
Kantor Public Consulting Tarumanegara pukul 19.00 WIB.
“Mbak Claire belum pulang?” tanya Jack dari balik pintu ruangan kerja Claire.
Claire yang sedari tadi sedang fokus dengan berkas-berkas Hotel Banyu Langit, tidak mendengar sapaan Jack. Padahal suasana kantor begitu sepi, sebab tak ada lagi pegawai sejak pukul 18.00 WIB tadi. Memang, meja kerja
Claire sederet dengan posisi pintu hanya jaraknya agak jauh. Meja kerjanya berbentuk huruf L terbalik. Saat ia
menghabiskan banyak waktu di depan laptop, Claire lebih memilih duduk menyamping dengan membelakangi pintu. Dengan posisi begitu, ia bisa menatap pemandangan taman kantornya.
di Taman itu ada kolam berukuran kurang lebih 3 x 3 meter dengan air mancur di tengah-tengahnya. Bunga-bunga menghiasi taman lengkap dengan lampu-lampu taman ala negeri eropa. Belum lagi kursi-kursi panjang yang berjejer rapi. Kemudian ada 4 gubuk mini terbuat dari tepas ada di sudut taman. Jika malam hari tiba, lampu taman dan lampu warna warni yang melintang di pohon-pohon beringin menyala. Itu semua yang membuat Claire betah berlama-laa di ruangan kerjanya. Tapi, ia sendiri belum pernah duduk di taman itu.
“Mbak Claire, mbak enggak pulang mbak?” ujar Jack lagi.
Jack dengan ragu mencoba masuk ke dalam ruangan kerja secara perlahan.
“Mudah-mudahan mbak Claire enggak marah saya masuk begini. Niat saya kan baik mau mengingatkan dia buat pulang dan makan malam. Habisnya saya panggil enggak dengar,” gumam Jack dalam hati.
Jack yang memakai jaket hitam berdiri di belakang Claire. Ia pun penasaran dengan apa yang dikerjakan Claire. Ia bungkukkan sedikit badannya . Tiba-tiba Claire membatu sesaat. Dari layar laptopnya ia melihat ada bayangan
hitam. Tiba-tiba ia teringat dengan apa yang disampaikan Sari di kantin. Perlahan-lahan ia membalikkan badannya dengan wajah ketakutan. Seketika wajah Claire dan wajah Jack saling bertatapan dalam jarak dekat. Tak pelak keduanya pun menjerit.
“Huaaaaaaaaa....Hantuuuuuuuuu,” teriak Claire sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Huaaaaa,” teriak Jack juga dan langsung mundur ke belakang.
Jack melihat sekeliling ruangan dan tak menemukan apa pun, termasuk hantu.
“Mbak Claire, mana hantunya mbak?” tanya Jack dengan nafas tersengal-sengal.
Claire mengangkat kedua tangannya dari wajah. Masih dengan wajah shok.
“Jack!” ujar Claire keras.
“Iya mbak, ini saya Jack,” kaa Jack.
“Aku pikir kamu...,” ucap Claire yang terlihat sedikit lega saat menghela nafasnya.
“Mbak pikir.... saya hantu ya?” tanya Jack dengan wajah bingung.
Claire menganggukkan kepalanya.
“Kamu ngapain coba di sini?” tanya Claire penasaran.
“Tadi saya udah panggil-panggil mbak dari balik pintu. Berkali-kali. Mbak Claire,mbak Claire, enggak pulang mbak? Udah malam ini. Saya panggil lagi, mbak Claire, Mbak Claire. Tapi mbak enggak dengar. Saya cuma mau ingati ini udah malam. Apa mbak enggak pulang dan makan malam. Ya, jadinya saya masuk ke dalam sini,” jelas Jack dengan rinci.
“Ya ampun Jack, huft,” kata Claire sambil menghela nafas.
“Udah jam 7 lewat ya. Sebentar lagi deh saya pulang. Soalnya ada kasus penting yang harus saya pelajari. 3 hari lagi saya harus ke Medan untuk kasus ini,” kata Claire.
__ADS_1
“Ke Medan mbak. Jalan-jalan sekalian mbak. Di Medan makanannya enak-enak. Apalagi duriannya, wuih mantap lah,” ungkap Jack dengan semangat.
“Memangnya kamu pernah ke Medan?” tanya Claire.
Jack terdiam sejenak.
“Bukan pernah lagi, tapi tinggal di sna mbak,” ungkap Jack.
“Loh, tapi katanya kamu orang Semarang,” ujar Claire.
“Panjang ceritanya mbak. Ibu saya orang Medan dan bapak saya orang Semarang. Waktu umur 5 tahun, ibu sama bapak berpisah. Dan saya dibawa ibu ke Medan. Di sana kami tinggal di rumah nenek. Dua tahun kemudian ibu kawin lagi. Suami barunya bawa anak laki-laki satu, seumuran saya. Waktu usia 15 tahun dan tamat SMP, saya hubungi bapak buat jemput saya ke Semarang. Sebab saya sudah tidak tahan diperlakukan buruk sama bapak tiri. Bahkan ibu sendiri terlihat lebih peduli denga anak tirinya. Sering tuh, ibu bilang sama saya, sudah kamu tinggal sana sama bapak mu ke Semarang! Ya sudah akhirnya sejak itu saya tinggal sama bapak di Semarang,” jelas Jack dengan wajah sedih.
“Jack, sabar ya,” hibur Claire sambil memgang lengan Jack.
“Iya mbak,” Kata Jack singkat.
“By the way, kamu belum pulang karena nungguin saya?” tanya Claire dengan senyum kecil.
“hehe iya mbak,” ucap Jack.
Claire mengambil dompet dari dalam tasnya. Diambilnya selembar uang Rp50ribu dan diberikannya ke Jack.
“Ini buat makan malam kamu ya. Kamu udah nungguin saya dan pasti belum makan. Nih ambil,” ucapa Claire sambil menyodorkan uang tersebut.
“Mbak Claire, enggak usah ah,” kata Jack.
“Udah ambil, saya ikhlas. Terus kamu pulang aja, enggak usah tungguin saya. Sebentar lagi saya pulang,” kata Claire pada Jack yang terlihat salah tingkah.
“Ya udah ah kalau mbak Claire maksa. Apa boleh buat. Lapar juga sih memang udah jam segini belum makan,” kata Jack dan mengambil uang yang disodorkan Claire padanya.
“Iya, kamu pulang aja ya,” kata Claire.
“Beneran Jack. Kan udah biasa saya jam segini baru pulang. Lagian saya enggak lama-lama lagi kok,” jelas Claire.
“Ya udah, permisi ya mbak,” pamit Jack pada Claire.
Kembali Claire melihat laptopnya. Ia menulis beberapa catatan di buku. Ia mencoba mencari infomasi mengenai Hotel Banyu Langit dari internet. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Rasa lapar di perutnya tak bisa ditoleransi. Claire teringat pada roti cokelat yang ia beli tadi pagi. Ia bergegas merapikan meja, menutup laptop dan memasukkannya ke dalam tas khusus. Ia matikan lampu ruangan kerjanya dan keluar dari sana.
Ia menekan tombol lift dan saat pintu lift terbuka, ia langsung mematikan lampu ruangan yang terletak di dinding tak jauh dari pintu lift. Dengan begitu, ia tak perlu berlama-lama di ruangan gelap saat menunggu pintu lift terbuka. Claire masuk ke dalam lift dan saat pintu lift akan tertutup, tiba-tiba ia melihat sosok perempuan berambut sepanjang dada mengenakan gaun mini berada di pojok ruangan tengah menatapnya. Seketika Claire kaget dan aliran darahnya dari otak seakan menerobos paksa menyebar ke seluruh tubuh.
“Apa itu?” tanya Claire pelan dengan wajah takut.
Claire sendiri merasa tak yakin dengan apa yang dilihatnya. Sebab hanya sesaat, hanya 3 detik.
“Enggak, enggak. Aku pasti halusinasi gara-gara omongan Sari. Tarik nafas, buang nafas. Tenang, tenang Claire. Itu cuma halusinasi,” ucap Claire yang coba menenangkan dirinya sendiri.
Claire sampai di lantai dasar. Tak ada siapa-siapa kecuali 2 orang sekuriti yang tengah berjaga di meja resepsionis. Claire yang sudah lebih tenang mencoba menyapa keduanya.
“Selamat malam pak sekuriti,” sapa Claire.
“Eh mbak Claire selamat malam,” ucap Bobi, sekuriti bangunan kantor yang bernama Jakarta Asri Building itu. Sudah 10 tahun ia bekerja di gedung tersebut.
__ADS_1
“Saya pulang dulu ya pak. Kamu baru ya?” tanya Claire pada sekuriti lainnya.
“Eh iya mbak. Saya baru 3 bulan dan selama ini dapat shift malam terus,”jelas Hendra, sekuriti magang.
“Mari,” pamit Claire dengan ramah.
Claire berjalan menuju mobilnya yang ia parkirkan tepat di depan taman kantor. Entah mengapa tiba-tiba rasa takut kembali mengganggunya saat melihat bangku taman. Bayangan sosok perempuan yang ia lihat di kantornya tadi kembali memenuhi rongga kepalanya. Ia membayangkan sosok tersebut duduk di bangku taman dan menengok ke arahnya.
Claire berlari kecil. Rasa laparnya sudah kalah dengan rasa takutnya. Apa-apaan ini, pikir Claire. Sebelumnya tak pernah ia merasa merinding atau takut jika berada di kantor hingga malam.
“Sariii, ini gara-gara kamu cerita tentang hantu-hantu. Mana di parkiran mobil katanya ada hantu kaki puntung. Aku makin merinding. No, no, no,” ucap Claire yang melihat sekeliling area parkiran.
Claire membuka pintu mobll dan langsung menghidupkan radio dengan volume besar. Langsung ia tancap gas dan meninggalkan kantornya. Claire pun terlihat tenang saat mobilnya keluar dari gerbang kantor.
“Oke Claire, you save now,” ucap Claire pada dirinya.
Rasa lapar kembali mengingatkan Claire agar segera memasukkan makanan ke lambungnya.
“Oh roti. Aku lapar banget,” ucap Claire sambil sambil mengambil dua bungkus roti yang terletak dibangku sebelah sejak pagi tadi.
Ia buka bungkus roti dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memgang kendali mudi. Kebetulan kemasan roti menggunakan plastik dengan perekat, sehingga Claire bisa dengan mudah membukanya walau hanya dengan
satu tangan. Dalam seketika dua bungkus roti habis dia lahap. Masih tersisa satu roti lagi, tapi Claire merasa cukup dengan satu roti. Kemudian ia pun minum air mineral kemasan yang ia beli tadi pagi.
“Hmmm, satu rotinya aku akan kasih ke anak ingusan itu. Dia kan juga suka cokelat,” ujar Claire.
Claire sampai di rumahnya. Ia melihat rumah tetangganya. Tadinya ia mau memberikan roti itu kepada Erik tapi ia mengurungkan niatnya.
“Besok aja deh aku kasih pagi-pagi sebelum dia pergi sekolah. Kayaknya udah tenang banget rumahnya. Masa iya aku gedor pintu orang malam-malam Cuma mau ngasih sebungkus roti doang,” ujar Claire, lalu masuk ke dalam rumahnya yang gelap.
Claire membuka pintu rumah dan mask ke dalam. Dihidupkannya lampu teras dan ruang tamu rumah. Tapi sebelum ia menghidupkan lampu ruang tamu, Claire terlihat heran dengan bias lampu dari dapurnya. Seingatnya ia tak pernah menghidupan lampu rumah saat pergii ke kantor.
“Siapa?” teriak Claire kencang sambil mengambil sebuah guci yang terletak di atas meja.
“Siapa di dapur?” teriak Claire kembali.
Claire tak berani maju. Ia hanya diam di sana. Namun teriakan Claire tak membuahkan hasil. Tak ada sahutan dari balik dapur. Tiba-tiba ia kembali merinding. Ia hanya seorang diri tinggal di sana. Setahun setelah kematian ibunya, mbak Sila tak lagi bekerja karena memilih tinggal di kampunya. Sejak itu, Claire tak mencari pembantu lagi.
Perlahan Claire menuju dapur dengan guci ditangannya yang siap ia pecahkan ke kepala siapa saja. Tapi
bagaimana jika itu hantu, pikirnya.
“No, no, rumahku enggak ada hantunya,”ungkap Claire pelan sambil terus melangkah ke arah dapur.
Belum sampai di dapurnya, ia melihat bayangan hitam besar di depannya. Ia diam mmebatu dengan detakan jantung yang yang sangat kencang. Persis saat melihat sosok perempuan di kantornya tadi.
***bersambung***
__ADS_1