Mati Saat Bermimpi

Mati Saat Bermimpi
Terungkapnya Bayangan Hitam


__ADS_3

Rumah Claire, Komplek Beringin Indah blok A nomor 8, pukul 21.30 WIB.


Suara ketukan wajan berbunyi tek, tek, tek, tek, terdengar sayup dari jauh.  Seorang penjual nasi goreng gerobak bersiap keluar komplek setelah berkeliling. Tiba-tiba langkahnya terhenti karena ada yang memanggil.


 


“Bang, sini! Saya mau pesan,” teriak seorang bapak. Laki-laki itu pemilik rumah nomor 18 di blok yang sama dengan rumah Claire.


 


“Iya pak,” sahut penjual nasi goreng gerobak bernama Misbak itu. Ia pun mendorong gerobaknya ke seberang, tepat di depan rumah nomor 18 itu.


 


“Lapar nih bang, padahal saya udah makan malam tadi. Pesan 1 piring ya bang. Oh pakai piring saya aja. Sebentar saya ambil ke dalam dulu piringnya,” ujar laki-laki itu.


 


“Oke pak. Ini sambil saya buat nasi gorengnya,” ujar Misbak.


 


“Oke,oke. Saya masuk dulu ya,” ujar bapak tersebut.


 


Meskipun selisih 10 rumah, suara ketukan wajan gerobak nasi goreng Misbak tetap terdengar sayup hingga rumah Claire. Jika dalam kondisi lapar Claire selalu memesan nasi goreng Misbak, kali ini rasa laparnya kalah dengan rasa takutnya. Tak ada rasa lapar, yang ada hanya rasa takut dan penasaran tentang bayangan dari dapurnya.


 


Claire masih memegang guci. Ia tak bisa mundur lagi. Jika bayangan itu adalah bayangan seorang maling, maka guci akan ia lempar tepat ke arah muka maling tersebut. Jika bayangan itu hantu, maka ia sudah bersiap untuk


menjerit sekuat-kuatnya agar tetangga kiri kanan bisa mendengar.


 


“Tuhan lindungi aku. Hari ini hari spesial ku. Aku tambahkan satu permohonanku lagi hari ini, aku mohon lindungi aku Tuhan. Aku mohon,” ujar Claire pelan dengan suara sedikit gemetar.


 


Langkah Claire semakin dekat dengan bayangan hitam itu. Semakin jelas terlihat bayangan hitam itu bergerak-gerak. Claire bersiap teriak dan melempar guci itu ke arah bayangan hitam.


 


“Aaaaaarrrrggghhhh,” teriaknya kencang dan melempar guci tersebut ke arah bayangan hitam itu.


 


Seorang laki-laki dengan tinggi 175cm dan terlihat gagah yang tadi sedang asyik memasak menjadi kaget melihat ada guci yang terlempar di sampingnya. Laki-laki itu adalah Adam, pacar Claire. Adam memang memegang kunci duplikat rumah Claire.


 


“Woh, woh, Claire?” ucap Adam terheran-heran dan melepaskan salah satu headset tanpa kabel di telnga kanannya.


 


Dengan raut wajah takut, Claire menghela nafas.


 


“Adam. Kamu ngapain? Aku dari tadi teriak tanya ada siapa di dapur, kamu enggak dengar?” tanya Claire heran, sambil menghampiri Adam.


 


“Sory tapi aku emang enggak dengar teriakan kamu. See! Aku lagi dengerin musik,” ujar Adam sambil menunjukkan headset yang masih tertinggal di telinga kirinya.


 


Tiba-tiba bau hangus menyeruak.


 


“Hmmm, bau yang tidak enak. Telur ku hangus,” ucap Adam dan langsung mematikan kompor. 2 butir telur mata sapi hangus di atas teplon.


 


Claire mengambil sapu dan serokan dari pojok dapur. Ia bermaksud membersihan pecahan guci yang tersebar.


 


“Kaki kamu enggak kena pecahan gucinya kan?” ujar Claire sambil menyapu.


 


“Aku tidak terluka sedikit pun. Tapi telur ku gosong Claire. I am hungry, help me please,”ujar Adam sambil menunjukkan telur gosong ke hadapan Claire.


 


Dilihatnya telur gosong yang dimasak Adam. Claire tertawa kecil dan terus menyapu.


 


"Lagian cuma masak telur, api kompornya besar begitu," bilang Claire.


 


"Maksud hati tadi biar cepat matang. Soalnya kau lapar," kata Adam.


 


“Kamu belum makan malam emangnya?” tanya Claire.


 


“Belum lah. Aku nungguin kamu dari jam 6 sore tadi. Aku pikir kamu bakal pulang jam 7 malam. Rupanya jam segini baru pulang. Kamu kemana aja sih?” jelas Adam.


 


“Aku dari kantor lah. Ada kasus besar yang harus aku tangani. Jadi tadi aku coba pelajari kasusnya dari sore sampai malam,” kata Claire dan membuang pecahan guci ke dalam tong sampah.


 


“Tadi kamu bilang, kamu nunggu aku? Kenapa enggak telepon dulu tanya aku dimana?” tanya Claire heran kepada Adam.


 


“Claire. My lovely Claire,” ujar Adam pelan sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Claire hingga hanya tersisa jarak satu jempol orang dewasa.


 


Adam mencoba mengelus pipi Claire dengan lembut. Ditatapnya mata Claire dengan penuh cinta. Claire pun langsung melingkari pinggang Adam dengan kedua tangannya.


 


“Tadi aku mau ajak kamu dinner di restoran favorit kita. Aku mau merayakan hari ulang tahun kamu. Aku mau


kasih kamu kejutan. Happy Birthday Love,” ujar Adam dengan penuh kasih kepada Claire sambil memegang kedua pipi perempuan yang suka minum susu cokelat itu.


 


“Adam,” ujar Claire dan langsung memeluknya erat.


 


“Jadi kamu dari jam 6 nungguin aku sampai sekarang? Dan kamu belum makan apa-apa?” tanya Claire.


 


“he’em belum. Aku lapar Claire,” ujar Adam dengan suara manja.


 


Claire melepaskan pelukannya.


 

__ADS_1


“Sayang, terima kasih ya. Kamu spesial buat aku. Jadi seharian kamu enggak ada hubungi aku karena mau kasih kejutan ini. Dan aku malah merusak rencana kejutan kamu. I am sorry,” ujar Claire dengan lembut.


 


“Enggak cuma merusak tapi aku juga dilempar guci sama kamu,” ujar Adam dengan sedikit tertawa yang juga disambut tawa oleh Claire.


 


“Untung aja kamu enggak kenapa-napa,” ujar Claire.


 


“Kamu pikir aku maling apa?” tanya Adam.


 


“Bukan cuma maling tapi aku juga pikir kamu hantu tahu,” kata Claire sambil terus menatap wajah Adam.


 


“Hantu?” kata Adam heran.


 


“Iya, habisnya aku lihat bayangan hitam besar. Eh rupanya bayangan kamu,” ujar Claire.


 


“Claire, Claire, masa pacar sendiri dibilang hantu sih. Mana ganteng lagi pacarnya,” ujar Adam tertawa.


 


Keduanya tertawa pelan dan saling mendekatkan wajah masing-masing. Adam mengecup bibir Claire dengan lembut. Ciuman itu dibalas oleh Claire pelan. Namun adegan romantis itu harus buyar ketika suara ketukan wajan dari gerobak nasi goreng Misbak sampai ke telinga keduanya.


 


“Nasi goreng bang Misbak. Ayo sayang kita keluar,” ajak Claire pada Adam.


 


“Oke. Piring?” tanya Adam cepat.


 


“Buat apa?” tanya Claire.


 


“Buat makan?” jawab Adam.


 


“Ya enggak usah. Pake piring bang Misbak aja,” jelas Claire.


 


“Kita enggak makan di rumah aja, candle light dinner pake nasi goreng bang Misbak,” ajak Adam.


 


“Enggak usah, ayok. Nanti keburu pergi bang Misbaknya,” ajak Claire pada Adam.


 


Adam dan Claire pun setengah berlari menuju halaman rumah. Dipanggilnya Misbak yang lewat tepat di depan rumahnya.


 


“Bang, bang, bang Misbak,” teriak Claire sambil berlari diikuti Adam dari belakang.


 


“Eh neng,” sahut Misbak dan memberhentikan gerobaknya.


 


 


Sementara Claire menghampiri Misbak, Adam memilih duduk di kursi taman yang ada di halaman depan rumah Claire.


 


“Bang kita berdua lapar banget. Kasih porsi jumbo, pake telur ceplok dan pedas ya,” ujar Claire pada Misbak.


 


“Siap mbak. Oh ya ini mau take a way atau makan di sini neng?” tanya Misbak.


 


“Enggak take a way bang, kita makan di sini, sambil lihat bintang. Aku tunggu di situ ya bang,” ujar Claire


sambil menunjukkan ke arah Adam.


“Oke neng,” ujar Misbak.


 


Claire berjalan ke arah Adam dan langsung duduk di sampingnya.


 


“*Candle light dinne*r di bawah langit malam dikeliingi rumah-rumah warga. Ya okelah. Secara enggak langsung perayaan malam ini turut dirayakan sama tetangga-tetangga kamu,” ujar Adam.


 


“Iya ya. Sama bang Misbak juga tuh,” ujar Claire sambil menunjuk ke arah Misbak dengan wajahnya.


 


“By the way kamu lagi ngerjain kasus apa? Kok kayaknya penting banget sampai malam gini baru pulang,” tanya


Adam.


 


“Tadi pagi pak Toni kasih aku proyek besar buat menangani isu pencucian uang di sebuah hotel. Jadi hotel itu


katanya sepi pengunjung tapi masih bisa beroperasi sampai bertahun-tahun. Malah bisa gaji pegawai dan biaya operasional lainnya. Jadi diterpalah dengan isu pencucian uang. Benar atau enggak sih enggak tahu,” jelas Claire.


 


“Kalau benar gimana?” tanya Adam serius.


 


“Kalau benar ya bukan urusan kantor sih. Pokoknya aku diminta musnahkan isu itu dan memunculkan citra baru


hotel itu,” ujar Claire.


 


“Pencucian uang itu bagian dari korupsi loh Claire,” jelas Adam.


 


“Iya aku tahu. Tapi aku kan kerja di perusahaan yang kerjanya mengubah citra buruk menjadi citra baik. Terlepas


dari baik atau buruknya objek atau subjek yang menjadi klien ku,” jelas Claire.


 


“Oke,” ujar Adam singkat.


 

__ADS_1


“Kamu tahu enggak, kalau aku berhasil, pak Toni janji ke aku uang Rp500 juta. Aku bisa segera mencari ayah


di Budapest Dam. Kamu tahu kan ini impian terbesar aku, bertemu dengan ayah,” ungkap Claire semangat.


 


“Rp500 juta? Banyak banget,” ujar Adam.


 


“Iya, banyak. Aku sih enggak tahu nilai keseluruhan proyek berapa, tapi Rp500 juta itu udah cukup buat menambah


tabungan aku ke Budapest. Setelah aku selesaikan kasus ini, aku akan langsung ajukan cuti 2 minggu dan pergi ke Budapest,” sampai Claire.


 


Adam melihat Claire dalam-dalam. Perempuan yang ia cintai ini selalu berapi-api saat membicarakan tentang ayahnya.


 


“Hotel apa?” tanya Adam.


 


“Nama hotelnya Banyu Langit, di Medan,” jawab Claire.


 


“Loh itu kan hotel tempat aku dan teman-teman RIG nginap waktu acara gathering tahun lalu,” kata Adam sambil


mengingat.


 


“Oh iya, pantes aku kok merasa familiar sama nama hotel ini. Rupanya itu hotel yang dulu penah kamu ceritain


tentang arsitekturnya yang bagus, pelayanannya oke, fasiltasnya lengkap, makanannya enak. Mrah lagi.Tapi pertanyaannya, kenapa bisa sepi ya,” jelas Claire.


 


“Benar. Tapi kalau sepi aku kurang tahu ya Claire. Karena waktu aku nginap sana aku bareng seratusan orang. Jadi


berasa rame aja sih," terang Adam.


 


"Oh jadi Hotel Banyu Langit yang diisukan money laundry. Enggak mungkin deh kayaknya Claire,” lanjut Adam.


 


"Itulah tugasku untuk mencari tahu," kata Claire sambil menatap langit.


 


“Jadi kamu kapan ke Medan?” lanjut Adam.


 


“Tiga hari lagi,” kata Claire.


 


“Oke. Nanti aku anter ke bandara ya. Seminggu ini aku off kok,” ujar Adam.


 


“Thank you,” sampai Claire pada Adam dengan senyum ceria.


 


Nasi goreng pun selesai dibuat Misbak. Ia menata nasi goreng porsi jumbo di dua piring. Lengkap dengan telur


ceplok, kerupuk, bawang goreng, dan sambal teri kacag tanah. Diantarkannya dua piring nasi goreng kepada Claire dan Adam.


 


“Neng, mas, ini nasi gorengnya,” ujar Misbak sambil menyodorkan dua piring nasi goreng pedas kepada Claire dan Adam.


 


“Wuih, wanginya. Makasih ya bang.Ini pasti enak banget,” puji Claire pada Misbak.


 


“Iya pasti enak. Seperti biasa,” ujar Adam semangat.


 


“Selamat menikmati. Saya tunggu di sana ya neng, mas, permisi,” ujar Misbak sopan.


 


“Iya bang. Nanti selesai makan saya samperin abang buat bayar ya,” kata Claire.


 


“iya neng,” ujar Misbak singkat dan berlalu.


 


Claire dan Adam tampak ceria melihat sepiring nasi goreng di tangan masing-masing.


 


“Akhirnya aku makan juga,” ujar Adam dengan senyum mengembang.


 


“Sama. Aku juga lapar sebenarnya,” ungkap Claire.


 


“Claire, suapan pertama buat kamu. Aaaakkk,” kata Adam yang meminta Claire membuka mulutnya.


 


Claire membuka mulutnya dan membiarkan sesendok nasi goreng masuk ke dalam mulutnya.


 


“Happy birthday sayangku. Aku berharap kamu mendapatkan kebahagiaan yang abadi. Impian tercapai dan jangan pernah tinggalin aku,” ujar Adam mesra.


 


"Aku enggak akan pernah meninggalkan kamu untuk alasan apa pun. Terima kasih buat selama ini," ujar Claire terharu.


Claire mengambil satu sendok nasi goreng.


“Aaaaaak,” kata Claire yang gantian meminta Adam membuka mulutnya.


 


Satu sendok nasi goreng pun akhirnya mebgisi ruang-ruang di lambung Adam.


 


“Terima kasih my prince,” sampai Claire pada Adam.


 


Keduanya tampak bahagia dan serasi. Menikmati malam sunyi ditemani sepiring nasi goreng cukup menjadi


penutup perayaan ulang tahun Claire yang indah. Ia bersyukur memiliki teman keja dan kekasih yang menyayanginya.


 

__ADS_1


***bersambung***


__ADS_2