Mati Saat Bermimpi

Mati Saat Bermimpi
Firasat Kematian


__ADS_3

Kantin Jakarta Asri Building di lantai 2, pukul 12.00 WIB.


Seorang perempuan sedang menerima telepon. Dia adalah pemilik kantin di Jakarta Asri Building, Susi. 6 tahun lalu ia menyewa kantin tersebut menggunakan uang klaim asuransi suaminya yang meninggal karena kecelakaan kerja di pabrik kelapa sawit. Sebelumnya, kantin itu dipegang oleh seorang perempuan selama belasan tahun. Tapi perempuan itu sudah uzur dan tak sanggup lagi bekerja. Sementara anak-anaknya tak ada yang mau melanjutkan


usaha kantin tersebut. Jadilah berpindah tangan ke Susi.


“Jadi pak nanti bonnya saya suruh anak saya antarkan ke ruangan bapak jam berapa kira-kira?” tanya Susi dari balik telepon.


“Oh sekitar jam 3 sore ya pak. Oke. Pokoknya ini rombongan dari lantai 3 ya pak,” ujar Susi.


“Siap, siap. Mari, terima kasih pak Toni,”  kata Susi dengan senyum mengembang.


Susi menghampiri Sari yang sedang mengelap piring dan gelas.


“Sari, tadi mama ditelepon sama pak Toni, bos kantor yang di lantai 3 itu. Apa nama perusahaannya?” tanya Susi, yang merupakan ibu kandung Sari.


“Public Consulting Tarumanegara ma,” jawab Sari sambil mengelap beberapa piring.


“Ya, itu! Pak Toni telepon dia mau traktir semua pegawainya. Jadi kalau nanti ada yang datang buat makan siang di sini, gratis ya. Tapi dibuat bonnya, jadi kamu bisa tagih nanti ke dia karena pak Toni enggak makan siang di


sini,” jelas Susi yang dipanggil karyawan di sana dengan sebutan madam Susi. Susi tak beda jauh seperti Sari yang punya karakter ceria.


“Oke ma,” kata Sari sambil mengacungkan jempolnya ke hadapan Susi.


Rombongan pegawai Public Consulting Tarumanegara datang ke kantin. Mereka terlihat saling berbincang satu sama lain. Claire juga ada bersama mereka di barisan paling depan bersama Tiara, kepala marketing Public Consulting Tarumanegara. Sari yang melihat kedatangan mereka langsung menyambut.


“Siang semuanya. Rame ya. Datangnya bersamaan,”ujar Sari.


“Iya Sar kita mau kan siang di sini,” ucap Claire.


“Iya bu Claire tadi mama saya sudah di telepon sama pak Toni,” ujar Sari.


“Oke. Kita duduk ya,” kata Claire pada Sari.


“Silakan bu. Saya ambil pulpen dan kertas dulu,” ujar Sari.


Sari mengambil pulpen dan kertas kemudian menghampiri rombongan Claire. Ia memang sangat cekatan dalam bekerja. Usianya 18 tahun dan baru saja tamat SMA dua bulan lalu. Ibunya meminta Sari untuk melanjutkan


kuliah tapi Sari menolak paling tidak untuk setahun ini. Katanya ia masih mau membantu ibunya di kantin. Memang sebelumnya Sari kerap ke kantin tiap pulang sekolah. Tapi sekarang ia di sana dari pagi hingga sore bersama ibunya, koki, dan 3 orang pegawai kantin.


“Mbak Ratna tanya yang di sana ya. Biar saya yang di sini,” perintah Sari kepada Ratna, salah seorang pegawai kantin.


“Oke Sar,” teriak Ratna.


“Halo bu Claire, mas Sani, mbak Dila, dan bu siapa ya namanya?” sebut Sari dan bertanya nama salah seorang di antara mereka.


“Tiara namanya Sar,” kata Claire.


“Oh bu Tiara. Sering lihat tapi belum pernah kenalan,” ujar Sari tersenyum.


“Sar, saya pesan nasi tim sapi dan es jeruk. Terus saya mau cemilan lumpia udang goreng ya. Yang lain lumpia goreng?” ujar Claire.


Semua yang satu meja dengan Claire mengangguk.


“Kalau gitu lumpia udang gorengnya 4 porsi ya,” ujar Claire pada Sari.


“Siap bu. Kalau yang lain?” tanya Sari.


“Saya sama aja deh kayak mbak Claire. Tapi minumnya..” ucap Sani.


“Jus melon kan,” ujar Sari.


“Iiiiiih tahu aja kamu Sar. Bisa ngeramal ya?” ujar Sani.


“Enggak mas tapi kan mas Sani sering order jus melon,” kata Sari.


“Perasaan kamu jarang deh melayani aku kalau makan di sini,” kata Sani.


“Kan saya perhatiin,” ujar Sari.


“Cieeee, diperhatiin sama Sari nih,” canda Dila pada Sani.


“Apaan sih Dil,” ujar Sani.


“Eh mbak Dila jangan salah sangka dulu. Maksud Sari, perhatiin pelanggan. Jadinya bisa tahu apa yang disuka dan enggak disuka. Jadi bukan perhatian yang kayak gitu,” jelas Sari sedikit malu.


“Iya deh. Aku sama ya minumnya kayak Sani. Tapi makannya mi goreng seafood,” ujar Dila.


“Oke mbak. Kalau bu Tiara?” tanya Sari.

__ADS_1


“Ehm apa ya? Samain aja deh kayak Claire tapi minumnya jus lemon,” ujar Tiara ramah.


“Oke. Pesanan akan segera saya antar. Permisi,” pamit Sari dan segera menyiapkan pesanan.


Sari menuju dapur kantin dan membantu meracik bahan-bahan makanan. Sementara madam Susi dibantu Joko, koki kantin sibuk dengan wajan penggorengan. Aktivitas di kantin itu tak pernah sepi meski jam kerja tengah berlangsung. Ada saja yang memesan dan minta diantar ke ruangan masing-masing.


“Mbak Ratna coba mbak lihat di kertas orderan, jus melon ada berapa gelas ya?” tanya Sari sambil mengambil sebuah melon dari dalam kulkas.


“Sebentar. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam....ada enam Sar,” kata Ratna.


“Kalau jus jeruknya?” tanya Sari lagi sambil memotong buah melon.


“Jus jeruknya ada, sebentar ya...kayaknya satu deh..iya nih cuma satu Sar,” kata Ratna.


“Oh cuma satu ya. Berarti yang pesan es jeruk cuma mbak Claire,” ujar Sari sambil terus memotong melon.


“Aku coba rekap pesanan minuman yang lain ya sekalian aku tulis biar enak buatnya. Jus lemon ada tiga nih, es teh manis ada 5, dan 3 gelas es timun,” ujar Ratna.


“Oke mbak,” kata Sari sambil memotong buah melon dengan pisau yang tajam.


Sementara Sari menyiapkan pesanan, Claire terlihat berbincang-bincang dengan teman kerjanya. Sani mengganggap momen itu kesempatan untuknya bertanya mengenai kepergian Siska ke Medan.


“Mbak Claire nanti pulang dari Medan bawain oleh-oleh ya,” ujar Sani mencoba memancing Tiara.


“Iya mbak. Bawain dong yang khas apa gitu. Bika ambon tuh katanya enak,” sambung Dila yang tak tahu apa-apa.


Claire melirik ke arah Tiara dna mencoba menjawab dengan tenang permintaan Sani dan Dila.


“Iya pasti aku bawain. Tenang aja,” jawab Claire.


Tiara sedikit menunduk seolah tak mau ikut ke dalam percakapan itu.


“Tiara, kamu mau juga kan aku bawain oleh-oleh,” ucap Claire dengan ramah.


“Ehm, ya, boleh, kalau kamu enggak keberatan Claire,” kata Tiara sedikit ragu.


“Enggak lah. Ntar aku bawain bika ambon dan kue lain yang khas Medan ya,” ujar Claire.


Tiara hanya tersenyum ke arah Claire.


“Iya mbak. Jadi enggak sabar buat cicipi oleh-oleh mbak Claire,” ungkap Dila.


“Pergi aja belum Dil, udah kamu suruh pulang,” kata Sani.


“Oh ya, aku ke toilet  dulu ya,” kata Tiara dan beranjak pergi.


“Oke. Jangan lama-lama nanti makanannya keburu dingin,” ujar Tiara tersenyum.


Tiara hanya mengangguk lalu menuju toilet.


“Gimana mbak Claire?” tanya Sani.


“Semakin mencurigakan sih,” kata Claire.


“Apa yang mencurigakan?” tanya Dila bingung kepada Claire dan Sani.


Sani dan Claire kelupaan ada Dila bersama mereka.


“Mencurigakan kalau makanannya pasti lama datangnya. Lapar Dil,” kelakar Sani pada Dila.


“Ah kayaknya bukan soal makanan deh. Orang tadi kita bicarain oleh-oleh dari Medan,” kata Dila curiga.


“Yang dibilang Sani benar Dil. Tadi sebelum ke sini kita kan ngobrol dulu di ruangan. Terus di sana kita saling curhat kalau kita berdua udah lapar banget. Nah, saya bilang sama Sani, saya curiga kalau udah ramai yang


datang ke kantin kayak kita gini pasti lama siap makanannya. Jadi tuh tadi kepikiran kita datangnya enggak usah bareng-bareng. Jadi madam Susi enggak perlu kerepotan terima orderan kita sekaligus. Ya enggak San,” jelas Claire panjang.


“Tapi mbak, madam Susi udah biasa mengatasi hal kayak gini. Lebih dari ini juga pernah kayaknya. Pegawainya ada 3 orang. Ditambah Sari lagi. Terus madam Susi juga dibantu koki Joko. Jadi pasti enggak lama,” bela


Dila.


“Ya udah gini aja. Kita taruhan. Kalau dalam waktu 10 menit minuman dan makanannya belum datang, kamu traktir aku dan mbak Claire buat makan siang besok di sini. Kalau sebelum 10 menit makanannya udah datang, kita berdua bakal traktir kamu selama dua hari berturut-turut. Gimana?” sergah Sani cepat agar Dila tak memperpanjang kecurigaannya terhadap obrolan singkat Claire dan dirinya tadi.


“Iya, iya. Saya setuju,” ujar Claire sambil melirik ke arah Sani.


“Oke. Pokoknya mau makanan atau minuman yang datang, sama aja kan?” tanya Dila berusaha menegaskan aturan taruhan.


"By the way si Jack mana ya? Bukannya dia yang paling heboh kalau ada gratisan," sambung Dila sambil celingak celinguk.


"Iya ya," kata Claire ikutan celingak celinguk.

__ADS_1


"Oh tadi ikut pak Toni beli barang keperluan kantor. Awalnya ngajak bareng ke sini, tapi waktu saya balik dari ruangan mbak Claire, si Jack ketemu sama saya bilang kalau dia enggak jadi ikutan," ujar Sani.


"Oh gitu," ujar Dila.


Claire hanya mengangguk mendengar penjelasan Sani.


Di dapur kantin, Sari bersiap membawa minuman pesanan meja Claire. Ada dua gelas jus melon, satu gelas jus lemon, dan satu gelas es jeruk. Ia bawa pesanan tersebut menggunakan nampan bergambar wajah madam Susi menuju meja Claire.


“Halo pesanannya udah datang,” teriak Sari ramah.


“Tuh kan benar aku bilang apa juga! Siap-siap traktir aku dua hari berturut-turut. Mbak Claire ikhlas kan?” ucap Dila dengan nada mengejek.


Sari masih berdiri dengan nampan berisi gelas. Ia tersenyum.


“Ikhlas Dil, kita berdua ikhlas kok,” ujar Claire tersenyum lalu melirik ke arah Sani.


“Ternyata benar ya tebakan kamu Dil. Baru juga dibilang udah datang aja minumannya,” kata Sani pura-pura untuk lebih meyakini Dila.


“Wah selamat ya mbak Dila menang traktiran. Oh ya ini minumannya saya letak di atas meja ya,” ujar Sari.


Sari meletakkan dua gelas jus melon di atas meja.


“Sar besok kalau Dila makan di sini, tagih ke mbak Claire. Lusanya tagih ke saya. Besoknya lagi tagih ke orangnya langsung ya. Karena jatah dia ditraktir kita cuma 2 hari,” ujar Sani.


“Iya, iya, itu juga uda syukur,” ungkap Dila tersenyum.


“Siap mas Sani. Silakan diminum jus melonnya. Ini jus lemon untuk bu Tiara dan ini untuk bu Claire, es jeruk,” ujar Sari.


Namun tiba-tiba gelas berisi es jeruk itu terlepas dari tangan Sari. Gelasnya hancur berkeping-keping dan menghamburkan isi di dalamnya. Semua orang yang berada di sana kaget. Begitu pun Tiara yang baru keluar dari toilet. Claire berdiri dengan cepat karena gelas hampir mengenai kakinya. Dada Sari tiba-tiba sakit. Rasa sakit yang ia rasa 6 tahun lalu, beberapa hari sebelum ayahnya meninggal dunia. Kejadian itu kembali muncul.


“Sari, kamu kenapa? Dada kamu sakit?” tanya Claire pada Sari yang kesakitan memegang dadanya.


Namun Sari hanya diam sambil meringis. Ia lihat Claire dengan wajah kesakitan. Semakin lama dilihat, Sari melihat kabut berwarna abu-abu muda mengelilingi Claire. Persis seperti yang ia lihat pada ayahnya dulu.


“Mbak Claire!” ujar Sari pelan.


Madam Susi dan Ratna menghampiri Sari.


“Kamu kenapa nak?” tanya madam Susi.


“Tiba-tiba gelasnya terlepas dari tangan Sari. Lalu dia meringis kesakitan kayak gini madam,” jelas Claire.


“Maaf madam sebelumnya, Sari punya sakit jantung?” tanya Sani.


“Enggak ada mas. Sari sehat,” jawab Susi.


“Terus kenapa dia kesakitan ya madam?” sahut Dila.


Madam Susi hanya diam. Ia seperti menyimpan jawaban itu hanya untuk dirinya sendiri.


“Madam bawa masuk Sari ke dalam dulu ya. Ratna, tolong dirapihin pecahan gelasnya dan di bersihkan ceceran air jeruknya. Es jeruknya kamu buat yang baru ya. Ayo Sari,” ujar madam datar dan khawatir.


“Iya madam,” ujar Ratna sambil segera berdiri mengambil perkakas kebersihan.


Madam Susi memapah Sari yang masih meringis kesakitan. Mereka masuk ke kamar istirahat kantin. Claire dan teman-temannya kembali duduk. Suasana pun kembali tenang. Tak lama makanan pun datang, begitu pula dengan


pesanan es jeruk Claire.


Sementara itu, Sari sudah mulai tenang. Rasa sakitnya sudahmereda.


“Sari kamu kenapa?” tanya Susi pada anaknya yang masih terbaring.


“Ma ini rasa sakit seperti yang aku rasakan beberapa hari sebelum ayah meninggal,” jawab Sari dengan wajah takut.


“Sudah mama duga. Kamu masih bisa merasakannya?” ujar Susi.


“Entahlah ma. Sari pikir hal ini sudah hilang. Sejak ayah meninggal, Sari udah enggak pernah merasakan hal ini lagi. Mama ingat waktu kakek dan nenek meninggal dua tahun lalu, Sari enggak ngerasain apa-apa,” ujar Sari.


“Tapi kamu melihat arwah mereka hadir waktu di semayamkan,” kata Susi mengingatkan Sari.


“Iya, kalau melihat makhluk halus itu masih sampai sekarang ma. Tapi firasat akan kematian seseorang sudah lama tidak muncul. Dan tadi Sari lihat dan kabut warna bau-abu muda di belakang mbak Claire,” kata Sari tatapan ke atas.


“Sudah, sudah. Semoga ini bukan firasat tentang kematian. Mungkin kamu terlalu lelah. Habis ini kamu istirahat aja. Enggak usah bantu di kantin. Biar Ratna yang nagih ke pak Toni nanti,” ujar Susi.


“Tapi ma, Sari udah enggak apa-apa kok,” kata Sari.


“Sari dengar mama ya nak. Di sini aja, istirahat! Enggak ada apa-apa dan jangan berpikir yang enggak-enggak. Semuanya baik-baik aja,” pinta Susi pada Sari.


“Ya udah ma, Sari di sini aja tungguin mama,” Sari.

__ADS_1


“Iya. Nanti mama panggil mbok Kemi untuk kusuk kamu. Biar capek-capeknya hilang,” kata Susi lalu keluar kamar.


***bersambung***


__ADS_2