
Tiga tahun lalu di sebuah kamar tidur berukuran 4 x 4 meter, rasa sesak menyelimuti dada Claire. Sebuah fakta yang tak lagi pernah diungkitnya selama ini terkuak tanpa diminta. Waktu dan rasa bersalah bersatu meledakkan
rasa rindu yang selama ini sudah terkubur dalam.
Di hari itu Claire mengambil cuti dari tempat kerjanya. Saat itu ia sudah bekerja di perusahaan Public Consulting Tarumanegara selama 2 tahun sebagai resepsionis. Claire menjadi garda terdepan menghadapi calon klien. Baik yang akan menjalin kerjasama, maupun yang mengajukan komplain. Sudah beragam karakter orang yang Claire hadapi selama 2 tahun bekerja di sana.
Tapi sudah 3 hari belakangan, Claire tak lagi riweh menghadapi klien-klien tersebut. Ia hanya disibukkan mengurus ibunya yang menderita sakit jantung. Claire hanya tinggal dengan ibunya bersama seorang pembantu, mbak Sila, yang sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri. Jika biasanya semua urusan pekerjaan rumah tangga termasuk menjaga ibunya, ia serahkan ke mbak Sila, kali ini Claire harus turun tangan.
Kuliah yang dilakoninya setiap pulang kerja pun turut terhenti beberapa saat. Bahkan ia mengajukan cuti kuliahnya di di Universitas Cahaya Pikiran. Maklum biaya kuliah magister tidaklah murah. Ia harus memilih melanjutkan
pendidikan Magister Komunikasi atau pengobatan sang ibu. Claire pun lebih memilih untuk merelakan pendidikannya untuk sementara waktu. Padahal ia hanya tinggal menyelesaikan tesis.
Ia tak mau terus-terusan menjadi resepsionis di perusahaan itu. Ia juga mau naik pangkat menjadi public consultant. Namun perusahaan tersebut mengharuskan karyawannya memiliki titel Magister Komunikasi, jika ingin menjadi public consultant. Hanya saja, kini tujuannya sudah berubah. Jika sebelum ibunya meninggal keinginannya naik pangkat hanya untuk menjadi orang kaya, maka kini tujuannya adalah sang ayah. Tak ada lagi alasan baginya untuk bermalas-malasan seperti kemarin-kemarin. Ayah, hanya kata itu yang membangkitkannya ketika titik menyerah sudah di depan mata.
Claire terlihat masuk ke kamar ibunya, membawakan segelas air putih hangat. Ia harus terus berada di sisi ibunya. Sebab, kondisi tubuh sang ibu sangat lemah, sehingga harus dipapah saat berdiri.
“Ibu, minum air hangatnya ya,” kata Claire, sembari meletakkan bibir gelas bening berisi air hangat ke bibir sang ibu untuk diminum. Tiga teguk air hangat itu membasahi kerongkongan ibu Claire yang bernama Mia itu.
“Sudah, cukup nak,” kata Mia memberitahu anaknya bahwa ia tak ingin minum lagi.
“Ya udah,” ujar Claire lalu meletakkan gelas tersebut ke atas meja.
Sang ibu menatap dalam Claire tanpa senyum. Wajah Mia pucat sekali. Namun tatapan matanya seperti penuh harap.
"Claire, anak ku yang cantik dan baik hati. Ibu tahu sudah tak lama lagi waktu yang ibu punya. Ambilkan kotak berwarna emas di lemari pakaian ibu. Ada di bagian bawah tertutup selimut," kata Mia.
"Ibu jangan ngomong begitu. Ibu pasti sembuh. Sebentar Claire ambil kotaknya ya," kata Claire berusaha menghibur sang ibu.
Claire pun berdiri mengambil sebuah kotak dari dalam lemari dan memberinya kepada sang ibu yang sudah terkulai lemah di atas tempat tidur rumahnya. Kemudian, sang ibu mengeluarkan sebuah amplop surat dan memberikannya kepada Claire.
"Apa ini bu?" tanya Claire.
"Itu surat untuk ayah mu. Ada pesan yang harus dia ketahui. Sebuah fakta yang memisahkan kami hingga saat ini. Ayah mu masih hidup Claire," kata Mia.
"Ayah?!” kata Claire terkejut.
“Iya nak,” kata Mia lemah.
__ADS_1
“Tapi ibu bilang, Ayah sudah meninggal karena kebakaran rumah kita sewaktu aku masih bayi. Kalau ayah masih hidup, jadi kuburan di belakang rumah kita itu kuburan siapa bu?" kata Claire.
"Itu hanya kuburan kosong nak. Ibu menyuruh orang untuk membuat kuburan palsu. Ayah mu masih hidup Claire. Dia berada di Budapest. Surat ini adalah permohonan terakhir ibu pada mu. Ibu tidak meminta apa-apa lagi selain surat ini harus sampai pada ayah mu Claire. Ibu mohon," mohon Mia pada Claire.
"Ibu. Apa alasannya? Kenapa ibu membohongi Claire. Kenapa ibu?" tanya Claire sambil menangis.
"Jawabannya ada di dalam surat itu Claire. Bacalah bersama ayah mu. Pergilah ke Budapest dan hubungi tante Herlish. Dia sepupu ayah mu. Alamatnya ada di balik foto ini. Ambil nak," kata Mia sambil menyodorkan sebuah foto kepada Claire yang diambilnya dari dalam kotak tadi.
Claire membalik sebuah foto. Di belakangnya ada sebuah tulisan, Street Avenue, 114, Budapest, Herlish Morven. Kemudian ia balik lagi foto tersebut.
"Ini siapa bu, pria yang merangkul ibu," tanya Claire.
"Yang di paling kiri itu adalah tante Herlish. Wajahnya masih muda. Mungkin sekarang sudah sedikit berubah," kata Mia.
"Pria ini siapa bu," tanya Claire lagi sambil menunjuk ke arah satu pria di foto itu.
"Nak, itu ayah mu. Josh Morven," ucap sang ibu sambil terisak.
"Ayah," ujar Claire pelan sambil mengusap foto tersebut. Padahal selama ini ibunya mengatakan bahwa foto ayahnya sudah ikut terbakar.
menghancurkannya seketika Claire," ucap Mia dengan isakan tangis yang lebih besar.
"Ibu. Apa yang terjadi? Ibu, mengapa?" tanya Claire dengan linangan air mata.
"Ibu tak sanggup memberitahunya Claire. Semuanya ada di surat itu. Ibu sudah tulis lengkap di sana. Tapi ibu mohon, tolong jangan dibuka sebelum bertemu ayah mu. Di dalamnya ada jiwa ibu yang ikut terangkai bersama tulisan-tulisan itu. Ibu mohon Claire, temukan ayah mu," kata Mia.
Claire menatap mata ibunya yang lemah dengan rasa kasihan.
"Claire ibu mohon. Tolong jangan benci ibu Claire, ibu mohon sama kamu nak, jangan benci ibu," Mohon Mia sambl mengangkat tangannya membentuk salam namaste ke hadapan Claire.
"Ibu, tidak, Claire tidak akan membenci ibu untuk alasan apa pun. Claire janji akan menemukan ayah. Caire janji akan membawa surat ini pada ayah. Ibu tenang ya. Claire janji bu," ucap Claire sambil mencium tangan dan memeluk ibunya erat.
Mereka menangis berdua di tengah petir yang tiba-tiba menggelegar di atas langit. Hujan pun turun seolah merasakan kepedihan yang dirasa anak dan ibu itu. Seminggu kemudian Mia meninggal dunia akibat sakit jantung
yang dideritanya. Claire hidup sebatang kara. Hanya kekasihnya, Adam, yang baru dipacarinya sebulan itu sebagai pelipur laranya.
Sejak itu, Claire selalu membawa permohonan ibunya kemana-mana. Tapi pergi ke negeri orang bukan perkara mudah. Ada bayak biaya untuk bisa sampai ke sana. Mencari orang pun tidaklah gampang. Iya kalau alamatnya masih sama. Bagaimana jika orang yang dicari sudah pindah? Paling tidak, sebulan ia harus tinggal di sana dengan biaya hidup yang tak murah. Maka dari itu, Claire harus mencari uang yang banyak. Ia harus menemukan sang ayah dan memberikan surat dari ibunya, kemudian membacanya bersama. Ia merindukan ayahnya. Sangat merindukan. Terlebih, ia penasaran dengan isi surat dari ibunya. Sampai sekarang ia masih memegang janjinya untuk tidak membuka surat itu.
__ADS_1
Setelah masa cuti kuliahnya berakhir, Claire pun langsung aktif kembali. Ia belajar dengan sungguh-sungguh dan tak pernah melewatkan setiap ada pelatihan gratis bagi seluruh karyawan kantornya yang ingin naik jenjang menjadi public consultant handal.
Siapa yang tak tahu perusahaan public consulting Tarumanegara. Menjadi public consultant di perusahaan itu, berarti harus siap-siap menjadi orang kaya. Tidak langsung kaya memang, sebab jika sudah dipromosikan sebagai public consultant, maka karyawan tersebut harus terlebih dahulu melewati beberapa tahap. Seperti pelatihan dasar, menengah, dan atas. Barulah kemudian dilepas untuk menangani beragam kasus.
Awalnya masih kasus yang biasa-biasa saja dulu. Jika dinilai berprestasi, maka akan dipromosikan untuk menangani kasus-kasus berat.
Claire sudah melewati itu semua. Dia sudah pernah terhempas ke level paling bawah hingga saat ini menuju ke puncak. Saat ini, Claire lah public consultant andalan di sana. Pencapaian itu berhasil ia raih dalam waktu 2 tahun selepas ia menyelesaikan kuliah magisternya di usia 28 tahun. Hari-harinya dihabiskan untuk giat bekerja dan belajar menjadi yang terbaik. Kini, 5 tahun sudah ia bekerja di sana. Dan kini, dihadapannya ada tawaran jembatan yang bisa menghubungkan mimpinya itu. Sebuah cek yang akan membawanya kepada sang ayah. Toni masih menunggu jawaban Claire yang beberapa saat tadi diam menunduk. Kediaman itu pun pecah saat Sari membawa pesanan keduanya. Seketika kedatangan Sari membuyarkan lamunan Claire.
"Hai mbak Claire dan pak Toni, Your meal has arrive, hehehe," ucap Sari sambil meletakkan ke atas meja sepiring mi goreng, sandwich, segelas susu cokelat, dan dua gelas air putih hangat.
"Thank you ya Sari," ucap Claire dengan senyum yang sedikit terpaksa.
"Sari, this is for you," kata Toni sambil memberikan tip Rp20.000 kepada Sari.
"Wah, thank you sir Toni," kata Sari yang melongos pergi.
"So, bagaimana Claire. Saya rasa lamanya lamunan kamu yang saya biarkan tadi sudah cukup untuk menjawab yes or no," tanya Toni pada Claire yang sedang meminum susu cokelatnya.
Claire meletakkan gelas ke atas meja dan menatap tajam Toni.
"Pak, saya siap. Saya akan menuntaskan tugas ini," jawab Claire mantap.
"Great. Cek ini akan kamu terima setelah tugas ini kamu selesaikan. Jadi, sementara saya yang akan simpan. biaya perjalanan dinas kamu nanti akan diatur bagian keuangan. Sekalian berkas tentang hotel itu akan saya kirim ke email kamu. Jadi selesai sarapan, kamu bisa langsung pelajari semuanya. Jadwal keberangkatan
kamu saya proyeksikan 3 hari lagi. Gimana?" ujar Toni.
"Oke pak. Saya siap," kata Claire.
"Oke, kita deal," ucap Toni sambil menjulurkan tangannya mengajak Claire bersalaman.
Dengan senyum mengembang, Claire menyambut uluran tangan Toni dan keduanya tampak
menikmati sarapannya masing-masing.
"Ibu, Claire akan mewujudkan keinginan ibu. Sebentar lagi bu. Claire janji," ucap Claire dalam hatinya.
*bersambung*
__ADS_1