
Tahun lalu, Claire mendapati kue ulang tahun sepanjang 100cm x 50cm di atas meja kerjanya. Ada tulisan di atas lumeran cokelat kue itu, “Selamat Ulang Tahun Our Super Claire. We Love You.” Ah, Claire merasa begitu terharu. Tiada satu pun teman kerjanya yang luput dari rangkulan pelukannya kala itu.
Apalagi ketika kekasih tercintanya, Adam, turut hadir memberi kejutan. Istimewanya, Adam menyamar menjadi seorang office boy yang sedari awal menyediakan minuman di sana. Adam menyamarkan penampilannya dengan wig keriting dan masker.
Bahkan Adam terpaksa melepas cincin jadiannya bersama Claire. Padahal, Adam berjanji tidak akan pernah melepaskan cincin itu. Tapi khusus di hari itu, Adam melanggar janjinya demi membahagiakan sang kekasih. Pikir Adam, toh cuma beberapa jam saja melepaskan cincin tersebut. 1 jam pun tak sampai. Hasilnya, penyamaran Adam pun menjadi bagian terbaik di pesta kejutan itu. Claire tak menyangka Adam akan hadir.
“Sayang, kamu berhasil buat aku enggak bisa berkata apa-apa. Katanya kamu enggak di Jakarta di ulang tahun aku. Katanya kamu di RIG. Kamu bohong," ujar Claire saat itu, sambil memanyunkan bibirnya.
"Tapi ini kebohongan yang manis buat aku sayang. I Love You, Thank You,” lanjut Claire kala itu sambil memeluk erat Adam yang disambut tepuk tangan riuh puluhan teman kerja kantornya.
“Aku enggak mungkin melewatkan hari penting kamu Claire. Aku memang akan berangkat ke RIG. Tapi 3 hari lagi,”
ujar Adam sembari mencium tangan Claire.
Claire melongo saat melihat jari manis tangan kiri Adam yang tak lagi terlingkari cincin emas putih.
“Loh cincin kamu,”? tanya Claire.
“Terpaksa aku lepas. Kalau enggak kamu pasti bakal tahu office boy rambut keriting ini adalah pacar kamu yang ganteng,” Jawab Adam sambil mengambil cincin dari kantong celananya, kemudian memakainya di jari manisnya kembali.
“Jangan dilepas lagi. Aku juga enggak pernah melepas cincin ini sekali pun, sejak jadian kita 3 tahun lalu. Never,” kata Claire yang langsung menunjukkan cincin di jari manisnya kepada Adam.
Claire berharap kejutaan seperti itu hadir kembali tahun ini. Claire bersiap masuk ke
ruangannya. Ia pun membuka pintu.
Namun, kali ini sepertinya Claire salah. Memasuki ruang kerja, tak ada kue ulang tahun di atas meja. Tak ada pula ucapan selamat ulang tahun kepadanya selain ucapan selamat pagi dari teman kerjanya. Wajah sumringahnya berubah menjadi wajah penasaran.
Ia duduk sebentar, kemudian berdiri ia mengintip dari balik pintu. Ia berharap melihat seseorang sedang berjalan menuju ruangannya sambil membawa kue ulang tahun. Tapi semua teman kerjanya sedang asyik sendiri di meja masing-masing, seolah-olah tak ada kejadian apa-apa. Claire menghela nafas.
Kembali dia duduk dan membuka instagram pribadinya dari di telepon selulernya. Dia mencoba mencari akun profil restoran Mashigetta Barbeque. Dalam hati ia berkata,”Mungkin mereka bosan merayakan ulang tahun ku tiap tahun. Aku ajak aja mereka makan di restoran baru ini siang nanti buat merayakan ulang tahun ku.”
Saat sedang asyik melihat-lihat isi di akun Mashigetta Barbeque, tiba-tiba telepon ruangannya berbunyi. Segera ia angkat dan meletakkan hp-nya di atas meja.
“Halo.Claire here. What I can help you,” jawab Claire dari balik telepon.
Sebuah suara yang tak asing menjawab dari balik telepon menyampaikan sebuah perintah.
“Morning pak Toni. Sekarang pak? Oke, saya akan ke ruangan bapak sekarang,” sahut Claire dan bergegas ke ruangan atasannya yang merupakan Direktur Utama di kantornya, Toni.
__ADS_1
Claire sampai di depan pintu ruangan Toni. Ia mengetuk pintu dan langsung membuka pintu dan menjulurkan kepalanya ke dalam seperti orang mengintip.
“Halo pak,” sapa Claire.
“Hei Claire, masuk, masuk,” ujar Toni yang sedang duduk santai sambil membaca majalah wisata.
Claire pun masuk ke dalam dnegan senyum mengembang. Mereka berdua memiliki hubungan yang dekat. Claire adalah karyawan andalannya. Toni pernah berjanji akan mempromosikan Claire sebagai asistennya dalam waktu dekat. Selama hampir 2 tahun belakangan, Claire adalah salah satu andalannya di kantor Public Consulting itu. Tak ada klien yang tak puas dengan penanganan masalah yang dilakukan oleh Claire.
“Hai pak. Sudah sarapan,” tanya Claire.
“Hai Claire. Saya belum sarapan. Kita sarapan di kantin?” jawab Toni.
“Boleh,” kata Claire.
“Ada hal penting yang mau saya bicarakan ke kamu. Sangat penting. Ayo kita ke kantin sekarang,” ajak Toni serius.
Ayo pak,” kata Claire.
Keduanya pun menuju kantin di lantai 2 dengan menuruni anak tangga. Toni dan Claire biasa melakukan itu untuk mencontohkan pada karyawan yang lain agar hidup sehat. Tak selalu begitu, tapi lumayan sering.
Sesampainya di kantin, keduanya langsung duduk di tempat favorit yang menghadap kaca. Dari kaca itu, mereka bisa melihat pemandangan hamparan taman kantor yang luas dari lantai 2.
“Mau pesan apa nih pak Toni dan ibu Claire? Oh saya tahu, pak toni pasti mau pesan mi goreng seperti biasa kan. Dan ibu Claire mau pesan sandwich,” tanya Sari, pelayan kantin yang sudah 2 tahun bekerja di kantin tersebut.
udah tahu aja. Saya sandwich pake kejunya yang agak banyakan ya Sar. Pak Toni mi goreng kan ya,” kata Claire.
“Benar banget. Sari ini memang the best. Tapi Sar saya minumnya air putih hangat ya. Saya enggak pesan kopi dulu hari ini,” kata Toni yang memang sangat gemar ngopi itu.
“Saya susu cokelat ya Sar. Tapi minta air putih hangat juga ya,” ucap Claire.
“Siap. Segera disajikan,” ujar Sari.
“Makasih ya Sari,” kata Claire.
“Sama-sama ibu, pak. Oh ya bu, Sari memang anak indigo. Sari sering ya ngelihat hantu di sini. Mereka tuh sering
menunjukkan diri ke Sari. Beneran loh bu,” kata Sari.
Claire dan Toni mengernyitkan dahi saat mendengar hal tersebut dari Sari.
__ADS_1
“Serius Sar?” tanya Claire.
“Serius bu, pak. Tuh, tuh, tuh, di bangku taman itu setiap hari ada perempuan yang duduk. Tatapan mukanya sedih.
Seperti ada yang belum selesai di dunia ini.Belum lagi yang itu di dekat parkiran bu, ada laki-laki kakinya puntung. Terus saya juga lihat.....,” ujar Sari dengan hebohnya, namun dipotong oleh Claire yang tak mau mendengar kelanjutan cerita Sari.
“Sari, stop, stop. Saya enggak mau dengar lagi. Saya dan pak Toni pengen cepat-cepat sarapan mi goreng dan
sandwich terenak buatan kamu. Jadi buruan dibikin ya,” mohon Claire dengan manisnya.
“He, he,he. Siap bu, pak. Maaf ya kok malah saya jadi keasyikan ngobrol. Permisi,” ujar Sari.
Claire dan Toni hanya tersenyum melihat tingkat Sari. Keduanya sudah paham betul Sari itu seperti apa. Cerewet, heboh, pemberani, dan baik hati. Tapi keduanya baru tahu kalau Sari punya indera keenam.
“Saya baru tahu loh pak kalau Sari itu punya indera keenam. Seram juga ya pak bisa ihat-lihat begituan.Saya enggak kebayang kalau saya bisa melihat hantu begitu,” kata Claire sedikit merinding.
“Atau, nanti kamu yang jadi hantunya," ujar Toni sambil tersenyum sedikit sinis.
“Duh, Belum siap pak. Enakan jadi manusia," kata Claire sedikit tertawa.
"Tapi siap enggak siap kita harus siap. Kematian bisa datang kapan aja," kata Toni serius dengan tatapan mata tajam ke arah Claire.
"Iya pak, iya. Tapi kita ngobrolin yang lain aja ya. Soal kerjaan kayaknya lebih seru. Kita kan enggak cuma sarapan kan duduk di sini. Apa yang mau bapak sampaikan ke saya. Ada proyek baru pak?” tanya Claire.
“Yes, you right. Saya mendapat proyek baru untuk kamu kerjakan. Ada sebuah hotel di Kota Medan yang butuh
bantuan kita. Jadi hotel itu selama ini sepi pengunjung. Hanya saja, istimewanya hotel tersebut justru tetap bisa bertahan. Pemiliknya bilang sama saya kalau selama ini hotel itu walau sepi tapi enggak rugi. Karyawan tetap bisa digaji, biaya operasional hotel tetap terbayar, bahkan pemiliknya mengecap keuntungan, walau sedikit. Nah, poinnya bukan itu sebenarnya. Melainkan, hotel tersebut diisukan sebagai tempat cuci uang pejabat. Apakah hanya pejabat di kota itu saja atau ada pejabat dari luar kota lainnya, enggak ada yang tahu? Yang pasti pemiliknya minta tolong ke saya supaya isu itu bisa hilang dari permukaan bumi. Dan dia berani bayar mahal kita,” jelas Toni.
"Pemiliknya mau melenyapkan isu itu karena tidak benar atau memang benar, pak," tanya Claire.
"Saya enggak tahu kalau itu. Poin pekerjaan kita justru bukan untuk mencari tahu apakah isu itu benar atau tidak. Melainkan kita cukup membuat citra hotel tersebut menjadi baik," jelas Toni.
"Terlepas dari benar atau tidaknya isu itu?" tanya Claire lagi.
"Iya. Mau ada money laundry atau tidak, that is not our bussiness. So, Claire, how do you think? You want to handle this project?" tanya Toni.
Claire diam sejenak. Ia terlihat seperti berpikir keras. Sesekali ia melihat ke arah Toni.
"Come on Claire. Ini buat kamu," kata Toni sambil mengeluarkan selembar cek senilai Rp500 juta dan meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
Claire masih diam. Namun kali ini ia tertegun melihat cek tersebut. Pikirannya melayang pada saat detik-detik kepergian ibunya 3 tahun lalu. Saat itu, ibunya meminta Claire menyampaikan sepucuk surat kepada ayahnya yang berada di Budapest. Saat itu pertama kali Claire tahu bahwa ayahnya masih hidup.
*bersambung*