
Kantor Public Consulting Tarumanegara pukul 11.30 WIB.
Suara ketukan terdengar dari balik pintu ruangan kerja Claire.
“Masuk!” sahut Claire dari dalam ruangan sambil terus bekerja di depan laptop.
Terlihat Sani, pegawai bagian keuangan masuk ke dalam ruangan Claire. Ia membawa sebuah map.
“Halo mbak,” ujar Sani.
“Eh Sani. Duduk! Ada apa?” tanya Claire pada Sani.
Sani duduk dan meletakkan map tersebut ke atas meja.
“Ini mbak saya mau menyerahkan berkas-berkas dan perlengkapan untuk perjalanan dinas ke Medan.
Ada tanda terima yang harus ditandatangani untuk pembelian tiket pesawat pergi. Untuk tiket pulangnya seperti biasa, melihat perkembangan nanti. Tiketnya sudah saya kirim ke email ya mbak,” Jelas Sani.
“Saya juga udah transfer sebesar Rp26juta ke rekening mbak. Rincian peruntukkannya untuk uang makan Rp300.000 per hari, uang saku Rp200.000 per hari, uang entertain Rp200.000, uang penampilan Rp200.000 per hari, uang transportasi Rp200.000 per hari, dan biaya penginapan Rp1.500.000 per hari. Itu semua dikali 10 hari. Kalau nanti masa dinasnya diperpanjang, saya akan transfer lagi sesuai kebutuhan mbak,” rinci Sani lagi.
Perusahaan Public Consulting Tarumanegara sangat memanjakan karyawan yang sedang dalam tahap penyelesaian kasus klien. Perusahaan akan memperhatikan detil setiap kebutuhan karyawannya, mulai dari ujung kepala hingga hingga ujung kaki. Jumlah anggaran yang dikeluarkan untuk Claire tadi akan lebih rendah 50 persen jika karyawan tersebut hanya melakukan follow up klien atau sedang menyelesaikan kasus di dalam kota.
Claire mengambil Hp-nya dan melihat ada notifikasi transferan dari kantor.
“Oke. Udah masuk transferannya. Email tiketnya juga udah masuk nih,” ujar Claire.
“Berarti tinggal mbak tandatangani tanda terimanya aja. Ini mbak, bisa dicek dulu,” kata Sani sembari menyodorkan selembar tanda terima, selembar bukti transfer, dan selembar bukti pembelian tiket pesawat kepada Claire.
Claire mengecek satu-persatu berkas yang disodorkan Sani. Tiba-tiba matanya menangkap satu hal. Ia mengernyitkan dahinya.
“Sani. Kayaknya kamu salah print bukti tiketnya deh. Coba kamu lihat itu pembelian tiket buat siapa?” tanya Claire.
Sani mengecek bukti pembelian tiket pesawat tersebut.
“Ya ampun mbak. Maaf ya mbak, habisnya tadi mbak Siska minta saya buat beli tiket pesawat ke Medan juga. Sebentar saya ambil di ruangan dulu yang atas nama mbak Claire. Sebentar ya mbak,” kata Sani beranjak berdiri.
“Mbak Siska mau ke Medan juga?” tanya Claire.
“Iya mbak katanya mau follow up klien. Cuma dia perginya di tanggal 15, tiga hari setelah keberangkatan mbak Claire,” jelas Sani.
“Oh ada klien lain di Medan ya?” tanya Claire.
“Katanya sih begitu mbak. Sudah atas persetujuan pak Toni,” kata Sani.
“Oh begitu. Ya udah. Saya tunggu ya,” ujar Claire.
“Oke mbak,” kata Sani dan keluar dari ruangan Claire membawa bukti tiket pembelian pesawat Siska.
Ruangan kerja bagian Keuangan
Seorang pegawai keuangan, Puspa terlihat sedang mencari-cari sesuatu di atas meja. Ia membuka
laci dan membuka isi map yang dilihatnya.
“Aduh, dimana ya?” kata Puspa.
Kemudian ia melihat secarik kertas ada di bagian kertas keluar printer.
“Oh ini dia pasti. Tapi perasaan udah aku letak di atas meja tadi,” kata Puspa sambil mengambik kertas itu.
“Loh, ini kan bukti pembelian tiket pesawat mbak Claire,” ujar Puspa.
Sani masuk ke ruangan. Ia langsung mencari-cari bukti pembelian tiket pesawat Claire dan meletakkan bukti pembelian tiket peswat Siska di atas map hijau di mejanya.
“Oh apa masih di printer ya,” ujar Sani dan langsung mengecek ke printer.
“Enggak ada ya,” ujar Sani.
“Mas Sani cari apa?” tanya Puspa yang sejak tadi diam melongo melihat Sani mondar-mandir.
“Kamu lihat bukti pembelian tiket pesawat mbak Claire?” tanya Sani.
“Ini mas,” kata Puspa sambil menunjukkan kertas di tangannya.
“Ya ampun Puspa. Aku nyariin ini dari tadi,” ujar Sani sambil mengambil kertas itu dari tangan Puspa.
__ADS_1
“Saya kan enggak tahu mas cari apa,” ujar Puspa kepada asisten manajer keuangan itu. Kebetulan, manajer keuangan, Lulu, sedang cuti hamil dua minggu lalu. Jadi Sani yang menangani semua urusan keuangan di kantor itu.
“Ya udah, saya mau ke ruangan mbak Claire dulu. Tadi ketukar dengan bukti pembelian tiket pesawat mbak Siska,” kata Sani.
“Loh, bukti punya mbak Siska kebawa mas Sani?” tanya Puspa dengan tatapan serius.
“Iya. Kenapa sih? Kok kamu kayak gitu banget tanyanya?” ujar Sani heran.
“Duh gimana ya,” ucap Puspa khawatir.
“Kenapa sih?” tanya Sani penasaran.
“Gimana ya jelasinnya,” ujar Puspa.
“Ya jelasin aja, ada apa, kenapa?” tanya Sani.
“Gini mas. Tapi sebelumnya mas Sani jangan marah ya. Please...,” pinta Puspa.
“Iya aku enggak marah. Kenapa Puspa?” ujar Sani.
“Mbak Siska bilang ke Puspa jangan sampai mbak Claire tahu dia pergi ke Medan,” jelas Puspa.
“Emangnya kenapa kalau mbak Claire tahu?” tanya Sani heran.
“Puspa juga enggak tahu mas kenapa Pokoknya mbak Siska minta begitu. Kalau sampai mbak Claire tahu, katanya kontrak kerja Puspa bakalan enggak diperpanjang. Puspa takut mas,” kata Puspa khawatir.
“Mbak Siska itu makin lama makin otoriter ya sikapnya. Padahal bukan dia yang bsia memutuskan diperpanjang atau tidaknya pegawai di kantor ini,” Kata Sani.
“Mas Sani. Please jangan marah ya kalau Puspa enggak bilang ke mas Sani sebelumnya. Soalnya mbak Siska bilang jangan sampai saya ngadu sama mas Sani soal ini. Saya takut mas. Mana ibu saya sakit-sakitan. Kalau kontrak kerja saya engak diperpanjang, gimana ibu saya nanti mas?” ucap Puspa memelas.
“Iya enggak marah. Kamu laporan aja ke mbak Siska kalau apa yang dimintanya udah kamu laksanakan. Nanti saya coba omongin ini ke mbak Claire,” kata Sani.
“Makasih ya mas. Puspa janji akan jadi lebih baik kedepannya,” ucap Puspa dengan rasa haru.
“Dan satu lagi, apapun yang terjadi dan menjadi bagian keuangan wajib dikasih tahu ke saya. Jangan lagi ada yang disembunyikan,” pinta Sani pada Puspa.
“Iya mas, iya,” ujar Puspa menyanggupi permintaan Sani.
“Tapi saya jadi penasaran, kenapa ya mbak Siska enggak mau mbak Claire tahu kepergian dia ke Medan,” ujar Sani penasaran.
“Kenapa ya mas?” ujar Puspa pelan.
“Iya mas, iya. Makasih mas Sani,” kata Puspa.
Sani berjalan ke arah ruangan Claire. Namun tiba-tiba ia berbelok ke ruangan marketing. Ia bermaksud mencari info tentang siapa klien yang akan di follow up oleh Siska. Tapi langkah Sani terhenti di depan pintu ruangan itu. Dilihatnya dari balik dinding kaca, ada Siska sedang berbincang dengan kepala marketing, Tiara.
Tiba-tiba Sani dikejutkan dari belakang oleh seseorang.
“Hayo mas Sani lagi ngapain!” ucap Jack mengejutkan Sani.
“Astaga Jack. Kaget tahu enggak,” ujar Sani mengelus dada.
“Habisnya ngintip-ngintip gitu. Ngintip mbak Tiara mas?” tanya Jack ingin tahu.
“Bukan Jack. Saya tadi mau ke ruangan mbak Tiara, tapi rupanya ada mbak Siska. Maksudnya
tadi mau nunggu sebentar, jadi kesannya kayak ngintip,” jelas Sani meyakini Jack.
“Oh begitu. Kirain ngintip,” ujar Jack cengengesan.
“Makanya jangan asal ngomong aja. Udah deh kayaknya masih lama mereka,” ujar Sani dan melongos pergi dari hadapan Jack.
“Mas, mas!” panggil Jack kepada Sani.
Sani yang sudah berjalan sejauh 2 meter dari Jack membalikkan badannya.
“Apalagi Jack?” tanya Sani.
“Jangan lupa udah waktunya makan siang. Hari ini kita ditraktir pak Toni di kantin. Bareng ya mas,” kata Jack.
“Ya udah. Gue mau ke ruangan mbak Claire dulu nih. Nanti lu ke sana aja ya Jack. Pergi bareng anak-anak kita ntar,” ucap Sani.
“Siap. Sekarang saya mau ke pantry cuci gelas-gelas ini dulu. Habis itu saya langsung ke sana,” ujar Sani.
“Ya udah sana!” ujar Sani sambil membalikkan badannya dan melangkah menuju ruangan Claire.
__ADS_1
Sani sudah sampai di depan pintu ruangan Claire. Tiba-tiba Dila memanggilnya.
“Sani. Yuk ke kantin,” ajak Dila.
“Dil kalau mau duluan enggak apa-apa. Gue masih ada urusan dikit sama mbak Claire,” kata Sani.
“Bareng aja yuk. Gue tunggu sama anak-anak yang lain,” ajak Dila.
“Oke. 10 menit lagi ya. Oh ya si Jack juga mau bareng tadi katanya,”kata Sani.
“Oke,” ujar Dila singkat.
Sani pun masuk ke dalam ruangan Claire setelah mengetuk pintu.
“Nah mbak, ini dia. Silahkan ditandatangani,” ujar Sani sembari meletakkan bukti pembelian tiket pesawat ke atas meja kerja Claire dan duduk.
Tak cuma menandatangani tanda terima saja. Bukti pembelian dan transfer keperluan perjalanan dinas harus ditandatangani juga oleh yang bersangkutan. Hal itu untuk menghindari kesilapan yang mungkin terjadi di masa mendatang.
“Oke ini udah saya tandatangni ya. Udah beres kan?” kata Claire sambil menandatangani berkas-berkas tersebut.
“Udah beres mbak,” kata Sani sambil merapikan berkas-berkas tersebut ke dalam satu map.
Claire tersenyum melihat Sani.
“Semangat ya Sani. Kamu pasti pusing ya harus kerjain semua tanpa mbak Lulu. Sampai-sampai berkas aku dan mbak Siska sampai ketukar. Tapi ada Puspa ya kan, jadi dia bisa bantu kamu,” kata Claire.
“Ya lumayan repot tapi Puspa sangat membantu kok mbak,” ujar Sani.
“Statusnya masih kontrak kan?” tanya Claire.
“Iya. Masih kontrak mbak. Sudah 2 tahun,” kata Sani.
“Kalau kerjanya bagus, mending dinaikkan aja statusnya jadi karyawan tetap. Kamu kan bisa mengajukan ke manajemen,” ujar Claire.
“Iya bisa. Saya akan coba nanti mbak. Tapi harus dirembuk dulu sama mbak Lulu. Kalau memang oke, nanti pas pra rapat tahunan di bulan Oktober bisa diajukan agar Puspa jadi menjadi pegawai tetap,” jelas Sani.
“Iya. Selama kinerjanya oke kenapa enggak,” ujar Claire.
“Tapi mbak ada masalah sedikit nih soal Puspa,” ujar Sani.
“Masalah apa?” tanya Claire.
“Tapi saya mohon ini rahasia kita berdua ya mbak. Ehm, bertiga sama Puspa,” pinta Sani.
“Rahasia?” tanya Claire penasaran.
“Iya mbak, rahasia,” ucap Sani.
“Oke. Apa?” kata Claire yang menyetujui permintaan Sani.
“Jadi tadi waktu saya balik ke ruangan buat ambil bukti pembelian tiket pesawat mbak, Puspa bilang ke saya kalau dia diancam mbak Siska, kontrak kerjanya enggak bakal diperpanjang kalau sampai mbak Claire tahu tentang kepergian dia ke Medan. Dan mbak Claire kan udah tahu nih, bisa enggak pura-pura enggak tahu soal itu?” jelas Sani.
“Diancam? Mbak Siska mengancam Puspa. Dan kenapa rupanya kalau saya tahu dia pergi ke Medan?” ujar Claire penasaran.
“Puspa enggak tahu alasannya apa. Memang untuk pembelian tiket tadi saya serahkan sama Puspa. Dan saya enggak tahu kalau mbak Siska ngomong begitu ke Puspa,” jelas Sani.
“Ancaman yang kejam! Ini masalah sepele loh. Kalau saya tahu emangnya kenapa? Saya jadi penasaran,” ungkap Claire.
“Iya saya juga mbak,” ujar Sani.
“Oke. Saya akan simpan rahasia ini. Tapi kamu bisa enggak cari tahu siapa klien yang mau di follow up sama mbak Siska,” pinta Claire.
“Bisa mbak. Tadi saya udah mau tanya ke bagian marketing tapi di dalam ruangannya ada mbak Siska. Enggak jadi deh saya tanya ke bagian marketing,” ujar Sani.
“Ya udah. Kamu bilang sama Puspa semuanya baik-baik aja. Suruh dia laporan ke mbak Siska bahwa semua perintahnya udah dijalankan,” kata Claire.
“Oke mbak. Kalau gitu saya permisi dulu. Oh ya ikut ke kantin kan mbak. Makan siang bareng ditraktir pak Toni,” kata Sani.
“Oh iya. Ditraktir ya kita hari ini. Oke kita bareng aja ya,” ujar Claire tersenyum.
“Oke mbak. Saya ke ruangan dulu simpan berks-berkas ini dan nanti saya ke sini sama anak-anak,”
kata Sani sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Oke. Saya tunggu ya,” kata Claire dengan senyum mengembang.
__ADS_1
Sani keluar dari ruangan itu. Claire masih penasaran bahkan sangat penasaran dengan tingkah Siska. Claire akan mencari tahu tentang hal ini diam-diam.
***bersambung***