Mati Saat Bermimpi

Mati Saat Bermimpi
Kedatangan Tamu Kecil


__ADS_3

Rumah Erik nomor 6, pukul 18.30 WIB


Suara gaduh terdengar dari rumah tetangga Claire, Erik. Malam yang sunyi di komplek itu menjadi berisik ketika orangtua Erik bertengkar dari dalam rumah. Erik duduk di atas tempat tidurnya sambil menutup kedua telinga dengan tangannya.


“Jelaskan sama mama, siapa perempuan ini pa!” teriak Nuri, ibu Erik.


“Mau berapa kali papa jelaskan ke mama kalau itu pegawai papa di kantor. Jadi dia bukan selingkuhan papa!” kata Anton, ayah Erik.


“Papa bohong!” teriak Nuri.


“Kalau mama enggak percaya ya udahlah. Kita jadi berantem terus untuk masalah yang sama. Semua mama curigai. Dulu Gista, kemarin Revelyn, sekarang Poppy. Sekalian aja satu kantor mama curigai,” teriak Anton di hadapan Nuri.


“Papa jangan berkelit ya! Ada buktinya pa!” kata Nuri keras.


“Bukti apa sih ma? Papa baru pulang kerja ma. Capek papa!” ujar Anton yang menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di kamar.


Nuri membuka ponselnya dan menunjukkan beberapa foto Anton sedang tertawa dan makan bersama  Poppy


di sebuah restoran.


“Ini apa!” ujar Nuri dengan raut wajah marah.


“Foto ini tadi siang. Papa makan siang dengan Poppy tapi bukan berarti papa selingkuh. Papa sedang menunggu klien. Karena klien itu telat datangnya, papa pesan makanan dulu karena udah lapar,” jelas Anton berusaha meyakini Nuri.


“Terus kenapa harus ketawa-ketawa begini?” tanya Nuri dengan suara lantang.


“Jadi mama mau papa diam kayak patung? Papa enggak boleh ketawa gitu?” ujar Anton.


“Tertawanya itu seperti orang yang sedang kasmaran. Lihat! Betapa bahagianya kamu bersama perempuan ini!” ujar Nuri sambil memperlihatkan lagi foto dari ponselnya itu.


“Mama dapat darimana foto itu? Siapa yang kirim ke mama?” ujar Anton berusaha sabar.


“Papa enggak perlu tahu. Tapi yang pasti papa enggak pernah tuh tertawa lepas kayak gitu kalau lagi sama mama,” kata Anton.


“Gimana mau tertawa kalau mama curiga mulu sama papa. Papa enggak selingkuh, papa setia sama mama. Tolong percaya sama papa,” ujar Anton berusaha meyakini Nuri lagi.


“Mana ada maling yang mau ngaku. Udah jelas-jelas ketangkap basah masih aja berkilah!” kata Nuri.


“Stop ma, stop! Papa capek ya dicurigai terus sama mama,” ujar Anton lalu pergi keluar kamar.


“Mau kemana kamu pa!” tanya Nuri sambil berteriak.


“Mau cari angin. Sumpek di rumah,” kata Anton sambil terus berjalan.


“Kamu mau ketemu perempuan itu kan!” teriak Nuri dari depan pintu kamar.


“Terserah!” kata Anton.


Nuri membanting pintu keras dan menangis dari balik pintu. Dua orang pembantu rumah yang sedang berada di halaman rumah membuka pintu pagar rumah untuk Anton yang meninggalkan rumah dengan mobilnya.


“Mbok Jum, titip Erik ya. Saya enggak tahu pulang apa enggak malam ini. Tolong temani dia,” ujar Anton sebelum pergi kepada mbok Jum, pembantu rumahnya.


“Iya pak,” jawab mbok Jum.


Anton pergi melaju di tengah keheningan malam yang tadi sempat diusiknya.


“Tika, kamu coba lihat Erik ya. Dia baik-baik aja enggak?” perintah mbok Jum pada pembantu kedua, Tika.


“Iya mbok,” kata Tika yang hendak membantu mbok Jum menutup pagar.


“Udah biar saya aja yang tutup pagarnya. Kamu pergi lihat Erik aja,” pinta mbok Jum.


“Ya udah mbok,” ujar Tika yang usianya baru 19 tahun.


Tika pergi ke kamar Erik dan mengetuk pintu kamarnya yang dikunci.


“Erik. Kamu di dalam kan?” tanya Tika.


Tak ada sahutan. Tika kembali mengetuk pintu kamar Erik.


“Erik jawab dong!” teriak Tika pelang dari balik pintu.


Erik yang sedang melihat ke luar jendela pun akhirnya menjawab.


“Iya,” kata Erik singkat.


“Kamu baik-baik aja kan?” taya Tika.


“Iya,” ucap Erik dengan nada malas.


“Kamu enggak mau ditemani?” tanya Tika.


“Enggak!” ujar Erik.


“Beneran?” tanya Tika meyakini Erik.


“Iya,” kata Erik dengan nada semakin malas.


“Kamu mau makan enggak?”tanya Tika.


“Enggak!” kata Erik.


“Udah malam loh. Udah jam makan malam ini,” kata Tika.


“Enggaaaak!” kata Erik yang semakin kesal ditanya terus.


“Ditanya jawabnya iya, enggak, iya, enggak. Tapi paling enggak dia suaranya masih lantang, jadi dia pasti masih baik-baik aja,” kata Tika pelan kepada dirinya sendiri.


Tika menghampiri mbok Jum di dapur.


“Mbok, Eriknya enggak mau diganggu. Tapi dia bilang dia baik-baik aja,” lapor Tika pada mbok Jum.


“Ya udah yang penting dia jawab kan kamu panggil,” kata mbok Jum.


“Iya jawab sih. Tapi jawabnya cuma iya, enggak, iya enggak,” terang Tika.


“Dia enggak mau makan?” tanya mbok Jum.


“Enggak mbok,” kata Tika.


“Ya udah. Nanti letakin aja ayam goreng sama semangkuk sayur di meja. Tutup pakai sangi. Mana tahu dia kelaparan tengah malam,” kata mbok Jum.


“Iya mbok. Kasihan Erik. Mama papanya berantem terus,” kata Tika.


“Udah, enggak usah kamu pikirin. Kamu makan sana!” ujar mbok Jum pada Tika.


“Iya mbok,” ujar Tika.


Rumah Claire nomor 8, pukul 20.00 WIB.


Mobil Claire memasuki halaman rumah yang gelap. Claire memang selalu mematikan seluruh lampu rumahnya saat pergi kerja. Hanya lampu mobil yang menerangi sekitar. Mata Adam menangkap sesosok anak laki-laki sedang duduk di depan pintu rumah Claire. Anak itu tampak tertunduk lesu.


“Claire kamu lihat itu!” kata Adam yang mematikan mesin mobil.


Claire melihat ke arah anak itu. Raut wajahnya mengisyaratkan kebingungan.

__ADS_1


“Siapa ya Dam?” tanya Claire bingung.


Tiba-tiba suara ponsel Adam berbunyi. Adam segera mengangkatnya.


“Halo,” jawab Adam dari balik ponselnya.


“Oh udah di depan rumah?” kata Adam sambil celingak-celinguk.


Seorang supir ojek online berhenti di depan rumah Claire. Ia mematikan mesin sepeda motornya. Adam mematikan ponselnya.


“Pizza kita udah datang Claire. Sebentar aku ambil dulu ya,” kata Adam menghampiri supir ojek online itu.


“iya,” jawab Claire singkat.


Claire mengambil barang-barang belanjaannya dari dalam mobil. Kemudian mencoba menghampiri anak laki-laki itu dan meletakkan barang belanjaan dan tas laptop ke atas lantai.


“Erik?” tanya Claire pada dirinya sendiri.


Claire mencoba jongkok dan menyentuh anak itu.


“Erik, Erik, hei,” panggil Claire pelan sambil menggoyangkan tubuh anak itu.


Ya, anak itu memang Erik yang sedari tadi tertidur. Adam yang sudah selesai bertransaksi dengan supir ojek online menghampiri Claire dan Erik dengan membawa pizza dan pasta.


“Kamu kenapa? Kamu tidur sambil duduk?” tanya Claire.


“Siapa Claire?” tanya Adam.


Claire berdiri dan mendekatkan bibirnya ke telinga Adam.


“Ini erik yang pernah aku ceritain ke kamu. Anak tetangga sebelah rumah aku,” jelas Claire.


“Oh ya ya, aku ingat. Terus ngapain dia di sini?” tanya Adam pelan yang memang baru kali ini berjumpa dengan Erik.


“Aku enggak tahu. Dia ketiduran tadi rupanya,” kata Claire.


“Tidur sambil duduk?” kata Adam dengan nada heran.


“Iya,” ujar Claire setengah berbisik.


“Ya ampun,” ucap Adam pelan.


Claire kembali jongkok di samping Erik.


“Erik, kamu lapar enggak? Aku ada pizza loh, tuh,” tanya Claire sambil menunjuk kearah pizza yang dibawa Adam.


Erik mengangguk pelan.


“Ya udah, masuk yuk,” ajak Claire.


Erik pun berdiri dan Claire membuka pintu rumahnya. Kemudian dia menghidupkan lampu seisi rumah. Diambilnya barang-barangnya yang ada di atas lantai.


“Ayo masuk,” ajak Claire pada Erik.


Erik masuk ke dalam rumah dan disusul oleh Adam.


“Ayo duduk di dapur,” ajak Claire lagi pada Erik.


“Sayang aku ke kamar dulu ya,” kata Claire.


Claire meletakkan barang-barangnya di kamar dan kembali ke dapur. Di sana Erik dan Adam sudah duduk manis. Keduanya pun diam-diam saling melirik.


“Kita makan pizzanya ya. Oh ya sebentar aku ambil piring dulu,” kata Claire.


Tiga buah piring terletak di atas meja.


Adam dan Erik pun ikutan melahap pizza masing-masing. Tiba-tiba Adam menjulurkan tangannya kepada Erik.


“Adam,” kata Adam kepada Erik mencoba memperkenalkan diri.


Erik melihat ke arah Adam lalu melihat ke arah Claire, dan kembali melihat ke arah Adam. Diletakkannya sepotong pizza ke atas piring yang tadi hampir masuk ke dalam mulutnya.


“Erik,” menjabat uluran tangan Adam.


“Enak pizzanya?” tanya Adam ramah.


“Enak,” kata Erik sambil menganggukkan kepalanya.


“Nah sekarang kita makan pasta. Kamu mau?” tawar Claire pada Erik.


“Enggak. Aku pizza aja,” kata Erik.


“Ya udah. Bagus deh kalau kamu enggak mau. Soalnya pasta ini makanan kesukaan aku. Karena kamu enggak mau, aku jadi bisa puas deh makannya,” kata Claire.


Adam melihat ke arah Claire berusaha memberi kode bertanya apa yang terjadi pada Erik. Claire meletakkan jari telunjukknya ke mulut, memberi tanda pada Adam agar diam dan tenang. Adam pun menurutinya. Mereka pun


selesai menikmati sajian makanan khas Italia itu. Masih tersisa sepotong pizza.


“Erik, mama sama papa kamu berantem lagi ya?” tanya Claire pelan yang sudah paham tentang kondisi keluarga Erik.


Erik melihat ke arah Claire dengan raut wajah sedih.


“Kamu sabar ya. Terkadang memang begitu cara komunikasi orang dewasa. Nanti kalau sudah dewasa, kamu pasti paham. Sekarang tugas kamu adalah belajar yang bagus di sekolah dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Sopan dan hormat kepada yang lebih tua,” kata Claire.


“Tapi aku bosan tante. Mereka berantem terus. Apa enggak bisa ngomong baik-baik,” ujar Erik kesal.


Claire menarik nafas.


“Bisa. Mereka bisa ngomong baik-baik kok. Tapi ada sewaktu-waktu mereka harus bicara dengan cara seperti itu. Biasanya setelah itu mereka akan jadi lebih mengenal satu sama lain lebih dalam. Walaupun mama sama papa kamu sudah lama bersama, pasti ada satu atau dua hal yang mereka belum saling ketahui. Tapi ini khusus untuk orang dewasa. Anak seumuran kamu dilarang berkomunikasi seperti itu,” kata Claire kepada


Erik.


“Tapi ini udah terlalu sering tante,” kata Erik dengan pandangan ke depan.


“ Tadi, kamu dengar apa yang mereka persoalkan?” tanya Claire.


“Kata mama, papa selingkuh. Tapi papa bilang dia enggak selingkuh,” kata Erik.


“Masalahnya masih sama ya seperti persoalan kemarin-kemarin,” kata Claire.


Erik mengangguk. Sedangkan Adam berusaha menjadi pendengar yang baik.


“Kamu maunya gimana?” tanya Claire.


“Aku maunya papa sama mama aku akur. Enggak berantem terus. Aku capek dengarnya. Aku juga ada masalah loh dengan teman-teman. Tapi di rumah enggak ada yang bisa dengarin cerita aku. Mama sama papa terus-terusan aja cuekin aku. Aku enggak punya teman di rumah. Aku sendirian tante,” ujar Erik dengan anda suara seperti ingin menangis.


“Apa mereka tahu aku di diremehin sama teman aku waktu jam olahraga, apa mereka tahu mulai menyukai lukisan, apa mereka tahu sekarang aku lagi dijauhin sama cewek yang aku suka di kelas. Enggak tahu kenapa,” beber


Erik yang tiba-tiba tersadar dengan ucapan terakhirnya.


Claire dan Adam saling melirik.


“Oh jadi ada yang sedang jatuh cinta nih,” goda Claire pada Erik.


“Keceplosan deh,” ujar Erik pelan.

__ADS_1


“Ya enggak apa-apa. Jatuh cinta itu manusiawi kok. Tapi kalau konseling tentang cinta kepada cewek, kayaknya om Adam deh yang jago. Ya enggak om,” ujar Claire pada Adam.


“Yoi. Karena urusan laki-laki hanya bisa diselesaikan dengan cara laki-laki. Pokoknya nanti kita bereskan sola yang itu,” kata Adam semangat kepada Erik yang salah tingkah.


Claire yang tersenyum kemudian pindah duduk ke sebelah Erik. Ia mengusap-usap punggung Erik.


“Kamu sudah pernah menyampaikan keinginan kamu tadi sama orangtua kamu?” tanya Caire.


Erik menggelengkan kepalanya.


“Tante menyarankan kamu menyampaikan isi hati kamu kepada mereka. Bisa saat makan bersama atau kamu datang ke kamar mereka pagi-pagi, sebelum semuanya sibuk beraktivitas. Tante yakin mereka akan tersadar kalau


selama ini mereka sudah melupakan keberadaan kamu secara tidak langsung,” saran Claire.


“Kalau papa dituduh selingkuh terus, percuma tante!” kata Erik.


“Oke, gini. Tante akan coba membantu kamu untuk memperbaiki hubungan mama dan papa kamu.  Tapi


setelah tante menyelesaikan kerjaan tante dari luar kota. Gimana?” kata Claire.


“Benar tante Claire mau bantu aku?” tanya Erik dengan mata berbinar.


“Iya. Tante janji,” kata Claire.


“Memangnya tante mau kemana? Kapan perginya? Terus pulangnya kapan?” tanya Erik panjang.


“Banyak banget pertanyaannya!” ujar Claire.


“Hehehehehe, biar cepat tante. Aku udah ngantuk,” kata Erik.


“Huh, dasar bocah ingusan! Udah kenyang aja mau cepat-cepat pergi,” kata Claire sambil menyerakkan rambut Erik.


“Tante mau ke Medan lusa. Pulangnya enggak tahu kapan, mungkin dalam waktu 10 hari. Tapi bisa jadi lebih lama atau lebih cepat,” jelas Claire.


“Ya udah deh aku tunggu. Mudah-mudahan dalam waktu 10 hari mama papa enggak berantem lagi,”  ujar Erik.


“Aku pulang ya. Oh ya...” ujar Erik ambil membuka lebar kedua tangannya.


“Apa itu?” tanya Claire.


Erik langsung memeluk Claire. Ia mengucapkan terima kasih karena mau menjadi temannya.


“Terima kasih ya tante udah mau jadi teman curhat ku selama ini dan terima kasih udah mau membantu aku,” kata Erik dan melepaskan pelukannya.


“Iya. Yang kuat ya,” kata Claire tersenyum.


“Ya udah aku pulang dulu. Da om, da anak gadis,” kata Erik kepada Adam dan Claire sambil melambaikan tangannya.


Baru tiga langkah ia berjalan, Erik kembali ke meja makan


dan mengambil sisa sepotong pizza.


“Mubazir tinggal satu,” ujar Erik tertawa dan pulang ke rumahnya.


Adam dan Claire geleng-geleng kepala melihat tingkah Erik.


“Jadi kamu itu selain jadi public consultant juga buka praktek konseling buat anak SMP ya,” kata Adam.


“Hahahaha..Tapi prakteknya sekali-sekali dan enggak dibayar,” ujar Claire tersenyum.


 


"Kelas berapa sih dia?" tanya Adam.


 


"Kelas 2 SMP," jawab Claire.


 


"Lagi menuju masa puber," ujar Adam


 


"Iya," ujar Claire tersenyum.


 


Tiba-tiba Claire teringat sesuatu.


“Oh ya. Aku baru ingat. Kenapa kamu tadi di kantin kantor melarang aku buat pergi ke Medan? Dari tadi aku mau tanya itu tapi kelupaan. Kenapa?” tanya Claire serius.


Wajah Adam berubah datar.


“Claire kamu istirahat ya. Besok kita obrolin soal ini ya. Besok kan waktu kita lebih panjang. Kamu bisa kemas-kemas malam ini karena besok aku mau kencan seharian sama kamu. Jadi enggak ada alasan mau buat ini


lah, kemas itu lah. Besok kita nonton, ada film bagus,” kata Adam sambil memegang pipi Claire.


“Ya udah. Habis ini aku mandi dan langsung kemas-kemas,” kata Claire.


“Oke. Aku pesan ojek online dulu,” kata Adam sambil membuka ponslenya.


“Buat apa?” tanya Claire.


“Ya buat pulang ke rumah lah. Masa iya aku mesti jalan kaki,” kata Adam.


“bawa mobil aku aja kali Dam,” saran Claire.


“Engga ah! Itu kan mobil kantor. Nanti kalau aku bawa ke rumah, terus ada orang kantor kamu yang lihat, dikirain kamu menyalahgunakan fasilitas kantor lagi,” kata Adam sambil terus menatap ponselnya.


“Enggak mungkin lah. Cuma semalam juga,” kata Claire sambil berdiri merapikan meja makannya yang berserakan.


“Udah enggak apa-apa. Aku naik ojek online aja. Pesan yang motor biar cepat nyampek,” kata Adam.


“Ya udah deh,” kata Claire dari dapur.


“Oke udah dapat drivernya,” ujar Adam.


Ponsel Adam pun berdering.


“Halo. Iya benar. Sudah dekat?” kata Adam.


“Oh udah di komplek. Oke-oke saya keluar ya. Pokoknya rumah nomor 8. Oke saya tunggu,” kata Adam dari balik ponselnya.


“Claire, aku udah dapat driver nih. Udah di komplek katanya,” kata Adam pada Claire yang berada di dapur.


“Oke, oke. Aku anter ke depan ya,” ujar Claire sambil cuci tangan dan langsung menghampiri Adam.


“Yuk!” ajak Claire.


“Yuk,” sahut Adam.


Keduanya berjalan menuju halaman depan. Ojek online pun tiba. Adam pamit pada Claire dan menghampiri ojek online, lalu pergi.


“Daaaa, see you,” kata Adam sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


“Daaaa Adam,” kata Claire yang juga melambaikan tangan.


***bersambung***


__ADS_2