimana sih tempatnya,” tanya Sesha dengan manja.


Claire yang sedari tadi mendegarkan pun ikut penasaran. Ia ingin tahu juga dimana tempat yang dimaksud penyiar tersebut. Dibesarkannya volume radio di tengah hiruk pikuk suasana jalan Kota Jakarta di pagi hari.


“Nama restorannya Mashigetta Barbeque yang artinya barbeque yang lezat. Ini merupakan campuran bahasa korea-inggris. Alamatnya dimana, ada di Jalan Sudirman, Komplek Ruko Cendrawasih boulevard blok A nomor 20-24, Jakarta Pusat,” jelas Dika.


“Loh dekat dong dari sini. Dan setahu aku itu kompleknya luas banget loh. Enggak susah parkir dong ya,” kata Sesha.


“Ya enggak dong Sesha. Pokoknya kapan aja, anytime kita ke sana, selalu ada slot parkiran buat kita. Restorannya juga luas banget, 5 ruko dijadiin satu tempat. Kebayang kan luasnya gimana. Gue udah ke sana sih dua hari lalu,” ungkap Dika sembari tertawa kecil.


“Oh gitu. Dua hari lalu ke sana tanpa gue. Ya ya ya,” kata Sesha.


“Udah deh Sesha jangan ngambek dong ah. Nanti siang pokoknya aku akan ajak kamu ke Mashigetta Barbeque, oke my baby Sesha,” kata Dika.


“Iya deh bang Dika. Tapi harganya berapa nih? Halal enggak?,” ujar Sesha.


Claire memasang kuping saat penyiar tersebut menanyakan harga makan di restoran tersebut.


“Oke, siap laksanakan. Aku udah enggak sabar. Sama kayak pendengar setia kita pasti juga enggak sabar pengen cobain.,” ujar Sesha.


“Yuk, cobain promo makan berdua gratis seafood di Mashigetta Barbeque, Jalan Sudirman, Komplek Ruko Cendrawasih boulevard blok A nomor 20-24, Jakarta Pusat. Karena nanti siang kalian bisa ketemu kita di jam 12.30. See you at there,” ujar Dika dan Sesha bersamaan.


Percakapan kedua penyiar yang sedang mengiklankan sebuah restoran barbeque itu pun berganti dengan alunan musik penyanyi Raisa, berjudul Kali Kedua.


“Mashigetta Barbeque. Jalan Sudirman. Oke, enggak jauh dari kantor,” ucap Claire pelan sambil fokus menyetir.


Laju mobilnya berhenti. Traffic light menunjukkan lampu merah. Claire sedikit kaget saat jendela mobilnya diketuk oleh seorang ibu muda menggendong anak kecil. Perempuan itu sering ia lihat di seputaran jalan tersebut, tapi baru kali ini kaca pintu mobilnya diketuk. Perempuan itu menawarkan sebotol air minum mineral dan beberapa roti dari balik kotak kecil yang ia gantungkan di depan leher. Sementara anaknya ia gendong dengan kain motif batik cokelat di belakang. Kain itu pun sudah terlihat usang. Ada anak laki-laki yang usianya sekira 2 tahun terbungkus kain itu.


Jelas dari wajahnya, anak itu tampak bahagia. Tak tampak beban getir kehidupan di matanya. Sangat polos. Tapi ibunya terlihat memendam rasa peluh yang banyak. Rambut ikal panjangnya di ikat seperti ekor kuda dengan poni dijepit ke belakang. Lipstik merah terulas sembarang di bibirnya yang tipis. Sekadar agar wajahnya terlihat tak pucat. Kulitnya hitam namun tak legam. Badannya kurus tapi terlihat tegar. Bajunya juga seadanya, kaus lengan sampai siku dan celana jeans kumal yang warna birunya tak lagi jelas. Alas kaki cuma sandal jepit putih bertapak hitam. Perempuan itu tampak tersenyum kecil pada Claire saat menawarkan barang dagangannya dari balik kaca mobil. Claire pun membuka kaca jendelanya setengah.


“Saya mau airnya dua botol, sama rotinya rasa cokelat tiga ya,” pinta Claire pada perempuan itu yang tampak sumringah menyambut permintaan Claire.


“Ini mbak. Dua botol air dan roti 3 rasa cokelat. Ini rotinya masih baru mbak. Tadi pagi saya baru ambil dari agennya,” jelas perempuan berusia kurang lebih 28 tahun itu.


“Oke. Berapa mbak semuanya,” tanya Claire sambil mengambil bungkusan plastik biru berisi pesanannya tadi dari balik kaca mobil. Bungkusan itu ia letakkan di bangku depan sebelahnya.


“Rp20ribu mbak,” jawab perempuan itu dengan lembut.


“Oke sebentar ya,” Claire membuka dompetnya. Terlihat beberapa lembar uang pecahan Rp100ribu, Rp50ribu, dan Rp10ribu. Diambilnya uang Rp100ribu.

__ADS_1


“Ini ya mbak,” ucap Claire sambil memberikan uang tersebut kepada Claire.


“Duh, saya baru buka dasar mbak. Belum ada kembaliannya,” ungkap perempuan itu lesu.


“Sisanya buat mbak aja. Buat beli makanan si adek. Halo,” ujar Claire sambil menyapa anak laki-laki dalam gendongan perempuan itu.


“Beneran mbak buat saya. Enggak kebanyakan ini mbak?” tanya perempuan itu serius. Bola matanya terlihat membesar dengan kernyitan di dahinya.


“Iya. Beneran. Ambillah, saya ikhlas kok,” ujar Claire, lalu melihat ke arah traffic light yang sudah memberi tanda sebentar lagi akan berwarna hijau.


“Alhamdulillah. Terima kasih banyak mbak. Semoga pekerjaannya diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Esa dan di.....” ujar perempuan itu terputus.


Claire tak bisa lagi mendengarkan lanjutan doa yang diucapkan perempuan itu karena lampu hijau sudah menyala. Ia pun segera tancap gas. Perempuan itu pun langsung lari menepi ke trotoar jalan karena klakson sudah terdengar dari mobil di belakang Claire.


Sementara Claire hanya mengeluarkan tangannya sedikti dari balik kaca mobil dan melambaikan tangannya ke perempuan itu. Claire hanya dapat melihat permepuan itu dari balik kaca spion mobil. Terlihat perempuan itu masih berdiri menatapnya jauh.


“Aku cuma kasih dia segitu tapi doanya tulus banget buat aku. It is life. Semua harus berjuang. Termasuk aku,” ungkap Claire pelan pada dirinya sendiri.


Di sisi lain, perempuan itu masih berdiri di atas trotoar sambil memegang uang Rp100rb dari Claire.


“Dan semoga mbak dihindarkan dari segala marabahaya,” lanjut perempuan itu mendoakan Claire.


Perempuan itu menatap dalam uang Rp100ribu pemberian dari Claire. Wajahnya begitu menyiratkan rasa syukur yang dalam kepada Tuhannya.


“Nak, sampai malam nanti kita bisa makan nasi sama telur,” ucap perempuan itu pada anak dalam gendongannya.


Anak laki-laki kecil itu pun memeluk dengan mengalungkan tangan mungil ke leher ibunya. Seolah-olah paham isi hati sang ibu.


Claire pun sampai di kantor. Ia memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Wajah Claire terlihat begitu sumringah. Sampai di depan lift, ia saling menyapa teman kantornya. Hingga sapaan yang begitu khas terdengar dari belakang tubuhnya.


“Good morning Ms.Claire,” ucap Jack, office boy paling narsis di kantor.


Claire langsung membalikkan tubuhnya.


“Hello Jack. Selamat pagi,” sahut Claire yang sedang menunggu pintu lift terbuka.


Pintu lift pun terbuka. ada sekitar 10 orang yang keluar dari dalamnya.


“Ladies first please,” ucap Jack kepada Claire dan pegawai perempuan lainnya yang juga


sedang menunggu di depan pintu lift.


“Thank You,” Claire tersenyum kepada Jack dan masuk ke dalam lift diikuti pegawai laiinnya, termasuk


Jack.


Di dalam lift Jack seolah-olah bertindak sebagai operator lift. Ia menanyakan orang satu-persatu di dalam lift mau ke lantai berapa. Jack sebenarnya bukan nama aslinya. Laki-laki lajang berusia 25 tahun itu memiliki nama asli Zakaria. Tapi ia memilih panggilan Jack agar terdengar keren.


Pintu lift terbuka, Claire sampai di lantai 3, dimana kantornya bernanung. Wajah sumringah masih menghiasi wajah manis Claire. Seperti biasa pikirnya, pasti akan ada kejutan dari teman-teman kantornya. Sama seperti tahun lalu. Tapi semua tampak sibuk pagi itu. Tak ada seorang pun pegawai yang menyapa atau melihat ke arahnya.

__ADS_1


*bersambung*


__ADS_2