Mati Saat Bermimpi

Mati Saat Bermimpi
Cinta Pertama Bos


__ADS_3

Toni tengah berbincang dengan Sani di ruangan kerjanyanya. Beberapa berkas hasil rapat tadi harus ditandatangani oleh Toni. Urusan kerjaan, Sani memang cekatan. Ia tak suka mengulur-ulur waktu. Tak sampai 10 menit, semua berkas sudah dibawanya ke ruangan Toni. Ia juga tipe orang yang jujur. Tapi sayang, di usianya ke 27, Sani masih jomblo. Sekilas tampangnya memang biasa saja. Tapi kalau sudah bergaya, Sani juga bisa dibilang keren. Apalagi tubuhnya tinggi dan kulitnya putih bersih. Sudah 4 tahun ia bekerja di Public Consulting Tarumanegera.


“Oke sudah pas semuanya. Saya tandatangani dulu ya,” ujar Toni setelah selesai membaca berkas yang diberikan oleh Sani dan mengambil pulpen di atas mejanya.


“Baik pak,” kata Sani.


“Kamu cepat juga ya kerjanya. Biasanya saya selalu berurusan dengan Lulu,” kata Toni sambil menandatangani berkas tersebut satu-persatu.


“Saya tidak suka mengulur waktu pak. Jika bisa saya kerjakan segera maka akan langsung saya kerjakan,” ujar Sani kepada atasannya yang duduk di depannya.


Toni selesai menandatangani semua berkas. Tak perlu waktu lama karena tandatangannya sangat simpel. Sama seperti kepemimpinannya yang tak banyak aturan ribet. Baginya, semua pegawai cukup menyelesaikan pekerjaannya masing-masing. Jika ada kesalahan, maka bukan marah-marah yang ia lakukan. Justru ia akan memanggil pegawai yang berbuat kesalahan itu ke ruangannya dan ia beri wejangan. Toni juga tidak pelit ilmu. Bahkan dia selalu mendatangkan tenaga profesional untuk melatih seluruh karyawannya sesuai bidang masing-masing. Pelatihan ini akan dia lakukan secara berkala dan rutin jika memang ada pegawai yang sangat membutuhkan pelatihan itu. Itulah alasan mengapa perusahaan ini memiliki tarif jasa yang tidak murah. Sebab ada biaya-biaya ekstra yang harus dikeluarkan untuk membuat pegawainya benar-benar berkualitas.


Tapi pria berusia 40 tahun itu hanyalah manusia biasa yang t ak luput dari keserakahan duniawi. Meski pada dasarnya ia orang baik dan murah hati, kalau urusan uang ia akan maju paling depan. Sikapnya yang ramah dan


santai terhadap bawahan, membuat ia tetap disenangi meski semua tahu Toni adalah seorang mata duitan. Apalagi setelah menjalin hubungan gelap dengan Siska, Toni harus lebih ekstra mengumpulkan uang untuk memenuhi permintaan kekasihnya itu.


“Pertahankan kinerja kamu ya Sani,” pinta Toni.


Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dan Siska nyelonong masuk ke dalam. Gerakannya cepat sampai-sampai tak melihat ada Sani di dalam. Siska sudah setengah berteriak saat tubuhnya masih akan menutup pintu.


“Mas Toni, aku enggak setuju dengan keputusan...”  ucapannya yang bernada keras itu tak dilanjutkannya saat matanya melihat Sani yang sedang terdiam menatap ke arahnya.


“Siska, ada apa?” ucap Toni sedikit terbata karena tidak enak dengan keberadaan Sani.


“Maaf, saya kembali nanti,” ujar Siska dengan salah tingkah.


“Pak Toni saya rasa kita sudah selesai. Saya permisi dulu ya pak,” ujar Sani cepat dan langsung berdiri.


Siska yang masih menunggu di ujung pintu diam mematung sesaat.


“Permisi mbak Siska,” ujar Sani lalu keluar.


“Ya,” ucap Siska singkat.


Siska kemudian duduk di depan Toni yang terlihat santai menghadapi Siska. Ia sudah tahu bahwa Siska akan marah-marah kepadanya. Memaksakan kehendaknya dan membuat Toni luluh saat kehendaknya tak dituruti.


“Mas harap kamu bisa jaga sikap kalau di kantor. Kamu enggak bisa bertindak dengan emosi membludak seperti tadi!” kata Toni tegas.


“Aku tahu waktu di rapat tadi mas berusaha untuk membuat aku cemburu dengan fasilitas yang diberikan kepada Claire. Mas sengaja kan? Memberikan penerbangan first class sementara aku bussines class. Kemudian uang tunjangan sampai totalnya jutaan dalam sehari, sementara aku?” ujar Siska berapi-api.


“Siapa yang tadi menyindir duluan? Buat apa kamu bilang tentang teman yang di depan punya topeng palsu. Kamu menyindir mas kan? Apa mau kamu Siska?” tanya Toni dengan kesal.


“Aku enggak suka lihat mas Toni bersikap baik sama dia. Aku ini seniornya mas. Harusnya kasus ini aku yang tangani. Walaupun itu rekomendasi pak Ridwan. Mas kan bisa bilang kalau cuma aku yang berkompeten! Dan sekarang mas kasih dia fasilitas yang super mewah,” ujar Siska marah.


Untung saja pintu kaca ruangan Toni terbuat dari kaca yang tebal dan kedap suara dan tidak tampak dari luar.  Kalau tidak, seluruh pegawai pasti bisa mendengar pertarungan sengit antara kekasih gelap itu.


“Mas adalah orang kepercayaan pak Ridwan. Jika mas tidak mengiyakan rekomendasi dia dan merekomendasikan kamu, tapi kemudian kaalau kamu tidak bisa menyelesaikan kasus ini dengan baik, siapa yang akan disalahkan?”


“Oh, jadi mas selama ini meragukan saya? Menurut mas Claire jauh lebih baik dari saya? Sudah 8 tahun saya bekerja di perusahaan ini. Jangan pernah tanya tentang kehebatan ku!” ujar Siska geram.


“Siska, kamu selalu saja emosi. Mas bukan meremehkan kamu. Tapi itu kan kalau, jika, seandainya, bilamana, kamu tidak bisa menyelesaikan. Tapi bukan berarti saya meragukan kamu. Jika bukan Claire yang diminta oleh pak


Ridwan, saya pasti ajukan kasus ini ke kamu kok,” kata toni berusaha meyakini Siska.


“Lagi pula kita kan sudah sepakat tentang rencana kita untuk menggagalkan Claire. Baru setelahnya kamu yang akan ambil alih. Mas rasa kita sudah satu suara soal ini. Kenapa kamu permasalahkan lagi?” ujar Toni.


Siska mencoba menenangkan dirinya dnegan menarik nafas tanpa membuka mulutnya. Ia tak mau melihat wajah Toni.


“Memangnya selama ini saya lakukan semua itu untuk diri saya sendiri? Ini juga buat kamu. Untuk menuntaskan semua rasa dahaga kamu terhadap barang-barang mewah. Apa yang tidak saya berikan ke kamu selama ini? Kamu minta tas branded, saya belikan, minta mobil mewah, saya kasih walau saya harus mencicil 3 kali. Moinilnya atas nama kamu lagi. Mau jalan-jalan ke luar negeri, saya bayari. Apa Claire mendapatkan itu dari saya?” beber Toni sedikit kesal.


 


 

__ADS_1


"Kamu lihat! Mobil yang dipakai Claire 2 tahun lalu, itu memang mobil baru tapi cuma mobil biasa. Dan bukan atas nama dia. Jika dia tidak lagi bekerja di sini, mobil itu tidak akan menjadi milik dia. Lalu apa yang kamu cemburui dari seorang Claire?" tanya Ridwan heran.


“Tapi mas belum belikan rumah yang saya mau,” ujar Siska.


“Itu tidak mungkin Siska. Jika aku membelikan kamu rumah, berarti kamu akan membawa semua keluarga mu. Lalu kamu membiarkan suami mu tinggal di rumah selingkuhan mu ini? Mas rasa itu sudah kelewatan batas,” kata


Toni.


“Apa bedanya dengan hubungan kita sekarang? Kita punya hubungan asmara, kita berciuman, kita saling tertarik. Batasan seperti apa yang mas maksud?” ujar Siska.


“Siska kita hanya berciuman tidak lebih dari itu. Mas tidak pernah meniduri kamu. Karena mas tahu walaupun perbuatan kita ini salah tapi tetap ada batasan yang harus kita patuhi. Memangnya sampai kapan hubungan kita


akan berjalan?” kata Toni enteng.


“Maksudnya? Kenapa mas ngomong kayak gitu?” tanya Siska dengan nada marah.


“Kamu pernah berpikir enggak hubungan kita bisa bertahan sampai kapan? Apa kita akan seperti ini selamanya?” tanya Toni.


“Kenapa tidak!" kata Siska dengan penuh keyakinan.


“Siska, aku ini laki-laki biasa. Manusia biasa. Terkadang saat sendiri aku membayangkan betapa bahagianya jika aku memiliki anak dan istri. Aku pulang ke rumah, ada seorang anak kecil yang menyambut ku dan seorang


istri yang menunggu ku lengkap dengan sajian masakan lezat,” ujar Toni sambi mengkhayal.


“Aku bisa menceraikan suami ku sekarang juga! Kalau memang itu yang mas mau!” kata Siska.


“Bukan, bukan itu yang mas mau. Kamu salah!” ujar Toni.


Mata Toni memandang ke atas. Ia seperti melamunkan sesuatu.


“Mas, Mas Toni!” panggil Siska.


“Ya,” ujar Toni yang tersadar dari lamunannnya.


Kali ini Toni menatap Siska dalam-dalam seolah Siska adalah wanita yang sangat ia cintai. Pikirannya melayang saat masih duduk di bangku kuliah.


Seorang perempuan berwajah ayu sedang berlari memasuki gerbang kampus. Perempuan berwajah ayu itu mengenakan pakaian seragam SMA lengkap dengan printilan-printilan khas ospek. Topi dari baskom, kalung dari


kulit jagung, wajah dicoret dengan arang, dan tas dari goni. Pandangannya lurus ke depan. Ia terus berlari meski nafasnya sudah tersengal-sengal. Langkahnya terhenti saat berada di tengah lapangan yang dipenuhi orang-orang berpakaian seperti dia.


“Maaf kak saya telat,” ucap perempuan bernama Kania itu kepada seniornya.


“Emang kenapa kok bisa telat?” ujar senior cewek bernama Anggi.


“Saya bangun kesiangan kak,” kata Kania masih dengan nafas yang belum beraturan.


“Capek ya?” tanya Anggi lagi.


“Iya kak,” ujar Kania yang terus menunduk sedari tadi.


“Jadi kamu telat karena kesiangan? Eh, lihat tuh yang lain enggak pada kesiangan,” kata Anggi sambil menunjuk ke arah puluhan mahasiswa/i baru yang ada di hadapannya.


Anggi mengambil toa dan mulai berbicara kepada seluruh peserta ospek. Ia mengajak Kania berdiri di sampingnya.


“Buat kalian semua dengarkan saya! Lihat orang yang di sebelah saya ini adalah satu contoh yang tidak baik bahkan sangat buruk. Dia tidak disiplin karena datang telat dengan alasan kesiangan. Ingat! Kami tidak


menerima alasan kesiangan sebagai alasan kalian telat datang ke sini. Mengerti!” teriak Anggi.


“Mengerti kak!” teriak seluruh peserta ospek.


“Sekarang dia harus dihukum sebagai penebus kesalahannya. Apa kira-kira hukuman yang pantas buat dia?” teriak Anggi dan bertanya kepada peserta ospek.


Sebagian peserta ada yang menuyuruh untuk menyanyi, berjoget, baca puisi, dan megelilingi lapangan. Para senior pun berdiskusi dan sepakat untuk menyuruh Kania bernyanyi.

__ADS_1


“Oke kita telah sepakat bahwa dia akan bernyanyi buat kita. Bebas mau menyanyi apa saja. Kalau sampai  suaranya enggak enak, maka dia akan kita hukum lebih berat lagi!” teriak Anggi dengan Toa.


“Nyanyi, nyanyi, nyanyi, nyanyi, nyanyi!” teriak seluruh peserta menyuruh Kania.


Kania menelan ludahnya. Nafasnya kini sudah mulai teratur.


“Ayo kamu menyanyi buat kita. Ini mic-nya. Buat kita terhibur ya,” kata Anggi sambil menyerahkan sebuah mic.


“Kak, boleh saya minum dulu ya. Soalnya haus habis lari-lari tadi,” pinta Kania.


“Iya,” ujar Anggi singkat.


Kania mengambil sebuah botol berisi air minum lalu meminum beberapa teguk air di dalamnya.  Seorang laki-laki berjalan ke arah panitia ospek membawa sebuah map. Laki-laki itu mengahmpiri Anggi.


“Gimana Nggi?” tanya laki-laki yang bernampilan rapi menggunakan almamater warna kuning itu.


“Aman. Cuma itu ada yang telat. Kita hukum suruh nyanyi aja,” kata Anggi sambil menunjuk ke arah Kania yang masih meneguk air.


Laki-laki itu adalah Toni, ketua panitia ospek Fakultas Komunikasi. Iya, dia adalah Toni, Direktur Utama Public Consulting Tarumanegara. Toni pun bersiap-siap mendengarkan Kania bernyanyi.


“Tes, tes,” ucap Kania menggunakan mic di tangannya. Suaranya menggema.


Kania menarik nafas, semua terdiam seolah menunggu seorang penyanyi bersenandung.


“Dunia belum berakhir, bila kau putuskan aku. Masih banyak teman-temanku di sini menemaniku,” nyanyi Kania dengan tempo lambat.


Toni terkesima dengan suara Kania yang merdu, begitu juga dengan peserta dan panitia ospek lainnya. Kania mengulangi nyanyiannya dengan lirik yang sama namun dengan tempo yang lebih cepat. Nyanyiannya di awal hanya sebagai intro saja. Kania tersenyum dan terlihat senang semua orang seperti menunggu ia untuk menyelesaikan lagu berjudul Dunia Belum Berakhir dari band Shaden itu.


“Dunia belum berakhir, bila kau putuskan aku. Masih banyak teman-temanku di sini menemaniku. Dunia belum berakhir, bila kau putuskan aku. Wajahku juga enggak jelek-jelek amat, Ada yang mau. Ku pikir-pikir, Ku pikir-pikir lebih baik aku menyingkir.....”nyanyi Kania yang terus bernyanyi bahkan sambil sedikit bergoyang.


Lagu yang sedang nge-trend di jaman itu membuat seluruh peserta ospek secara tidak sadar ikut bernyanyi bersama Kania. Suasana ospek yang tadi tegang kini mencair.


“Terima kasih,” ujar Kania saat selesai bernyanyi sambil tersenyum.


“Bagus juga suaranya. Terhibur enggak!” tanya Anggi dari balik toa kepada seluruh peserta ospek.


“Terhibuuuurrr,” teriak seluruh peserta ospek.


“Oke, kamu masuk ke barisan!”  perintah Anggi pada Kania.


“Iya kak,” kata Kania sambil berlari ke arah barisan peserta ospek dan berbaur bersama mereka.


Sementara, jauh di seberang Kania ada seorang laki-laki yang sedang terkesima dengannya. Siapa namanya? Pertanyaan itu melayang-layang di benak Toni. Ia masih melihat Kania yang jauh di depannya. Senyumannya sudah bisa dipastikan sebagai senyuman jatuh cinta. Bukan jatuh cinta biasa tapi ini jatuh cinta untuk yang pertama kali. Sebelumnya Toni tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan mana pun. Toni berbanding terbalik dengan Ridwan yang playboy.


Namun lamunan  itu buyar ketika Siska memegang kedua pipi Toni dan menggoyang-goyangkannya dengan kencang.


“Mas Toni, mas, mas, mas, mas Toniii,” panggil Siska berkali-kali.


Toni tersadar dari lamunan masa lalunya. Belum selesai ceritanya, tapi nanti Toni pasti akan melanjutkan lamunannya bersama Kania. Ada cinta, tragedi, dan pengkhianatan di dalam kisahnya.


“Sory. Mas tadi kepikiran aja tetang apa yang kita bicarakan,” ujar Toni beralasan.


“Kita harus selesaikan pembicaraan ini mas. Pokoknya aku mau terus sama mas Toni,” ujar Siska.


“Oke, oke. Tapi tolong tinggalkan mas sendiri sekarang ya. Nanti kita bicara lagi, Please!” mohon Toni pada Siska.


“Ya udah. Aku keluar sekarang. Nanti makan siang bareng ya. Jumpa di kantin,” kata Siska lalu beranjak.


Toni mengangguk dan menjawab pelan.


“Oke,” ucap Toni.


Toni kembali memikirkan Kania.  Dadanya sesak dipenuhi rindu. Tak ada yang tahu isi dalam hatinya. Semuanya ia tutupi dengan sikapnya yang selalu terlihat tidak ada beban. Siapa yang sangka laki-laki yang sudah beruban itu masih menyimpan satu nama di hatinya selama hampir separuh usianya. Tak pernah ia paksa untuk melupakan atau mengingat. Tapi selalu ada saja yang membuatnya teringat pada Kania.

__ADS_1


“Kania. Kamu dimana sekarang?” ucap Toni pelan sambil menatap jauh keluar jendela.


***bersambung***


__ADS_2