Mati Saat Bermimpi

Mati Saat Bermimpi
Teringat Peringatan Itu


__ADS_3

Mall Grand Jakarta Indonesia, pukul 18.00.


Claire sedang antri di kasir. Adam berada di belakangnya membawa gaun merah yang ia pilih tadi untuk Claire. Claire senyum-senyum sendiri melihat Adam dengan badan tegapnya ikut antri bersama ibu-ibu.


“Dam, kamu enggak malu ikut antri. Cuma kamu laki-laki tegap di antrian ini,” bisik Claire pada Adam.


Mendengar itu, Adam langsung melihat antrian di belakangnya. Semuanya perempuan. Ia tak sadar akan hal itu.  Di depan Claire ada 2 orang dan di belakang Adam ada 5 orang yang mengantri. Adam sedikit risih, namun ia tetap bertahan.


“Hei Claire! Kamu lihat kan perjuangan aku demi gaun merah ini. Awas aja kalau enggak kamu pakai nanti,” bisik Adam pada Claire.


Claire tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat Adam.


“Kok cuma senyum-senyum?” tanya Adam pelan.


“Iya, iya aku janji. Pokoknya apa pun yang terjadi aku bakal pakai gaun merah ini di hari ulang tahun kamu nanti,” ujar Claire setengah berbisik.


“Benar ya janji,” ujar Adam lagi pelan.


“Iya Adam. Aku janji,” kata Claire pelan, meyakinkan Adam.


Adam tersenyum mendengar jawaban Claire. Tak terasa sudah giliran Claire untuk membayar di kasir. Claire meletakkan barang belanjaanya ke atas meja kasir.


“Selamat sore ibu,” sapa petugas kasir toko tersebut.


“Sore,” sahut Claire ramah.


“Saya hitung dulu belanjaannya ya,” ujar petugas kasir itu dengan ramah pula.


“Iya,” jawab Claire sambil mengeluarkan kartu debit dari dompetnya.


Sensor alat scan barcode mengeluarkan bunyi beberapa kali. Itu pertanda mesin kasir sedang bekerja menghitung jumlah uang yang harus dibayar oleh pembeli. Ada 10 kali sensor itu berbunyi menghitung barang belanjaan Claire. Jika Adam hanya membeli satu gaun, maka Claire membeli 10 pakaian. Semuanya pakaian formal, seperti kemeja, blazer, rok selutut, dan celana kepler.


“Totalnya Rp3.450.000 mbak,” kata kasir itu kepada Claire.


“Ini bayar pakai debit ya mbak,” ujar Claire memberikan kartu debit kepada petugas kasir itu.


“Baik. Saya terima kartunya ya ibu,” ucap petugas kasir dan mengambil kartu debit dari tangan Claire, kemudian menggeseknya di mesin khusus.


“Claire banyak banget belanjaannya,” kata Adam setengah berbisik.


“Kamu harus siap-siap. Kalau aku udah jadi istri kamu nanti, aku bakal belanja lebih banyak dari ini,” bisik Claire pada Adam.


“Bangkrut dong aku,” kata Adam.


Claire tertawa melihat reaksi Adam.


“Maaf bu, silahkan pinnya,” kata petugas kasir.


Claire memasukkan pin kartu atm miliknya sebanyak dua kali. Dua lembar struk keluar. Petugas kasir mengambil kertas itu dan memberikan ke Claire.


“Sudah selesai ya bu. Ini barangnya. Terima kasih. Semoga  kembali,” kata petugas itu memberikan sekantong belanjaan kepada Claire.


“Terima kasih mbak,” ujar Claire mengambil kantong belanjaan itu dan langsung minggir ke samping kiri


Adam maju ke depan. Ia mendapat sapaan yang sama seperti Claire.


“Totalnya Rp450.000 pak,” kata petugas kasir.


“Oke. Ini uangnya,” ujar Adam dan membayar belanjaannya.


“Uangnya pas ya pak. Ini belanjaannya. Terima kasih. Semoga datang kembali,” kata petugas kasir itu.


“Terima kasih. Saya pasti kembali,” canda Adam pada petugas kasir itu.


“Kamu belanja 1 gaun aja udah hampir setengah juta. Kalau kamu beli gaunnya 10 biji, banyakan mana dibanding punya aku?" kata Claire.


“Demi kamu, aku rela,” kata Adam.


“Beneran ya Dam. Nanti aku akan belanja sepuasnya kalau udah jadi istri kamu,” kata Claire.


“Iya, iya. Tapi jangan sampai bikin aku sampai bangkrut,” ujar Adam.


“Hahahahaha..Lagian belanjaan aku ini kan buat mendukung kerjaan aku. Jadi kamu tenang aja, kamu enggak bakal bangkrut kok nanti. Ya udah yuk kita pulang," ajak Claire.


“Loh kok pulang. Kita enggak makan dan nonton dulu,” kata Adam dengan raut wajah sedikit kecewa.


“Udah jam 18.30 Dam. Aku mau ngerjain bahan buat rapat besok,” kata Claire.


“Tapi aku lapar Claire,” kata Adam.

__ADS_1


“Nanti di bawah kita beli roti buat ganjal perut sementara. Nanti kira-kira udah mau sampai rumah, aku akan pesan makanan lewat ojek online. Nah, begitu sampai rumah, ojek online datang, kita bisa makan. Aku juga lapar sebenarnya,” kata Claire.


“Ya udah deh,” kata Adam.


Claire dan Adam sampai di bassement. Claire menenteng kantong plastik berisi roti. Sementara Adam menenteng tas belanjaan Claire. Bunyi sensor kunci mobil terdengar. Keduanya masuk ke dalam mobil dan keluar dari  mall.


Jalanan Jakarta sudah terlihat penuh oleh kendaraan.


“Adam, kamu mau roti rasa apa? Biar aku bukain,” tanya Claire pada Adam yang sedang menyetir.


“Cokelat Keju aja Claire,” kata Adam sambil melirik ke Claire kemudian kembali fokus melihat jalanan.


Claire mengambil roti dengan rasa cokelat keju dari kantong plastik lalu membukanya.


“Aaaak,” kata Claire yang bermaksud menyuapi Adam.


“Eh udah sini aku makan sendiri aja,” kata Adam yang langsung mengambil roti dari tangan Calire.


“Beneran nih enggak mau disuapin?” tanya Claire.


“Iya enggak. Kamu kan juga lapar tadi katanya. Kamu makan punya kamu sendiri, aku makan punyaku,” kata Adam melirik Claire dan menggigit roti yang terlihat nikmat itu.


Claire tersenyum dan membuka roti untuk dirinya sendiri.


“Claire kayaknya jalanan macet banget. Kamu mending kerjain aja bahan buat rapat sekarang. Jadi waktu kamu enggak terbuang,” saran Adam pada Claire.


“Iya sih. Aku juga kepikiran tadi gitu,” kata Claire sambil terus mengunyah dan mengambil laptop di bangku belakang.


“Aku hidupin radio ya. Kamu fokus aja sama kerjaan kamu,” ucap Adam sambil memutar radio di mobil. Sebuah lagu lawas dari band Eagles berjudul Love Will Keep Us Alive terdengar.


“Makasih ya sayang,” kata Claire memeluk lengan kiri Adam.


Claire menghabiskan gigitan terkahir roti miliknya. Dan menyalakan laptop yang diletak di atas pangkuannya.


“Oke, kita mulai bekerja di tengah kemacetan,” kata Caire pelan.


“Claire tunggu! Bukain lagi satu roti dong dan tolong longgarin tutup botol air mineralnya ya,” pinta Adam.


“Oke,” kata Claire dan melakukan apa yang diminta Adam.


“Makasih ya sayang,” kata Adam sambil mengusap rambut Claire.


“Ada lagi?” tanya Claire dengan senyuman.


“Oke bos,” ujar Claire ternyum lebar.


Adam menghentikan laju mobilnya saat sampai di lampu merah. Ia melihat Claire yang terlihat serius menatap laptopnya. Sesekali Claire mengernyitkan dahinya berusaha fokus. Adam tersenyum melihat Claire.


40 menit sudah mereka di jalan mengarungi kemacetan ibukota. Lagu di radio pun sudah berganti menjadi lagu Adele berjudul All I Ask. Tiba-tiba ia teringat lagi dengan apa yang dikatakan Sari waktu di kantin tadi sore. Adam melamun sejenak. Dilihatnya kembali Claire dengan tatapan  sedih.


“Kenapa aku masih terus teringat dengan yang dikatakan Sari? Jika Claire membatalkan proyek itu maka dia akan lebih lama lagi bertemu dengan ayahnya. Tapi jika ia melanjutkan proyek itu aku merasa khawatir. Atau aku


hanya tersugesti dengan kata-kata Sari tadi,” gumam Adam dalam hati yang masih terus melihat ke arah Claire.


Adam mengalihkan pandangannya dari Claire. Diambilnya ponsel miliknya. Ia buka aplikasi kamera dan menjempret Claire yang sedang asyik bekerja di depan laptop. Kameranya tak mengeluarkan suara karena Adam sudah menyetelnya agar tidak mengganggu Claire. Kemudian Adam menyalakan kamera video dan merekam


aktivitas Claire. Adam tampak tersenyum dan ia tak bisa menahan lagi untuk tidak mengajak Claire bicara sebentar.


“Permisi mbak Claire. Serius amat sih,” ujar Adam dari  alik kamera.


Claire hanya tertawa kecil sambil terus menatap laptopnya.


“Tapi walau serius gitu, kamu tetap cantik kok,” kata Adam.


“Ah masa sih,” kata Claire masih terus menatap laptop.


“Serius. Kamu adalah perempuan paling cantik buat aku,”  kata Adam.


“Kamu tuh ya. Aku bentar lagi selesai kok ini,” ujar Claire sambil terus mengetik.


Tiba-tiba suara klakson berbunyi bersahutan. Rupanya lampu sudah berubah menjadi hijau. Adam masih terus merekam Claire.


“Dam lampunya udah hijau,” kata Claire melihat ke Adam.


“Oh ya,” Adam setengah kaget dan langsung mematikan kamera.


“Loh kamu dari tadi ngerekam aku?” tanya Claire.


Adam menginjak pedal gas. Satu-persatu kendaraan mulai melaju.

__ADS_1


“Kamu tuh ya," kata Claire sambil mencubit lengan Adam pelan.


“Ya enggak apa-apa dong. Kalau aku mandi nanti, video itu aku putar.  Jadi nanti berasa mandi sama kamu deh,” kata Adam tersenyum nakal.


“Iiiiih nakal ya,” kata Claire sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Adam.


“Udah ah, aku lanjut lagi. Sedikit lagi selesai nih Dam. Kayaknya sampai rumah selesai deh nih,” kata Claire dan kembali melanjutkan aktivitasnya di depan laptop.


“Maaf ya aku mengganggu,” ujar Adam.


“Iya, enggak apa-apa,”kata Claire tersenyum pada Adam.


Kota Jakarta begitu ramai. Berbagai kendaraan lalu lalang tiada henti. Gemerlap cahaya dari gedung gedung tinggi nan mewah menambah warna Jakarta di malam hari. Beberapa pengemis masih berjejal di jalanan. Paling miris


adalah anak-anak yang digendong oleh ibunya. Dunia anak bagi mereka seperti tenggelam di balik kesibukan dunia. Mereka hanya dikenalkan pada urusan lapar dan lapar.


Laju mobil kembali berhenti. Lampu lalu lintas kembali menyala merah pertanda semua kendaraan harus berhenti. Kali ini lampu merah yang terakhir sebelum sampai di rumah Claire. Adam melihat Claire yang masih fokus pada pekerjaannya. Perut Adam kembali berbunyi memberi sinyal cacing dalam perut minta segera diisi makanan lagi. Ia ambil ponselnya dan membuka aplikasi pesan makan online. Ia pilih makanan khas italia, pizza ayam keju ukuran medium dan pasta fusili ayam mozarella 2 porsi. Tak lama ponselnya berdering.


“Halo,” sahut Adam.


“Iya benar mas. Sesuai apliaksi dan alamatnya udah sesuai ya. Masnya sudah di lokasi?’ tanya Adam.


“Oh begitu. Saya kebetulan masih di jalan tapi 15 menit nyampe rumah kok ini. Kalau nanti masnya udah keburu sampai di rumah sedangkan saya belum, mas tunggu ya. Nanti kasih tip,” ujar Adam.


“Oke. Makasih,” kata Adam mengakhiri pembicaraan.


Claire melihat ke arah Adam.


“Astaga, aku lupa pesan makanan,” kata Claire pada Adam.


“Aku udah pesan kok,” kata Adam.


“Kamu pesan apa?” tanya Claire.


“Pizza dan pasta fusili. Favorit kita berdua,” kata Adam.


“Kamu tahu aja deh yang aku mau,” ujar Claire.


“Ya iya lah tahu. Aku kan bagain dari jiwa kamu,” kata Adam dengan senyum lebar.


Claire tertawa dan melihat ke arah lampu lau lintas.


“bentar lagi hijau tuh. Jangan sampai di klakson lagi sama yang di belakang,” ujar Claire pada Adam.


“Siap bos! Kita tancap,” kata Adam semangat.


“Pizza, pizza, pizza I am coming,” kata Adam sambil menginjak pedal gas.


Keduanya memang sangat menyukai pizza dan pasta. Itu adalah makanan favorit mereka. Tiba-tiba terdengar iklan restoran Mashigetta Barbeque dari siaran radio Nuansa 106,9 FM. Claire mengalihkan perhatiannya pada iklan


itu.


“Sayang, besok makan siang di situ yuk,” ajak Claire.


“Situ mana Claire?" tanya Adam bingung karena tak menemukan tempat makan di depan matanya.


“Itu yang di radio,” kata Claire.


“oh iklan yang barusan?” tanya Adam.


“Iya. Namanya Mashigetta Barbeque. Waktu aku ulang tahun kemarin, semua teman kantor aku ajak ke situ. Aku traktir mereka. Lagi promo soalnya,” kata Claire.


“Oh mereka kamu traktir tapi aku enggak,” kata Adam.


“Aku kirain kamu masih di lokasi kerjaan. Habisnya kamu enggak ngabarin aku sih," kata Claire.


"Kan mau kasih suprise buat kamu," kata Adam.


"Ya udah makanya aku ajak kamu besok ke sana. Makanannya enak banget Dam. Mumpung masih promo tuh,” kata Claire.


“Oke. Besok pagi aku jemput kamu. Siang aku ke kantor kamu, dan sore aku jemput kamu dari kantor,” kata Adam.


“Oh besok mau jadi supir pribadi aku seharian,” kata Claire.


“Iya, besok aku siap mengantar dan menemani tuan putri Claire kemana pun,” ujar Adam.


“Thank you,” ujar Claire.


“Everything for you,” ujar Adam.

__ADS_1


Adam dan Claire masuk ke dalam komplek rumah. Claire sudah menyelesaikan pekerjaannya dan ia mematikan laptop dan memasukannya kembali ke dalam tas. Mobil masuk ke dalam halaman rumah Claire. Tak ada tanda-tanda kedatangan supir ojek online. Namun Adam dikagetkan dengan sesosok anak laki-laki sedang duduk menunduk di depan pintu rumah Claire.


***bersambung***


__ADS_2