
Claire berdiri di depan dinding kaca ruangan kerjanya. Matanya menatap jauh persis ke arah taman yang diceritakan Sari ada penunggunya. Tapi perempuan berkulit kuning langsat itu bukan memikirkan tentang apa yang dikatakan Sari sewaktu di kantin tadi. Ia sedang memikirkan tentang langkahnya yang semakin dekat untuk bertemu dengan ayah kandungnya. Bagaimana terjadinya pertemuan itu nanti? Apakah ayahnya masih mengenalinya? Apakah mereka berdua akan menangis sesenggukan? Ada banyak pertanyaan bergelayut di dalam pikiran Claire tentang itu. Kemudian ia teringat dengan cek Rp500 juta tadi.
“Rp500 juta. Aku harus bisa mendapatkan uang itu, apapun yang terjadi. Tugas ini harus aku selesaikan dengan sempurna,” ujar Claire pelan dengan mata yang masih menatap jauh ke arah taman.
Suara notifikasi dari hpnya terdengar. Claire langsung beranjak mengecek hpnya yang terletak di atas meja.
“Email dari pak Toni. Oke aku akan cek sekarang,” ujarnya saat menghidupkan layar hpnya dan bergegas menghidupkan laptop yang terletak di atas mejanya.
Claire terlihat serius. Matanya fokus pada layar laptop bewarna merah hati itu. Dibacanya isi email dari atasannya, Toni. Terdapat satu file dalam bentuk pdf. Claire membuka satu-persatu slide pdf tersebut.
Face of the company, begitu judul file tersebut. Terlihat nama perusahaan klien barunya, Hotel Banyu Langit. Claire tertegun, Ia seperti pernah mendengar nama hotel itu sebelumnya. Tapi entah kapan, dimana, dan dari siapa ia mendengarnya. Beberapa foto hotel tampak luar dan dalam membuat Claire bingung. Hotel yang memiliki arsitektur begitu menarik, mengapa sepi pengunjung. Claire memperhatikan ada perpaduan arsitektur khas budaya
Indonesia, seperti Jawa, Batak, Bali, dan satu ornamen yang membuat Claire memicingkan matanya. Ia perbesar bagian foto tersebut.
“Dream catcher. Ornamen ini agak enggak nyambung sih dengan arsitekturnya. Tapi enggak mungkin gara-gara puluhan dream catcher, hotel ini jadi sepi kan. Mungkin pemilik hotel memang suka dengan hiasan ini kali ya. Tapi overall arsitekturnya keren. Fasilitasnya juga oke. Aku mau kok nginap di sini. Tapi kenapa sepi pengunjung ya?” ujar Claire, sedikit heran. “Oh harganya mahal apa ya?” kata Claire.
Dream catcher adalah gantungan penangkap atau penangkal mimpi buruk Suku Indian yang merupakam penduduk pribumi Amerika. Benda tersebut dipercaya mampu menangkap mimpi buruk pemilik rumah. Sehingga mimpi buruk itu tidak akan menjadi kenyataan.
Claire mencoba mencari slide berisi tentang harga sewa kamar di hotel tersebut.
“Rp300ribu untuk kamar standart. Ini murah loh buat hotel yang bentuknya begini. Kamar extra large-nya aja cuma Rp1 juta dengan dua kamar tidur di dalamnya. Ini kamar bisa buat nginap satu keluarga. Murah banget sih. Kok aku baru tahu ya ada hotel yang murah begini,” ungkap Claire.
“Apa pelayanannya yang kurang bagus ya? Jadi orang itu kalau udah pernah nginap di sana, jadi enggak mau datang lagi. Karena biarpun harga murah tapi pelayanannya enggak oke, orang juga bakal mikir berkali-kali buat
nginap disitu. Hotel itu harus bisa kasih kenyamanan yang paripurna. Service is number one for hospitality
bussiness. Aku jadi semakin penasaran,” ujar Claire sambil terus membaca profil dari calon kliennya itu.
Ruangan Toni
Pintu kaca ruangan kerja Toni diketuk seorang perempuan bernama Siska. Ia salah satu public consultant di perusahaan itu. Bisa dibilang, dia adalah senior Claire.
“Boleh masuk?” tanya Siska kepada Toni dari balik pintu.
“Come in,” ujar Toni.
Siska pun masuk ke dalam. Perempuan berkulit putih dan berparas ayu itu pun langsung duduk di depan Toni.
“Hari ini Claire ulang tahun loh. Ada pemberitahuan dari memori tahun lalu di facebook ku. Kok enggak ada perayaan,” tanya Siska pada Toni.
__ADS_1
“Claire ulang tahun hari ini? Mas lupa. Maklumlah ada banyak case akhir-akhir ini kan,” ujar Toni sambil terus menatap layar laptopnya.
“Jadi, kamu enggak kasih kejutan sama dia?” tanya Siska.
“Udah,” kata Toni.
“Udah? Tapi kamu bilang lupa hari ini ulang tahunnya,” tanya Siska.
“Mas memang lupa. Tadi pagi mas udah kasih kejutan Rp500juta buat dia. Nanti makan siang mas akan ucapin ke dia langsung dan ajak makan siang aja sekalian. Kamu ikut ya,” ujar Toni.
“Rp500 juta. Uang sebanyak itu apa enggak berlebihan?” tanya Siska.
“Ya enggak berlebihan. Itu bayaran buat kerja keras dia nanti,” ujar Toni.
“Nanti? Kamu kasih dia proyek apa? Jangan bilang kasus Hotel Banyu Langit kamu kasih ke dia? Kamu udah janji itu buat aku loh,” ujar Siska.
“Iya. Kasus itu mas kasih ke dia,” ujar Toni.
“Mas Toni, Kamu keterlaluan!" ujar Siska sedikit marah.
“Sssst, tenang. Mas juga enggak mau kehilangan uang sebanyak itu. Kasus ini nilainya Rp2,5 miliar. Dari total itu, 10 persen sudah masuk ke kantong ku sebagai komisi. Rp1 miliar, keuntungan kantor dan enggak bisa diganggu gugat. Rp500 juta untuk Claire dan sisanya untuk persiapan penanganan kasus ini. Seperti biaya pesawat, makan, tempat tinggal, dan keperluan lain selama Claire di sana. Tapi uang Rp500 juta yang aku janjikan pada Claire enggak akan menjadi milik Claire. Ya, mungkin dia akan dapat seper sekian persen lah. Karena mas akan buat dia menyerah setelah dia melaporkan analisa kasus ini. Kamu tahu kan, Claire sangat detail menganalisa masalah. Jadi kamu tenang aja, semua sudah mas atur,” jelas Toni kepada Siska yang mukanya sedari tadi cemberut.
“Enggak mas. Aku lebih senior. Harusnya proyek bernilai miliaran serahkan kepada yang lebih berpengalaman,” kata
Toni berdiri dan memegang pundak Siska, lalu mengajaknya berdiri.
"Pak Ridwan yang minta Claire. Mas enggak bisa apa2," kata Toni.
"Pak Ridwan?" ucap Siska.
“Iya. Tapi kamu tenang aja sayang. Mas pastikan uang itu tidak akan sampai dimiliki Claire. Uang itu akan menjadi milik kita berdua. Sementara menunggu analisa dari Claire, kamu kan bisa mengerjakan kasus yang lain. Jadi kamu bisa dapat lebih banyak uang kan,” ujar Toni sembari menyenuh pipi kanan siska.
“Kamu yakin rencana kamu bakal berhasil?” tanya Siska.
“Yakin. Seribu persen yakin. Aku bosnya. Aku yang mengendalikan semuanya. Kalau aku bilang stop, maka dia harus berhenti,” ujar Toni.
“Oke. Aku keluar dulu,” ujar Siska.
“Iya,” kata Toni.
__ADS_1
Begitulah. Siska dan Toni diam-diam menjalin hubungan gelap. Gelap karena Siska sudah punya suami. 5
tahun menikah rumah tangganya dikaruniai sepasang anak kembar. Kedua anaknya dijaga oleh baby sitter dan dipantau oleh sang suami. Di sisi lain, penghasilan suaminya sebagai pedagang alat tulis kantor dinilai Siska tak cukup memenuhi kebutuhannya. Padahal di awal pernikahan dulu, Siska berjanji akan setia pada suaminya dalam keadaan suka dan duka. Sementara dengan Toni yang masih lajang, Siska begitu dimanja. Apapun yang Siska minta selalu dipenuhi.
Siska keluar dari ruangan Toni. Di saat bersamaan, Claire pun turut keluar dari ruangannya dan menyampaikan sebuah pengumuman. Dilihatnya Siska dari kejauhan, ia pun tersenyum.
“Halo semuanya. Perhatian sebentar!” ujar Claire sedikit teriak kepada seluruh pegawai di kantor.
“Nanti siang, saya akan traktir kalian semuanya buat makan di restoran baru. Saya ulang tahun hari ini,” ungkap Claire dengan nada ceria.
“Wah, asyik ditraktir mbak Claire. Mbak selamat ulang tahun ya,” ujar Jack yang tiba-tiba nyelonong.
“Huh, Jack, Jack. Tiba ada traktiran aja, cepat benar. Tapi kalau kita minta dibikini kopi, lamaaaa banget datangnya,” ujar Sani, pegawai bagian keuangan.
“Ya namanya rezeki mas. Masa ditolak, hehehe. Saya boleh ikut kan mbak?” tanya Jack.
“Boleh, boleh. Semuanya yang ada di kantor ini saya traktir,” ujar Claire.
Claire melihat ke arah Siska yang sedari tadi masih berdiri di depan ruangan Toni.
“Mbak Siska ikut juga ya. Restorannya enggak jauh kok dari kantor,” ajak Claire.
“Oke, nanti saya ikut,” ujar Siska datar lalu melongos pergi.
Dila, pegawai bagian HRD menghampiri Claire.
“Mbak, maaf ya kami lupa ulang tahun mbak. Tahun lalu kan kita ngerayain di sini. Malah kasih kejutan sama mbak. Tapi tahun ini kami malah enggak ingat. Padahal mbak Claire sangat baik sama kita semuanya,” sampai Dila pada Claire.
“Enggak apa-apa Dila. Tahun ini gantian saya yang kasih kejutan sama kalian semua,” balas Claire tersenyum lebar.
“Oh teman-teman, gimana nanti kita semua patungan buat beli kue ulang tahun mbak Claire?” tanya Dila pada pegawai lainnya.
“Oke Dil, aku setuju,” kata Sani yang juga disahut pegawai lainnya yang setuju dengan usulan Dila.
“Makasih banyak ya. Padahal enggak perlu repot-repot begitu loh,” kata Claire tersipu.
“Ya udah saya ke ruangan pak Toni dulu ya. Saya mau sampaikan kabar ini,” ujar Claire.
Sepeninggal Claire, ruangan itu masih riuh karena Dila mencoba mengutip uang patungan untuk membeli kue ulang tahun Claire.
__ADS_1
Ada 20 orang pegawai di kantor itu. Jumlah tersebut termasuk beberapa public consultant junior, 2 orang office boy, dan 2 orang sekuriti. Kebetulan kantor Public Consulting Tarumanegara yang terletak di lantai 3 berada satu gedung dengan beberapa perusahan lainnya.
***bersambung***