
Kantin madam Susi terlihat ramai meski jam kerja sudah dimulai. Beberapa diantaranya ada yang makan sambil bekerja di depan laptop. Ada yang sedang bertransaksi dengan kliennya. Ada pula yang sedang bersenda
gurau dengan teman kerjanya.
“Mas Jack ini pesanannya, sandwich 6 , mi goreng seafood 1. Totalnya Rp180ribu,” kata Ratna kepada Jack yang menunggu di tempat duduk pembeli.
“Oh udah siap ya. Cepat juga,” kata Jack sambil mengecek pesanannya yang dibungkus ke dalam sekantong plastik.
“Cepat dong. Lagian cuma mi gorengnya aja yang dimasak. Sandwichnya emang udah udah siap makan. Jadi tinggal dimasukkin ke kantong plastik deh. Siapa nih yang pesan?” kata Ratna.
“Buat pak Toni. Lagi ada rapat sama mbak Claire, mas Sani, mbak Tiara, dan lainnya. Ini uangnya,” kata Jack menerima pesanannya dan memberikan uang kepada Ratna.
“Kembaliannya Rp20ribu ya mas. Tunggu sebentar,” kata Ratna pergi mengambil uang kembalian untuk Jack.
Jack membuka bungkus mi goreng seafood yang ia pesan. Dihirupnya dalam-dalam aroma mi goreng itu dan mencicipi sedikit menggunakan garpu plastik yang ada di dalam bungkusnya.
“Enaknyaaa.. Pantesan aja pak Toni tergila-gila dengan mi gorengnya madam Susi. Enak begini,” kata Jack sambil menutup kembali bungkus mi goreng itu.
“Mas Jack, saya ikut ya anter makanan ini,” kata Sari.
“Loh kok Sari. Tadi Ratna,” kata Jack heran.
“Iya, mbak Ratna lagi ngerjain yang lain. Ini kembaliannya,” kata Sari sambil memberikan uang kembalian Jack.
“Oh ya udah yuk kalau mau ikut. Nanti kamu yang bagiin makanannya ke ruang rapat ya,” kata Jack sambil berdiri dan mengajak Sari berjalan ke arah lift.
“Iya mas,” kata Sari mengangguk.
“Kenapa kamu tiba-tiba pengen ikut? Kamu udah sehat?” tanya Jack.
“Udah dong. Aku udah sehat dan bugar. Lagian cuma sakit biasa kok mas Jack,” kata Sari yang berusaha terlihat ceria. Padahal hati dan pikirannya masih gusar gara-gara Claire.
Sari memang tidak dekat dengan Claire. Tapi jika bertemu keduanya akrab. Tadi saat Ratna hendak mengambil uang kembalian untuk Claire, tanpa sengaja Ratna bercerita kepada Sari tentang pesanan Jack. Kebetulan madam
Susi sedang ada keperluan di luar, sehingga uang hasil penjualan kantin dipegang oleh Sari. Mendengar makanan itu dipesan juga untuk Claire, Sari langsung memohon pada Ratna agar ia yang memberikan uang kembalian itu kepada Jack. Sari juga meminta Ratna agar tidak bilang kepada ibunya bahwa ia pergi ke lantai 3. Maklum, madam Susi masih khawatir dengan kondisi Sari. Meski tubuhnya terlihat sehat, madam Susi selalu tidak tega jika melihat Sari kesakitan saat firasat-firasat itu datang.
“Loh belum dipencet udah terbuka pintunya. Ayo masuk Sari,” kata Jack mengajak Sari masuk ke dalam lift yang pintunya terbuka sebelum ia pencet.
Sari mengintip isi kantong celananya. Ada secarik kertas dengan tulisan di dalamnya. Ia masukkan kembali kertas itu ke dalam kantongnya saat pintu lift terbuka.
“Ayo udah sampai. Kita ke ruang rapat ya,” ujar Jack sambil menunjukkan jalan menuju ruang rapat.
“Nah ini ruangannya. Kamu ketuk aja nanti langsung kamu bagi-bagiin satu-satu ke orang-orang di dalam,” kata Jack sambil memberikan sekantong plastik berisi sandwich kepada Sari.
“Siap mas Jack,” kata Sari sambil tersenyum.
“Ya sudah saya ke pantry dulu buat menghabisi mi goreng ini. Lapar soalnya,” kata Jack kemudian berlalu.
Sari menarik nafas dan meletakkan secarik kertas dari kantongnya ke bungkusan sandwich paling bawah. Ia akan meletakkan bungkusan sandwich terakhir untuk Claire. Ia pun mengetuk pintu ruangan rapat sebanyak 3 kali.
“Permisi,” ujar Tiara kepada peserta rapat kemudian membukakan pintu.
Semua peserta diam sejenak. Claire yang tadi akan mulai menyampaikan presentasinya terpaksa menunda sesaat. Ia pun kemudian mencoba mengecek file dari flashdisknya yang dipindahkan Amel tadi.
“Kamu?” ujar Tiara.
“Halo mbak Tiara saya mau antar pesanan sandwich,” kata Sari.
“Jack kemana?” tanya Tiara.
“Kebetulan ibu saya yang suruh saya langsung mengantarkan pesanan ini ke ruang rapat. Sebagai bagian dari servis kami. Nanti kalau mau pesan apa-apa lagi bisa telepon aja. Kami yang antar,” jelas Sari berusaha mencari alasan.
“Oke, silakan,” kata Tiara sambil mempersilakan Sari masuk.
“Permisi,” ujar Sari memasuki ruangan rapat.
“Loh Sari. Kamu sudah sehat? Katanya kemarin kamu sakit,” sapa Toni yang seidkit kaget melihat kedatangan Sari.
“Sudah sehat dong pak. Kemarin sakit biasa aja kok,” ujar Sari kembali mencoba untuk ceria.
Claire yang mengetahui kedatangan Sari mencoba tersenyum ke arah Sari. Namun, lagi-lagi Sari tak membalas senyumannya.
“Permisi pak ini langsung saya bagiin ya,” ujar Sari kepada Toni.
“Silakan,” kata Toni.
Sari meletakkan satu-persatu sandwich ke hadapan peserta rapat. Terakhir tinggal satu sandwich yang belum ia letakkan. Ia melihat satu meja yang kosong dengan secangkir teh di atasnya berada di sebelah Sani. Ia perkirakan itu adalah meja Claire.
“Permisi mas Sani. Ini meja mbak Claire?” tanya Sari berusaha memastikan.
“Iya Sar. Taruh aja disitu,” kata Sani.
__ADS_1
Sari mengangguk dan meletakkan sandwich ke atas meja dengan secarik kertas ia selipkan di bawah bungkusan sandwich. Sari pun pamit kepada semua orang di dalam.
“Saya permisi dulu semuanya. Terima kasih atas pesanannya,” ujar Sari kemudian keluar ruangan.
Claire merasa perilaku Sari padanya sangat aneh. Ia tak tahu apa alasan Sari bersikap begitu padanya.
“Oke, rapat kita mulai kembali. Sandwich bisa kita nikmati setelah Claire selesai presentasi,” ujar Toni.
Claire menarik nafas pendek dan ia siap untuk memulai presentasinya.
“Baik, Terima kasih semuanya. Saya akan langsung menyampaikan analisis saya sementara terhadap kasus ini. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pak Ridwan yang sudah merekomendasikan saya
untuk kasus ini. Tapi sayangnya beliau tidak hadir bersama kita hari ini,” ujar Claire.
Siska memandang Claire dengan sinis. Kali ini ia tak bisa lagi menutup rasa tidak sukanya terhadap Claire. Tapi tidak ada satu orang pun di ruangan tersebut yang menyadari hal itu, kecuali Toni yang sesekali melirik ke arah Siska.
“Nanti akan saya sampaikan terima kasih kamu pada pak Ridwan,” kata Toni.
“Baik pak, terima kasih. Pertama saya mau menganalisis mengenai sepinya pengunjung di hotel ini. Melihat dari kondisi bangunan yang masih sangat layak, fasilitas yang sangat lengkap, serta harga sewa yang sangat murah, seharusnya hotel ini menjadi primadona. Manajemen hotel sepertinya tidak tanggung-tanggung menyediakan kebutuhan pengunjung agar terus merasa nyaman menginap di sana, walau harus dengan harga jual yang murah. Saya yakin manajemen hotel sudah mempertimbangkan baik dan buruknya mengenai hal itu. Di sini jelas bahwa
aspek-aspek yang saya sebutkan tadi bukan merupakan faktor sepinya pengunjung di Hotel Banyu Langit,” jelas Claire panjang.
“Kemudian saya juga melakukan penelusuran di internet mengenai komentar-komentar orang-orang yang pernah menginap di sana. Komentar itu ada di berbagai platfrom media sosial. Di sini saya menemukan keanehan, Amel tolong buka slide selanjutnya,” kata Claire.
Amel mengklik tombol mouse untuk membuka slide file yang diminta Claire. Semua peserta rapat terlihat serius mendengar presentasi Claire.
“Coba perhatikan beberapa hasil screenshot komentar orang-orang mengenai Hotel Banyu Langit. semua mengatakan hotel tersebut sangat bagus. Ada ratusan komentar dan semuanya saya baca satu-persatu. Akhirnya saya menemukan satu komentar yang mengatakan ia tidak akan kembali ke hotel tersebut untuk satu alasan yang tak bisa ia sebutkan. Memang hanya satu komentar tapi tidak bisa disepelekan. Bisa jadi ini satu petunjuk untuk menguak alasan sepinya hotel ini beberapa tahun belakangan. Saya juga sudah berusaha untuk menghubungi akun tersebut kemarin, tapi belum ada jawaban,” kata Claire.
Toni melirik ke arah Siska dan tersenyum sinis. Lirikan itu dibalas oleh Siska. Lirikan Toni mengisyaratkan bahwa Claire memang memiliki analisis yang tajam terhadap satu kasus.
“Kemudian tepat didepannya ada satu hotel bintang 4 dengan gaya modern. Hotel itu berdiri sejak 6 tahun lalu. Dan trafik pengunjung sepertinya bagus. Tapi apakah hotel itu rival Hotel Banyu Langit? Sepertinya, belum bisa
kita tarik kesimpulan soal itu. Jika ditanyakan pada saya, maka saya akan lebih memilih Hotel Banyu Langit dengan bintang yang sama seperti hotel di depannya,” lanjut Claire.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan pertama kali sesampainya di Medan?” tanya Toni.
“Saya akan menginap di sana pak. Saya akan berusaha untuk menguliti hotel itu,” kata Claire mantap. Untuk beberapa hari saya akan menginap sebagai pengunjung biasa agar saya diperlakukan layaknya pengunjung,
bukan sebagai mitra kerja,” kata Claire.
“Oke. Nanti saya akan hubungi pemilik hotel untuk memberi tahu bahwa orang dari perusahaan kita akan bisa ditemui 3 hari setelah kamu tiba di Medan. Bagaimana?” kata Toni.
“Baik pak,” kata Claire.
“Silakan dilanjutkan Claire,” kata Toni mempersilakan Claire untuk melanjutkan presentasinya.
“Jika alasan sepinya pengunjung sudah ditemukan dan bisa diatasi, maka isu money laundry otomatis akan tersingkirkan. Orang-orang tidak akan menaruh curiga lagi pada hotel itu. Selanjutnya, publikasi yang lebih
beragam, misalnya melalui CSR, event, dan iklan di berbagai media, bisa memulihkan nama baik Hotel Banyu Langit. Sekian presentasi saya,” ujar Claire menundukkan kepala dan kembali duduk.
“Good!” ujar Toni pada Claire.
“Terima kasih pak,” ujar Claire
“Baik, ada yang ingin memberi tanggapan?” tanya Tiara pada peserta rapat.
Siska mengangkat tangannya.
“Silakan mbak Siska,” kata Tiara.
“Hotel adalah bisnis yang sangat mengedepankan pelayanan. Semua orang harus tersenyum, ramah, dan memberi pelayanan terbaik. Tapi harus hati-hati Claire. Sebab, banyak orang yang di depan manis tapi di belakang menusuk pelan-pelan. Jadi kamu tidak boleh terbuai dengan apa yang kamu lihat di sana nanti,” ujar Siska pada Claire bermaksud menyindir Toni.
Toni pura-pura berdehem. Ia tahu Siska menyindir dirinya.
“Ehem. Ya, apa yang disampaikan Siska adalah masukkan yang baik. Bahkan sangat baik. Siska bermaksud memberitahu kamu bahwa bisa saja pegawai di hotel itu tidak memberi pelayanan sepenuh hati. Kamu harus
berhati-hati Claire. Kalau begitu silakan nikmati sandwich masing-masing,” ajak Toni.
Semua mata pun tertuju pada sandwich yang ada di depan mereka. Satu-persatu pun mulai menikmatinya. Tiara pun kembali duduk di kursinya.
“Ada masukkan yang lain?” tanya Tiara yang bertindak sebagai moderator rapat.
“Mungkin laporan keuangan yang belum disampaikan,” ujar Sani.
“Ada masalah?” tanya Toni.
“Tidak ada masalah pak. Saya hanya mau menjabarkan saja,” ujar Sani sambil mengunyah sandwich.
“Oke, masih sambil mengunyah, silakan kamu sampaikan langsung. Tidak usah pakai proyektor. santai saja,” kata Toni.
“Baik pak,” ujar Sani sambil membuka sebuah map.
“Total dana yang dikeluarkan untuk perjalanan dinas mbak Claire selama di Medan sebesar Rp34
__ADS_1
juta, itu sudah termasuk tiket pesawat pergi di kelas bisnis dan untuk tiket pulangnya akan dibeli saat mbak Claire akan kembali ke Jakarta. Kemudian saya sudah transfer ke rekening pribadi mbak Claire sebesar Rp26juta dengan rincian peruntukkannya untuk uang makan Rp300.000 per hari, uang saku Rp200.000 per hari, uang entertain Rp200.000 per hari, uang penampilan Rp200.000 per hari, uang transportasi Rp200.000 per hari, dan biaya penginapan Rp1.500.000 per hari. Jumlah itu sudah saya kali 10 hari. Kalau nanti masa dinasnya diperpanjang, saya akan transfer lagi sesuai kebutuhan. Laporan saya selesai pak,” kata Sani berusaha merinci seperti apa yang ia sampaikan pada Claire beberapa waktu lalu.
“Oke. Bisa enggak kamu upgrade tiket pesawatnya jadi first class,” kata Toni pada Sani.
Siska membelalakan matanya pada Toni, pertanda tidak setuju dengan keputusan tersebut. Tapi Toni tidak menghiraukan Siska. Claire pun merasa sedikit kaget. Sebab baginya, berada di kelas bisnis pun sudah sangat baik, apalagi di kelas satu penerbangan.
“Bisa pak selama ketersediaan masih ada. Saya cek sekarang ya pak,” kata Sani yang langsung mengecek aplikasi pembelian tiket pesawat dari ponselnya.
“Dan semua kebutuhan seperti uang makan dan lain-lain kamu naikkan masing-masing jadi Rp500ribu per hari. Kemudian untuk biaya penginapannya tetap di angka yang kamu sebut tadi,” ujar toni.
Siska kembali melihat Toni dengan tatapan kesal. Namun ia tak bisa berkata apa-apa, karena itu adalah hak mutlak Toni. Dulu ia pun pernah meminta penerbangan first class saat menyelesaikan kasus di Bali. Jika ia protes, maka penerbangan ia ke Bali waktu itu akan dijadikan pembanding. Sementara Claire senyum-senyum mendengar yang dikatakan Toni tadi.
“Baik pak berarti total yang harus saya transfer ke mbak Claire Rp40 juta untuk 10 hari kerja. Sisanya akan saya transfer segera ke rekening mbak Claire. Tapi saya perlu tandatangan hasil keputusan rapat dari bapak karena keputusan ini tidak sama seperti aturan yang sudah ditetapkan sebelumnya di perusahaan ini,” ujar Sani.
“Oke saya tunggu di ruangan saya,” kata Toni sambil melahap gigitan sandwich miliknya yang terakhir.
“Apakah aturan ini mau dijadikan aturan yang baku pak?” tanya Sani.
“Tidak. Ini spesial untuk kasus ini saja,” kata Toni.
“Baik pak. Ini saya sudah mendapat jawaban dari pihak travel tiket bisa di-upgrade tapi di harganya dua kali lipat
harga kelas bisnis, jadi sekitar Rp16 juta lebih,” kata Sani memberitahu Toni.
“Oke enggak masalah. Claire kamu senang?” tanya Toni.
“Terima kasih pak atas fasilitas yang sangat istimewa buat saya. Ini semua sudah lebih dari cukup,” ujar Claire tersenyum yang sudah menghabiskan sandwich miliknya dari tadi.
“Sama-sama Claire. Saya cuma minta kamu selesaikan kasus ini sebaik-baiknya,” pinta Toni.
“Siap pak,” kata Claire.
“Oke, Tiara, ada lagi yang akan kita bahas?” tanya Toni pada Tiara.
“Sudah selesai pak,” kata Tiara.
“Oke. Rapat sudah selesai. Silakan kembali bekerja,” kata Toni.
Semua peserta rapat membubarkan diri.
“Oh ya mbak, saya langsung transfer ke mbak sekarang ya. Nanti untuk bukti-buktinya saya akan saya bawa ke ruangan mbak,” kata Sani.
“Iya Sani,” ujar Claire yang masih duduk di ruangan rapat.
Sani sedang melakukan transfer ke rekening Claire dari akun bank perusahaan yang ada di ponselnya. Akun bank tersebut hanya digunakan untuk melakukan transaksi ke luar rekening perusahaan. Sementara satu akun bank yang menampung seluruh uang masuk perusahaan ada di akun yang dipegang oleh Lulu, kepala bagian keuangan. Akun itu hanya digunakan untuk transfer ke rekening yang dipegang Sani. Hal itu dilakukan agar seluruh transaksi dapat terekap dengan baik. Tiba-tiba secarik kertas terjatuh saat Claire mengangkat bungkusan sandwich yang bermaksud akan membuangnya.
“Apa ini?” tanya Claire pelan.
Tertulis di kertas tersebut “Bu Claire jangan pergi. Tetap di sini. Saya mohon. Sari.”
“Sari?” ucap Claire pelan dan kembali teringat kejadian saat segelas es jeruk terjatuh di kantin.
Claire terlihat bingung dengan apa yang ditulis Sari di kertas bergaris-garis itu.
“Mbak Claire coba cek ya, sudah saya transfer,” bilang Sani tanpa melihat ke arah Claire yang masih melamun.
Karena tidak mendapat respon, Sani kembali memanggil Claire.
“Mbak Claire, mbak,” panggil Sani sambil menggoyangkan telapak tangannya ke hadapan wajah Claire.
“Eh iya San. Kenapa?” tanya Claire yang tersentak.
“Sudah saya transfer barusan. Coba mbak cek ya. Mbak ngelamunin apa sih?’ kata Sani yang penasaran dengan lamunan Claire.
“Ini San,” kata Claire sambil menunjukkan secarik kertas yang ditulis Sari tadi.
Sani membaca surat tersebut.
“Kenapa Sari melarang mbak Claire pergi ya?” tanya Sani bingung.
“Entahlah San. Saya coba ke kantin sekarang. Saya akan tanya langsung ke dia. Karena tatapan Sari itu emang beda banget,” kata Claire.
“Oh ya, aku coba cek transferan kamu ya,” kata Claire mengambil ponselnya.
Sani merapikan barang bawaannya dan dimasukkan ke dalam satu map.
“Oke, udah masuk ya San. Thank you. Pokoknya oleh-oleh buat kamu spesial,” kata Claire.
“Sip mbak. Yuk kita keluar,” ajak Sani.
“Ayo. Nanti kalau saya udah balik dari kantin, saya hubungi kamu ya San. Sekalian bawa bukti transfernya soalnya saya cepat pulang hari ini,” sahut Claire dan beranjak berdiri.
“Iya mbak,” kata Sani sambil berjalan menuju pintu bersama Claire.
__ADS_1
Sani berjalan ke ruangannya dan Claire berjalan menuju kantin. Setelah Siska berhasil membuatnya penasaran, kini Sari ikut-ikutan membuatnya penasaran.
***bersambung***