
Kantin Jakarta Asri Building, pukul 15.40.
Adam sampai di lantai 2. Pintu lift terbuka lebar. Adam keluar dan berjalan menuju kantin. Sore itu tidak terlalu banyak orang di sana. Tak sampai 8 orang sedang makan atau sekedar ngopi. Adam duduk di tempat duduk favorit Claire, menghadap ke taman. Sebelumnya, Adam sudah beberapa kali berkunjung ke kantin dan Claire selalu mengajaknya duduk di sana.
“Claire tahu aja tempat yang nyaman. Kalau duduk sini jadi teringat awal-awal pacaran dulu,” kata Adam teringat masa lalu.
Awal-awal pacaran dulu, Adam pernah mengerjai Claire di sana. Tepat di hari ulang tahun Claire kejadiannya. Waktu itu Claire bersama dua orang teman kerjanya sedang makan siang. Lalu Adam datang dengan dandanan seperti pria paruh baya. Lengkap dengan kumis dan jenggot tebal. Lengan bagian bawahnya pun ditempel bulu-bulu. Persis seperti bulu-bulu tangan. Wajahnya pun ia rias agar tampak keriput. Kebetulan, Adam punya teman seorang make up artist.
Adam duduk di meja yang ada di depan Claire. Adam terus melihat ke arah Claire dengan genit. Adam mengedipkan mata ke arah Claire dan menjulurkan lidahnya berkali-kali. Claire sangat risih dengan perilaku Adam waktu itu. Sampai dua orang teman kerjanya juga ikut-ikutan risih.
“Lucu kali Claire,” goda Lisa, teman kerja Claire.
“Apaan sih! Jijik tahu. Liat tuh dia lihat ke aku terus,” kata Claire yang menunduk dan sesekali mengintip ke arah Adam,” ujar Claire.
“Lumayan. om om tajir kayaknya Claire,” sambung Lili.
“Iya kalau tajir kan kita juga yang kebagian,” Goda Lisa yang tertawa bersama Lili.
“Amit-amit jabang bayi,” kata Claire sambil menepuk-nepuk kepala dan meja.
Adam berdiri dan menghampiri meja Claire.
“Astaga dia berdiri dan masih terus melihat ke aku, gimana nih? Cabut yuk!” ajak Claire pada kedua temannya dengan raut wajah takut.
“Ah tunggu dong. Makanan ku belum habis. Udah kita lihat aja dia mau apa,” cegah Lili.
“Iya. Kan ada kita cliare. Kalau dia macam-macam tinggal kita keluarin jurus tendangan maut. Jadi tenang,” sahut Lisa.
Adam sampai di meja Claire dan masih terus memandang Claire. Sesekali ia memandang ke arah Lisa dan Lili. Sebelum bicara, Adam berdehem beberapa kali untuk mengatur ritme suaranya agar tak dikenali Claire.
“Halo,” sapa Adam dengan suara yang dibulatkan.
“Halo om,” sahut Lili ramah.
“Ada yang bisa kami bantu? Soalnya kata teman kami ini, om dari tadi ngelihat ke arah dia terus,” ujar Lisa.
“Lisa!” kata Claire dengan suara pelan namun bernada marah.
“Terus terang saja ya, enggak usah bertele-tele. Om tertarik dengan teman kalian yang satu ini,” ujar Adam dengan gaya selengekan dan menunjuk ke arah Claire.
Seketika Claire menjadi sangat malu dan kesal. Ia pun langsung berdiri.
“Lisa, Lili, kalau kalian masih mau di sini, aku duluan,” ujar Claire dan beranjak dari sana tanpa mendengar jawaban kedua temannya.
“Eh Claire tunggu-tunggu!” kata Lili yang terlihat mau menyusul Claire yang juga diikuti Lisa.
Namun, Adam berusaha mencegah keduanya dan berbisik kalau dirinya adalah Adam. Lisa dan Lili kaget bukan main.
“Claire! Itu nama kamu kan!” teriak Adam pada Claire masih dengan suara yang dibulatkan.
__ADS_1
Panggilan itu membuat langkah Claire terhenti. Ia membalikkan tubuhnya pelan dan melihat ke arah Adam.
“Saya tahu nama kamu, orang tua kamu, rumah kamu, tempat kerja kamu, makanan kesukaan kamu, dan bahkan hari lahir kamu,” ujar Adam masih dengan suara yang dibulatkan.
Adam mendekatkan langkahnya ke hadapan Claire yang diam membatu.
Claire masih tertegun. Ia tak bisa melangkah walau ia ingin pergi dari sana. Tapi ia masih penasaran siapa pria paruh baya yang ada di hadapannya.
“Siapa dia?” tanya Caire dalam hatinya.
“Claire Morven nama lengkap kamu, Mia Firli nama ibu kamu, Josh Morven nama ayah kamu, Public Consulting Tarumanegara tempat kerja kamu, susu cokelat dan sandwich makanan kesukaan kamu, Komplek Beringin
Indah blok A nomor 8, rumah kamu,” beber Adam.
Langkah Adam terhenti di depan Claire. Hanya ada jarak satu lengan di antara mereka. Claire mencoba melangkah mundur. Kaki kanannya sudah diancang-ancangnya untuk segera berpindah.
“Berani sekali om-om ini menguntit ku selama ini,” ujarnya di dalam hati.
“Dan hari ini adalah hari ulang tahun mu, Claire Morven,” kata Adam dengan suara asli saat menyebut nama Claire.
Claire terkejut dan mengenali suara itu.
“Kamu, Adam?” tanya Claire berusaha meyakinkan dirinya.
“Happy birthday my love,” ucap Adam dengan mesra dan menunjukkan hadiah sebuah kalung emas terukir inisal huruf CA. Kalung itu yang dipakai Claire sampai saat ini.
“Romantis banget Li,” ujar Lisa terharu.
“Iya Lis, aku pengen punya pacar kayak Adam. Tapi belum ada yang mau,” ujar Lili sedih.
Claire yang kesal mengarahkan pandangannya kepada Lili dan Lisa yang masih tenggelam dengan keromantisan Adam.
“Lisa, Lili, kalian kerjasama dengan Adam ya!” teriak Claire.
“Enggak-enggak, kita enggak tahu apa-apa Claire,” ujar Lisa dan Lili bersamaan.
“Iya sayang, aku sendirian. Lili dan Lisa enggak tahu soal ini,” kata Adam.
“Aku geli lihat tingkah kamu tadi. Kok bisa ada om om yang ngelihat aku kayak ngelihat makanan terlezat di dunia. Geliiii banget Dam,” ujar Claire dengan serius.
“Berarti kejutan aku berhasil,” kata Adam pamer.
“Berhasil sangat berhasil. Berhasil bikin aku kesal dan berhasil bikin aku terenyuh, terharu, dan bahagia,” ujar Claire dengan mata berkaca-kaca.
“Makasih Adam. Terima kasih banyak,” ucap Claire dan langsung memeluk Adam yang masih memegang kalung emas yang belum dipasangkannya ke leher Claire yang berulang tahun ke-28 itu.
“Terima kasih kamu udah hadir ke dalam hidup aku Claire. Aku cinta kamu. Sangat mencintai kamu,” ungkap Adam.
“Aku juga cinta sama kamu Adam. Aku perempuan paling beruntung punya kekasih kayak kamu. Jangan pernah ninggalin aku ya Dam,” pinta Claire.
__ADS_1
Adam melepaskan pelukan Claire pelan.
“Enggak. Aku enggak akan ninggalin kamu. Dan kamu juga enggak boleh ninggalin aku. Mau berantem hebat gimana pun, kita enggak boleh berpisah. Janji ya,” ungkap Adam.
“Janji, aku janji sama kamu,” ujar Claire menganguk dan menyeka air matanya yang keluar tiba-tiba.
“Kalung ini anggap sebagai Adam mu Claire. Jadi meskipun raga aku enggak ada di samping kamu, separuh jiwaku tetap bersama kamu. berasa ada dimana-mana. Sini aku pakein,” ujar Adam ada mulai memasangkan kalung itu ke leher Claire. Tak sulit bagi Adam memasangkannya karena saat itu Claire menguncir rambutnya.
“Tahun lalu cincin, tahun ini kalung, tahun depan pasti dapat anting. Habis itu tahun depannya lagi gelang tangan, terus gelang kaki. Lama-lama aku buka toko emas deh,” canda Claire pada Adam.
“Tahun depan dan tahun berikutnya tetap ada kejutan buat kamu. Jadi siap-siap aja!” kata Adam.
“Aku tunggu! Eh, buka nih bulu-bulunya. Riasan keriput-keriputnya dihapus ah. Geli aku,” kata Claire sambil menunjuk ke lengan dan wajah Adam.
“Iya aku bersihin di toilet ya. Kamu tunggu sini,” kata Adam.
“Iya. Aku gabung sama Lisa dan Lili lagi. Buruan,” ujar Claire tertawa. Adam pun peri ke toilet yang berada di sekitar
kantin.
Claire bergabung kembali dengan Lili dan Lisa yang sedari tadi saling mengungkapkan keinginan memiliki kekasih seperti Adam.
“Claire aku mau dong yang kayak Adam satu. Mana tahu dia Cuma adik atau abang, atau teman, sepupu yang modelnya kayak gitu itu,” ujar Lisa penuh harap.
“Minta sama Tuhan kali Sa,” kata Claire.
“Iya mungkin aku kurang berdoa ya. Soalnya setiap hari tuh aku udah tebar pesona ke orang-orang tapi belum ada yang nyangkut,” kata Lisa.
“Nanti sore kita hang out aja Lis. Mana tahu ada cowok ganteng, baik, dan tajir, mau sama kita,” ajak Lili.
“Iya, iya. Aku mau,” kata Lisa semangat.
“Aku enggak ikut ya. Soalnya mau berduaan sama Adam,” kata Claire.
“Iya deh yang mau mesra-mesraan,” goda Lisa pada Claire.
“Ya paling candle light dinner, nonton, shopping. Gitu-gitu lah,” kata Claire.
“Eh kalungnya bagus ya Claire. CA, Claire dan Adam. Pasangan serasi dan semoga langgeng sampai maut memisahkan,” ucap Lisa sambil menggenggam tangan Claire.
“Makasih ya Sa,” ujar Claire.
“Oh ya happy birthday loh. Kita aja enggak tahu kamu ulang tahun hari ini. Selamat ya sayang,” ujar Lili sambil mencium pipi kiri dan kanan Claire, lalu memeluknya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Lisa.
Sejak kejadian itu, 6 bulan kemudian Lili menikah lalu disusul Lisa. Keinginan mereka tentang kekasih idaman dikabulkan oleh Tuhan. Setelah menikah, keduanya terpaksa keluar dari pekerjaan karena tak diijinkan oleh suami masing-masing. Dulu Lisa adalah teman kerja Claire di bagian respsionis. Sementara Lili bagian marketing.
Tiba-tiba Adam tersadar dari lamunan masa lalunya. Suara seorang perempuan yang menyadarkannya.
***bersambung***
__ADS_1